Baby I Love You

Baby I Love You
Penari khusus 2



Mendengar penjelasan dari Alan Syafira menangis karena dia teringat akan kata - kata dari Anita padanya saat Syafira sedang menunggu Alan untuk datang menjemputnya.


2 jam yang lalu.


"Kiky ayo kakak antar kamu balik." tawar Milky pada Syafira.


"Gak usah kak nanti Daddy akan datang menjemput ku, Karen tadi sudah bilang juga." tolak Syafira atas ajakan Milky


"Ya sudah kalau gitu kakak balik dulu ya kamu hati - hati." Milky pergi meninggalkan Syafira.


Brrrt


Syafira : halo ya Bian ada apa?


Bian : Syafa kamu dimana sekarang? Aku ada sesuatu yang mau dibicarakan pada mu.


Syafira : Aku ada di tempat pertunjukan di sanggar tari Dawei, ada apa emangnya ini aku juga sudah selesai danau pulang lagi nunggu Daddy menjemput ku.


Bian : Dawei? Aku berada dekat situ aku akan kesana sekarang ya tunggu aku mematikan sambungan telepon)


Syafira : Eh Bian, ya sudah mati.


"Apa kamu yang bernama Syafira?" ucap seorang wanita yang datang mendekati Syafira yang sedang menunggu Alan.


"Ah iya mbak, apa ada urusan dengan saya?" tanya Syafira dengan sopan.


"Aku adalah Anita, aku tak tau apa urusan dan hubungan mu dengan Alan tapi aku tak suka melihat mu dekat dengan Alan. Sebaiknya kamu pergi dari kehidupan Alan untuk selamanya." ucap Anita dengan nada kesal pada Syafira.


"Tapi maaf mbak kenapa anda melarang saya dan ada urusan apa anda melakukan ini pada saya? Karena saya tak mengenal anda dan juga tak pernah menyinggung anda." jawab Syafira bertanya - tanya karena Anita tiba - tiba saja mendatanginya dan melarangnya berhubungan dengan Alan.


Anita tersenyum mengejek pada Syafira, "Kau tanya padaku ada urusan apa? Apakah tak jelas bagimu siapa aku sampai aku berani menegur mu. Dengarkan aku baik - baik wanita sepertimu yang hanya tau cara merayu dan menggoda pria tak akan tau status dan derajatnya sendiri." Anita berkata dengan menatap Syafira dengan tatapan menghina, "Dan aku peringatkan pada mu untuk jangan dekat - dekat dengan Alan. Sebaiknya penari seperti mu menari saja diatas tubuh pria lain jangan ganggu Alan. Camkan perkataan ku ini, karena kalau tidak kau akan menanggung akibatnya." ancam Anita pada Syafira dan hal itu membuat Syafira kaget serta takut karena dari awal Syafira memang memutuskan untuk gak mau ada urusan dengan Alan dan ingin menjalani hidupnya sendiri.


Syafira diam dan menunduk tak berani menjawab karena dia merasa bersalah telah berusaha untuk tamak dengan menginginkan Alan. "Maafkan saya, tapi saya bukan wanita yang sepeti mbak pikirkan." jawab Syafira pelan.


"Benarkah? Aku sudah mengenal banyak wanita seperti ini anak kecil, wanita yang sudah biasa menari didepan para pria dan menunjukan kemolekan tubuhmu, apa lagi kalau bukan wanita seperti itu hah? Atau jangan - jangan kau sudah biasa menari dengan lincah diatas tubuh para pria hidung belang." ejek Anita lagi dan itu membuat Syafira semakin merasa terhina.


"Hei, apa yang kau lakukan. Jika tak tau apa pun jangan asal menghina ya, dasar wanita tak berpendidikan." ucap Bian pada Anita saat dia sampai dan melihat Syafira ditindas serta dihina.


"Siapa kau, jangan ikut campur." Anita menatap kesal pada Bian.


"Harusnya aku yang bertanya siapa kau. Apakah benar kau adalah wanita baik - baik aku pernah melihatmu masuk hotel dengan 3 pria sekaligus, atau jangan - jangan kau lah yang suka menari diatas tubuh pria." hina Bian dengan pedas pada Anita.


"Kau." Anita marah dan menatap Bian, nun dia tak berani melawan lagi karena dia gak mau kalau nanti akan semakin ketahuan. "Ingat kata - kataku wanita j*l*ng." ucap Anita lalu pergi meninggalkan Syafira dan Bian.


"Kau lah yang j*l*ng, dasar wanita tak berpendidikan." kesal Bian.


"Sudah hentikan, aku mau pulang." ucap Syafira menahan tangan Bian.


"Baiklah aku antar kamu pulang, nanti saja aku katakan apa urusan ku dengan mu." Bian membawah Syafira pulang dan selama perjalanan Syafira hanya diam sampai tiba di rumah.


