Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
119 gaun tipis



Aleska mengekang posesif gadis itu di bawah tubuh kekarnya.


Ruby dengan nafas sedikit tersegel mengambil nafas dengan tangannya meraba halus dada bidang Aleska yang berada dia tasnya.


rambutnya berserakan menutupi bantal di bawah kepalanya dengan hembusan nafas keduanya terasa jelas di wajah masing masing.


Ruby dengan mata bulatnya memandang wajah Aleska yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.


"kakak, aku ingin bersamamu, aku ingin selalu berada di dekapan ini," teriak batin Ruby sambil meletakkan tangannya di atas dada Aleska merasakan detak jantung pemuda itu.


merasakan gerakan halus dari tangan Ruby, akhirnya Aleska tersadar, lagi lagi dia kembali mencium lama kening gadis itu lama, sambil menahan hasratnya yang telah menggebu.


lalu dia merebahkan badannya di samping Ruby. lalu meraih kepala gadis supaya berbaring dalam pelukannya.


"kakak," panggil Ruby dengan air mata beningnya yang sudah mengalir di pipi cabynya.


di dalam pikiran Ruby sudah berkecamuk saat Aleska melepaskan kukungan posesif nya tadi.


dia suka di dominasi oleh kakak nya itu, dia merasa di inginkan dan di butuhkan oleh Aleska, dia merasa lengkap saat berada di dekat pemuda ini, tapi dia merasa sedikit kecewa setelah Aleska menghindar dan merebahkan tubuhnya di samping Ruby.


dia merasa jika Aleska tidak menginginkannya lagi, atau Aleska tersadar mereka tidak boleh melakukan ini, benar jika Ruby tidak lagi peduli dengan hubungan mereka, tapi Aleska mungkin masih peduli, batin Ruby berkecamuk.


walau bagaimanapun teriakan hatinya tetap tidak ada satupun kata kata yang mampu terucap di bibir indahnya kepada kakaknya itu.


banyak yang ingin dia katakan, banyak yang ingin dia tanyakan, banyak!, begitu banyak hal yang ingin di bicarakan dengan Aleska, tapi semuanya tertahan.


dia ingin Aleska selamanya bersamanya, dia tidak bisa membayangkan jika suatu saat Aleska akan meninggalkan nya dan pergi bersama wanita yang dia cinta.


bahkan walaupun salah tindakan mereka saat ini, dia tetep ingin melakukanya asalkan Aleska tetap bersamanya, asal kan apa yang dilakukannya itu dapat menahan pemuda itu untuk meninggalkan nya, apapun akan dia lakukan.


di tambah lagi membayangkan semua orang yang mungkin telah membencinya saat ini, wajah Sintia sahabatnya, wajah Tante Camelia yang bersikap hangat kepadanya, wajah Carllo yang perhatian kepadanya, wajah Rice yang telah baik kepadanya semuanya sekarang akan menatapnya dengan kecewa, marah, jijik.


dia benar benar tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. hidupnya hancur, bukan hanya saat ini, tapi saat dia baru dilahirkan dia telah membunuh ibunya.


mungkin tuhan tidak mengizinkan siapapun untuk peduli kepada ya, tidak mengizinkan dia merasakan kepedulian seseorang kepadanya, kecuali Aleska yang mungkin kini juga mulai sadar dan akan menjauhinya.


"ya" jawab Aleska singkat setelah diam beberapa saat, karena dia juga telah sibuk dengan pikirannya sendiri, tadi di atas balkon dia berniat mengakui perasaannya, minta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Ruby, tapi tidak tahu kenapa respon gadis itu malah membuatnya gila hingga mereka berdua berakhir di atas ranjang.


untung saja dia belum sempat melakukannya lebih jauh dan menyakiti gadis yang teramat dia jaga.


melihat wajah tegang kakaknya, lagi lagi Ruby tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan.


dengan lembut Aleska menghapus air mata gadis itu dengan tangannya.


melihat wajah sembab Ruby, Aleska sedikit mengecup bibir basahnya.


kali ini dengan mata terbuka, dengan kesadaran penuh tampa nafsu, Aleska sambil mengusap lembut rambut Ruby.


