Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
009 kesatria misterius



"kakak aku baru saja kembali dari belajar menembak." ucap Wanda jujur.


"hmm benarkah,? " Devano yang bertanya kepada Wanda melirik sekilas kepada ibunya.


melihat wajah masam nyonya Amanda, Devano tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.


Karena dia tau kalau ibunya tidak menyukai kalau Wanda pergi latihan menembak karena sudah pasti dia berlatih dengan Aleska.


dan Devano langsung mengerti kalau ibu nya tidak ingin mendengar nama Aleska dibahas di meja makan apalagi di hadapan ayahnya.


tuan David yang mendengarkan percakapan mereka hanya mendengarkan dalam diam.


*


sementara di sisi lain terlihat suasana di mension timur yang tenang seperti biasanya, hanya saja sekarang terlihat beberapa pelayan melakukan tugas mereka.


"tuan muda makan malam sudah siap" ucap salah satu pelayan kepada Aleska.


"baik lah, aku akan segera turun." jawab pemuda itu singkat.


Aleska menuruni tangga dari lantai dua menuju ruang makan.


"kakak ayo cepat kesini, ini sangat enak, mereka sangat pandai memasak." puji Ruby kepada pelayan yang bertugas memasak di dapur.


"baguslah, kalau kamu suka."


"kakak aku dengar tuan David sudah pulang bersama tuan muda pertama, benarkah?" tanya Ruby ingin tahu.


"ya" jawab Aleska dengan acuh.


"hmm apakah kakak akan mengalami kesulitan lagi?" Ruby yang banyak bicara selalu saja tidak bisa berhenti bertanya kepada kakaknya.


"kamu tidak usah khawatir, dan cepat habiskan makanan mu." perintah Aleska


"hmmm baik lah." ucapnya patuh.


***


seperti biasa setiap hari minggu Ruby akan merasa mati kebosanan di rumah, dan dia memutuskan untuk pergi keluar sekedar berjalan jalan sebentar.


Ruby berjalan di bawah pohon rindang , dia mengangkat tangan nya untuk menyambut daun jauh tepat di atas telapak tangan kecilnya. karena asik memandangi daun yang jatuh berguguran, Ruby di tabrak oleh seorang pria muda.


"ah maaf kan aku nona, aku tidak sengaja" ucap pria itu merasa bersalah.


"tidak apa apa, aku baik baik saja" sambil mundur satu langkah dari pemuda itu.


"syukurlah," ucapnya sambil tersenyum ramah.


Devano melihat sekeliling tapi dia tidak melihat satu orang pun selain gadis itu. jadi dia bertanya kepada Ruby.


"apakah kamu sendirian?" tanya pemuda itu lagi.


"ah, ya, aku berjalan jalan ke sini karena bosan di rumah sendiri." spontan Ruby menjelaskan dengan polos.


"jadi begitu, apakah rumah mu juga di sekitar sini?" tanya Devano penasaran.


"benar, rumah ku....." tiba tiba Ruby menghentikan ucapannya karena teringat akan kakaknya Aleska.


"maaf, saya harus pergi sekarang, kakak ku akan khawatir kalau aku pergi terlalu lama" ucap Ruby mencoba menjelaskan sebelum dia pergi.


Ruby langsung lari pergi meninggalkan Devano yang mengacungkan tangannya ingin berjabat tangan dengan gadis itu, tapi sayang nya Ruby sudah pergi tampa memberi tahu nama nya terlebih dahulu.


"kakak?"


"kakak kenapa kamu berhenti di sini?, apakah ada sesuatu?" tanya Wanda dengan wajah ingin tahu, Wanda sibuk memeriksa sekeliling dengan melirik ke kiri dan ke kanan.


"ah sudah lah ayo kita pergi."


"kakak apakah benar tidak terjadi apa apa?" mencoba memastikan, karena raut wajah Devano yang terlihat sedikit aneh.


