
Sudah beberapa bulan perusahaan Daren telah diguncang dengan beberapa masalah yang menyangkut penurunan harga saham yang semakin hari semakin menurun dari pasaran dan terancam bangkrut karena beberapa kerja sama telah diputus dengan alasan kalau mereka tak ingin mengalami dampak dari penurunan harga saham.
"Tuan harga saham semakin turun, dan sekarang kerja sama dengan pihak pasar telah diputus dengan alasan yang sama karena mereka tak ingin terkena dampak dari masalah yang menyangkut harga saham perusahaan kita." ucap asisten Daren
"Kenapa jadi seperti ini, aku tak ngerti kenapa semua jadi seperti sekarang. Cari pembeli dan lakukan dengan cepat, lakukan apa saja untuk menutupi semuanya." ucap Daren dengan sangat putus asah.
"Lalu bagaimana dengan para pemegang saham tuan, apakah kita tak harus memberitahu mereka?" tanya asisten Daren dengan bingung
"Lakukan saja perintahku, mereka adalah urusan ku." ucap Daren tak suka.
"Baik tuan."
Daren pun menawarkan saham - saham yang ada dengan harga terendah dengan harapan dia bisa mendapatkan pembeli yang nantinya akan dia gunakan untuk membeli saham baru yang mampu untuk menutupi segala kerugian yang ada. Dan Daren berharap dengan itu dia bisa menaikkan harga jual pasar lagi.
...🌴🌴🌴...
Disebuah rumah terlihat Alga sedang konsentrasi penuh dan menatap layar laptopnya dan dia terlihat sedang memainkan sesuatu karena jemarinya menari dengan sangat lincah diatas keyboard dan matanya bergerak senada dengan jemarinya.
"Game over" Alga menekan tombol enter dan tersenyum puas.
"Sudah selesai" tanya Ariana yang baru saja datang ke rumah Alga
Ya di luar negeri Alga tinggal bersama dengan Ariana di rumah lamanya yang dulu ditempati bersama dengan mamanya dan juga adiknya.
"Sudah Tan, tinggal menunggu umpannya dimakan." Alga menjawab dan tersenyum puas menatap Ariana.
"Aku tak pernah menyangka kalau kau memiliki pemikiran yang begitu luar biasa dan juga licik." Ariana tersenyum dan menyentuh kepala Alga penuh dengan rasa sayang serta mengacak - acak rambut Alga dengan gemas.
"Ya semua karena om Aron yang mengajarkan padaku soal permainan saham." Alga kembali tersenyum berdiri untuk berjalan keluar ruangan gelap itu sambil membenarkan rambutnya yang diacak - acak Ariana.
"Hei, kenapa kau menyangkutkan aku. Semua itu adalah kemampuan yang kau miliki sendiri karena aku hanya mengajarkan hal dasar saja padamu." Aron yang sudah duduk di ruang tamu sambil makan camilan bersuara dan menatap bangga pada Alga
"Apa papamu sudah tau soal ini semua?" Ariana bertanya dan duduk di sofa depan Alga dan disamping Aron
"Sepertinya mama belum cerita karena papa tak bertanya apa - apa pada ku." Alga menggelengkan kepala lalu menyandarkan kepalanya disandarkan sofa sambil menghela nafas dalam
"Hem, kalian mau memberikan kejutan dengan kehadiran pemegang saham terbesar dan mengalahkan dia." Ariana berkata dan tersenyum tipis
"Mungkin, seperti itu juga seru kedengarannya." Alga tersenyum dan menatap langit - langit ruang tamu rumahnya
"Wah, wah aku tak tau kalau kau itu sangat licik dan kejam. Sepertinya kau mewarisi sifat dari kakekmu Mexca, pengusaha yang sangat kejam dan tanpa ampun pada orang yang berani mengusiknya dan orang - orang terdekatnya." Aron berkata dan tersenyum menatap Alga
"Aku hanya ingin membalas semua orang yang telah membuat mamaku susah dan dengan terpaksa membuatku berpisah dengan papaku, aku tak akan pernah mengampuni mereka dan akan ku buat mereka merasakan apa yang telah ku rasakan selama ini. Hancur dan tak berdaya." Alga berkata dengan tatapan mata yang tajam menatap lurus pada Aron dan Ariana yang ada didepannya
"Gila, ni anak masih kecil saja sudah seperti ini bagaimana jika dia besar nanti." Aron bergumam dalam hati menatap Alga lalu saling lihat dengan Ariana
Beberapa jam kemudian ada notifikasi yang terdengar dari ruang gelap, dengan cepat Alga bangun dan masuk untuk melihat, mata Alga terlihat puas dan muncul senyum jahat dibibir mungilnya.
"Kena kau, dan aku akan memakan semuanya."
...🌴🌴🌴...
"Tuan saya melihat ada penawaran yang lumayan untuk saham yang tuan luncurkan, akankah kita mengambilnya tuan?" ucap asisten Daren dan menunjukkan iPad nya pada Daren.
"Baik hubungi dia dan langsung jual saja karena dia menawarkan harga diatas yang lainnya dan juga beli apa yang dia tawarkan" perintah Daren
"Baik tuan." dengan cepat asisten Daren melakukan perintah atasannya.
