Baby I Love You

Baby I Love You
Hilang



1 tahun telah terlewatkan semua orang yang berangkat bareng sama Syafira telah kembali namun Syafira lagi - lagi menghilang dan tak kembali, Alan sudah mencarinya ke seluruh wilayah dan dia juga sudah mengerahkan semua anak buahnya tapi tetap saja Syafira tak dapat ditemukan. Semua teman Syafira juga tak ada yang tau karena menurut mereka semuanya kembali bersama pada hari itu.


"Saya benar - benar tidak tau pak, waktu itu mereka memang kembali lebih cepat dari jadwal karena semuanya sudah selesai lebih awal, dan mereka kembali bersama. Tapi setelah berpisah di bandara saya tak tau kemana mereka pergi, karena saya pikir semuanya pasti tujuannya adalah pulang ke rumah mereka masing - masing." jelas Bu Prapti pada Alan yang datang untuk bertanya.


"Apa ibu tak mendapat telepon darinya atau dia memberi kabar kalau dia akan kemana?" Alan bertanya dengan panik.


Bu Prapti menggelengkan kepalanya "saya benar - benar tak tau pak, dan Syafira tak memberitahu saya apa pun, terakhir dia menghubungi saya hanya saat mereka mau kembali saja." Bu Prapti menjawab dengan bingung juga karena dia memang tak tau apa pun.


"Baik kalau begitu terima kasih Bu." Alan pun pamit dan menuju ke rumah Milky


Dalam perjalanan ke rumah Milky pikiran Alan telah kacau karena dia tak tau harus berbuat apa lagi jika sampai Syafira benar - benar menghilang. Dan sesampainya di rumah Milky ternyata mereka justru tak tau apa pun, Milky dan keluarganya malah merasa bingung dan kaget dengan apa yang diceritakan oleh Alan.


...🌴🌴🌴...


"Aaaarhg.!!" Alan berteriak kesal dan menghancurkan semua barang yang ada diatas meja kerjanya. "Kenapa dia pandai sekali bersembunyi, coba lihat saja saat aku menemukan mu nanti."


Setelah beberapa hari mencari dan tak mendapatkan titik terang soal keberadaan Syafira dan Alga, Alan mulai tak bisa sabar. Emosinya mulai tak stabil dan dia jadi lebih sering marah - marah.


"Al, apa yang kau lakukan ini? Apa kau ingin menghancurkan semuanya?" Alea yang mendengar suara barang - barang jatuh langsung melihat ke ruang kerja Alan.


"Jika dia pergi karena keinginannya aku akan terima kak, tapi setidaknya aku harus tau apa alasannya. Kenapa, kenapa dia harus menghilang lagi setelah dia memberikan segalanya pada ku kak, kenapa?!" Alan berteriak dengan amarah yang memuncak.


"Sabarlah kita akan tau nanti, kakak yakin dia punya alasannya sendiri, seperti saat dia pergi dan melahirkan serta membesarkan Alga seorang diri. Dan kali ini dia pasti dia punya alasannya juga. Kakak yakin dia akan kembali pada kita jadi kamu jangan putus asah seperti ini. Syafa pasti juga tak ingin melihat mu jadi seperti ini Al." Alea berusaha untuk menenangkan Alan dan memberinya penjelasan yang dia sendiri juga tak tau kapan Syafira akan kembali.


Mendengar kakaknya bicara Alan hanya diam tak merespon, dia merasakan sesak dalam hatinya karena dia merasa rindu dan juga amarahnya sama besarnya. Tapi Alan berusaha untuk tenang dengan semua masalah yang dia hadapi.


"Syafa, kemana lagi kau pergi sayang? Kenapa kau selalu membuat Daddy merasa takut tiap kali kau melakukan tindakan dan keputusan tanpa pemberitahuan." Alan merenung dan bergumam sendiri sambil menatap langit malam dari teras kamarnya.


Hari - hari telah berlalu dan orang - orang Alan tetap mencari tanpa henti. Alan pun jadi sering mendatangi setiap klub malam dan bar hanya demi mendapatkan kalau mungkin saja Syafira akan melakukan pertunjukannya disalah satu tempat itu.


...🌴🌴🌴...


Disebuah toko disalah satu mol Bian yang melihat Aditya dan Sandra langsung menghindar karena dia tau siapa mereka berdua, namun Bian kalah cepat sebab Aditya telah melihatnya dan dengan cepat mengejar Bian.


"Tuan Bian, apa kabar." sapa Aditya pada Bian bos Syafira di restoran.


"Ah, tuan Adit. Apa anda kemari karena ingin belanja degan istri anda?" Bian bertanya dan membuat dirinya setenang mungkin.


"Tenang saja saya sudah tau soal anda dari Syafa jadi anda tak perlu kikuk begitu sama kami." Aditya berkata dan menepuk bahu Bian.


"Oh, oh begitu ya." Bian menjawab dengan canggung.


