
"Alan!!"
Plak
Alea yang sudah menahan amarahnya pada sejak dari tadi akhirnya langsung melampiaskannya begitu dia bertemu dengan Alan yang sedang duduk termenung di rumahnya. Alea sudah tak bisa sabar dengan ulah Alan dan Anita di acara pesta perusahaan tadi.
Mendapat tamparan dari sang kakak Alan hanya bisa diam dan tak mengatakan apa pun, Alea menatap dengan penuh kemarahan kepada Alan. Selama ini Alea tak pernah sekali pun menyakiti Alan apa lagi memberinya tamparan yang sangat keras seperti tadi. Semua orang yang ikut datang ke rumah Alan bersama dengan Alea merasa kaget dan menatap tak percaya pada Alea yang mempu melayangkan sebuah tamparan pada Alan dengan sangat keras.
"Apa kau sudah gila ha?! Apa yang kau lakukan tadi, didepan semua orang dan para relasi bisnis. Apa kau ingin mengumumkan kalau kau ingin merengkuh wanita itu sebagai pasangan mu dan menunjukkan pada mereka kalau kalian memiliki hubungan yang baik?! Jangan permainkan putri ku, jika kau memang ingin kembali pada wanita itu maka lepaskan lah putri ku, aku ampu menjaga dan merawat dia walau tanpa mu." Alea marah besar dan melontarkan semua rasa kesal dan sakit hatinya pada Alan.
"Sayang tenanglah, sabar dulu." Yoni menahan Alea dan memeluknya agar tak terlalu marah.
"Tidak bisa, bocah sial ini telah berbuat kesalahan. Lepaskan aku." Alea berontak dari pelukan suaminya.
"Apa kau masih menyukainya?! Karena dia adalah orang yang dulu menjaga dan menemanimu selama kau dalam keterpurukan. Apa kau masih mengharapkan dia hah?! Jawab aku. Selama ini aku tak pernah mengajari mu untuk menyakiti hati wanita, aku tak pernah mengajarimu mengkhianati kepercayaan, kau sialan Alan" Alea terus saja memakai dan memarahi Alan
Aditya yang melihat kemarahan Alea dia merasa ngeri, karena kakak yang selama ini lemah lembut bahkan tak pernah melayangkan tangannya untuk menyakiti adik - adiknya hari ini dia tak hanya memukul bahkan memakai dengan sangat kasar.
"Lepaskan dia kak Oni." ucap Alan yang berdiri didepan Alea
"Eh? Sayang jangan marah lagi." Yoni melepas pelukan Alea dan membiarkan kedua saudara itu menyelesaikan maslah mereka.
"Jangan kau pikir dengan berkata begitu aku akan melemah padamu. Aku tau kau masih memiliki perasaan pada wanita itu karena kau tak bisa membohongi ku." Alea mendekati Alan lagi dengan amarah yang masih tetap membara.
"Aku tau kalau kakak mengetahui semua tentang aku dan juga aku tak akan pernah bisa berbohong pada kakak, karena kakak tak hanya sebagai kakak ku namun juga sebagai ibuku." Alan menunduk dan meraih kedua tangan Alea "Kakak boleh memukul ku sepuas kakak, bahkan memakiku sesuka kakak, tapi tolong jangan benci aku dan jangan pisahkan aku dari Syafa kak, aku mohon." Alan menarik tubuh Alea dan memeluknya.
Alea menangis begitu juga dengan Alan, mereka berdua menangis dalam pelukan masing - masing. Kedua anak Adinda itu bagai dua orang yang tak bisa dipisahkan dan saling memiliki serta mengerti satu sama lain. Alan yang begitu bergantung pada Alea sebagai kakaknya dan petunjuk arahnya, sedangkan Alea yang begitu menyayangi Alan secara mendalam sehingga tak bisa melepaskan Alan karena merasa bahwa Alan adalah tanggung jawab dan kado terakhir yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Sehingga mereka berdua tak akan pernah bisa marah terlalu lama.
"Maafkan Alan kak, Alan tak bermaksud mengkhianati Syafa atau menyakiti kakak. Kakak percaya pada Alan kan? Walau semua itu nyata tapi perasaan Alan pada Anita tak ada apa - apanya." Alan mengurai pelukannya dan menatap Alea.