"hmm apakah kamu tau seorang gadis yang rumahnya berada di sekitar sini?" akhirnya Devano yang penasaran juga tidak tahan untuk tidak bertanya.


karena mension megah mereka berada di pegunungan dengan melewati hutan Pinus indah yang terawat dengan baik dengan jarak sekitar dua kilo meter untuk sampai di depan mension mereka.


"hmm seorang gadis?" pikir pikir wanda.


"ah sudahlah ayo pergi" langsung beranjak pergi dari sana membuat Wanda tidak dapat berfikir terlalu jauh maksud dari perkataan Devano sebelumnya.


mereka berdua kembali ke dalam mension untuk mandi karena berkeringat sesudah lari pagi beberapa putaran di jalan depan mension mereka.


setelah mandi Devano pergi menemui ibunya.


"ibu,?" panggil devano sopan.


"kamu sudah datang,? "


"iya ibu, apakah ibu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Devano


"benar, Devano, kamu harus segera mengambil alih beberapa perusahaan ayah mu! kamu tau selama kamu berada di luar negeri, Aleska, bocah itu sudah mulai berani melawan ibu, bahkan dia sudah berhasil menangani situasi darurat di perusahaan selama kamu dan ayahmu pergi."


"jadi yang berhasil menenangkan kembali nilai saham di Eropa beberapa waktu yang lalu adalah Aleska?"


"benar sekali" jawab Amanda pasti.


"apakah ayah juga mengetahui ini" tanya Devano memastikan.


"tentu saja dia tau" jawab Amanda jujur.


"bagai mana dia bisa menangani masalah sebesar ini?" Devano berfikir keras, kenapa Aleska yang tidak pernah mempelajari bisnis selama ini, bisa mengendalikan pasar saham Eropa dengan mudah.


"ibu apakah ibu tau siapa orang yang mendukung Aleska?" ini adalah satu satunya kemungkinan yang mungkin terjadi, pikir Devano.


karena memang yang dia tahu selama ini aleska tidak pernah belajar apalagi memilki kemampuan untuk mengurus masalah sebesar ini tampa bantuan siapapun.


di tambah dia juga tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar, kecuali hampir satu tahun terakhir ini Devano menerima informasi jika Aleska mulai bersekolah di sekolah menengah yang terkenal di kota.


tapi dia tidak menghiraukan berita ini, karena apa yang bisa di lakukan oleh pemuda yang seharusnya sudah belajar di universitas tapi malah masuk ke sekolah menengah, mungkin dia bodoh, itulah yang di pikirkan Devano saat itu.


*****


"ibu sudah mengawasinya selama ini, dia tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar. lagian siapa yang akan membantu anak seorang pelayan." ucap Amanda membuyarkan lamunan Devano.


"yang ibu katakan juga benar"


nyonya Amanda selalu saja mendoktrin anak anak nya untuk membenci Aleska dan adik perempuannya, dia selalu saja menceritakan kalau ibu Aleska yang dulunya adalah seorang pelayan yang berani menggoda suaminya David dengan melakukan berbagai cara kotor agar bisa memasuki keluarga Davidson.


18 tahun yang lalu, Davidson kembali dari Rumania setelah menangani krisis ekonomi di beberapa wilayah di Eropa. dengan membawa seorang wanita yang sangat cantik pulang bersamanya, yang membuat Amanda merasakan sakit hati yang sangat luar biasa.


saat itu adalah musim dingin, salju sudah mulai menutupi halaman mension mereka, Amanda sedang hamil tua berdiri di luar pintu untuk menyambut kedatangan david yang baru kembali dari perjalanan bisnis.


dan beberapa pelayan juga ikut berbaris rapi menyambut kedatangan tuan mereka, semua orang sangat bahagia karena David dengan beberapa teman bisnisnya berhasil mengendalikan krisis ekonomi di negara mereka dengan mendatangi sebuah kerajaan di Rumania untuk di ajak bekerja sama.


David keluar dari mobil, Amanda sudah dengan senyuman yang mengembang di wajahnya menyambut kedatangan David. tapi senyumnya berubah menjadi kaku melihat seorang perempuan asing yang ikut keluar dari mobil yang sama dengan suaminya.