
Devano sengaja mengatakan itu untuk memancing Ruby agar mengajaknya datang kerumahnya.
dan seperti yang diharapkannya dari gadis itu. Ruby dengan santai mengajaknya untuk ikut kerumahnya dan melihat sendiri bagaimana hasilnya nanti.
"aku juga tidak tahu pasti, bagaimana hasilnya nanti apakah indah atau tidak. jika kamu ingin melihatnya kamu bisa datang ke rumahku" tawar gadis itu dengan polos.
*****
dalam hati devano "sepertinya gadis ini tidak bersandiwara, kelihatanya dia benar benar tidak menyadari jika aku adalah Devano.
dan satu lagi bagaimana dia bisa begitu polos mengajak orang asing untuk datang kerumahnya, apakah dia benar benar adalah gadis yang tumbuh bersama Aleska dalam satu atap semenjak kecil. mengingat betapa seram dan sadisnya pemuda itu sampai bisa dibilang jika dia bisa menguasai dunia dengan mudah, dan memperalat pemerintah sesuai keinginannya.
devano yang melihat perbedaan mereka berdua yang begitu besar, merasa tidak bisa percaya. bagaimana dia bisa memiliki adik perempuan yang begitu polos dan murni.
apakah dia meninggalkannya sendirian di rumah selama ini?.
jika dia adalah gadis yang begitu polos, bisa saja dia menjadi sasaran empuk oleh musuh musuh Aleska.
sepertinya dia tidak sehebat yang dipikirkan oleh orang orang orang, karena lihatlah sekarang di begitu ceroboh meninggalkan adik perempuannya sendiri di rumah.
pikir Devano berdebat dengan dirinya sendiri.
"apakah aku boleh datang ke rumah mu?" tanya Devano memastikan.
"tentu saja, kenapa tidak?" jawab Ruby dengan polos sambil kembali membalikkan badannya untuk melihat bunga selanjutnya yang akan dia petik.
melihat tingkah Ruby yang seperti ini Devano semakin gemes melihat gadis itu, kelihatanya dia begitu menikmati kegiatan nya ini.
"apakah aku boleh ikut membantu" tanya Devano menawarkan bantuan.
"tentu saja, tapi kamu harus hati hati, agar mereka bisa kembali berbunga dengan baik, dan tidak menyebabkan daun mereka layu" jelas gadis itu antusias.
"bagaimana cara melakukanya?" tanyanya lagi.
"hmm kamu lihat bunga ini, ini adalah tipe bunga yang tidak bisa di petik walaupun terlihat sangat indah, karena jika kamu memaksa untuk tetap memetiknya maka tangkai yang tertinggal akan layu dan mati" jelas Ruby.
"begitu kah" ucap devano singkat.
(sepertinya dia mengetahui banyak hal tentang bunga) pikir Devano.
setelah mereka berdua selesai memetik beberapa tangkai bunga hingga keranjang di tangan Ruby penuh.
"sepertinya ini sudah cukup, ayo kita pulang" ajak Ruby sambil menoleh ke arah Devano yang di pangginya Deva itu.
mendengar Ruby yang mengatakan untuk mengajaknya pulang bersama, lagi lagi kepolosan gadis itu membuat pipinya memerah, dia memandang gadis yang ada di depannya dan membayangkan jika mereka berdua benar benar pulang ke rumah mereka.
(ah, apa yang aku pikirkan) dalam hati Devano.
mereka berdua pun berjalan beriringan bersama menuju mension.
silahkan masuk.
saat Devano masuk untuk ketiga kalinya ke mension itu, dia memperhatikan sekelilingnya dan mension ini masih saja sama saat pertamakali dia datangi.
Devano melihat ke arah tv yang sedang menyala di depan sebuah sofa panjang dan sehelai selimut yang terlihat baru saja di pakai.
"apakah di rumah ada orang lain?"
Devano sengaja bertanya sambil melihat ke arah tv yang yang sedang menyala.
