Baby I Love You

Baby I Love You
Pesta perusahaan



Setelah melihat penampilan dari Kiky alan seolah tersihir, dia tak bisa menghilangkan bayang - bayang dari Kiky yang selalu menari dipelupuk matanya.


"Kiky? Entah kenapa aku justru melihat Syafa didalam dirinya." gumam Alan setelah dia kembali pulang dan duduk termenung diruang kerjanya.


"Siapa gadis itu, kenapa dia begitu familiar bagi ku. Atau aku hanya merindukan syafa saja. Haaaah." gumam Alan lagi sambil menghela nafas.


"Syafa, apa dia baik - baik saja. Apa anaknya tumbuh dengan sehat, sekarang mereka sedang apa dan dimana?" Alan terus bergumam memikirkan Syafira dan anak yang dikandungnya.


...🌴🌴🌴...


Sementara ditempat lain Ayunda dan Denis sedang dalam pencarian Syafira di kota C yang masih berada dalam kota, mereka mencarik dengan mendatangi setiap kelurahan dan menanyakan soal penduduk asli dan pendatang sebagai pendataan tugas kuliahnya mereka.


"Ya Ampun capek banget, dan sudah 3 hari kita mencarik tapi masih juga tak menemukan jejak Syafa." gerutu Ayunda yang duduk di bangku taman dengan meminum es teh.


"Sabar sayang, kan masih ada 1 desa lagi yang belum kita datengin dan semoga saja desa ini adalah tempat Syafa bersembunyi." ucap Denis menyemangati Ayunda.


"Ya, semoga." jawab Ayunda dengan lemas.


"Ayo kita pulang dan istirahat dulu, besok baru kita lanjut lagi." ajak Denis


Setelah istirahat mereka pun lanjut mencari di desa berikutnya, dan berharap di desa ini mereka bisa menemukan Syafira.


Pagi - pagi sekali Denis dan Ayunda pergi dan berjalan berharap mereka bisa bertemu tak sengaja dengan Syafira.


Bruk


"Aduh, cakit." keluh anak kecil yang berlari dan menabrak Ayunda.


"Mau lari kemana...?! Aku akan menguliti mu kalo sampai dapat nanti." teriak seorang ibu yang berlari mengejarnya dengan membawah kacang panjang seikat.


"Aduh bibi apa tidak malu mengejal - ngejal anak kecil." cibir bocah itu pada seorang ibu yang mengejarnya.


"Ada apa ini Bu?" Ayunda bertanya pada ibu itu dengan sopan.


"Hah hah hah. Anak ini sangat nakal dia selalu saja merusak lahan ku." aduh ibu itu pada Ayunda dengan nafas yang tersengal karna lari.


"Eh, Alga?" sapa seorang ibu - ibu lagi.


"Bibi Ema?" bocah itu langsung menghampiri ibu yang memanggil namanya tadi.


"Kenapa kamu kok lari dikejar Parsi lagi." tanya Ema pada Alga.


"Aga gak ngapa - ngapain cuma nyabut lumput aja." jawab alga dengan nada bicara yang sangat lucu.


"Kamu berlebihan Parsi, Alga gak mungkin ngerusak lahan. Pasti ada orang lain yang merusaknya." ucap ema membela alga, dan parsiah pun pergi dengan kesal.


"Loh anda - anda ini siapa? Datang dari kota ya? Saya gak pernah bertemu." ucap ema bertanya pada Ayunda dan Denis.


"Iya Bu kami mau ketemu pak lurah." jawab Denis dengan sopan.


"Alga apa kamu bisa mengantar kakak - kakak ini ke rumah pak lurah?" tanya Ema pada Alga yang dari tadi menempel pada Ema karna takut ditatap Ayunda dengan intens.


"Pak lulah? Bisa - bisa, tapi Aga halus pulang dulu takut dimalahi mommy." jawab alga dengan muka lucunya lagi dan itu membuat Ayunda tak bisa lagi menahan rasa gemasnya.


