
"menurut kalian, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aleska.
"itu semua tergantung apa tujuan yang ingin anda capai tuan" ucap Hugo kepada Aleska.
"kamu tahu jelas tujuan ku Hugo" jawab aleska lagi sambil memperhatikan raut wajahnya.
"maksud saya begini tuan, sekarang kita memiliki dua pilihan.
pertama jika anda ingin meredam berita tentang scandal anda dan nona Ruby, maka anda bisa membiarkan masalah tentang indentitas kami berdua tersebar terlebih dahulu, untuk mengalihkan perhatian media.
tapi akibatnya kita cepat atau lambat harus menghadapi masalah besar baik dengan orang kerajaan maupun kebocoran identitas anda" jelas Hugo.
"apa pilihan yang kedua?" tanya Aleska menantikan.
"yang kedua adalah, membiarkan kembali scandal anda dan nona Ruby menjadi fokus media, sehingga kita dapat meredam masalah identitas kami berdua" terang Hugo.
mendengar penjelasan Hugo, Aleska sedikit terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Mike bagaimana menurutmu?" tanya Aleska kini mengalihkan perhatiannya kepada Mike yang duduk di sofa belakang Hugo.
"bagaiman jika anda mengambil pilihan kedua tuan, dengan itu anda juga bisa menghadapi nona Ruby tampa canggung, bukankah dengan ini satu kali dayung dua pulau terlampaui?" ucap Mike memberikan sarannya.
mendengar itu Aleska kembali terdiam memikirkan jalan apa yang terbaik untuk dia pilih.
"tuan, anda juga tidak perlu khawatir, kita semua tidak akan membiarkan siapapun itu untuk mengambil nona Ruby, jika pun mereka ingin itu tidak akan mudah, atau anda bisa langsung menikahi nona, maka siapapun orang tuanya, jalan akhirnya nona tetap akan tinggal bersama kita" ucap Mike mulai ngawur.
"apa yang kamu katakan?" ucap Hugo sambil memukul kepala Mike.
karena bagaimanapun juga, selama ini mereka semua telah menganggap Ruby sebagai adik kandung Aleska, apalagi perasaan orang nya langsung, tidak akan mudah seperti yang di katakan oleh Mike.
Mike memegangi kepalanya yang di pukul Hugo.
"ah sakit, s!alan, kan apa yang aku katakan adalah kebenaran" ucap Mike marah kepada Hugo.
tapi dia langsung diam dan melihat ke arah Aleska yang hanya diam menatap lurus ke arah mereka berdua.
"lakukan seperti yang di katakan Mike" ucap Aleska tiba tiba.
Hugo Mike terdiam beberapa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Aleska.
bahkan Mike lebih tidak percaya lagi dengan apa yang di katakan oleh Aleska.
Karena dia hanya asal mengatakannya saja, dia sama sekali tidak berfikir jika Aleska malah akan melakukan apa yang dia sarankan.
"tuan, anda tidak serius kan?" tanya Mike masih tidak dapat percaya apa yang dia dengar.
sementara Hugo lagi lagi heran melihat tingkah konyol Mike.
"apanya yang tidak serius, kalian berdua harus siap siap memanggilnya dengan kakak ipar " ucap Aleska sambil kembali duduk dengan tenang di kursinya.
sementara Hugo dan Mike hampir memuntahkan isi perutnya mendengar apa yang di katakan eh Aleska.
*
di kantor Carllyss Group.
"apakah Carllo ada di kantornya?" tanya Camelia kepada sekretaris Carllo.
"tuan Carllo ada du ruangannya nyonya, mari saya antar" jawab sekretaris itu hormat.
"terimakasih" ucap Camelia sambil mengikuti langkah sekretaris Carllo.
"tok tok tok....."
"masuk" ucap Carllo sambil melihat ke arah pintu.
"Nyonya ada di sini dan ingin menemui Anda tuan" ucap sekretaris Carllo.
sementara Camelia sudah berdiri di depan pintu melihat ke arah putranya.
melihat mamanya Carllo mengangguk kepada sekretaris nya.
"ada apa ma?" tanya Carllo berjalan mendekat ke arah mamanya.
