Baby I Love You

Baby I Love You
Teman Pria



"Kalian semua masih semangat.!" suara Syafira menggelegar memenuhi ruangan.


"Ya...!" teriakan dari semua orang membuat suasana semakin semangat lagi.


"Syafa, jadi orang yang selama ini aku kagumi adalah dirimu? Aku yang selalu ingin dekat dengan mu dan ingin berteman dengan mu karena kamu mengingatkan aku akan Kiky idolaku yang penuh dengan energi, ternyata kalian memang orang yang sama." gumam seseorang dari meja bar tak jauh dari tempat vip yang diduduki oleh Alan dan teman - temannya.


"Kalau kalian masih semangat sekarang giliran kalian yang unjuk kebolehan dan aku akan menemani kalian dengan musik, apa kalian mau." suara Syafira lagi dan semua orang teriak serempak menjawab mau.


Syafira naik keatas podium DJ dan dia berdiri tepat didepan alat DJ yang sudah terpasang disana, dengan senyumnya yang menawan Syafira mulai memainkan musik dan tangannya menari dengan lincahnya diatas alat DJ tersebut. Teriakan dari semua orang membuat suasana semakin panas.


"Tak ku sangka kalau putri angkat kalian sungguh sangat luar biasa hebat, ku pikir kenapa dia waktu itu tanya ada alat DJ atau tidak ternyata dia adalah wanita yang multitalen." Daniel memuji Syafira dengan sangat bangga, "Putri angkat kalian benar - benar sumber uang bagi ku." Daniel menatap Aditya dengan tersenyum senang.


"Gadis nakal." gumam Alan dengan sangat kesal.


Suasana klub Daniel semakin meriah karena tak ada pengunjung pun yang keluar, justru mereka terus saja memesan berbagai pesanan ini dan itu demi bisa terus bersama dengan idola meraka yaitu Milky dan Kiky.


Alan bangun dan meninggalkan klub Daniel dengan suasana hati yang benar - benar emosi, dan Aditya yang tau kalau kakaknya sedang marah hanya bisa mengikuti dari belakang tanpa bersuara. Namun pertunjukan Syafira masih berlanjut sampai jam 11 malam.


"Syafa." panggil seseorang saat Syafira dan kakaknya Milky mau keluar untuk pulang.


"Bos Bian." gumam Syafira saat dia berbalik dan melihat kalau orang yang memanggilnya adalah bosnya di restoran.


"Di sini kita bukan bos dan anak buah, jadi cukup panggil aku Bian saja." ucap bian dengan tersenyum menatap Syafira.


"Oh, baiklah." Syafira juga tersenyum dan merasa malu karena ketahuan sama bosnya ditempat kerja lain.


"Mommy ayo pulang Aga ngantuk." gumam Alga yang ada di gendongan Syafira.


"Oh, baiklah sayang. Maaf ya Bian kami balik dulu." Syafira berbalik dan mau masuk mobil Badrul.


"Tunggu Syafa. Boleh kah aku mendapatkan kehormatan untuk mengantar mu pulang?" tanya Bian dengan tatapan berharap.


"Tentu boleh, karena tujuan kami juga berbeda." celetuk Milky mewakili Syafira menjawab.


"Ah." Bian menatap Milky


"Halo, aku Milky kakak Syafa dan ini suami ku Badrul. Aku minta tolong antarkan adik dan keponakanku pulang dengan selamat ya kami duluan, bey Syafa." Milky langsung masuk lagi kedalam mobil dan Badrul melajukan mobilnya pergi.


"Kalau begitu ayo Syafa." Bian membawah Syafira ke mobilnya. "Tidurkan dia dibelakang saja." Bian membuka pintu belakang.


"Maaf, tapi dia tak akan bisa tidur kalau dibiarkan sendirian." jawab Syafira tersenyum malu menatap Bian.


"Baiklah kalau begitu hati - hati." Bian membuka pintu depan dan melindungi kepala Syafira.


"Jadi selain hari sabtu dan minggu kamu berkerja di klub itu ya?" tanya Bian saat mereka dalam perjalanan.


"Tidak juga, karena aku dulu bekerja jadi guru privat keluarga Guntoro sekarang sudah tidak, jadi aku bekerja jadi guru tari di sekolah tari milik Bu Parti saja yang dulu adalah guru tari ku. Dan untuk di klub sebenarnya hanya kesenangan saja, tapi mulai sekarang akan jadi pekerjaan juga karena bayarannya mahal." jelas Syafira pada Bian secara jujur dan merasa canggung.


"Apa yang kau sukai Syafa?" tanya Bian karena dia ingin tau kesukaan Syafira dan ingin menjadi orang yang pertama tau.


"Yang aku sukai adalah uang, karena aku ingin mengumpulkan banyak uang untuk biaya hidup serta pendidikan Alga." jawab Syafira dan tersenyum menatap putranya yang sudah terlelap dalam pelukannya.


"Begitu ya." Bian menatap tersenyum pada Alga yang terlihat tampan dengan hidung mancung dan bibir tipis kecil seperti Syafira.


"Selamat malam, terima kasih tumpangannya dan hati - hati dijalan." Syafira melambaikan tangannya pada Bian saat Bian melajukan mobilnya pergi.


Syafira memasuki rumah dengan Alga dalam gendongannya dan saat mau membuka pintu ternyata Alan sudah membukakan untuk Syafira dan mengambil Alga dari gendongan Syafira. Dengan diam Syafira mengikuti Alan melangkah ke kamarnya setelah mengunci pintu.