"Ya Ampun lucu banget sih kamu ganteng."


Cup


Cup


Cup


Ayunda menghujani ciuman pada alga dengan sangat bersemangat, sehingga membuat alga kewalahan menerima serangan dari Ayunda.


Setelahnya alga mengantar Ayunda dan Denis ke rumah pak lurah, dan tingkah alga yang gak bisa diem selalu lompat serta lari menjauh dan kembali pada ayunda. Semua tingkah alga direkam oleh ayunda karna merasa gemas.


"Uda campek, ini lumah pak lulah." ucap alga dan dia langsung lari meninggalkan Ayunda dan Denis.


"Permisi pak, boleh saya bertanya - tanya sedikit sebagai bahan penelitian saya?" tanya Ayunda dengan sopan pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk santai dengan koran ditangannya.


"Oh, iya silakan - silakan apa yang bisa saya bantu." jawab pria itu, dan Ayunda sama Denis pun duduk dihadapan pria itu.


"Kami dari kota dan ada tugas pendataan penduduk pak, mulai dari yang warga tetap dan pendatang. Apa kami boleh ketemu sama pak lurah?" jelas Ayunda dengan harapan yang besar.


"Oh iya, saya sendiri pak lurah. Sebentar tunggu sebentar ya?" pak lurah masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawah map yang berisikan jumlah penduduk desa itu.


Ayunda melihat dan membaca seksama begitu juga dengan Denis. Sampai tiba pada nama Kiky Laura mereka merasa ada yang janggal karna namanya tidak masuk dalam KK milky laura, padahal nama mereka memiliki nama belakang yang sama.


"Oh, mereka saudara sepupu dan karna milky sudah menikah maka KK mereka berpisah, dan Kiky saudara yang datang dari kota." jawab pak lurah.


"Oh, jadi mereka sudah sama - sama berkeluarga ya pak." tanya Denis mencobak meyakinkan dirinya.


"Iya, Kiky kehilangan suaminya saat dia sedang hamil besar. Dan untuk mengalihkan kesedihannya dia datang kesini dan menetap di sini. Sekarang dia sangat bahagia apa lagi ada bocah tengil yang sangat aktif dan resek, nanti kalian pasti akan ketemu dia karna dia selalu keliling kampung setiap hari. Namanya Alga. Hahaha" jelas pak lurah dan tertawa terbahak karna ingat tingkah alga yang selalu menjahili semua orang.


"Alga? Tadi kami diantar olehnya." jawab Ayunda dengan riang.


"Oh, kalian sudah bertemu rupanya." ucap pak lurah yang masih terbahak.


"Kalo boleh tau selain Kiky apa ada warga pendatang lagi yang dari luar desa ini pak?" tanya Ayunda dan berharap itu adalah Syafira.


"Hem...Tidak ada lagi selain dia." jawab pak lurah, dan Ayunda mulai lemas tak bersemangat.


"Kalo boleh saya tau aslinya mbak Kiky ini dari daerah mana ya pak?" tanya Denis pada pak lura.


"Kalo dari daerah mana saya tidak tau, tapi kalo dilihat dari nama asli sepertinya dia dari kota besar yang mungkin anak orang kaya, karna dia sangat cantik dan juga berpendidikan." jelas pak lurah


"Maksud bapak apa? Apa dia merubah nama aslinya, dan nama Kiky bukan nama dia yang sebenarnya?" tanya Ayunda memperjelas.


"Iya banar. Saat baru datang kesini namanya adalah Syafira dan setelah 1 tahun melahirkan dia merubah mananya manjadi Kiky Laura."


"Tunggu pak. Tadi bapak bilang apa? Syafira?!" tanya ayunda mengulangi ucapan pak lurah.


"Ah, iya Syafira. Kenapa mbak?" pak lura bertanya dengan bingung yang melihat Ayunda bersemangat mendengar nama itu.


