
sebenarnya Carllo tidak ingin mendengar lebih banyak lagi dari Sofia, karena dia jelas tidak begitu yakin dengan apa yang di katakan oleh gadis itu.
tapi tetap saja, jika itu berurusan dengan Ruby, bagaimanapun itu, dia tetap ingin mendengarnya, meskipun gadis itu berbohong.
tapi bagaimanapun dia memikirkan nya, memang benar jika gadis itu tiba-tiba pindah ke Amerika di tahun yang sama dengan Aleska masuk ke sekolah itu.
"yah aku juga tidak peduli" ucap Carllo lalu berdiri dari duduknya meninggalkan Sofia.
tapi gadis itu tetap berdiam diri di kursinya, tampak tidak berniat mengejar Carllo,
karena dia tahu, jika di lihat dari ekspresinya pemuda itu sudah sedikit terhasut dan percaya dengannya.
Sofia masih duduk di kursinya memandang kepergian Carllo dengan tenang.
dia meneguk minuman terakhirnya dan menjangkau tas di atas meja lalu juga pergi dari sana.
*di mension sisi timur.
mobil Aleska melesat di bawah hutan Pinus menuju mension timur, dimana gadis pujaan hatinya sekarang berada.
Sekarang dia merasa sensasi lain saat pulang,
tidak lagi merasa hampa dan kosong saat melewati hutan nan sepi tapi terawat indah ini.
di wajahnya semakin terlihat ekspresi tidak sabar dan Aleska langsung saja memperdalam injakan pedal gas di kakinya.
pagar besi yang sedikit tua dan berkarat akhirnya terlihat jua di depan matanya,
dia memasuki pagar itu dan memarkir mobilnya di sana.
Aleska keluar dari mobilnya dengan langkah besar menuju pintu utama.
di dalam rumah Ruby tengah memegang guntung untuk merangkai bunga, itu adalah kegiatan rutinnya saat sore hari sebelum dia menyiapkan makan malam untuk Aleska dan dirinya sendiri.
mendengar langkah kaki seseorang Ruby menoleh melihat ke arah pintu.
"kakak sudah pulang?" tanya gadis itu melihat Aleska datang.
"ya, kantor tidak terlalu sibuk, jadi aku pulang lebih awal" ucapnya sambil mendekat ke arah Ruby.
Ruby yang melihat kakaknya terus maju selangkah demi langkah ke arahnya mulai memundurkan langkahnya satu demi satu kebelakang.
Aleska yang melihat reaksi Ruby yang demikian, hatinya di penuhi duri rasa bersalah terhadap gadis itu, sepertinya dia harus lebih cepat menjelaskan kepada gadis ini, agar kesalahpahaman Ruby padanya segera terselesaikan.
"ada apa?" tanya Aleska menghentikan langkahnya tepat di depan gadis itu, sambil mengambil gelas yang ada di atas meja dan menuangkan air kedalamnya.
"ah bukan apa-apa" ucap Ruby sambil menatap Aleska yang tengah meneguk air minumnya dengan wajah bersemu merah.
"apa aku salah paham lagi pada kak Aleska?" batin gadis itu melihat ketidak ketertarikan Aleska terhadap dirinya
Aleska yang melihatnya seperti itu berusaha menampilkan sikap cuek seperti biasanya, dan pura-pura tidak terjadi apapun sebelumnya di antara mereka, semuanya dia lakukan hanya untuk membuat Ruby kembali nyaman berada di dekatnya.
"apakah kakak akan makan malam di rumah?" tanya Ruby berusaha mencairkan suasana hatinya yang canggung karena salah mengartikan tindakan Aleska barusan.
"tentu saja, masakan mu lebih baik dari siapapun" jawab Aleska santai sambil meletakkan kembali gelasnya di atas meja yang telah kosong tampa sisa.
entah kenapa dia merasa sangat kehausan dan wajahnya terasa panas, hingga dia menghabiskan seluruh isi gelasnya.
Ruby yang melihat wajah Aleska yang memerah dan tingkahnya yang sedikit aneh sedikit berfikir, ada apa dengan kakaknya.
tapi Aleska malah langsung beranjak pergi dari sana menuju kamarnya.