"oh itu, aku sengaja selalu menyalakan tv saat berada di rumah sendirian, karena aku takut sendiri, jadi saat tv menyala aku merasa memiliki teman dan suasana di rumah pun terasa ramai.
karena aku hanya tinggal berdua bersama kakak ku, dan dia sering tidak berada di rumah. jadi aku lebih sering menghabiskan waktu ku sendiri di rumah." jelas Ruby panjang lebar kepada Devano, karena merasa jika Devano bukan orang jahat)
mendengar ini Devano merasa kasihan melihat gadis yang ada di hadapannya.
selama ini bagai mana gadis polos ini bisa bertahan hidup di keluarga ini? pikir Devano.
dia pasti menjalani hidup yang cukup sulit selama ini. dan merasa sangat kesepian karena hanya hidup berdua bersama Aleska, itupun Aleska pasti sangat jarang berada di rumah.
sekarang Devano mengerti situasi yang di lihatnya waktu pertama kali dia datang ke tempat tinggal Ruby, dimana beberapa tangkai bunga berserakan di atas meja makan, dan tv masih dalam keadaan menyala dengan beberapa boneka kecil yang berserakan di atas karpet berbulu di depan tv.
ternyata itu bukan di lakukan oleh dua orang, ibu dan putri kecilnya seperti yang dipikirkan oleh Devano, melainkan hanya di lakukan oleh seorang gadis kecil yang meninggalkan rumahnya dalam kondisi pintu terbuka dan tv masih menyala.
pasti saat itu dia tidak berada di rumah karena pergi ke luar untuk memetik bunga kan.
memikirkan ini, seulas senyuman konyol terlukis di bibir Devano.
"kamu kenapa tersenyum?" tanya Ruby yang melihat ke arahnya.
"ah itu, karena aku senang. apakah kamu mau berteman dengan ku?"
devano mengacungkan tangannya ke arah Ruby untuk bersalaman.
"tentu saja"
Ruby menyambut uluran tangan pemuda itu.
baru saja Ruby melepaskan tangannya tiba tiba terdengar suara seseorang yang baru saja datang.
"apa yang kamu lakukan di sini?"
suara aleska terdengar begitu nyaring di telinga Devano dan membuatnya tersentak, karena dia merasa seperti seorang pengecut, telah datang ke rumahnya saat dia tidak berada di rumah.
"kakak, kamu sudah pulang" sapa Ruby,
dia terlihat sangat senang dengan kedatangan kakaknya.
Devano tidak menyangka jika Aleska akan pulang secepatnya itu, karena biasanya jean melaporkan jika Aleska pulang selalu terlambat.
(apa yang terjadi hari ini, apakah hanya kebetulan) pikir Devano
diq lihatnya Aleska berjalan pelan ke arahnya tapi Dengan langkah pasti.
"aleska, aku....
seketika mulut Devano terasa kaku dia tidak bisa lagi melanjutkan kata katanya karena dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan situasinya saat ini.
"kakak tadi aku bertemu dengan Deva di luar dekat pinggir hutan Pinus saat ingin memetik bunga di sana jadi aku mengajaknya untuk datang ke rumah kita."
Devano melihat ke arah Ruby yang membantunya menjelaskan situasi saat ini.
tapi lagi lagi Devano tercekat karena Ruby masih memanggilnya dengan nama deva.
Devano langsung melihat ke arah Aleska dan memperhatikan raut wajahnya, dia penasaran bagaimana Aleska akan beraksi.
tapi Devano melihat jika Aleska hanya mengangkat satu alisnya, dan menatap lurus ke arahnya, sepertinya dia meminta suatu penjelasan dari Devano.
benar saja, dalam hati Aleska "bagaimana Ruby masih belum mengenali identitas Devano sebenarnya, bahkan setelah bertemu dengan nya di pesta."
dan Aleska sengaja melirik ke arah devano memperhatikan raut wajahnya.
melihat Aleska yang masih menatap lurus ke arahnya Devano tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya berdiri kaku di tempatnya, dan sedikit merasa rendah diri karena sekarang dia pasti terlihat seperti seorang pengecut di hadapan Aleska.
Bukan, bukan itu yang dia takutkan, lebih tepatnya dia takut jika Aleska membongkar rahasianya sekarang di hadapan Ruby.
apa yang di pikirkan oleh anak ini sebenarnya "dalam hati Aleska yang melihat wajah pucat Devano"
karena Aleska sangat ahli dalam menilai situasi tentu saja dia mengetahui dengan jelas ketakutan yang terlihat di wajah devano itu tentu saja karena dia takut jika Aleska membongkar rahasianya kepada Ruby.