"Halo saya Sandra istri mas Aditya." Sandra mengulurkan tangannya pada pria yang berdiri di samping Bian.


"Oh iya saya Arif manajer di restoran tuan Bian." jawab Arif dengan senyuman dan menyambut uluran tangan Sandra.


"Apakah kalian juga datang untuk berbelanja?" Sandra bertanya dan menatap Bian sama Arif bergantian


"Benar kami berbelanja untuk keperluan restoran." Arif menjawab dengan senyuman ramah.


"Oh iya tuan Bian apakah anda pernah menerima panggilan dari Syafira?" Aditya bertanya karena berfikir mungkin saja mereka tau karena selama ini Bian sangat dekat dengan Syafira.


"Baiklah kalau ada kabar tolong beritahu saya, silakan kalian lanjutkan lagi kami permisi." Aditya pun pergi bersama dengan Sandra.


"Mereka benar - benar penyuka sesama jenis ya mas" Sandra berkata dan tersenyum


"Hem sepertinya begitu." Aditya menjawab seadanya.


"Syukurlah mereka sudah pergi." Bian merasa lega setelah Aditya pergi.


"Tapi bos mau sampai kapan ini akan dirahasiakan? Kasian, sepertinya mereka memang sangat mengkhawatirkan mereka." Arif berkata dan menggelayut manja pada Bian.


"Hem, biarkan saja sampai Syafa sudah siap. Ayo kita lanjutkan lagi belanjanya kamu mau beli apa tadi." Bian berkata dan menarik Arif.


...🌴🌴🌴...


"Pak sepertinya alasan non Syafa pergi adalah karena ini." Bandi menyerahkan sesuatu pada Alan.


"Apa ini?" Alan menatap Bandi dengan bingung.


"Itu adalah rekaman yang saya dapatkan dari sekolah di taman kanak - kanak pak, silakan bapak lihat sendiri." Bandi berkata dan meminta Alan untuk melihatnya sendiri.


"Bu guru." Syafira.


"Mama." Alga lari dan memeluk Syafira dengan menangis.


"Sayang tenanglah ada mama di sini, sudah jangan menangis lagi ya anak mama yang kuat." Syafira menyeka air mata Alga.


"Mama Alga maaf saya tak bisa berbuat apa - apa, mereka adalah perwakilan dari para investor di sekolah ini, dan mereka bilang kalau Alga tak memiliki ayah dan terlahir tanpa seorang ayah jadi mereka ingin agar Alga tidak lagi bersekolah di sini." guru Alga.


"Tapi kenapa harus begitu Bu? Apa salah dari putra saya? Kenapa lahan pendidikan harus mendiskriminasi seperti ini?" Syafira


"Karena aku gak mau kalau sekolah yang aku biayai ini menjadi sekolahan yang sembarangan menerima anak dari seorang j*l*ng seperti mu itu." Anita yang keluar dari kerumunan para orang - orang.


Syafira berdiri sambil menutup kedua telinga Alga yang berdiri terisak memeluk kaki Syafira. "Apa maksud anda, dan saya tak mengenal anda. Kenapa anda bisa menghina saya seperti itu?" Syafira


"Kau adalah perebut cowok orang, apa kau tak tau karena dirimu Alan meninggalkan Fira tunangannya dan sekarang karena dirimu juga Alan menolak aku yang sudah lama berada disisinya. Kalau bukan j*l*ng lalu aku harus memanggilmu apa? Wanita yang bekerja di klub malam dan menari dengan menunjukkan tubuhnya dihadapan semua pria hidung belang yang menginginkan tubuh seorang wanita, dan jangan - jangan putramu itu juga hasil dari hal itu." Anita berkata dengan bertolak pinggang.


"Benar, kami gak mau kalau nanti anak - anak kami terpengaruh oleh anak yang tak benar asal usulnya." Wali murid 2


"Benar keluarkan saja dia dari sekolah ini." Wali murid 1


"Iya, kalau dia tak keluar maka kami yang akan mengeluarkan akan - anak kami." Wali murid 3


"Baiklah. Saya permisi, saya akan membawah anak saya keluar." Syafira


Alan mengepalkan kedua tangannya saat dia melihat rekaman video itu, dan dia tak tau kalau ada kejadian seperti itu yang dialami oleh istri dan juga putranya yang sebenarnya tak salah apa pun. "Kapan kejadian di video ini terjadi?" suara Alan sangat penuh dengan penekanan dan amarah.


"Maaf pak mungkin itu sudah sangat lama, karena saya baru mendapatkannya dari salah satu guru yang mengajar disana. Dan dia baru bisa serta berani menyerahkan hasil rekaman itu setelah dirasa semuanya sudah cukup tenang." jelas Bandi pada Alan.


"Atasi Anita dan buat perhitungan dengan keluarganya, aku tak peduli apa yang akan terjadi aku ingin dalam waktu 1 minggu semuanya sudah selesai." Alan berkata dengan marah.