"ada yang ingin mama bicarakan kepadamu?"
ucap Camelia.
"ayo ma kita duduk dulu" ucap Carllo sambil duduk di tas sofa bergaya minimalis di ruangannya.
melihat itu Camelia pun ikut duduk di hadapan putra nya.
"Carllo bagaimana keadaan Ruby?, mama sudah menghubunginya dari pagi, tapi dia tetap tidak bisa di hubungi" ucap Camelia khawatir.
"ma, dia pasti baik baik saja, tidak ada yang akan terjadi kepadanya di dalam penjagaan Aleska" ucap Carllo.
"bukan itu maksud mama, mama menghawatirkan bagaimana perasaannya, bagaimana pun juga berita tentang mereka berdua tersebar luas" ucap Camelia.
"ma, itu semua juga sidah di urus oleh aleska dengan tuntas, mama tidak perlu khawatir" ucap Carllo memberi pengertian kepada mamanya.
"hmm apa maksud mu?, tunggu, apalah berita yang tiba-tiba hilang itu adalah perkejaan Aleska?" tanya Camelia lagi memastikan.
"siapa lagi jika bukan dia" ucap Carllo.
"syukurlah, kalau begitu mama pamit dulu, sebelum itu mama juga akan mengunjungi ayah mu dulu" ucap Camelia keluar dari ruangan putra nya Carllo.
Carllo menatap pintu setelah kepergian mamanya.
"kenapa semua nya jadi seperti ini?, sehebat apapun dia, tetep saja ada hal yang tidak bisa dia paksakan, termasuk perasaannya kepada adik perempuannya sendiri." gumam Carllo sangat menghawatirkan Ruby.
sangat berbeda dengan ekspresi nya di depan mamanya.
*di ruangan ruangan Devano.
Devano mengambil jasnya yang dia letakkan di sandaran kursinya, sambil melihat jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan hari telah sore.
karena terlalu lelah Devano memutuskan untuk pulang lebih awal.
tok tok tok....
tiba tiba saja ada seseorang yang datang mengetuk pintu ruangannya.
"masuk" ucap Devano.
Jean melangkah kan kaki nya berjalan mendekat ke arah Devano dengan sedikit tergesa-gesa.
"ada apa?" tanyanya melihat gelagat Jean.
"tuan, ada berita baik," ucap Jean dengan sumringah.
"hmm?" ucap Devano tidak minat, karena dia merasa badannya sudah lemas dari pagi.
"tuan, berita tentang scandal Aleska dan adiknya Ruby kembali meledak, baru tadi pagi anda menginginkan beritanya kembali seperti semula, tiba tiba saja sore ini keinginan anda terwujud." ucap Jean semangat, karena tadi pagi seperti nya Devano begitu menginginkan beritanya kembali seperti semula.
mendengar itu Devano langsung menyambar jasnya yang tadi kembali dia letakkan di atas sofa ruang kerjanya dan langsung pergi meninggalkan jean terpana seorang diri di dalam ruangannya.
lagi lagi respon Devano berbeda dengan apa yang di harapkan oleh Jean.
di perjalanan pulang Devano langsung menelfon orang yang tadi pagi dia perintahkan untuk mengembalikan berita tentang scandal Aleska dan Ruby seperti semula.
"hallo tuan" ucap orang itu di ujung telepon.
"kenapa kamu begitu bersungguh-sungguh mengerjakannya" ucap Devano memukul stir mobilnya penuh emosi.
"tuan, apa maksud anda?" tanya orang itu heran.
"apa katamu?, apa ini bukan pekerjaan mu?" tanya Devano ulang, karena dia mendengar nada ketidak tahuan dari orang di balik teleponnya itu.
"tuan aku tidak mengerti maksud anda, aku tidak mengerjakan apapun dari pagi, seperti yang saya katakan saya tidak sanggup untuk mengembalikan berita itu seperti semula. dan saya sudah mengirimkan kembali uangnya ke rekening anda" ucap orang itu di ujung telepon Devano.
"lagi-lagi ini bukan kerjaan mu" ucap Devano kecewa.