
Ruby segera berlari menuju kelasnya untuk mencari sahabatnya Sintia untuk menanyakan apa yang terjadi, menyebabkan semua orang melihatnya dengan pandangan tidak senang.
seperti halnya saat pertama kali dia masuk ke sekolah ini, saat saudara tirinya Sofia yang merupakan putri bungsu Amanda, yang sudah menyebarkan gosip terlebih dahulu, kalau dia adalah putri dari seorang pelayan yang berani menggoda dan naik keranjang ayahnya.
sehingga menyebabkan Ruby selalu saja di bully oleh teman teman di sekolah, tapi karena suatu hal sofia tiba tiba pindah sekolah ke amerika, hingga bulian yang di dapatkan oleh ruby dari anak anak di sekolahnya mulai berkurang.
"Sintia,...." Ruby yang melihat teman nya sudah datang terlebih dahulu segera berlari ke arahnya, dan berbisik ke telinga sintia.
"Sintia apa yang terjadi, kenapa semua orang melihat ku dengan tatapan aneh?" sintia yang mendengar ruby bertanya segera menarik tanyanya pergi dari kelasnya menuju belakang sekolah yang cukup sepi.
setelah Sintia memastikan tidak ada seorang pun di sana sintia mulai bicara memperingati Ruby.
"Ruby, ini sangat gawat"
"ya aku tau, jadi cepat katakan apa yang sebenarnya yang terjadi"
"Ruby, kemaren aku telah melarang mu untuk ikut dengan Carllo dan adik nya, kamu lihat kan sekarang semua orang membencimu karena telah berani mendekati anak paling berkuasa di sekolah ini." terang Sintia kepada sahabatnya itu.
"mereka mengatai mu di belakang, mengatakan kalau kamu sama saja dengan ibu mu yang selalu saja suka menggoda lelaki kaya." tambah Sintia.
"Ruby kau harus tetap hati hati, mungkin sekarang mereka hanya membicarakan mu di belakang karena Sofia tidak ada lagi di sini" ucap sintia yang tak henti bicara
"tapi" ucap Ruby bingung ingin menjelaskan seperti apa.
"Ruby, jangan tapi tapian, kau ingat kan saat pertama kali kau masuk ke sekolah in? hingga akhirnya Aleska tiba tiba datang ke sekolah ini dan menolong mu, padahal kau bilang kakak mu itu tidak tertarik sama sekali untuk sekolah, apalagi di sini" ucap Sofia dengan sedikit rasa kesal atas tindakan sahabatnya itu yang dia anggap terlalu sembrono.
Ruby mengingat kembali bagaimana Aleska waktu itu menolongnya, saat semua orang selalu mem bully nya di sekolah ini dengan kejam.
*flashback Ruby on
dua tahun yang lalu saat dia berada di tingkat pertama tepatnya semester dua di sekolah nya.
setiap hari Sofia selalu saja mencari masalah dengannya.
seperti saat makan siang di kantin, Sofia datang dengan beberapa orang temanya berjalan berlenggak lenggok mengambil beberapa makanannya dan membawanya dalam nampan yang telah di sediakan oleh sekolah.
berjalan menuju meja makan tempat biasanya mereka duduk, dan dia akan dengan sengaja memilih jalan yang melalui meja Ruby tempat dia menikmati makan siang nya.
saat sampai di dekat Ruby maka di akan pura pura tersandung dan menjatuhkan nampan makan siangnya tepat di wajah Ruby, kemudian dia akan terlihat menyesal karena telah menumpahkan makanannya kepada ruby.
"oh Ruby, maafkan aku, makanan ku semuanya tumpah ke wajah kamu" ucap Sofia penuh penyesalan kepada Ruby yang wajahnya telah di penuhi oleh saus makanan.
"hahahaha" beberapa orang teman Sofia tertawa melihat muka Ruby ditumpahi oleh makanan dan saus. bahkan beberapa orang siswa yang melihat kejadian ini juga ikut menertawakannya
"Ruby, kenapa kamu diam saja, apakah kamu tidak mau memaafkan ku?" Sofia bertanya kepada Ruby yang hanya bisa diam dan menangis di perlakukan dengan kejam oleh Sofia.
