Fall In Love With My Sister

Fall In Love With My Sister
006 flashback carllo



tampa terasa hari minggu sudah datang, Ruby yang bosan karena tidak ada kerjaan yang bisa dilakukanya. karena pekerjaan yang biasa nya dia lakukan, sekarang sudah di kerjakan seluruhnya oleh pelayan tampa membiarkan Ruby melakukan apapun.


akhir nya Ruby pergi mencari Aleska karena dia bosan duduk sendirian di mension dan berencana akan ikut latihan bersama kakaknya.


saat sampai dilihatnya kakak nya yang lagi latihan menembak jarak dekat dan dia menghampirinya.


"kakak boleh kah aku juga ikut berlatih?" tanya Ruby penuh harap.


"tidak" tampa melihat ke arah gadis itu.


"kenapa?" tanya Ruby tidak terima.


"karena kau begitu merepotkan" masih tidak memperdulikan keberadaan Ruby.


"ah kakak ayolah" bujuk gadis itu.


Ruby tidak mendengarkan kakak nya dan mengambil pistol lain yang terletak di atas meja, tidak jauh dari Aleska berdiri saat latihan.


Ruby yang sudah mendapatkan pistolnya mulai menembak sasaran yang berjarak sekitar 50 meter di depannya, dan saat menembakan pelurunya Ruby tidak mengenai satupun papan sasaran.


"ah kakak ternyata pistol ini sangat berat." keluh Ruby.


aleska melirik ke arahnya.


untuk ukuran dirinya memang pistol itu akan sangat berat,


Aleska heran melihatnya dan berkata


"kenapa kamu begitu tidak mau mendengarkan apa yang kata aku katakan?" ucap Aleska kesal.


"kenapa kakak juga tidak membiarkan aku untuk ikut berlatih bersama kakak" jawab gadis itu balik kesal.


"karena kamu tidak akan bisa, lihat mengangkat pistolnya saja kamu tidak kuat." ucap Aleska sambil melirik tangan Ruby yang kelelahan memegang pistol itu.


"segera letakkan pistolnya!, itu sangat bahaya."


Aleska bicara sambil berjalan pergi meninggal kan area latihan.


Ruby dengan kesal langsung meletakan pistolnya dan ikut pergi mengikuti Aleska.


melihat Aleska yang pergi Wanda yang memperhatikan mereka berdua dari jauh datang menghampiri Ruby.


"apakah kamu datang ingin mengganggu aku dan kak Aleska?" tanya ruby sinis.


"hahaha siapa anak gila yang akan merani melawan kakak mu" jawab wanda.


"apa maksud mu?" tanya Ruby yang kebingungan melihat reaksi wanda.


"aku Wanda, aku sangat mengagumi kak Aleska, dan aku tau kau selama ini ingin memanfaatkan Aleska untuk melindungi mu kan" tanya pemuda itu.


"bagaimana tidak, hidup di sini bagai di neraka" ucap Ruby.


"oh benarkah? terserah kau saja, aku akan memberitahumu, kalau kakak mu sangat berani, beberapa malam yang lalu tadi dia datang menemui ibuku langsung dan dengan berani mengancam ibu ku." ucap Wanda acuh sambil meninggalkan Ruby yang masih berdiri mematung dengan wajah kebingungan mencerna apa yang di katakan oleh Wanda barusan.


wanda yang pergi sama sekali tidak mengetahui perbuatan ibunya Amanda yang sangat kejam terhadap Aleska dan Ruby selama ini.


***


seiring bertambahnya usia mereka tapi tidak ada yang berubah, Ruby tetap saja selalu bergelayutan pada Aleska, dan sering tidur di ranjang nya.


tampa disadari Aleska juga mulai bergantung akan kehadiran Ruby yang selalu berada di sekitarnya, dia mulai terbiasa karena Ruby selalu berada di sisinya dengan tingkah konyol dan cerobohnya.


Aleska menatap Ruby yang selalu mengikutinya kemana mana, dia tidak sadar kearah mana perasaanya berkembang, dan dia tidak terlalu memikirkannya terlalu jauh yang penting Ruby selalu di sisi nya. setidaknya begitulah isi pikiran Aleska saat ini.


dia teringat saat dia menemui Amanda beberapa bulan yang lalu.


*flashback Aleska 2 on.


Amanda berbicara padanya bahwa dia sudah mempersiapkan calon suami untuk Ruby.


