Baby I Love You

Baby I Love You
Salah Faham



Alan merasa kesal dengan apa yang diucapkan oleh Daren dan Alan sangat tau serta kenal siapa Daren, sekali dia menargetkan sesuatu maka Daren akan melakukan segala cara untuk dapat mendapatkan apa yang diinginkannya bahkan jika itu dengan cara curang sekali pun.


"Kak kenapa? Kok terlihat gelisah, apa kakak lagi tak enak badan atau ada masalah lain?" tanya Aditya yang melihat Alan sedikit tak tenang saat kembali dari memarkirkan mobilnya.


"Tak apa, kau atasi yang di sini aku balik dulu." ucap Alan lalu pergi meninggalkan tempat itu dan Aditya menatap bingung pada Alan yang tiba - tiba saja pergi padahal belum sampai masuk kedalam acara.


Dengan cepat Alan melajukan mobilnya menuju ke rumah Merisca karena ada yang ingin Alan diskusikan dengan sang tante malam itu juga karena Alan merasa tak tenang jika tak memutuskan segalanya dengan pasti.


Dalam perundingan itu terlihat Alan sangat tegang mendapatkan tatapan dari sang tante dan juga om yang selama ini sangat dia hormati dan dia anggap sebagai ganti orang tuanya sendiri.


Dengan tertunduk Alan pun mengakui semua perasaannya pada om dan juga tantenya kalau dia sebenarnya tak ingin kehilangan orang yang dia sayang dan dia miliki selama ini.


Merinca menatap Alan dan menghela nafasnya dalam, karena dia melihat seolah yang ada dihadapannya saat ini adalah sang kakak Mexca yang dulu selalu bimbang dan ragu untuk mengungkapkan isi hatinya padahal dia telah jatuh cinta pada Adinda sejak lama, dan kini sang anak mengikuti jejaknya dia tak sanggup mengungkap perasaanya karena merasa bersalah pada putrinya.


"Aleandro Putra Prayoga Abigail." Merisca yang menyebut nama lengkap Alan membuat Faris dan Alan kaget. "Dengarkan aku, jika kau memang menyukai Syafira maka yakinkan dulu perasaanmu dan cari tau dulu apa yang sebenarnya kau inginkan dari dia. Jangan seperti ayahmu, membawah cintanya dan mengorbankan segalanya tanpa diketahui yang akhirnya membuat dia merasakan sakit mendalam, walau pada akhirnya mereka bersatu. Tapi luka - lukanya tak akan bisa disembuhkan hingga dia memilih ikut bersama dengan sang istri tanpa peduli dengan kalian di sini." ucap Merisca menatap sayu pada Alan


Faris yang mendengar itu hanya bisa diam, karena dia juga tau perjuangan cinta dan penderitaan yang dijalani oleh Mexca hanya demi menghilangkan bayang - bayang Adinda dari dalam hatinya.


"Lakukan semua dengan keberanian, kalian telah memiliki anak bersama walau itu tak sengaja. Jangan sampai kamu menyesalinya setelah semua telah tiada." ucap Merisca.


"Benar, kalian telah melakukan pernikahan meski itu nikah siri walau tak ada yang tau tapi status kalian tetaplah suami istri. Alan, om hanya ingin yang terbaik buat kamu dan semuanya, jangan sampai kisah orang tua kalian terulang." sambung Faris atas ucapan Merisca


"Apa yang harus Alan lakukan?" Alan terlihat bingung.


"Hanya kau yang tau, lakukan sesuai dengan naluri mu, naluri seorang pria, jangan pikirkan yang lainnya. Jika perasaanmu itu bukan apa yang kau rasakan maka lepaskan dan jika apa yang kau rasakan itu sesuai dengan keinginan dan harapan mu maka perjuangkan." ucap Faris pada Alan yang terlihat bingung dan bimbang.


...🌴🌴🌴...


Alan duduk termenung saat selesai solat dan mengulang lagi apa nasehat dari Faris pada dirinya. Cukup lama Alan merenung di ruang kerjanya dan sesekali dia menghela nafas seolah dia sedang menata hati dan mengumpulkan keberanian karena dia takut akan menyakiti hati Syafira lagi.


"Loh airnya habis" Syafira keluar dari kamar dan berjalan ke dapur untuk mengambil air.


Mendengar suara berisik Alan pun keluar dari ruang kerjanya dan melihat ada Syafira sedang melakukan sesuatu di dapur, Alan menatap Syafira lalu berjalan mendekatinya.


