
sekarang mendengar apa yang dikatakan pria di ujung telepon devano itu, Jean membelalakkan matanya, sekarang dia mengerti, kenapa berita tentang skandal Aleska dan Ruby benar benar lenyap sepenuhnya tampa bocor sedikitpun.
ternyata itu semua bukan hanya kerjaan Aleska, tapi Devano juga ikut campur di dalamnya.
pantas saja.
tapi apa jalan pikirannya saat melakukan itu? " pikir Jean yang sudah tidak lagi mengerti dengan tindakan dari Devano.
Devano yang terus berusaha tenang menyikapi setiap masalah yang timbul di hadapannya, sekarang tidak dapat lagi mempertahankan sikap tenangnya itu.
dia berdiri dengan tiba-tiba dengan wajah memerah.
sebenarnya dia juga menyadari jika Aleska tidak mungkin tinggal diam terhadap masalah skandalnya dengan Ruby.
tapi saat mendengar pengakuan dari bawahannya secara langsung yang mengakui jika pihak dari Aleska lebih hebat dari pada dia, membuat Devano tidak dapat lagi menahan emosi keirian di hatinya.
(apa salah laki laki itu, dia mengatakannya dengan jujur, tampa tahu jika pihak yang dia akui lebih hebat itu adalah musuh dari bosnya itu sendiri.) pikir author😅. kalian juga pasti setuju kan?.
lagi lagi Jean di kejutkan oleh respon Devano yang di luar dugaannya.
"kenapa dia terlihat sangat marah, kemana perginya sikap tenangnya selama ini" batin Jean.
"pertama, sepertinya dia ingin membantu masalah tentang skandal Aleska yang tersebar luas.
kedua, tiba tiba saja dia berubah pikiran dan ingin mengembalikan situasi pada ke keadaan semula.
tapi saat dia tahu, itu sudah tidak mungkin lagi, dia malah sangat marah.
jean tahu Devano tidak bodoh, dia pasti juga sudah menyadari jika keterlibatan Aleska dalam menghapus semua berita itu sudah pasti.
tapi, saat orang itu mengatakan kebenaran kepadanya dia lagi lagi meledak karena marah. batin jean tidak habis pikir.
"tuan? apakah anda baik baik saja?" tanya Jean yang kini juga sidah mulai bingung harus bertindak seperti apa.
"bagaimana aku bisa baik baik saja?" Devano malah balik bertanya dengan wajah yang masih memerah.
"tuan, tenangkanlah diri anda!" ucap Jean dengan tegas dan sedikit meninggikan suaranya.
mendengar itu Devano mengangkat kepalanya melihat ke arah Jean.
kini air mata Devano mulai menitik turun ke pipinya.
kesedihan, kemarahan, kekecewaan yang teramat mendalam terlintas jelas pada mata merahnya.
selama ini saya sudah berusaha sebaik yang saya bisa.
saya juga tidak menyakiti siapapun.
saya juga tidak ingin menguasai apapun.
saya juga tidak ingin perusahaan atau menyingkirkan siapapun.
tapi saat saya sungguh sungguh menginginkan sesuatu kenapa itu terlihat sangat mustahil, bahkan akal sehat sayapun tidak dapat mencerna apa yang saya inginkan.
ucap Devano dengan suara pilu memegangi kepalanya.
dia terlihat terombang-ambing di tengah kebingungan.
melihat reaksi Devano yang demikian rupa, membuat Jean merasa terhenyak.
selama dia hidup, ini pertama kalinya dia melihat seorang tuan muda Devano yang memiliki segalanya tampa kekurangan apapun, sekarang terlihat seperti tidak memiliki apapun.
"keluar dari sini" dengan suara serak.
Jean pun kembali sadar, dia melangkahkan kakinya keluar dari pintu itu.
saat sampai di luar ruangan Devano, jean merasa baru saja kembali di ruang tampa ujung di dalamnya.
mentalnya pun ikut terguncang melihat bagaimana keadaan Devano.
dia merasa ikut hanyut kedalam penderitaan sahabatnya itu tampa tahu apa sebenarnya yang dia alami.
yang Jean tahu, selama ini Devano sama sekali tidak berambisi tentang kekayaan atau pun perusahaan keluarganya. dia hanya mengikuti apa yang di katakan oleh mamanya. persis seperti apa yang barusan dia katakan.
tapi keinginan seperti apa yang dia inginkan sampai dia tampak tidak berdaya dan tidak dapat melakukan apapun seperti tadi?
* Di kantor Aleska.