"bagaimana menurut mu?" tanya Amanda kepada Aleska.


Aleska terdiam, dia samasekali tidak setuju dengan apa yang di rencanakan oleh Amanda


"tidak nyonya, aku tidak akan membiarkan kamu melakukan pernikahan politik untuk mengendalikan adik ku." bantah Aleska.


"hahahaha kalau kamu ingin melindungi adikmu dengan baik sebelum pertarungan perebutan kekuasan pecah, lebih baik serahkan dia kepada keluarga yang bisa melindunginya. sekaligus bisa memberikan dukungan kepadamu, bukan kah itu adalah pilihan terbaik dan sekaligus akan memberikan keuntungan untuk mu" jelas nyonya Amanda.


"aku tidak bodoh, kamu tidak akan pernah melakukan apapun secara cuma cuma" ucap Aleska sinis.


"hahaha sesuai dugaan ku, kamu sangat pintar,"


ucap amanda dengan puasa.


"jangan coba coba untuk menganggu adik ku, apa lagi dengan alasan untuk melindunginya, kamu lebih tau, kalau aku lebih mampu dari siapapun." ancam Aleska dengan menyiratkan kejadian 7 tahun yang lalu dengan mengeluarkan aura yang mengerikan.


walaupun Aleska saat ini masih terbilang muda dengan usia 20 tahun tapi dia bisa mengintimidasi seorang Amanda yang sangat kejam.


Amanda begitu marah karena diremehkan oleh anak kecil tepat di hadapan wajahnya,


Aleska langsung pergi meninggalkan nyonya Amanda yang terpaku berdiri di tempatnya karena menahan amarah.


"Aleska tunggu" panggil Amanda.


Aleska menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang


"aku akan memaafkan mu karena berani melawan perintah ku hari ini. dan aku akan berbaik hati memberikan kalian beberapa orang pelayan dan satu orang kepala urusan rumah tangga." tawar Amanda dengan maksud lain tersirat dari kata katanya.


"apakah kau berniat untuk me mata-mataiku" ucap Aleska sambil mengangkat satu alisnya.


"hahaha Aleska, apakah kau mendapatkan kelicikan ini dari ayah mu atau ibu mu? hahahaha....


kau begitu menakutkan untuk ukuran bocah seperti mu" ucap Amanda dengan nada sedikit bergetar, entah ini karena menahan amarah atau dia merasa sedikit takut untuk berurusan dengan anak laki laki di hadapan nya ini.


karena dia selalu dengan mudah membantah dan mengetahui semua taktik yang di miliki Amanda di lengan bajunya.


"nyonya tidak usah bertele-tele, aku akan pergi, semua pelayan itu terserah kepadamu, kau ingin mengirimnya atau tidak, karena itu tidak akan menjadi hambatan untuk ku" ucap Aleska dengan remeh pergi meninggalkan nyonya Amanda yang terkenal begitu kejam, bahkan untuk mencapai tujuannya Amanda bersedia membunuh saudara kandungnya.


saat amanda menawarkan untuk memberikan pelayan, sebenarnya Aleska ingin menolak, karena mengetahui rencananya, tapi dia terbayang wajah Ruby yang penuh keringat kelelahan membersihkan dan merawat mension sendiri bahkan juga memasakkan makanan untuk mereka berdua, jadi dia tidak menolak.


melihat Aleska pergi dengan begitu acuh, tubuh Amanda benar benar bergetar karena menghadapi bocah laki laki itu.


"kenapa dia tidak menolak dengan keras seperti sebelumnya? sekarang bahkan dia tampak tidak peduli jika aku ingin memberikan pelayan kepada mereka, saat dia mengetahui dengan sangat jelas jika pelayan itu aku kirim untuk memata-matai mereka berdua.


apakah dia terlalu menganggap remeh diri ku? pikir Amanda dengan sangat kesal melihat kepergian Aleska dengan acuh meninggalnya di tengah mension luas yang sangat sepi dan dingin itu.


"dasar bocah sialan, aku akan menghancurkan mu , walaupun aku kesulitan untuk menyentuh mu saat ini, tapi adik sialan yang kau lindungi itu akan berada dalam genggaman ku, dan mari kita lihat nanti siapa yang akan menang." teriak Amanda dengan sangat kencang memecah kesunyian mension itu.


***