
Ayunda yang sudah dapat kabar dari mamanya soal kepergian Syafira dari rumah merasa kaget dan bersalah sama Syafira karna dia tak pernah pulang untuk melihat keadaan Syafira dikarenakan masa sekolah yang memasuki masa ujian akhir.
"Apa yang dikatakan oleh mamamu itu benar Yu, kalo Syafa pergi dari rumah?" Anisa bertanya pada Ayunda yang selalu menyalahkan dirinya atas kepergian Syafira.
"Hem, ini semua salah ku. Andai aku bisa menemaninya dalam masa sulit dan memberinya dukungan dia pasti tak akan merasa tertekan dan kabur." jawab Ayunda dengan segala penyesalannya.
"Sabarlah Yu, pasti Syafa punya rencananya sendiri dan aku yakin dia orang yang kuat. Allah pasti melindunginya dimana pun dia berada." ucap Anisa untuk mengamati Ayunda yang selalu terlihat sedih.
"Jadi Syafira sudah pergi dari rumahnya ya, tapi kenapa Milky tak menghubungiku. Apa mereka tak bertemu? Atau Syafira menuju ketempat lain?" Bu Damiyah yang tak sengaja mendengar percakapan antara Ayunda dan Anisa didalam kamar mereka saat melakukan ronda malam.
"Halo Milky apa kamu di rumah? Ada yang ingin ibu tanyakan padamu." seru Bu Damiyah pada Milky lewat panggilan telpon saat Bu Damiyah sudah berada dalam ruangannya.
"Iya iya aku tau apa yang ingin ibu tanyakan. Sekarang aku emang sedang bersama dengan Syafira, dan dia yang memintak agar aku tak menghubungi ibu karna dia takut ada orang - orang yang mengenalnya tak sengaja mendengar percakapan kita." jelas milky pada ibunya.
"Apa dia baik - baik saja?" Bu Damiyah bertanya dengan nada khawatir.
"Hahaha...Dia sangat lincah dan sangat baik, aku gak nyala kenapa gak dari dulu aku memiliki seorang adik. Sekarang dia sedang bercocok taman dan berbaur dengan para penduduk desa, apa ibu tau dia lebih populer dari pada aku sekarang. Dan namanya sekarang adalah Kiky." jelas milky dengan sangat senang dan juga bahagia.
"Syukurlah kalo dia baik - baik saja. kalo begitu kalian harus berhati - hati, ibu tutup dulu ya." ucap Bu Damiyah sebelum menutup panggilan telponnya dengan milky putrinya.
Bu Damiyah duduk termenung mengingat saat kejadian dia mendapati kalo Syafira sedang hamil, dan juga permohonan Syafira padanya yang merasa takut dan tertekan saat tau Bu Damiyah menghubungi Alan daddy-nya.
"Tolong Bu jangan beritahu Daddy, Syafa mohon Bu." Syafira memelas pada Bu Damiyah yang sedang marah padanya.
"Apa maksudmu, Bu memberi tau mereka agar mereka tau seperti apa kelakuan mu.!" bentak Bu Damiyah pada Syafira.
"Tapi Syafa gak mau mereka tau, Syafa gak mau kalo Meraka mengetahui kalo anak ini adalah anak Daddy.!" Syafira balas berteriak pada Bu Damiyah dan itu membuat Bu Damiyah terkejud.
"Apa maksud mu? Jelaskan dengan benar." Bu Damiyah meminta pada Syafira untuk menjelaskan dari ucapannya.
"Sebenarnya kehamilan Syafa ini adalah kesalahan Syafa." Syafira menceritakan kejadiannya dari awal dia bertemu dengan daddy-nya sampai hal naas itu terjadi padanya dengan sangat cepat dan menyakitkan baginya.
"Jadi kamu merahasiakan semuanya dari mereka dan menanggung beban besar ini sendirian? Kamu seharusnya menceritakan semuanya pada mereka Syafira." Bu Damiyah menasehati Syafira untuk masalah yang terjadi pada dirinya.
"Tidak, Syafa gak mau menyusahkan mereka Bu. Syafa berencana pergi tanpa sepengetahuan mereka, Syafa gak mau memanfaatkan keadaan untuk kenyamanan Syafa sendiri. Mereka sudah terlalu baik pada Syafa, dan Syafa gak mau membebani Daddy dengan kenyataan soal dia yang memperkosa Syafa dalam keadaan tak sadar." jelas Syafira dan mulai menangis.
"Apa yang akan kau lakukan nak?" Bu Damiyah mulai melunak dan kasian pada Syafira.
"Syafa ingin pergi jau dari semua orang dan akan hidup bahagia dengan bayi Syafa saja." jawab syafira dengan air matanya yang membanjiri wajahnya.
"Ini adalah nomor putri ibu, jika memang kamu ingin pergi carilah dia jangan pergi tanpa tujuan." ucap Bu Damiyah menyodorkan kertas yang bertuliskan nomor telpon putrinya.