Terlihat Daren merasa lega karena merasa tertolong dan juga lega karena bisa keluar dari hal yang menghimpitnya selama beberapa bulan terakhir ini.
...🌴🌴🌴...
"Tidak ada, aku hanya melihat dan mengecek ulang pembukuan kafe saja." Syafira tersenyum melihat Alan datang.
"Apa ada masalah?" Alan melihat layar komputer Syafira
"Tidak ada sama sekali, semuanya baik - baik saja. Kenapa mas ke sini, apakah tak ada pekerjaan di kantor?" Syafira bertanya dengan lembut pada Alan
"Ini adalah jam makan siang, karena kau selalu sibuk dan jarang datang, jadi aku yang datang melihatmu." Alan berkata dengan lembut dan mengusap kepala Syafira dengan lembut lalu memberikannya kecupan di puncak kepala Syafira
"Baiklah, aku akan menyiapkan makan siang untuk kita tunggu dulu." Syafira beranjak keluar dan menuju dapur kafe untuk menyiapkan sendiri makan siang untuknya dan Alan.
Di ruangan Syafira Alan membuka komputer Syafira untuk mencari apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya itu selama ini, karena Alan merasa ada yang disembunyikan oleh Syafira dari sejak dirinya kembali ke sisi Alan.
"Tak ada apa pun selain permainan game dan data mengenai kafe, dan semuanya adalah laporan tentang kafe ini."
Alan melihat semuanya dan tak bisa menemukan hal yang ingin diketahuinya karena data di komputer itu berisi data kafe mulai dari pengeluaran, pemasukan, laporan bulanan dan yang lainnya.
"Tunggu kenapa aku jadi mencurigainya, apa aku tak percaya padanya? Kurasa bukan itu, aku bukan tak percaya aku hanya penasaran dan ingin tau saja."
Alan kembali bergumam dan menghela nafas dalam lalu menyandarkan kepalanya disandarkan kursi.
"Ada apa mas, apa ada masalah di kantor?" tanya Syafira saat dia masuk kedalam ruangannya dan melihat Alan menghela nafas.
"Tak ada sayang, aku hanya merasa lelah saja." Alan bangun dan berjalan ke arah sofa didepan meja kerja Syafira.
"Baiklah, ayo makan dulu" Syafira menata makanan yang disiapkan diatas meja.
Alan dan Syafira makan siang sambil berbincang ringan membicarakan soal Alga dan Alisa anak - anak mereka dan terlihat obrolan itu sangat hangat.
...🌴🌴🌴...
Beberapa Minggu kemudian perusahaan Daren diguncang lagi dengan masalah yang lebih besar dari sebelumnya, hingga membuat para pemegang saham marah karena Daren yang tanpa persetujuan mereka menjual dan melakukan tindakan tanpa pemberitahuan pada pihak pemegang saham. Rapat darurat pun dilakukan untuk membahasa masalah yang sedang mereka hadapi serta mencari solusi atas masalah perusahaan.
"Bagaimana bisa tuan Daren melakukan itu semua, kita semua di sini juga memiliki hak yang sama." ucap pemegang saham 1
"Benar, tuan Daren tak bisa melakukan keputusan dengan sembarangan dan sembrono seperti ini. Apa lagi ini melakukan tindakan yang tanpa sepengetahuan kami." pemegang saham 3
"Tuan Daren kami meminta anda untuk menjelaskan prihal ini, kami tak terima dan kami meminta untuk uang kami dikembalikan." pemegang saham 1
"Benar, ini adalah kesalahan tersebar yang pernah terjadi selama ini, seharusnya tuan Daren berunding dengan kami. Bagaimana pun kami masih memiliki andil di sini" pemegang saham 2
"Dengarkan dulu, aku harus melakukan tindakan cepat. Jika aku harus menunggu dan membicarakan dengan kalian akankah kita akan mendapatkan solusinya untuk mengatasi semua masalah yang terjadi saat ini?!"
Daren terlihat marah dan tak terima dirinya disalahkan atas tindakannya yang telah dia lakukan untuk menyelamatkan perusahaannya.
Dalam rapat itu suasana sangat tegang dan ruangan itu terasa sangat panas walau ruangan itu ber AC, karena orang - orang didalamnya berdebat hebat dan mengeluarkan energi hingga urat syaraf mereka terlihat sangat jelas saat mereka sedang berbicara.
"Selamat siang, maaf mengganggu acara rapat hari ini"
Ucap seorang wanita muda dengan setelan baju hem putih dengan kerah baju berbentuk huruf V dan kardigan hitam serta bawahan span hitam juga sepatu hil hitam dengan dandanan sederhana yang terlihat elegan.
"Siapa dia"
Kasak kusuk semua orang yang ada di ruang rapat itu melihat wanita yang datang menerobos masuk ke dalam ruang rapat mereka yang seharusnya sangat tertutup.
"Apa - apa an ini tuan Daren, bagaimana bisa ada orang asing yang masuk sedangkan kita sedang membahas masalah yang sangat sensitif dan tertutup." pemegang saham 1 terlihat sangat marah besar.
Wanita itu tak bergeming dan dia bersikap biasa saja walau ditatap dengan tajam oleh semua orang yang ada di dalam ruang rapat itu.