"Syafa." panggil Alan liri


"Ah Daddy belum tidur, maaf Syafa berisik ya. Tiba - tiba saja haus dan ingin minum jus, apa Daddy mau?" tawar Syafira pada Alan.


"Tidak kau saja." jawab Alan menatap ragu pada Syafira.


Setelah selesai membuat jus Syafira ingin kembali ke kamarnya karena dia malu kalau harus minum dilihat oleh Alan, namun saat dilihat lagi Alan sudah tak ada jadi Syafira duduk di meja makan dan menikmati jusnya.


"Apa enak?" tanya Alan yang tiba - tiba datang dari arah belakang yang ternyata tadi Alan bukan ke kamarnya melainkan keluar rumah.


"Sudah? maafkan Daddy gak bermaksud mengagetkan mu." ucap Alan menyesal karena telah membuat Syafira tersedak.


"Tidak apa, sudah baikan." jawab Syafira tersenyum.


"Syafa sebelumnya Daddy minta maaf, karena Daddy ingin memastikan sesuatu dan membutuhkan bantuan mu." ucap Alan pada akhirnya berusaha untuk memberanikan dirinya.


"Ma-maksud Daddy apa? Kenapa harus membutuhkan bantuan Syafa?" tanya Syafira pada Alan bingung.


"Ehem, karena Daddy ingin meyakinkan diri Daddy." jawab Alan menatap Syafira, "Bolehkan Daddy mencium mu?" tanya Alan pada akhirnya.


"Ah, i-itu." Syafira ragu ingin menjawab.


"Maaf Syafa tapi kali ini Daddy harus melakukannya." Alan mendekat pada Syafira.


Alan berniat akan berhenti jika Syafira berpaling atau menolaknya, namun saat Alan semakin dekat Syafira justru menutup matanya dan itu membuat Alan berani semakin dekat serta mengecup bibir Syafira.


Syafira menatap Alan setelah selesai, begitu juga dengan Alan. Namun tiba - tiba saja Alan menahan tengkuk Syafira dan mencium bibir Syafira lagi dan kali ini Alan memainkan bibirnya.


"Maaf." Syafira lari langsung masuk kedalam kamarnya setelah Alan mengurai ciumannya.


Sementara Alan berdiam diri dan merasakan hawa panas menjalar ke tubuhnya, detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat. "Ini, sungguh." Alan menunduk di meja makan, "Manis." gumam Alan lagi dan tersenyum sambil menyentuh bibirnya.


Keesokan harinya Alan mengetuk pintu Syafira dan mengajak Syafira untuk mengerjakan solat subuh bersama, dan Syafira tak bisa menolak ajakan Alan.


Debaran jantung dari keduanya saling berpacu satu sama lain hingga solat selesai. "Syafa." Alan menoleh dan menatap Syafira "Apa Syafa marah sama Daddy karena semalam?" tanya Alan memastikan karena Syafira langsung lari begitu saja.


"Tidak, Syafa hanya malu." jawab Syafira tertunduk.


Alan tersenyum dan mencium pipi Syafira "Terima kasih, dan maaf." ucap Alan lalu keluar dari kamar Syafira.


Mendengar kata maaf dari Alan Syafira merasakan sakit dihatinya dan menatap kosong pada kepergian Alan dari kamarnya. "Maaf, kenapa meminta maaf? Apa semua hanya haluan ku saja, apa semua hanya untuk memastikan kalau Daddy tak pernah melihatku sebagai wanita?" gumam Syafira dan mulai menangis.


Setelah merasa kalau yang Alan lakukan itu bukan untuk cinta dan hanya cara Alan memastikan kalau dia hanya dianggap sebagai anak saja membuat Syafira menjaga jarak dari Alan, dan tak akan peduli dengan Alan.


"Debaran bodoh, dasar jantung gila. Kau bukanlah siapa - siapa dan bukan apa - apa." gumam Syafira dan dia pun mulai cuek.


1 Minggu berlalu dari kejadian itu, dan Alan telah memantapkan hatinya kalau dia akan memilih Syafira sebagai teman dan pendamping hidupnya, namun karena kesibukannya Alan belum sempat bilang pada Syafira mengenai perasaannya dan dia juga selalu berselisih jalan dengan Syafira setiap harinya.


Disaat Alan telah meyakinkan hatinya pada Syafira, malah kebalikannya Syafira semakin dekat dengan Almansyah putra wali kota dan Syafira ingin menerima pernyataan dari Almansyah jika dia megungkapkan perasaannya karena Syafira gak mau lagi terjebak dalam keinginan semua akan cinta Alan.