Baby I Love You

Baby I Love You
Gagal Mencium



Semakin hari perasaan Dirga semakin tak bisa dibendung untuk Syafira, dia semakin ingin memiliki Syafira walau Dirga tau kalau Syafira sudah berkeluarga, karena daya tarik Syafira dan juga tipe Syafira yang sesuai dengan dirinya.


Setiap hari Dirga jadi aktif untuk pergi ke kafe hanya untuk bisa bertemu dengan Syafira, melihat hal itu Syafira yang tau bagaimana perasaan Dirga padanya langsung mengatakan agar Dirga jangan mengejarnya karena Syafira bilang kalau dia sangat mencintai suami dan anak - anaknya.


Dina dan para pegawai di kafe yang tau akan cerita itu merasa sangat kagum pada Syafira yang sangat tegas pada Dirga walau selama ini mereka terlihat sangat dekat satu sama lain.


"Kalau begitu menurut aku sebaiknya sekarang kita jangan bertemu lagi saja, karena aku tak ingin ada fitnah atau ke salah pahaman diantara kita." tegas Syafira pada Dirga yang lagi - lagi menyatakan perasaannya.


"Aku minta maaf, tapi aku tak bisa menahan perasaan ini. Kita masih bisa berteman seperti biasanya kan?" Dirga bertanya dan menatap Syafira


"Maaf sebaiknya tidak dan aku tak bisa melakukan hal yang sama lagi dengan kamu." Syafira menolah dengan tegas.


"Tapi Fa" Dirga mencobak untuk menahan Syafira


"Maafkan aku, dan sebaiknya kamu pergi sekarang. Terima kasih." Syafira bangun dan berjalan masuk kedalam ruang kafe


"Kenapa dia masuk kedalam" Dirga menatap bingung


"Maaf karena non Syafa adalah pemilik dari kafe ini." jawab Dina yang mendengar pertanyaan Dirga


"Apa? Jadi dia pemilik bukan hanya pemain di sini" Dirga kaget dengan jawab dari Dina


"Benar, non Syafa adalah pemiliknya dan dia juga yang mengisi acara." Dina menjelaskan dengan sopan.


Dirga pergi dan dia terus melamun karena tak pernah menyangka kalau ternyata Syafira adalah pemilik dari kafe itu, karena selama ini Syafira tak pernah cerita dan Dirga juga tak pernah tanya, sebab Dirga menganggap kalau Syafira hanya pekerja dan pemain bisa seperti yang lainnya.


🌴🌴🌴


Sepulang dari kafe Syafira masih melamun karena dia tak menyala kalau sikap baiknya dan ramahnya selama ini telah membuat seseorang jadi salah paham dan menyukainya.


Syafira duduk di sofa sambil termenung dan pikirannya melayang entah kemana, dan yang ada bukan dia yang sedang menonton televisi tapi sebaliknya televisi lah yang sedang menonton dirinya.


"Assalamualaikum, sayang." Alan yang baru pulang tau kalau Syafira sudah di rumah.


Ucapan salam Alan yang tak dapat jawab membuatnya bertanya kemana semua orang, Alan berjalan masuk dan keadaan rumah sangat sepi. Alan berjalan semakin masuk dan mendengar suara televisi yang nyala namun terlihat orang yang sedang menikmatinya bengong dengan tatapan kosong.


"Kenapa dengannya." Alan mendekati Syafira dan ternyata Syafira memang sedang tak ditempat karena pikirannya melayang entah kemana.


Cup (Alan mengecup pipi Syafira)


"Oh mas sudah datang, maaf aku sedang melamun." Syafira kaget dan langsung bereaksi dengan tergesa - gesa


"Ada apa sayang, kau terlihat sedang dalam Maslaah yang berat. Apa ada masalah di kafe?" Alan bertanya dengan lembut


"Tidak bukan Maslaah kafe atau pekerjaan apa pun tapi ini masalah tentang aku dan tindakanku." jawab Syafira menatap Alan


"Coba ceritakan" Alan duduk santai dan melipat lengan bajunya dan siap untuk mendengarkan cerita Syafira.


Syafira pun menceritakan semuanya pada Alan, dari awal dia ketemu dan berteman dengan Dirga, sampai mendapatkan pernyataan cinta yang tak pernah dia duga sebelumnya.


Alan tersenyum mendengar penjelasan dari Syafira karena dia merasa sangat bersyukur ternyata Syafira tak pernah membohonginya dan dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.


Alan menarik tubuh Syafira dan memeluknya, karena dia merasa bangga dengan istrinya itu, yang sebenarnya Alan sudah menyelidiki soal Dirga karena merasa curiga saat Alan melihat interaksi Dirga setelah melihat Syafira tampil di kafe Minggu lalu.


