
Sudah sebulan hubungan Alan dan Syafira membaik serta mereka jadi makin dekat, tak ada lagi rasa canggung yang ditunjukkan oleh Syafira dan Alan juga sangat menyukai perlakuan Syafira kepada dirinya yang begitu perhatian sama seperti perhatiannya kepada Alga.
"Hari ini pulang jam berapa?" tanya Alan saat dia mengantarkan Syafira ke sanggar tari.
"Nanti tak usah dijemput karena aku mau ikut sama kak Milky karena ada pertunjukan, Daddy jemput Alga saja nanti jam 11 siang." jawab syafira dengan sopan pada Alan
"Baiklah kamu hati - hati, nanti kabari Daddy dimana alamat pertunjukannya Daddy akan jemput kamu." ucap Alan lagi sebelum dia pergi ke kantornya.
"Baiklah, nanti Syafa kirim lokasinya pada Daddy. Hati - hati nyetirnya." Syafira mencium tangan Alan lalu pergi masuk kedalam sanggar tari.
Dari kejauhan aktifitas Alan ternyata ada yang mengawasi dan orang itu melakukannya dengan sembunyi - sembunyi, dia juga mengambil semua gambar Alan dan Syafira mulai dari awal keluar dari rumah sampai ke telat kerja Syafira.
...🌴🌴🌴...
"Kak sudah datang? Tadi ada reporter datang katanya mau melakukan wawancara apakah kakak mau melakukannya?" tanya Aditya saat Alan baru sampai di kantor.
"Kau urus saja dan lakukan sebisa mu, Karen aku tak akan ikut." jawab Alan santai.
"Ya, aku lagi yang harus maju ini?" tanya Aditya dengan memonyongkan bibirnya.
"Jangan berlaku seperti anak kecil kau sudah jadi seorang suami." Alan memukul Pahu Aditya dan tersenyum.
"C*h, entah kenapa semakin kesini kakak jadi semakin mengesalkan ya. Apa karena putriku sudah mau menerima kakak dan mau merawat kakak dengan baik." ledek Aditya pada Alan yang belakangan ini jadi sangat semangat dan sering senyum karena hubungannya dengan Syafira yang telah jelas dan membaik.
"Jangan bicara sembarangan. Apa kau terlalu santai, mau aku berikan pekerjaan tambahan untuk hari ini?" tanya Alan menatap Aditya dengan senyumnya.
"Tidak pekerjaanku sudah sangat banyak, tapi aku suka dengan kakak yang sekarang. Baiklah aku kembali kerja." Aditya keluar dari ruangan Alan.
...🌴🌴🌴...
Waktu berjalan dengan sangat cepat, siang itu Alan pergi menjemput Alga pulang dari sekolah, dan terlihat Alga yang sangat senang karena dia memiliki banyak teman. Alan melihat putra semata wayangnya itu sangat senang, dan tanpa sadar Alan tersenyum. Karena Alan tak pernah membayangkan dalam hidupnya akan merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna dengan adanya anak dan istri yang sangat cantik.
"Sudah selesai sayang?" tanya Alan saat Alga lari kearahnya.
"Sudah papa." jawab Alga riang.
"Selamat siang tuan, apa anda keluarganya Alga?" tanya guru Alga yang melihat Alan menjemputnya.
"Iya bu guru ini papa Alga, iya kan pa?" ucap Alga berkata dan mendongak menatap Alan.
Alan tersenyum menatap guru Alga, "Saya Alan papanya Alga, selama ini saya hanya berada di mobil setiap kali menjemputnya karena mamanya yang turun." jawab Alan sopan pada guru Alga
"Oh, baiklah kalau begitu tuan. Karena saya dapat pesan dari mama Syafira kalau saya harus bertanya dengan orang yang menjemputnya." ucap guru Alga "Alga baik - baik ya dan harus dengarkan kata papa gak boleh nakal ya nak." guru Alga menasehati Alga
"Baik Bu guru." jawab Alga
"Kalau begitu saya masuk dulu pak, dan maaf karena tadi saya sempat ragu." ucap guru Alga menatap Alan.
