
Mendengar Jean yang semakin berisik Devano menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berdiri.
Bukanya dia balik untuk memarahi Jean kembali, tapi dia malah berjalan ke arah jendela seperti mayat hidup.
Melihat ini Jean tidak bisa berkata kata lagi.
"Sebenarnya apa yang menyebabkan Devano bertidak seperti sekarang, dia bukan seperti diri nya sendiri." Batin Jean sambil mencoba mengingat ingat kejadian sebelumnya.
*****
Sekarang Jean duduk di tepi tempat tidur Devano mencoba memperhatikannya yang sekarang berdiri di jendela menghadap keluar.
Tiba tiba Jean melihat mata Devano yang sayu berubah berkaca kaca seperti akan menitikkan air mata.
Jean melangkah mendekat dan berdiri di samping Devano mencoba melihat dari dekat apa sebenarnya pemuda itu lihat, sehingga menimbulkan reaksi yang demikian rupa.
Jean mengikuti arah pandangan Devano yang memperhatikan sebuah mobil hitam yang baru saja lewat, dan Jean juga ikut memperhatikan mobil itu.
Karena jendela mobil itu sedikit diturunkan, orang yang duduk di dalam mobil tersebut terlihat cukup jelas, itu adalah seorang gadis memakai seragam sekolahnya.
Melihat itu Jean memaksa otaknya untuk bekerja keras memikirkan kemungkinan apa saja yang bisa terjadi.
Oh tidak. Otak Jean tiba tiba berhenti saat mengingat ekspresi Devano saat melihat Aleska memeluk gadis itu saat malam pesta.
Sebagai seorang lelaki dia mengetahui dengan jelas apa arti tatapan Devano saat itu. apa lagi dia sudah sangat mengenal Devano dengan baik karena mereka berdua adalah sahabat dari kecil, bisa di bilang mereka telah tumbuh bersama.
"Devano jangan mencoba melakukan hal hal yang aneh" ucap Jean tiba tiba dengan nada yang malah terdengar lebih aneh.
Kini reaksi Jean menarik perhatian Devano. dan dia menoleh ke belakang melihat ke arah Jean.
"Apa maksud mu" tanya Devano.
"Devano, dari awal aku telah memperhatikan tindakan kalian berdua kepada gadis kecil itu" ucap Jean.
Yang kini dimana perkataan Jean malah tambah melantur terdengar di telinga Devano.
"Jean bicaralah dengan jelas" tanya Devano lagi tampa minat.
"Aku tidak abis pikir kepada kalian berdua. kamu dan Aleska sama sama bertindak aneh kepada gadis kecil itu, katanya di adalah adik perempuan Aleska kan?" tanya Jean di akhir Kalimatnya.
mendengar ucapan Jean membuat jantung Devano seperti akan berhenti.
otaknya terus berputar mengulangi perkataan Jean terus menerus.
"sepertinya ada sesuatu pada gadis itu, bahkan keluarga Carllyss pun berani mengambil resiko untuk berhubungan dekat dengannya." ucap Jean sambil terus mengusap usap dagunya berfikir.
Jean melihat ke arah Devano untuk melihat reaksinya. tapi dia hanya diam mematung tidak bereaksi sama sekali.
*
Sementara nyonya Amanda telah sibuk mondar mandir di kamarnya memikirkan bagaimana langkah selanjutnya, yang akan dia lakukan untuk bisa mengalahkan Aleska.
"tidak mungkin, bagaimana bisa seperti ini, dia pasti melakukan cara yang sangat kotor untuk bisa mendapatkan posisinya sekarang ini. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan mu." Ucap nyonya Amanda penuh tekat, dia sangat marah memikirkan tindakan Aleska yang sangat sombong saat menghancurkan pesta perayaan perusahaan baru Devano.
"Nyonya tenang lah, pasti ada celah untuk kita menghancurkannya, saya dengar semua orang telah mengetahui jika asistennya Mike adalah orang dari kerajaan Rumania, tentu saja kita bisa memanfaat kan situasi ini" Ucap Marta yang merupakan asisten sekaligus pelayanan pribadi nya.
"Marta apa maksud mu?" tanya nyonya Amanda yang mulai tidak sabar.