"Apa ada fotonya pak? Boleh saya melihat?" pinta Ayunda dengan tak sabar.


"Ada foto kopian KTP-nya tunggu." pak lurah masuk dan memberikan berkas penggantian nama yang disana ada foto KTP Syafira.


Ayunda tersenyum dan bernafas lega karna akhirnya dia menemukan saudaranya yang lama menghilang. Ayunda memeluk Denis dengan sangat erat dan itu membuat Denis juga pak lurah terkejud.


"Maaf, saya senang karna saya akhirnya bisa menyelesaikan tugas saya pak." jawab Ayunda mencobak menipu pak lurah yang tak tau apa - apa.


"Ya ya saya juga ikut senang." jawab pak lura.


Setelah itu Ayunda dan Denis kembali ke kotanya dengan sangat riang dan bahagia, ternyata bocah kecil yang menggemaskan itu adalah keponakannya sendiri dan juga anak dari daddy-nya.


"Ya Ampun aku harus panggil bocah kecil itu apa ya? nak atau adik, aku bingung. Dia keponakanku karma anak dari saudaraku, tapi dia juga sepupu ku karna anak dari Daddy ku. Aaaarrgh.!" ayunda teriak kegirangan dalam mobil yang disupiri oleh Denis.


...🌴🌴🌴...


Malam itu acara pesta sudah mulai dan para undangan juga sudah mulai memadati ruangan.


"Tuan Alan selamat ya atas kesuksesan yang anda capai selama ini." ucapan selamat dari tuan Sugeng, Nanang, Budianto dan juga Baron yang hadir pada malam itu.


"Terima kasih semuanya, dan kesuksesan saya tak akan ada jika tanpa bantuan kalian semua." jawab Alan


Semua orang tertawa terbahak dan merasa senang karna Alan sama dengan alm papanya yang selalu memandang orang dengan baik dan tak memonopoli usaha sendiri.


"Tuan Alan, saya dengar katanya anda akan menikah dengan putri tuan Guntoro, apakah itu benar?" tanya tuan Baron pada Alan dengan nada sedikit berbisik.


Alan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu "Menurut anda saya harus menjawab apa?" tanya Alan balik pada tuan Baron.


"Ya Ampun tuan suka sekali bercanda." jawab tuan Baron yang tak tau harus bilang apa.


"Saya tau apa yang anda pikirkan, anda tak perlu memikirkannya terlalu berat. Yang menikah saja bisa berpisah, dan juga sebenarnya saya sudah mempunyai istri." Alan menjelaskan dengan santai dan tersenyum seolah tak ada beban dalam hatinya, dan seakan dia punya rencananya sendiri.


"Ah, benarkah? Apa anda serius degan perkataan anda ini tuan Alan? Kenapa kami tak diberi tau dan kenapa anda tak mengenalkan istri anada pada kami?"


"Iya benar kenapa anda tak mempublikasikannya?"


"Terus apa anda punya rencana khusus untuk tuan Guntoro dan putrinya?"


Berbagai pertanyaan dari mitra bisnisnya menghujani Alan dan juga memintak penjelasan dari Alan.


Malam itu Alan sangat sibuk dengan kehadiran semua orang yang mengucapkan selamat dan juga orang yang hanya ingin melihat serta mencari informasi saja.


Para wanita yang ikut meramaikan suasana juga sangat banyak, bahkan ada diantara mereka yang dengan terang - terangan ingin mengambil perhatian Alan.


"Daren?" gumam Aditya yang melihat Daren ikut datang ke pesta itu dengan Anita mantan Alan.


"Heh, mau ngapain mereka berdua kesini? Apa Alan mengundang mereka?" tucap Dandi.


"Tidak jika secara khusus, namun secara publik ya, karna acara ini disebarkan lewat media sosial yang artinya semua orang boleh datang asal mereka berkenan." jelas Bayu.