2 jam kemudian.


"Kenapa kau begitu bodoh hah?" ucap Alan menatap Syafira dan memutar tubuh Syafira agar duduk menghadap dirinya. "Dia memang pacar Daddy tapi itu dulu saat kami masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dan Daddy sangat mencintainya kami menjalin hubungan selama 7 tahun namun dia telah mengkhianati Daddy saat Daddy pergi mengambil belajar diluar negeri." Alan pun menceritakan segalanya pada Syafira mulai dari masa lalunya dengan para wanita yang pernah dekat dengan dirinya sampai para wanita yang berusaha untuk mengejar - ngejar dia.


"Tapi dari sekian wanita yang ada dan yang pernah dekat dengan Daddy, hanya kamu wanita yang mampu menggetarkan hati Daddy. Jujur Daddy sudah memiliki perasaan padamu sejak awal Daddy kembali dari luar negeri, tapi Daddy berusaha menolak dan memungkiri semua perasaan yang menggebuh itu karena memandang mu sebagai putri kecil Daddy, dan tak ingin menghancurkan mu." jelas Alan tersenyum menatap Syafira yang bengong. "Sekarang Daddy gak mau lagi menolak dan Daddy ingin mengungkapkan segalanya apa yang Daddy rasakan pada mu, karena hanya kamu wanita Daddy dan kamu adalah ibu dari anak - anak Daddy pada nantinya." ucap Alan lagi.


Syafira menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alan padanya, dia tak menyangka kalau Alan juga memiliki perasaan yang sama dengannya sejak pertama kali mereka bertemu. Syafira hanya bengong menatap Alan menceritakan segalanya.


"Kau sangat menggemaskan." Alan mendekat dan mencium bibir Syafira.


Mendapatkan ciuman dari Alan yang tak pernah Syafira rasakan secara sadar membuat Syafira kaget dan langsung melompat menjauh dari Alan.


"Kenapa? Maaf jika Daddy menakuti mu." ucap Alan yang terlihat sedih karena mendapatkan penolakan yang begitu nyata dari Syafira.


"T-tidak bukan begitu, Syafa hanya kaget saja. Karena biasanya Daddy melakukannya dengan mama Lea." jawab Syafira menunduk malu


"Jadi kamu tak menolak Daddy?" tanya Alan menatap Syafira.


"T-tidak." jawab Syafira liri sambil menggelengkan kepalanya.


Alan tersenyum dan berdiri mendekati syafira, "Kalau begitu mulai sekarang akan menjadi tugas kamu untuk menenangkan Daddy dan kamu harus terbiasa, karena Daddy tak akan menahannya lagi mulai dari sekarang." ucap Alan menatap Syafira dan langsung meraup bibir mungil Syafira lagi dengan lembut dan lama.


"Sekarang sudah percaya sama Daddy? Kamu adalah wanita Daddy jadi gak boleh lemah atau takut pada orang lain, lawanlah jika mereka macam - macam nanti Daddy yang akan bereskan mengerti?" ucap Alan dan Syafira mengangguk.


"Baiklah, sekarang mandilah dan istirahat jangan pikirkan apa pun karena Daddy hanya akan setia pada mu seorang." Alan tersenyum dan mengambil jasnya lalu keluar dari ruang olahraga.


Dari kejadian itu Syafira mulai mengerti kalau perasaannya dengan Alan sama yaitu saling mencintai, dan Syafira tak lagi mau direndahkan atau dihina oleh orang lain dari kedekatannya dengan Alan. Dan Syafira juga memutuskan kalau dia tak akan lagi menjadi penari di klub Daniel karena dia hanya ingin menari untuk Alan saja.


Keesokan paginya Syafira sudah pergi ke rumah Merisca karena dihubungi oleh Merisca untuk diajak bersih - bersih rumah alm. mama dan papa Merisca yang sudah menjadi gudang barang - barang dari Adinda.


...🌴🌴🌴...


"Wah ini rumahnya siapa besar sekali." ucap Syafira kagum dengan rumah yang terlihat begitu besar.


"Ini adalah rumah alm. mama dan papa dari Tante. Ayo masuk om Faris sudah ada didalam." ajak Merisca pada Syafira.


"Baiklah Syafa kamu beres - beres di sini sama Om, Tante mau lihat yang diatas." ucap Merisca dan naik kelantai dua.


"Syafa beresin yang disamping rumah ya Om." ucap Syafira


Kegiatan pagi itu sangat sibuk bagi ketiga orang yang sedang bersih - bersih di rumah besar milik keluarga Merisca. Dan Faris selalu mengenang Adinda dan Mexca setiap kali ke rumah itu karena hampir semua.baramg peninggalan Adinda disimpan di rumah itu.