"Ruby, bagaimana jika kamu pergi mengambilkan makan siang yang baru untuk nona Sofia kami, maka kami akan memaafkan mu, bagai mana nona Sofia? apakah kamu setuju?" teman nya yang lain mulai menyarankan beberapa ide yang akan menambah malu dan penderitaan bagi Ruby.
"sepertinya ini adalah kesepakatan yang adil"
Sofia tersenyum puas melihat Ruby bangkit dari tempat duduknya dan mengambilkan makan siang yang baru untuknya.
keesokan harinya Sofia yang melihat Ruby datang ke sekolah seperti biasanya, membuat Sofia bertambah kesal kepadanya.
"bukanya berhenti sekolah, dan duduk diam di rumah seperti kak ya yang bodoh itu, tapi dia malah datang lagi ke sekolah ini, seolah olah pelajaran yang selama ini di berikan kepadanya tidak mempengaruhi sialan itu." pikir Sofia di dalam benaknya yang melihat Ruby datang ke sekolah dengan tenang.
saat di rumah pun Sofia juga tidak bisa dengan leluasa menyentuh Ruby, karena ibunya nyonya Amanda tidak memberikan izin kepadanya untuk datang ke mension sisi timur tempat Ruby dan kakaknya tinggal.
jadi Sofia hanya bisa menjadikan sekolah sebagai tempatnya untuk bisa menyiksa Ruby dengan leluasa.
sebenarnya Sofia tidak ingin sekolah dimana Ruby sekolah saat ini, karena sebelumnya Sofia bersekolah di salah satu sekolah terbaik di Amerika.
tapi saat dia pulang untuk libur akhir semester dia menemukan bahwa ibunya tidak lagi menyiksa Ruby seperti dulu, dan hanya membiarkan anak tidak tahu diri itu hidup dengan nyaman di rumah mereka.
"ibu kenapa kamu membiarkan mereka berdua hidup dengan tenang begitu saja? kita harus memberikan pelajaran kepada mereka berdua.
apalagi gadis tidak tahu diri itu, siapa tahu nanti dia akan meniru perilaku ibunya yang suka menggoda lelaki kaya, itu akan mencoreng nama baik keluarga kita." hasut Sofia kepada ibunya.
"Sofia apa yang kamu katakan sangat benar, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja tapi untuk saat ini kita tidak bisa pergi ke mension sisi timur dan menganggu mereka, tapi tunggu saatnya nanti kakak mu sudah mengambil alih perusahaan ayah mu kita akan membuat hidup mereka berdua sengsara." bujuk Amanda kepada putrinya semata wayang.
Sofia yang mendengar ibunya berkata seperti itu membuat sofia tidak sabar ingin menyiksa Ruby dan kakak nya Aleska
"ibu, saya dengar perempuan itu sekarang akan masuk ke sekolah baru."
senyum licik terlintas di wajah cantik Sofia.
"apa rencana mu?"
"jika kita tidak bisa menyakitinya di rumah, maka kita akan menyiksanya di sekolah, hehehe" ucap Sofia dengan seringai jahat
"sayang ini ide yang sangat bagus. tapi bagaimana cara nya?" menatap lekat wajah Sofia.
"ibu, aku bisa pindah sekolah untuk sementara waktu ke sekolah perempuan sialan itu"
"sayang kamu sangat cerdas, tapi bagaiman dengan pendidikan mu di amerika." tetap saja Amanda lebih menghawatirkan masa depan sofia di banding segalanya.
"ibu tenang saja, setelah puas menyiksanya aku akan pergi kembali sekolah lama ku di amerika." ucap Sofia menangkan ibunya.
"tapi kamu harus tetap hati hati dia memiliki kakak iblis bersamanya" Amanda mengingatkan putrinya dengan sedikit rasa khawatir.