Marta mendekat kearahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga nyonya Amanda, sesaat senyuman mengembang di bibir merah nyonya Amanda.
*****
"Kita sudah sampai, jangan lupa untuk menghubungi ku saat kamu pulang nanti" Aleska mengingatkan Ruby untuk memastikan menghubunginya saat pulang sekolah.
Karena mulai saat ini akan ada banyak orang yang mengetahui identitas Ruby dan mencoba untuk menyakitinya, karena dia adalah satu satunya orang yang berhubungan dekat dengan Aleska.
Walaupun Ruby sudah menguasai ilmu bela diri dan bisa menggunakan senjata api, tetap saja Aleska merasa tidak tenang membiarkannya sendiri.
"Hmm baik lah, nanti jika kakak sibuk, suruh saja kak Hugo atau kakak Mike datang untuk menjemput ku" kata gadis itu patuh.
Mendengar ini Aleska menaikkan satu alisnya.
"Sejak kapan kamu memanggil mereka berdua dengan sebutan kakak?" Tanyanya sedikit sewot.
"Sejak tadi pagi, karena mereka adalah teman baik kakak, maka aku memutuskan juga menganggap mereka sebagai kakak ku" jelasnya tampa beban.
"Bagus" Aleska mengusap kepala Ruby, dia cukup puas mendengar jawaban dari gadis kecil itu.
"Ah kakak, kamu membuat rambut ku berantakan," protes Ruby yang kesal kepada kakaknya.
Sedangkan Aleska hanya tersenyum melihat tingkah adik nya.
"Kakak, sepertinya sekarang kamu sudah kembali baik baik saja, karena kamu sudah kembali menyebalkan" ucap gadis itu sambil memegang puncak kepalanya.
Aleska hanya tersenyum dan menyuruh Ruby segera pergi ke sekolah sebelum dia benar benar terlambat.
Aleska mengakui jika suasana hatinya sekarang sudah sedikit lebih baik berkat Ruby.
Aleska tersenyum senang memutar mobilnya dan kembali ke mension dimana ada tiga orang pemuda yang menunggu kedatanganya.
"Kenapa kak Aleska lama sekali" Wanda terus melihat ke arah luar jendela dan menunggu Aleska dengan tidak sabar.
"Hey apakah kamu tidak bisa tenang"
Kali ini suara Mike yang sangat jarang keluar tiba tiba tidak tahan dan menegur tingkah Wanda yang sangat meresahkan baginya.
Bagaimana tidak, Mike adalah orang yang tenang dan tidak suku keributan. karena itu dia sudah tidak tahan melihat tingkah Wanda.
Sementara Hugo seperti biasanya, dia sangat cuek dan tidak peduli apapun yang ada di sekitarnya bahkan saat bersama orang baru.
"Apa maksud mu,? apakah kamu tidak tahu, aku bisa bebas melakukan apapun di rumah ku" Wanda juga membalas perkataan Mike dengan tidak kalah ketus.
Mendengar ini Mike hanya terdiam sementara Hugo yang terlihat selalu cuek dan tidak pedulipun tertawa geli mendengar jawaban dari Wanda.
"Hahahaha, benar sekali, Mike bersikap sopan lah sedikit, kita adalah tamu." Sambil terus tertawa geli dan memegangi perutnya.
"Kenapa kalian terlihat begitu bahagia?"
Tiba tiba Aleska sudah berada di depan mereka bertiga.
"Kakak, aku ingin bicara kepadamu!" Ucap Wanda bicara langsung saat melihat Aleska.
"Tentu saja, silahkan bicara" jawab nya.
Mendengar ini Wanda secara otomatis melirik kedua pemuda yang berada di belakangnya.
Tentu saja Aleska menyadari maksud dari Wanda.
"Tidak apa apa, kamu bisa bicara di sini" kata Aleska.
"Hmm baik lah, apakah kakak benar benar adalah CEO Unity Resource Group?" Tanya Wanda sedikit menurunkan nada suara.
"Bisa di katakan begitu" jawab Aleska ringan.
"Kalau begitu, apakah aku boleh melihat lihat anggota Unity Resource Group saat latihan?"
Tanya wanda lagi dengan penuh harap.