"tuan, semuanya sudah beres saya tangani dengan bersih" ucap Mike bangga dengan hasil kerjanya yang benar benar bersih, diapun sebenarnya juga tidak menyangka akan mendapatkan hasil yang sempurna.
"bagus, seperti yang kamu katakan, saya juga memeriksanya pagi ini, dan tidak menemukan ada celah dan kebocoran data apapun pagi ini" ucap Aleska yang juga dengan ekspresi puas.
walaupun dia sebenarnya masih sedikit terganggu dengan masalah lain yang dia timbulkan di rumah.
Dimana untuk pertama kalinya Ruby tidak tidur di kamarnya, dan gadis itu malah memilih untuk tidur di kamarnya sendiri tadi malam.
benar benar membuat suasana canggung di Antara mereka berdua semakin jelas, dan Aleska pun tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa kepadanya.
dia benar benar bingung.
jika dia mengatakan yang sebenarnya, dan mengakui bahwa Ruby bukan adik kandung nya, maka tindakannya akan masuk akal dan dapat di terima, walaupun nantinya Ruby tidak akan menerima dan membalas perasaannya.
tapi akibatnya Aleska malah tidak bisa terima jika gadis itu mencari keluarga kandungnya dan meninggalkan dia sendiri.
tapi jika dia tidak menjelaskannya kepada gadis itu, sementara yang di diketahuinya adalah mereka saudara kandung, dan berfikir jika Aleska yang merupakan kakaknya sendiri malah bertindak tidak pantas serta merendahkan harga dirinya di hadapan orang banyak.
memikirkan pendapat gadis itu saja terhadap dirinya, Aleska sudah sangat malu hanya untuk sekedar muncul di hadapan gadis itu.
karena mengingat ini saja Aleska sudah tidak ingin melakukan apapun lagi, dan dia terlalu gengsi untuk mengakuinya serta minta saran kepada Mike ataupun Hugo.
Aleska benar benar frustasi saat memikirkan ini.
Mike yang melihat Aleska hanya diam dengan wajah muram, dia mulai melanjutkan perkataannya.
"tuan, masalah berita itu sudah di redam dengan sangat baik, tapi muncul lagi masalah lain!" ucap Mike sambil memperhatikan raut wajah Aleska.
tapi karena Aleska masih terus diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri, Mike menoleh melihat ke belakang dimana Hugo duduk santai di atas sofa.
"ehemmm ehemmm" suara Hugo membersihkan tenggorokannya yang tidak gatal. dan langsung berdiri berjalan ke samping Mike yang berdiri di depan meja kerja Aleska.
"tuan?" panggil Hugo.
tapi sang empu yang di panggilnya hanya merespon sambil melihat ke arahnya sinis.
"jika anda terganggu dengan berita itu, kenapa anda tidak jujur saja pada nona Ruby?" tanya Hugo langsung pada intinya.
Mike yang juga mendengarnya langsung menoleh ke arah Hugo dengan wajah terkejut.
Aleska yang mendengar Hugo berkata demikian juga sedikit mengerutkan dahinya.
"apa itu terlihat begitu jelas" tanya Aleska berusaha menyembunyikan gelagat salah tingkahnya.
yah dia begitu pandai menyembunyikan emosi nya.
"tidak, anda hanya diam, tapi aku berfikir apa lagi yang bisa membuat anda pusing jika bukan tentang nona Ruby" ucap Hugo yakin.
"ehemmm" suara Aleska membersihkan tenggorokan nya.
"kita bereskan masalah lain terlebih dahulu" elak Aleska.
tapi sikapnya yang seperti itu membuat Mike lagi lagi memandang kagum kepadanya.
"tuan memang hebat, dia selalu mengesampingkan masalahnya terlebih dahulu" batin Mike.
"baik lah, sepertinya identitas kami berdua sudah tidak dapat lagi disembunyikan" lapor Hugo kepada Aleska dengan jelas, Tampa basa basi.
*hallo readers😌, selamat siang.
dukungan like dan komen dari kalian bisa memberikan kehidupan baru bagi author.
jadi selalu dukung author dengan like, vote dan kasi hadiah agar meningkat kan rating novel dan author bisa mendapat penghasilan dari itu.
juga membuat Author makin semangat berkarya dan meningkatkan kan kualitas karya lebih baik lagi, dan jika kalian ada saran langsung komen di bawah👇ya atau bisa juga dengan Dm ig author @cacacondadevita jangan lupa follow, nanti pasti author follback.
terimakasih🥰
salam hangat dari Author 🤗