
perempuan itu berjalan tepat di samping David menuju ke arahnya.
"david, siapa dia?" Amanda bertanya dengan suara yang sedikit bergetar karena marah.
"dia adalah Aleya," ucap David menyebutkan nama gadis yang di bawanya itu.
Amanda melirik ke arah perempuan itu, dia memakai gaun merah lusuh yang menempel di kulit nya yang begitu halus seputih susu sangat kontras dengan gaun lusuh yang di pakainya, membuat perasaan Amanda bercampur aduk.
gadis itu hanya menundukkan kepalanya diam, seperti dia mengabaikan keberadaan semua orang.
"David siapa dia? kenapa kamu membawanya kembali bersamamu?" tanya Amanda sudah tidak sabar.
"mari kita masuk, di luar sangat dingin, aku akan menjelaskannya pada mu nanti."
walaupun Amanda tidak rela melihat David datang bersama perempuan lusuh itu tapi dia dengan tenang tetap mengikuti langkah David untuk masuk kedalam mension.
sambil terus memperhatikan wanita itu, walaupun dia terlihat sangat menyedihkan dengan penampilan lusuh seperti itu tapi sebenarnya dia sangat cantik, itulah yang membuat Amanda merasakan gejolak amarah di dadanya yang berusaha dia tahan.
"kalian bawa dia masuk, siap kan kamar di sisi timur mension untuknya, dan kalian urus semua keperluannya. ah satu lagi, pertama Tama kalian harus memandikannya terlebih dahulu dan ganti pakaian nya dengan yang lebih layak." perintah David kepada pelayannya.
"baik tuan" mereka semua mengangguk patuh sambil membawa Aleya pergi bersama mereka.
David kembali berjalan di samping Amanda yang juga mendengarkan semua perintah yang diberikannya kepada pelayan.
Amanda merasa posisinya sangat terancam karena kehadiran perempuan yang tidak tau asal usulnya. memang dia menikah dengan David karena di jodohkan oleh kedua orang tua mereka atau pernikahan politik, dia tau David tidak pernah mencintainya, karena ini dia takut kalau David sudah jatuh cinta kepada perempuan itu.
"David apakah kamu mencintainya?" tanya Amanda dengan air mata yang sudah mulai mengalir di pipinya.
"maaf kan aku Amanda, kamu tau selama ini kita tidak pernah saling mencintai." jelas David mencoba membujuk Amanda.
"walau pun begitu kita sudah menikah dan saat ini aku telah mengandung anak mu, kenapa kamu sangat kejam kepada ku" dengan tangis yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Amanda kamu boleh melakukan apa saja sesuka hati mu, asal kamu jangan mengganggunya, dan biar kan dia sendiri. aku pastikan dia juga tidak akan pernah menganggu mu." ucap David lembut yang masih mencoba menenangkan Amanda, bagaimanapun sekarang wanita itu sedang mengandung anaknya.
karena pada dekade itu wajar bagi pria untuk memiliki istri lebih dari satu orang, bahkan banyak dari mereka yang berstatus tinggi memiliki beberapa istri sah dan di tambah beberapa orang gundik.
David selama ini tidak memiliki gundik atau tidak menikah lagi hanya karena dia belum menemukan seseorang yang dia cintai, tapi saat bertemu dengan gadis itu, dia langsung membawanya pulang.
Amanda yang mendengar penjelasan David yang tidak pernah mencintainya menangis dengan kuat dan sekali kali berteriak melampiaskan hati nya yang sangat sakit. melihat suaminya membawa perempuan asing yang dicintainya pulang ke rumah saat dia sedang hamil besar.
*
mengingat kejadian ini kembali, dendam di hati Amanda masih begitu membara seakan tidak akan pernah padam.
"ibu apakah kamu baik baik saja?" tanya Devano yang melihat riak wajah ibu nya yang melamun cukup lama mulai terlihat tegang karena marah. akhirnya Devano bertanya memastikan keadaan ibunya.
