
"Ya Allah Daddy.!" Syafira baru menyadari kalo tangan Alan mengeluarkan darah dari bekas infus yang dicabut paksa oleh Alan.
"Daddy bangunlah ini kenapa?" Syafira ikut jongkok dan meraih tangan Alan untuk diikat dengan potongan bajunya yang disobek.
"Syafa...Bruk" Alan jatuh pingsan lagi karena tubuhnya masih lemas.
Sebelum kejadian
"Maaf suster, boleh tanya pasien yang dirawat dalam kamar vip 302 itu atas nama siapa ya? Terus karena apa dia dirawat?"
"Sebentar ya Bu." perawat itu melihat dan membuka data dikompiuter
"Kamar itu atas nama tuan Aleandro Bu, dia dirawat karena dehidrasi."
"Eh, Syafa? Apa dia habis nengokkin kak Alan?" bayu yang melihat Syafira bercakap dengan seorang perawat didepan kamar rawat inap Alan.
"Apa tadi Syafa dari sini? aku lihat dia didepan." tutur Bayu pada Alan dan ya g lain yang ada didalam kamar rawat inap Alan.
"Apa?" jawab semua orang serempak.
"Iya, dia masih ada didepan." sambung Bayu lagi.
"Jaga dia." ucap Alan yang seketika lompat dari tempat tidurnya setelah mencabut paksa infusnya.
"Alan." teriak Fira dan juga yang lain karena kaget Alan langsung lari keluar.
"Syafa, dimana dia?" alan keluar dan melihat didepan meja perawat sudah tak ada siapa siapa.
Ting
Pintu lif terbuka, Syafira yang berdiri dengan pandangan kosong dan berjalan terhuyung memasuki lif. Dan Alan yang melihat itu menguatkan dirinya dengan berlari mengejar Syafira agar tak kehilangan syafira lagi, sampai akhirnya Alan berhasil membawa Syafira ke atap rumah sakit.
Kejadian saat ini
Bruk
Alan jatuh pingsan lagi karena kondisi tubuhnya yang masih sangat lemas. Hal itu membuat Syafira terkejud dan juga panik karena Alan jatuh pingsan didepannya.
"Daddy, Daddy kenapa? Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan?" Syafira bingung mau melakukan apa.
Dengan susah paya Syafira mengangkat tubuh Alan dengan sedikit menyeretnya karena dia tak kuat mengangkat tubuh Alan. Setelah bersusah payah akhirnya sampai didalam lif.
"Berat banget." Syafira yang tak kuat menopang tubuh Alan pun duduk dilantai dengan memangku kepala Alan dipangkuannya.
"Daddy sadarlah, Syafa tak marah pada Daddy, Syafa juga tak benci pada Daddy. Jadi Syafa mohon bangunlah." Syafira berusaha menepuk nepuk pipi Alan agar dia sadar, tapi tak ada reaksi dari Alan.
"Tolong.!" teriak Syafira begitu pintu lif terbuka.
Beberapa perawat dan orang disekitar yang tau berlari mendatangi lif yang mau tertutup lagi karena mendengar teriakan Syafira.
"Nona kenapa? Apa yang terjadi?" tanya seorang perawat pada Syafira setelah rekannya membantu mengangkat Alan dan membawahnya ke UGD.
"Dia adalah pasien di kamar vip 302, tadi memaksakan diri lari keluar dan jatuh pingsan lagi." jelas Syafira pada perawat itu.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia tidak apa apa?" tanya Syafira dengan panik.
"Tidak apa, dia pingsan karena lemas saja. Saya sudah memasangnya infus lagi dan memberinya suntikan nutrisi karena sepertinya dia dehidrasi." ucap seorang dokter yang ada di UGD.
"Terima kasih dokter." ucap Syafira merasa lega
"Apa anda keluarganya?" tanya dokter itu.
"Em, keluarganya..." kalimat Syafira tertahan
"Saya sudah menghubungi keluarganya dan mereka sedang menuju kemari karena dia adalah pasien vip 302." jawab seorang perawat dan dokter itu pun mengangguk.
"Baik, kalo begitu saya permisi." ucap Syafira pada perawat itu dan pergi meninggalkan UGD menuju ke kamat rawat bu damiyah.
"Kok lama, apa apotiknya ngantri?" tanya milky yang melihat Syafira baru masuk kedalam kamar rawat inap Bu Damiyah.
"Hem." jawab syafira hanya dengan gumaman dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa Ky? Kamu terlihat layak orang bingung." milky bertanya pada Syafira terlihat kosong.
Setelah pertemuan dengan Alan di rumah sakit itu Syafira terus berfikir dan mencaskan keadaan Alan, namun dia juga tak berani untuk menemui Alan untuk kedua kalinya karena dia takut akan mengganggu hubungan Alan dan juga Fira. Jadi selama di rumah Syafira hanya termenung dan lebih banyak diam.
Keesokan harinya saat mau menjemput Bu Damiyah untuk pulang Syafira tidak mau ikut karena dia berusaha untuk menghindari keluarga Alan.