"Baik, terima kasih." jawab Alan.
Alan membawa Alga pulang dan didalam mobil Alga bercerita dengan sangat antusias mengenai kesehariannya di sekolah dan permainan apa saja yang dia lakukan serta dimainkan dengan teman - temannya. Alan mendengarkan dengan senang celoteh putranya yang sangat menggemaskan.
...🌴🌴🌴...
"Sayang di rumah sama bibi ya jangan nakal. Papa kembali ke kantor dulu." ucap Alan saat sampai di rumah.
"Baik papa, Alga akan baik - baik di rumah sama bibi dan maman." jawab Alga.
"Bibi Minah Alga mau mandi terus makan sudah lapar." teriak Alga lari ke dapur mencari bi Aminah.
"Anak itu tak ada diamnya." gumam Alan menatap Alga yang langsung lari mencari bi Aminah.
...🌴🌴🌴...
"Tunggu nona bos Alan benar tak ada ditempat." ucap Ninis pada Anita mantan Alan yang memaksa untuk masuk karena ingin bertemu dengan Alan.
"Menyingkir lah jangan halangi aku, apa kau tau siapa aku hah?!" kesal Anita pada Ninis yang berusaha untuk menghalangi dirinya untuk masuk ke ruangan Alan.
"Kau. Baik aku akan tunggu dia di sini." Anita akhirnya duduk di sofa depan ruangan Alan.
"Alan sayang." Anita langsung berjalan mendekati Alan begitu melihat Alan datang.
Alan tak menjawab dan hanya menatapnya lalu Alan menatap Ninis yang berdiri dibalik meja kerjanya. Ninis hanya menunduk karena dia tak berhasil mengusir Anita yang sedari tadi bersih keras ingin menunggu Alan.
"Untuk apa kau datang, kita sudah tak ada urusan apa - apa lagi." ucap Alan pada Anita dengan dingin dan berjalan melewatinya untuk masuk kedalam ruangannya.
"Alan kau jangan dingin begitu padaku. Aku sangat merindukan mu, aku tau aku salah karena telah meninggalkan mu waktu itu, namun sekarang aku sadar dan aku mau minta maaf padamu. Ayo kita mulai lagi dari awal karena aku masih sangat mencintai mu Alan." ucap Anita pada Alan dan memohon pada Alan untuk menerima dirinya lagi dan menjalin hubungan lagi seperti dulu saat mereka masih sekolah.
"Semua sudah berlalu dan aku rasa sudah tak ada lagi cerita tentang kita." jawab Alan cuek.
"Alan tak mungkin kalau kamu bisa melupakan semua cerita tentang kita. Kita berdua menjalin hubungan selama 7 tahun lamanya dan aku masih sangat mengingat semua cerita tentang kita." Anita berjalan mendekati Alan dan mengalungkan tangannya dileher Alan dari belakang serta memainkan rambut Alan.
"Hentikan, aku harap kamu bisa bersikap sopan. Dan jika tak ada yang dibahas lagi silakan keluar." Alan melepaskan tangan Anita.
"Alan aku sudah mempelajari sebuah tarian khusus, dan aku akan menjadi penari khusus untuk mu. Bukankah kamu dulu sangat menyukai tarian ku? Dan kamu sangat suka seorang wanita yang bisa memiliki kemahiran seperti alm. mamamu kan?" ucap Anita yang masih saja merayu Alan.
"Ninis panggil sekuriti sekarang, aku gak mau diganggu dalam bekerja" ucap Alan menghubungi Ninis sekretarisnya melalui panggilan telepon.
"Sekarang kau mau pergi sendiri atau diusir oleh sekuriti kau sendiri yang tentukan." ucap Alan menatap Anita.
"Alan, baiklah aku akan pergi dan akan datang lagi nanti. Selamat bekerja sayang." ucap Anita mendekat mau mencium pipi Alan tapi dengan cepat Alan menghindarinya.