"ayo hidup bersama?" ucap Aleska dalam sambil menatap mata indah Ruby.


mendengar apa yang di katakan Oleh Aleska Ruby merasa otaknya pusing berputar putar mencari jawaban maksud dari perkataan Aleska.


melihat wajah heran Ruby Aleska kembali membuka mulutnya.


dia sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Ruby.


"aku mencintaimu" bisik nya di teling Ruby, dan memeluk gadis itu erat dalam dekapannya.


"jadi jangan kemana mana? mengerti?" sambung Aleska lagi.


memikirkan jika nanti Ruby menemukan kedua orang tua kandungnya setelah dia membersihkan scandal mereka berdua dan mengembalikan nama baik Ruby, tapi otomatis orang orang akan mulai mencari tahu kebenaran itu dengan menemukan kedua orang tuanya, dan sebelum itu terjadi Aleska ingin Ruby berjanji untuk selalu bersamanya.


Ruby yang berada dalam pelukan Aleska sedikit terdiam sebelum dia mengangguk anggukkan kepadanya dengan antusias.


mungkin mereka berdua akan memiliki hubungan cinta terlarang, walaupun tidak masuk akal dia tetap akan setia berada di dekat Aleska tidak peduli sebagai apa, adik atau pun kekasihnya selama pemuda itu tidak pergi dan meninggalkannya di tengah dunia yang tidak menginginkan kehadirannya ini.


dengan kehidupan mereka berdua yang seperti ini, dia tidak memperdulikan apapun omongan orang lain, yang dia tahu, jika dia tersiksa maka hanya Aleska yang akan menyelematkan nya, jika dia lapar hanya Aleska yang akan memberinya makanan, jika dia mengantuk hanya ada kamar Aleska untuknya pergi tidur, dia tidak membutuhkan apapun selain pemuda itu, jadi apapun yang terjadi biar dia tidak peduli lagi.


"bagus, ayo tidur" sambung Aleska lagi dengan lega setelah mendapat respon anggukkan dari Ruby.


dia mengerti jika gadis itu juga mencintainya dan mau hidup bersama dengannya walaupun hanya memberikan respon anggukan tapi itu lebih dari cukup buat Aleska.


sekarang entah apa yang di pikirkan Aleska, dia telah mengatakan perasaannya tapi lagi dan lagi mulutnya kaku saat ingin mengatakan jika mereka bersua bukan saudara kandung.


dia begitu egois, menginginkan wanita dalam dekapannya ini sebagai wanitanya tampa memberikan penjelasan, jelas Ruby akan berada di situasi sangat sulit, dengan kepercayaan bahwa mereka berdua saudara kandung.


"aku begitu tega membebani otak kecil wanita ku dengan beban moral yang sangat berat" batin Aleska sambil terus mengusap kepala Ruby lembut.


dia menundukkan kepalanya untuk melihat wajah gadis itu, tapi saat melihat wajah Ruby yang terlihat tidak tertekan sama sekali dan respon nya yang tidak memperdulikan hubungan darah mereka berdua Aleska merasa sedikit lega, mungkin suatu saat dia akan Jujur kepada gadis itu, tapi jelas bukan sekarang. batinnya.


dalam sedikit kegelisahan Aleska memejamkan matanya berusaha tidur


begitupun dengan Ruby, dia sudah kelelahan menahan gejolak di dalam dirinya yang tidak tahu ingin dia selesaikan seperti apa, belum lagi menangis dengan segala ketakutannya.


tidak lama kemudian Aleska merasakan nafas Ruby telah berembus pelan dan teratur tanda dia telah tertidur pulas.


Aleska mengangkat sedikit kepalanya menatap lekat pada wajah polos gadis itu.


*hallo readers😌, selamat malam.


dukungan like dan komen dari kalian bisa memberikan kehidupan baru bagi author.


jadi selalu dukung author dengan like, vote dan kasi hadiah agar meningkat kan rating novel dan author bisa mendapat penghasilan dari itu.


juga membuat Author makin semangat berkarya dan meningkatkan kan kualitas karya lebih baik lagi, dan jika kalian ada saran langsung komen di bawah👇ya atau bisa juga dengan Dm ig author @cacacondadevita jangan lupa follow, nanti pasti author follback.


terimakasih🥰


salam hangat dari Author 🤗