"ada apa dengan nya?, tidak biasanya dia seperti ini." batin Ruby menyaksikan kepergian Aleska.
'kakak?" panggilnya dari belakang.
"ada apa?" tanyanya lagi karena gadis itu hanya diam membisu.
tapi bukannya mendapat jawaban, gadis itu malah berjalan melangkah mendekat ke arahnya.
Aleska hanya menatap nanar ke arah Ruby yang semakin dekat ke arahnya.
tepat di hadapan Aleska Ruby menghentikan langkahnya dan sedikit berjinjit.
jantung Aleska berdetak kuat melihat wajah gadis itu dari jarak yang begitu dekat dengan wajahnya.
"apakah kakak baik baik saja?" tanya Ruby sambil menempelkan tangannya di dahi Aleska.
"aku baik baik saja" ucapnya berusaha mengeluarkan suara senormal mungkin saat dia merasakan detak jantung berdebar seperti habis berlari dengan dengan wajah memerah.
tapi Ruby masih saja tidak melepaskan tangannya di dahi Aleska.
akhirnya Aleska tidak tahan lagi, dia mengambil tangan gadis itu dan memindahkannya dari dahi nya.
"aku baik baik saja" ulangnya sekali lagi.
"tapi wajah kakek panas" bantah Ruby dengan polos.
tapi dia langsung pergi menuju kamarnya meninggalkan Ruby.
"sepertinya kakak sakit, bagaimana pun aku tidak bisa mengabaikan nya begitu saja kan? walaupun akau Masih marah" gumam Ruby berdebat dengan dirinya sendiri.
saat Aleska menciumnya di hadapan semua orang di sekolah nya, termasuk di hadapan tante Camelia dan kak Carllo dan juga Rice.
bagaimana sekarang dia berani bertemu dan menatap wajah orang orang itu, "memikirkan nya saja sudah membuat aku stress" batin Ruby.
bahkan dia hanya mengurung dirinya di rumah tampa berani keluar sedikitpun, di tambah lagi dengan berita yang telah tersebar luas.
"aku benar benar membencinya" batin Ruby, pergi dari sana dengan kesal dan kembali melanjutkan pekerjaan nya sebelumnya.
dia mengambil beberapa tangkai bunga berwarna kuning cerah dan mulai memotong beberapa daun yang tidak di perlakukan, tapi belum selesai dengan itu, ruby menghempaskan kembali bunga dan gunting yang ada di tangannya.
"tidak bisa begini, harusnya dia minta maaf kan" gumam Ruby pada dirinya sendiri.
"lebih baik aku mulai menyiapkan makan malam, agar nanti saat makan aku bisa marah dan meminta penjelasan darinya" ucap Ruby lagi berdiskusi dengan dirinya sendiri.
benar saja dia dengan semangat berjalan ke dapur dan berkutat dengan alat masakan, tampa terasa dia telah selesai memasak beberapa hidangan sekaligus.
Ruby dengan hati hati menata semuanya di atas meja makan tampa meminta bantuan kepada pelayan, dia melakukan semuanya sendiri.
sambil memikirkan nanti Aleska akan meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi kepadanya, dan membereskan kesalahpahaman yang mereka lakukan kepada semua orang.
memikirkan kehidupannya yang kembali normal seperti biasa saja Ruby sudah tidak sabar.
dia melamun duduk di kursi meja makan saat menunggu Aleska.
adegan saat Aleska menciumnya selalu saja datang dan menganggu harinya.
"ah apa ini? kenapa Dengan diri ku?" gumam Ruby pada dirinya sendiri dengan ekspresi ngeri sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"kenapa aku kesal karena dia melakukan nya dihadapan semua orang?, dan bukanya marah karena dia telah mencium ku" batin Ruby berdebat dengan pikirannya.
setelah beberapa saat melamun hingga haru sudah mulai gelap tapi pemuda yang dia tunggu dari tadi masih saja belum muncul.
"katanya dia lapar, tapi kenapa masih belum turun, apakah dia benar benar sakit?" batin Ruby mulai khawatir.
"ah sudahlah, lebih baik aku lihat langsung" ucapnya sambil berjalan menuju kamar Aleska.