"Terima kasih Bu, terima kasih banyak atas bantuannya." ucap syafira yang merasa lega karna dia akan punya tujuan dan tempat untuk pergi nantinya.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan Bu Damiyah diketuk seseorang, dan itu membuyarkan lamunan Bu Damiyah atas diri Syafira yang memiliki nasib hampir sama dengan dirinya, diperkosa dan ditinggalkan saat sedang hamil.
...🌴🌴🌴...
Malam itu Alan pulang dengan keadaan lunglai seolah - olah rasa lelah sedunia di tangung dan dipikul sendirian.
"Selama 3 bulan aku sudah berusaha keras untuk mencariknya namun semuanya hinil. Tak ada gunanya mengerahkan semua orang - orang bodoh itu." Alan bergumam sambil menatap foto Syafira yang terpasang disebuah bingkai.
"Sekarang adalah perkiraan kelahirannya, apa dia melahirkan dengan selamat, apa kah mereka berdua sehat? Syafa kenapa kau menyiksaku seperti ini?" Alan menatap foto hasil USG kehamilan Syafira yang dilakukan saat periksa bersamanya.
"Andai aku berani lebih jujur untuk mengakui perasaanku, apa mungkin semuanya juga akan berbeda dan tak jadi rumit seperti ini? Aku mencintaimu Syafa." ucap Alan lagi dan merebahkan tubuhnya ditempat tidur dengan menggenggam foto Syafira dan juga foto hasil USG Syafira.
...🌴🌴🌴...
Sementara Syafira yang berada di desa Bu Damiyah bersama dengan putri Bu Damiyah milky hidup bahagia bagai dua saudara.
Milky yang seorang instruktur senam selalu mengajari Syafira yoga untuk melancarkan persalinan dan juga kegiatan ringan seperti berkebun.
Kehamilan Syafira telah memasuki bulan ke sembilan dan sudah waktunya persalinan, namun Syafira masih tak merasakan apa pun dan dia juga masih bisa beraktifitas seperti biasa.
"Aduh mas.!" panggil Syafira pada Badrul yang malam itu lagi asyik berkumpul sama warga karna ada acara ruwat desa atau selamatan untuk desa.
"Kenapa Kiky, apa perutmu sakit?" Badrul bertanya dengan khawatir karna dia diberi tugas oleh milky untuk menjaga Syafira saat dia melakukan pertunjukan.
"Tidak mas, tapi sepertinya ada air yang keluar begitu banyak dan tiba - tiba." syafira menjelaskan pada Badrul dan menunjukkan baju bawahnya yang sudah basah dengan air ketuban.
"Ya Allah Kiky ayo kita harus periksa ke puskesmas sekarang." Badrul dan beberapa warga mengantar Syafira ke puskesmas.
"Maaf pak ini sudah harus segerah dilahirkan supaya tidak kehabisan air ketuban, Karana ini juga tidak ada pembukaan dan kontraksi sebagai tanda mau lahiran." ucap dokter di puskesmas yang menangani Syafira.
"Terus bagaimana dok, di sini tidak bisa?" tanya Badrul pada dokter puskesmas.
"Di sini tidak ada peralatannya pak harus kerumah sakit." jawab dokter itu. Dan Badrul pun bersama dengan warga yang ikut mengantar berangkat kerumah sakit dengan naik pikup.
Sesampainya di rumah sakit Syafira langsung ditangani dan masuk kedalam ruang operasi karna takut bayinya akan menghadapi bahaya kalo tak segerah dilahirkan.
"Mas bagaimana?" milky yang menyusul kerumah sakit setelah diberi tau warga yang tadi ikut mengantar langsung menuju rumah sakit begitu acara pertunjukannya selesai.
"Dia lagi dioperasi." jawab Badrul memeluk milky karna merasa tenang milky sudah datang menemani.
3 Jam kemudian Syafira sudah sadar dan juga sudah berada diruang pemulihan yang ditemani oleh Badrul dan milky.
"Mas, mbak bagaimana dengan bayiku? Apa dia tak papa?" Syafira langsung bertanya soal bayinya begitu dia sadar dari pengaruh obat bius.
"Dia baik - baik saja dan juga sehat. Barusan perawat membawanya untuk diimunisasi katanya." jawab milky dengan wajah bahagia.
"Kenapa kamu bisa dibius total Ki?" tanya Badrul karna setau dia melahirkan masih bisa sadar walo operasi.
"Gak tau mas, tiba - tiba saja waktu didalam ruangan Kiky merasa panik dan juga takut, dan Kiky masih bisa merasakan sedikit daging Kiky saat disayat. Setelah Kiky bilang sama dokter tiba - tiba Kiky tak sadarkan diri." jelas Syafira pada pertanyaan Badrul.