"Kamu tidak ikut Ku?" Badrul bertanya pada Syafira yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya memasak.
"Tidak mas, aku masak saja masakan kesukaan ibu. Jadi nanti kalo kalian nyampek rumah bisa langsung makan." jawab syafira bohong.
"Ya Ampun andal ayah ini pinter banget sih." ucap Badrul menggendong alga.
"Kalo begitu aku berangkat dulu ya Ky" Badrul keluar dari rumah.
"Dada momy" alga melambaikan tangan.
Begitu sampai di rumah sakit alga celingukan seperti mencari seseorang.
"Ayah aga mau ketemu cama om model." alga mulai merengek pada Badrul
"Om model siapa di sini gak ada om model." tolak Badrul
"Ada ada om model yang di tv itu loh, dia ada di Kamal vip 302 ayo paman." rengek alga lagi
"Kita nenek dulu." Badrul membawah alga ke kamar Bu Damiyah.
Didalam kamar itu saat Badrul dan milky saling berbincang mengenai keadaan Bu Damiyah sesuai dengan yang dikatakan oleh dokter, tanpa sepengetahuan mereka alga melesat keluar dari dalam kamar.
"Sustel mo tanya Kamal vip 302 dimna ya? Bisa tolong antal aga kesana, aga tadi telsesat." ucap alga pada salah satu suster yang ditemuinya di lorong rumah sakit.
"Loh adik kecil ketinggalan ya sama orang tua adik kecil?" tanya suster dan alga mengangguk.
Tok tok tok
"Permisi pak, Bu ini putranya tadi ketinggalan dan saya anyarkan ke sini." ucap suster itu dan membuat semua orang yang ada didalam makar rawat Alan bingung.
"Halo cemua." ucap alga dari balik tubuh suster itu.
"Telima kasih ya custel." ucap alga dengan senyum mungilnya yang lucu.
"Ya Ampun pinter sekali sih dik. Kalo begitu saya permisi." ucap suster itu dan keluar dari kamar rawat Alan.
"Om model tidak ada di cini ya? Om cakit apa?" ucap alga berjalan mendekati Alan.
"Siapa anak ini?" Alan menatap alga penuh pertanyaan dalam hatinya, karena dia sudah lupa dengan pertemuannyan dengan alga.
Farid dan Oni yang lagi jagain Alan juga menatapnya dengan bingung karena tiba tiba ada anak kecil yang masuk dan dengan akrab menyapa Alan.
"Sayang Tante sudah tanya sama dokter dan juga perawat yang kemaren menangani kamu..." kalimat Merisca tertahan melihat alga yang berdiri disebelah ranjang Alan.
"Eh, anak siap ini? Tapi Tante kayak kenal atau pernah ketemu dimana ya?" Merisca menatap alga dengan bertanya tanya.
"Halo nama aku aga, aku kemalen dikasih tau cama om model kalo kelualganya calit dan kamalnya di cini, cekalang om model kemana? Telus om cakit apa?" alga menjelaskan dan bertanya pada semua yang ada didalam kamar itu.
"Kamu datang darimana sayang? Terus keluarga mu dimana? Apa kamu kesini sendirian?" tanya Merisca pada alga.
"Aga datang cama ayah." jawab alga
"Om, tangannya cakit ya. Kayak nenek juga cakit." tanya alga pada alam dan menggenggam tangan alan.
"Ayahmu dimana sayang? Apa dia tak mencari kamu? Apa yang kamu cari adalah om ini?" tanya Alan sambil menunjukkan foto Bayu diri hanponnya.
"Iya, ini Om model." jawab alga sumringah.
"Namamu aga? Siapa yang sakit di keluarga aga?" tanya Alan.
"Kan Cuda aga bilang tadi nenek."
"Kalo Om cakit apa?"
"Cepat cembu ya Om, telus Om halus banyak makan untuk pertumbuhan. Momy celalu bilang aga halus makan banyak bial cepet besal."
Alga berceloteh panjang lebar dan itu membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum dan merasa gemas dengan alga yang terlihat sangat pandai mengimbangi pembicaraan dan adaptasi dengan orang baru.
"Om ini cakit ya? Aga tiup ya biar gak cakit lagi. Momy bilang kalo cakit halus ditiup biar gak cakit dan cepat cembu." alga meniup tangan Alan yang terpasang infus.
"Kamu begitu pintar sayang, ayo Tante antar kamu ke keluarga kamu. Nenek aga dirawat dikamar mana?" Merisca bertanya dengan memeluk alga.
"Aga gak mau, aga mau cama Om. Nanti aga telponin momy aga ya bial om dicembuhkan." celoteh alga.
"Kamu mau duduk dipangkuan Om?" Alan bertanya dengan tersenyum
"Mau." alga mengangguk dengan cepat.
"Ya Allah kalian mirip sekali iya kan Pa." ucap Merisca setelah mengangkat alga kepangkuan Alan.
"Ini Poto momy." tunjuk alga pada layar ponsel Alan dan seketika Alan terkejud dan menatap alga dengan dalam.