...🌴🌴🌴...


Disaat Alan dan Syafira saling terbuka satu sama lain di tempat Ayunda dia sedang berkumpul dengan suami dan putri- putrinya yaitu Alisa, Andini dan Syifa yang sedang bermalam dan menginap di rumah Ayunda karena habis diajak jalan - jalan bersama dengan Ayunda.


"Sepertinya sudah karena sudah sepi." jawab Ayunda dan tersenyum menatap Denis


"Apa kau tak kangen sama aku sayang." Denis mendekati dan memeluk Ayunda dari samping


"Apa - apa an, setiap hari ketemu juga." Ayunda menjawab dengan biasa tanpa melihat Denis


Denis yang mendengarkan jawab dari Ayunda merasa ciut, karena dia selalu saja gagal untuk setiap kali mau menciptakan momen romantis sama istrinya yang tak pernah romantis itu. Terlebih setelah memiliki anak Ayunda jadi semakin tak peduli dengan Denis karena dia selalu sibuk dengan putri mereka dan pekerjaannya saja.


"Kau sudah berubah, dan jadi tak pernah memperdulikan aku lagi, padahal dulu kau bilang kalau kau akan selalu memanjakan aku. Tapi semua itu hanya tinggal omongan saja" Denis merajuk dan melepaskan pelukannya pada Ayunda


Mendengar kata - kata Denis Ayunda menoleh dan menatap suaminya yang sedang merajuk pada dirinya, Ayunda tersenyum melihat hal itu. Karena dia tak pernah menyangka kalau Denis memiliki sisi yang manis saat dia sedang merajuk.


Ayunda meletakkan tangannya di paha Denis dan memberikan stimulasi untuk melihat reaksi suaminya itu tanpa berkata apa - apa.


Denis tak merespon, dia diam saja dan menggeser kakinya agar Ayunda tak menyentuhnya, bahkan Denis bergeser menjauh duduknya dari Ayunda karena dia telah merasa kesal sendiri.


Ayunda semakin tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang sedang merajuk pada dirinya, "mas lihat deh itu filmnya bagus banget."


Ayunda kembali meletakkan tangannya di paha Denis dan kali ini merambat naik dengan perlahan, Ayunda sengaja menggerakkan jemarinya untuk menggelitik perlahan yang akhirnya Denis pun tak mampu untuk mempertahankan kekesalannya, karena Ayunda tak hanya menggelitik pahanya melainkan telah menggelitik hatinya untuk membangkitkan sesuatu yang terpendam dalam diri Denis.


"Kau yang mulai." Denis mendekati dan kembali memeluk Ayunda


Ayunda tersenyum menatap suaminya "kau sudah tergoda"


"Karena kau yang mulai" Denis mendekati dan ingin mencium istrinya yang terlihat sangat menggemaskan.


"Mami, papi." teriak ketiga putri mereka yang mengejutkan Denis dan Ayunda


"Kalian belum tidur." Denis menatap kaget ketiga gadis kecil yang ada didepannya


"Belum, kami dari tadi di sini". jawab Alisa dengan polos


"Papi tadi mau ngapain? Kenapa papi menarik leher mami, apa papi mau memukul mami." Alisa menatap Denis dengan bingung


"Lisa kau bicara apa, papi bukan mau memukul mami. Tapi papi mau mencium mami, aku sering lihat mama sama papa juga begitu." jawab Syifa yang lebih besar dari Alisa dan Andini


"Cium?" Alisa memiringkan kepalanya lalu naik kepangkuan Ayunda "Lisa juga mau dicium mami"


"Aku juga mau" Andini juga ikutan naik ke sofa


Sekarang mereka berkumpul bersama dengan keributan tiga putri yang terlalu banyak bicara dan bertanya, Denis hanya bisa menghela nafas dalam melihat itu semua. Keinginan dan hasratnya terpaksa ditahan dan dipendam dalam karena sudah tak akan bisa dilanjutkan karena untuk mencium saja sudah gagal.


"Ya gagal deh" Denis melirik Ayunda dan terlihat Ayunda tersenyum.


"Papi aku mau main kuda - kudaan." Alisa meminta Denis untuk jadi kuda


"papi ayo." Alisa semakin tak sabar


"Iya, iya sayang. Besok pulang ya main sama papa Alan di rumah." ucap Denis pada Alisa.


"Gak mau" Alisa menjawab dengan cepat.


"Aku juga mau naik dek." Andini ikutan naik ke punggung Denis.


Keseruan malam itu sangat menyenangkan, dan Ayunda tanpa sadar meneteskan air matanya karena teringat akan kenangannya dengan Syafira saat mereka masih kecil dan selalu meminta Aditya untuk menjadi kuda bagi mereka berdua.