"Wah Om bisa main gitar?" tanya Syafira yang sudah membersihkan halaman samping dan belakang rumah.


"Tidak ini adalah milik Adinda, mama dari Daddy mu, Om selalu ingat dengan dia dan juga Mexca setiap kali datang ke rumah ini." jawab Faris tersenyum menatap Syafira. "Apa kamu bisa memainkan gitar?" Faris bertanya pada Syafira yang duduk disebelahnya.


"Bisa sedikit." jawab Syafira


"Coba mainkan." Faris menyerahkan gitar itu pada Syafira.


"Syafa coba ya Om." Syafira melihat catatan buku yang menunjukkan kunci dan cara memainkan gitar.


Syafira memainkan lagu dari Judika cinta karena cinta.


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta


Datang dan bertahta..


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan


Karena hati ini telah bicara


Tak bisa jelaskan


Karena hati ini telah bicara


Mendengar ada yang memainkan gitar dan bernyanyi membuat Merisca yang lagi beres - beres dilantai dua langsung lari untuk melihat. Merisca meneteskan air matanya karena dia seolah melihat kenangan Adinda yang suka bernyanyi dengan gitarnya jika sedang bersantai di rumah.


"Sayang." Merisca menyentuh bahu Faris suaminya.


"Dia mirip Adinda." ucap Faris yang ternyata juga meneteskan air matanya.


"Eh kenapa Om dan Tante menangis? Maaf jika Syafa membuat Om dan Tante sedih karena mengingat mama Adinda." Syafira meminta maaf karena merasa bersalah.


"Tidak sayang, kami senang karena ada yang mewarisi peninggalan dari Adinda" ucap Merisca mendekati Syafira dan memeluknya.


Setelah beres - beres dan menceritakan semua cerita tentang Adinda pada Syafira Merisca berharap kalau Syafira bisa menggantikan Adinda untuk memainkan alat musik peninggalan dari Adinda, karena ternyata Syafira juga bisa memainkan gitar dan piano yang ada sebab Syafira mengambil study musik dalam perkuliahan dia dulu, jadi Syafira bisa memainkan beberapa alat musik walau tak begitu mahir seperti permainan Adinda dulu karena selama ini Syafira hanya fokus pada DJ.


Setelah selesai beres - beres sore itu Merisca dan Faris mengantarkan Syafira pulang, tapi mereka tak mampir karena ingin cepat pulang dan istirahat di rumah karena sudah lelah.


...🌴🌴🌴...


Saat di rumah Syafira mengingat lagi kata - kata dari Merisca dan Syafira jadi ingin bisa memainkan alat musik yang sama dengan yang dulu dimainkan oleh Adinda, karena Syafira ingin bisa mahir seperti Adinda. Setelah lama merenung Syafira pun berganti baju senam dan mulai melakukan pemanasan untuk menari lagi.


"Daddy, sejak kapan Daddy disana?" tanya Syafira saat dia melihat Alan yang duduk dengan tenang melihatnya menari.


"Sudah dari tadi." jawab Alan santai.


Syafira mengambil handuk dan minum lalu mematikan musik yang tadi dikecilkan lalu berjalan mendekati Alan.


"Tarian mu sangat seksi, bisakah kamu jangan menari lagi di luar?" tanya Alan menatap Syafira


"Iya, Syafa juga memutuskan untuk tak menari lagi dan hanya akan menemani kak Milky dengan permainan DJ saja, karena Syafa ingin menjadi penari khusus untuk Daddy." jawab Syafira menunduk malu.


"Jangan tunjukkan ekspresi seperti itu sayang, Daddy bisa tak tahan nanti." ucap Alan menarik Syafira mendekat dan membuat Syafira duduk dipangkuan Alan.


"Jangan Syafa basah keringat" Syafira mau berdiri namun Alan telah menahannya.


"Kamu benar ingin menjadi penari khusus untuk Daddy? Jika Daddy memintanya apa kamu akan melakukannya? Tapi Daddy ingin melihatmu lebih seksi lagi dari ini" tanya Alan menatap Syafira dan jawaban yang diberikan oleh Syafira hanya anggukan saja.


"Terima kasih sayang, Daddy akan menunggunya nanti." ucap Alan mengecup pipi Syafira


"Mama sama papa ngapain?" tanya Alga yang nyelonong masuk karena Alan lupa tak menutup pintunya.


"Oh, Alga sudah selesai main? Ayo kita mandi dan tidur." Syafira langsung bangun dari pangkuan Alan dan menggendong Alga.


"Oh, mama basah kotor" keluh Alga yang terkena keringat Syafira.


Alan menatap tersenyum karena dia merasa sangat bahagia dengan kehadiran Syafira dan Alga dalam hidupnya yang dulu terasa sepi. Alan pun keluar dari ruang olahraga dan menuju kamarnya sendiri.