"ah ya ibu baik baik saja" Amanda segera memperbaiki ekspresinya
"terimakasih sayang" hati amanyda terasa begitu tentram mendengar putranya yang tampan sudah dapat di andalkan.
saat kembali ke kamarnya Devano mulai menelfon seseorang
"aku tidak peduli, semua orang yang dia temui laporkan padaku tampa terkecuali." perintah Devano kepada seseorang di ujung telfon.
"baik tuan muda."
*
sementara suasana terlihat tegang di kantor Carl yang merupakan ayah dari Carllo dan Rice.
"sialan, aku sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tapi siapa orang yang berani menghancurkan rencana ku?" teriak tuan Carl kepada bawahannya.
"kami sudah menyelidiki ini tuan, dia adalah putra kedua davidson." jelas mereka dengan kepala tertunduk.
"putra kedua?" Carl berpikir cukup lama.
"bukankah putra keduanya itu tidak berguna?" ucap Carl berusaha mengingat ingat.
"maksud tuan apakah wanda yang kuliah sedang jurusan seni?" tanya bawahannya itu dengan hati hati.
"benar, siapa lagi, kalau bukan putra anehnya itu, yang tiba-tiba pindah dari universitas ke sekolah menengah hanya orang bodoh yang melakukan itu. atau apakah dia memiliki seribu orang putra?." ucap Carl merasa sangat kesal mendengar laporan bawahannya.
"bukan dia tuan, sebenarnya Wanda adalah putra ketiga Davidson, putra keduanya bernama Aleska dia adalah putra dari istri keduanya." berusaha menjelaskan walaupun tahu, ujung ujungnya yang bakal di marahi juga adalah mereka.
"kenapa kalian baru mengatakannya sekarang?" hardik Carl.
"maaf tuan, kami juga baru mengetahui fakta ini saat kami menyelidiki masalah ini tuan." jelas mereka.
"sial mengapa Davidson sialan itu begitu beruntung memiliki putra-putra yang sangat dapat di diandalkannya untuk melindungi dirinya sendiri." sedikit merasa iri.
"tuan tenang saja, kita juga memiliki tuan muda Carllo dan tuan muda Rice yang juga sangat hebat" mencoba menenangkan tuanya yang tengah di landa emosi.
"benar, benar sekali apa yang kamu katakan, aku juga memiliki beberapa orang putra bersamaku. seharusnya juga seorang putri." ucapnya.
wajah tuan besar Carl yang barusan terlihat sangat bangga mengingat kedua orang putra nya. kini ekspresinya langsung berubah seperti terlihat murung dan sangat sedih, terlihat jelas dimatanya yang bahkan sudah mulai berlinang air mata.
"tuan, semuanya akan baik baik saja, kami pun sampai saat ini tidak pernah berhenti mencari tuan putri kecil, kami yakin dia masih hidup di suatu tempat." tetap berusaha menenangkan tuanya.
"aku juga berharap seperti yang kamu katakan"
Carl kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat istri yang sangat di cintanya melahirkan seorang putri yang sangat cantik, dengan tanda lahir yang terlihat seperti setangkai bunga mawar yang masih kuncup di belakang bahu kirinya.
saat itu, di tengah hujan badai Carl menemani istrinya terbaring lemah di atas tempat tidur karena baru saja melahirkan seorang putri yang sangat cantik untuknya.
"sayang terimakasih sudah melahirkan seorang putri yang sangat cantik untuk ku." sambil mengusap dan mencium wajah istrinya.
sementara putrinya yang baru saja lahir ke dunia di bawa oleh seorang dokter yang membantunya melahirkan untuk segera di mandikan dan yang lainya.
"tuan tuan,...
terdengar teriakan pelayan sangat kuat karena panik.
pelayan itu berlari, ke ruangan Carl dan istrinya berada.
"tuan ampuni aku, tuan putri kecil hilang bersama dokter yang membantu nyonya melahirkan tadi." lapor pelayan itu dengan nafas yang tersegal-segal akibat berlari terlalu cepat.
Carl merasa tidak percaya dengan apa yang di dengar nya, tapi wajah ketakutan pelayan itu membuatnya berfikir kembali dan memerintahkan seluruh pengawalnya untuk mencari kemana dokter itu membawa putrinya.
*****