"Haruskah pulang sampai selarut ini? Ini gak baik untuk Alga." ucap Alan setelah dia menidurkan Alga.


"Apa sekarang harus dibiasakan? Kebiasaan buruk ini harus diubah mulai sekarang." ucap Alan sedikit keras dan dengan nada yang sedikit tinggi.


"Maaf, Alga sedang tidur aku gak mau membangunkan dia. Sebaiknya Daddy juga kembali ke kamar Daddy karena besok pagi pasti harus sibuk lagi." jawab Syafira yang terdengar oleh Alan kalau nada Syafira ada batasannya, seakan Syafira menunjukkan pada Alan kalau ini adalah batas wilayahnya dan Alan tak harus ikut campur.


"Selamat malam." ucap Syafira lagi dan membuka pintu kamarnya lalu berdiri diambang pintu dengan tertunduk menunggu Alan keluar dari kamarnya


Alan menghela nafas dalam dan melangkah keluar dari kamar Syafira. "Selamat malam, istirahatlah." ucap Alan dan Syafira tak menjawab langsung menutup pintu kamarnya.


Setiap hari Syafira diantar jemput sama Bian saat berangkat dan pulang kerja dari klub dan sudah 1 minggu lamanya hubungan Syafira sama Bian tak lagi canggung sepeti sebelumnya karena mereka sekarang terlihat lebih santai. Senyuman Syafira dan juga candaannya juga kerap dilontarkan sama Syafira pada Bian.


"Syafa, besok aku jemput kamu lagi ya." teriak Bian pada Syafira dan Syafira menjawab juga dengan teriakan.


"Pulang malam lagi." tanya Alan yang ternyata menunggu Syafira di ruang tamu dengan lampu dimatikan.


"Iya, karena banyak kerjaan hari ini. Dan pengunjung restoran juga sangat banyak. Syafa masuk dulu." Syafira berjalan melewati Alan.


Keesokan harinya Bian sudah menunggu syafira didepan rumah. "Sudah lama menunggu? Maaf ya aku harus mengurus Alga dulu." Syafira berlari dengan senyum diwajahnya.


"Tidak apa baby, ayo." Bian mengusap kepala Syafira penuh dengan rasa sayang dan melihat itu hati Alan jadi panas.


Malam itu Alan sengaja mendatangai tempat kerja Syafira di restoran, dan ternyata memang kalau hari minggu pengunjung restoran itu sangat banyak. Dari jauh Alan melihat Syafira dan Bian serta satu orang pria lagi dan mereka bertiga terlihat sangat akrab berbincang sambil tertawa.


"Kenapa pria itu begitu ringan tangan." gerutu Alan yang melihat Bian merangkul bahu Syafira. "Dia harus diajari cara bergaul." sambung Alan lagi memukul setir mobilnya.


malam harinya saat Syafira baru pulang kerja Alan menunggu Syafira didepan rumah karena dia sengaja melakukan itu agar Bian merasa takut atau setidaknya tangannya tak akan sembarangan menyentuh Syafira.


"Selamat malam ya say, istirahat ya jangan lupa besok aku jemput saat ke klub ok." ucap Bian dan lagi - lagi mengusap kepala Syafira.


"Ehem." Alan berdegem namun Bian cuek saja.


"Iya, hati - hati di jalan." Syafira melambaikan tangannya.


"Syafa Daddy ingin bicara sama kamu." ucap Alan pada Syafira lalu masuk kedalam rumah dengan kesal.


"Mau bicara apa Dad?" Syafira bertanya dengan nada biasa saja saat mereka sudah masuk kedalam ruang kerja Alan.


"Duduklah, Daddy ingin tanya sesuatu pada mu." ucap Alan dengan tegas.


Syafira berjalan dan duduk di sofa dengan menatap Alan dan bertanya - tanya dalam hatinya, karena Alan terlihat sangat marah namun ditahan.


"Katakan pada Daddy siapa Bian dan sudah sejauh mana hubungan mu sama dia, kenapa tak pernah sekalipun mengenalkan dia pada Daddy." Alan menatap Syafira.


Mendengar itu Syafira tersenyum dalam hati dan dia mulai punya ide kalau hal itu bisa dijadikan alat untuk membuat Alan tak lagi mencarikan jodoh untuk dirinya. Karena Syafira tak memiliki keinginan untuk menikah dengan jodoh dari Alan.


"Bian adalah teman pria Syafa dan Bian orang yang baik, dia juga sudah tau kalau Syafa janda beranak satu. Bian juga baik sama Alga dan mau menerima Alga, jadi menurut Syafa itu baik karena nanti Syafa tak harus meninggalkan Alga setelah kami menikah. Karena Syafa gak mau menjalani hidup tanpa Alga." jawab Syafira menjelaskan pada Alan.


Alan tak bisa membantah apa yang sudah dikatakan oleh Syafira karena memang itu yang diingkan oleh Alan agar Syafira bahagia. Alan menghela nafas dalam menatap Syafira yang duduk didepannya.


"Tapi harus kah kalian sedekat itu? Sampai pegang - pegang dan juga saling memberikan semangat." tanya Alan kesal karena dia tak tau harus bilang apa lagi.


"Itu... Syafa juga suka dan karena kami adalah pasangan" jawab Syafira dengan santai.


"Syafa." Alan terkejud dengan jawaban yang diberikan oleh Syafira.


"Maaf Syafa mau kembali ke kamar dulu karena sudah lelah, selamat malam Daddy." ucap Syafira lalu keluar dari ruang kerja Alan dengan cepat.