"Kau tak boleh menyakiti dia lagi, dia terlalu cepat untuk dewasa dari usianya. Dia tak akan sanggup lagi jika harus menderita. Kakak melihat bayang - bayang bunda ada pada dirinya." Alea berkata dan menatap Alan dengan air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Aku tau, aku juga melihatnya. Aku tak akan membiarkan dia bernasib seperti mama, tidak akan. Maafkan aku kak." Alan berkata dan meyakinkan kakaknya.
"Hem. Aku tak akan mengampuni mu jika sampai kau menyakiti dia." Alea berkata dengan nada yang melembut.
"Aku tau." Alan berkata dan menghapus air mata Alea lalu mengecup bibir Alea.
Cara mereka berdua berdamai sejak kecil adalah dengan saling mengecup bibir dan berpelukan karena mereka meniru kedua orang tua mereka yang dulu sering mereka lihat setiap kali habis bertengkar mereka akan selalu berciuman, sehingga Alan dan Alea kecil berfikir kata - kata buruk keluar dari bibir jadi harus membersihkan dengan bibir yang telah berkata kasar dan memakai.
"Iya, tak akan pernah lagi." Alan menjawab dengan penuh keyakinan sambil memeluk tubuh kecil Alea.
"Ya kalau kalian sudah berdamai begini kan enak dilihatnya." Yoni suami Alea datang dan memeluk kedua orang yang dianggapnya bagai bayi kecilnya.
"Kak Oni." Alan dan Alea berkata bersama dan membalas pelukan Yoni.
Setelah semua orang pulang Alan berdiam diri didalam kamar Syafira dan Alga. Alan membaca ayat suci setelah mengerjakan solat, sampai hampir 5 jus dibaca oleh Alan untuk menghilangkan perasaan yang Rumit didalam hati Alan.
"Hah..." Alan menghela nafas dalam dan merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
"Syafa, Syafira Putri Pertiwi Abigail. Hah..." Alan menghela nafas dalam lagi setelah menyebutkan nama Syafira.
...🌴🌴🌴...
Dan ditempat lain ternyata Syafira juga sedang merenung dan menatap langit - langit kamarnya, Syafira mengusuk Alga yang sedang tertidur disebelahnya dengan lembut. Syafira menatap kosong dan menerawang langit - langit kamarnya seolah disana ada sesuatu yang menarik untuk dilihat. Syafira tak jauh beda dengan Alan, dia juga berkali - kali menghela nafas dalam.
"Daddy jangan.!" Syafira
"Berisik.!" Alan
Sraaakk
"Daddy, jangan.!" Syafira
Alan membalikkan tubuh syafira dan menjelajahi punggung mulus itu dengan sangat liar, dia menggigit di sana sini dan melepas pengait dari penutup daging kembar syafira. Lalu dengan cepat juga melepas semua baju yang melekat ditubuhnya. Dan kini mereka sama - sama polos tanpa penutup benang pun.
"Lakukan tugasmu." Alan
"Auh. Sakit daddy." Syafira
"Argh." Syafira
"Hem, waktu itu Daddy bagai sudah dikuasai oleh setan, dia tak memperdulikan tangisan ku, yang tak ku tau apa sebabnya waktu itu, aku hanya merasa takut dan bingung." gumam Syafira, "Andai waktu itu aku tak masuk dan berusaha untuk menolong Daddy, mungkinkah kisah ceritaku tak akan jadi seperti ini, akan jadi seperti apa cerita hidupku." Syafira terus bergumam mengingat tentang malam kelabu yang telah membuat seluruh dunianya berubah dan memaksanya tumbuh dewasa demi anak yang telah dia lahir kan.
Syafira menatap tubuh kecil yang meringkuk didalam pelukannya dan wajah polos yang tanpa dosa, Syafira tersenyum dan mengecup kening Alga. "Maafkan Mama sayang, karena mama tak bisa memberikan hidup yang baik untuk mu, karena kesalahan mama membuat mu mendapatkan dampaknya." Syafira memeluk tubuh Alga dalam pelukannya dengan erat.