"Keluar." ucap Alan pelan dan dingin.
Alan bernafas dalam setelah Anita keluar dari ruangannya dan Alan merasa kesal karena hubungannya dengan Anita dulu sangat baik sebelum Daren mengusik dan merebut Anita dari tangannya dan Anita dengan suka rela mengikuti Daren serta meninggalkan dirinya saat Alan pergi belajar ke luar negeri.
"Lupakan Alan semua sudah masa lalu" gumam Alan berusaha untuk menetralkan perasaannya atas rasa kesal karena telah dikhianati oleh wanita yang sangat dia cintai dulu.
"Ya Allah aku begitu terganggu dengan kedatangan Anita dan membuat aku lupa menjemput Syafa." gumam Alan saat dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Alan langsung mengunjungi Syafira namun Syafira tak mengangkat teleponnya dan itu membuat Alan merasa bersalah pada Syafira, karena tadi Syafira minta untuk dijemput jam 7 malam tapi sudah lewat 2 jam Alan baru sadar.
"Halo bi, apakah Syafa sudah pulang?" Alan menghubungi telepon rumah dan bertanya pada bi Aminah.
"Sudah nak Alan tadi dianter sama nak Bian." jawab bi Aminah
"Baik terima kasih bi* ucap Alan langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas pulang.
...🌴🌴🌴...
Sesampainya di rumah Alan langsung mencari keberadaan Syafira dan karena mendengar suara musik dari arah ruang olahraga Alan langsung saja melangkahkan kakinya kearah samping rumah.
"Syafa." gumam Alan yang melihat Syafira menari dengan memasang pengeras suara dikedua telinganya.
Alan berjalan masuk kedalam ruang olahraga dan menutup pintunya lalu melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya. Alan melipat lengan bajunya dan berjalan mendekati Syafira yang menari dan terlihat ada sebuah amarah dalam tarian Syafira.
Alan tersenyum lalu dengan cepat menarik tangan Syafira sehingga Syafira dengan cepat tertarik kearah Alan dan menabrak tubuh Alan, terlihat nafas Syafira yang tersengal - sengal dengan keringat yang bercucuran saling memburu meluncur ditubuh Syafira.
Syafira mendorong Alan lalu melangkah menjauh dari Alan, menatap Alan dengan marah. Lalu memulai untuk menari lagi dan tak menghiraukan keberadaan Alan.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri." ucap Alan saat dia menangkap Syafira dan memeluknya lagi sambil berbisik ditelinga Syafira setelah melepaskan pengeras suara yang terpasang ditelinga syafira.
"Lepas!" kesal Syafira dan berusaha lagi untuk mendorong tubuh Alan, tapi kali ini Alan tak mudah didorong.
"Katakan ada apa?" tanya Alan saat dia sudah menekan remote mematikan musik di ruang olahraga itu, karena musiknya dinyalakan dengan remote.
"Jika Daddy sudah punya kekasih lagi tolong jangan dekati Syafira, karena Syafira bisa hidup sendiri dan bahagia dengan Alga." ucap Syafira menghindari Alan dan megambil handuk untuk berjalan keluar.
"Jelaskan. Daddy tak punya wanita lain selain dirimu." jawab Alan bingung menahan Syafira
"Lalu siapa Anita?! Haruskah Daddy mengirimkan dia untuk mengatakan hal buruk padaku karena aku hanyalah seorang penari?" tanya Syafira dengan marah.
"Apa yang kau katakan, Daddy tak tau menahu soal itu. Dan memang tadi Anita ke kantor Daddy tapi Daddy tak pernah menyuruh dia ke tempat mu dan lagi Daddy tak ada hubungan apa - apa lagi dengan dia. Dia sudah masa lalu Daddy dan sekarang kau adalah masa kini serta masa depan Daddy maaf, tolong jangan marah lagi." Alan menjelaskan dan memeluk erat Syafira.