
"Adit masuklah." teriak alan yang sadar kalo aditya dari tadi berdiri dibalik pintu menunggu alan memanggilnya.
"Ah, tu - tuan anda?" wanita itu panik dan dia gelagapan karna tujuannya untuk merayu alan serta mengorek tentang diri alan serta adit belum terlaksana.
"Permainan sudah selesai nona, kami tau dari mana dan siapa yang mengirim anda kemari." ucap adit yang melangkah masuk kedalam setelah alan berteriak untuk menyuruhnya masuk.
"A - apa? Se - sebenarnya kalian, jadi kalian sudah tau dari awal jika aku datang karna ada tujuan tertentu pada kalian berdua.?" tanyan wanita itu yang merubah intonasi bicaranya dari kepanikan menjadi tenang.
Alan tersenyum melihat perubahan wanita itu yang begitu cepat, dan berusahan menenangkan dirinya.
"Hahaha, rupanya daren memiliki orang yang menarik dan juga sangat unik." tawa alan pecah melihat reaksi wanita itu yang bisa dengan cepat mengatasi kepanikannya.
"Tapi maaf, kami tak pernah memiliki niat untuk bermain dan memainkan permainan rayuan seperti yang anda lakukan."
"Mungkin informasi tentang kami kurang, atau kalian salah dalam menilai kami."
Lagi - lagi senyum alan keluar disetiap dia berbicara.
"Apa kah Daren selalu memainkan cara seperti ini pada setiap moment dia melakukan menawaran atau kerjasama?" tanya alan dengan nada santai pada wanita yang saat ini duduk didepan alan dan adit.
Wanita itu menatap alan serta adit bergantian dengan tatapan tenang, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela dan menyangkal pertanyaan alan.
"Kami tak suka dengan permainan seperti ini nona, tapi kami akan tetap menemani permainan jika itu memang diperlukan dalam bempicaraan kami." jelas adit dengan menatap wanita itu secara intens.
"Rupanya kalian benar - benar sudah mengetahuinya dari awal, kalo begitu kenapa kalian mempermainkan aku?" tanya wanita itu dengan bingung.
"Kami tidak sedang mempermainkan anda nona, kami hanya mengikuti permainan yang ingin anda mainkan saja." jelas alan dengan tersenyum menatap wanita itu.
"Gila, mereka benar - benar manusia licik dan berdarah dingin. Bagaimana tuan Daren bisa mengirim aku untuk mengusik para monster ini." gumam wanita itu dalam hati memperhatikan alan serta adit.
"Aku pasti tidak bisa keluar dengan selamat dari sini kan? Kalian pasti ingin menghukum aku iya kan?" wanita itu bertanya dengan nada pesimis karna rencananya telah gagal.
"Tidak, silakan anda kembali kami tidak akan menahan anda. Namun anda harus bisa bekerja sama dengan kami." ucap alan dengan serius menatap wanita itu.
"Bekerja sama? Apa yang ingin kalian lakukan dan tawarkan padaku?" wanita itu bertanya dengan bingung.
"Lakukan semuanya sesuai dengan rencana awal atasan yang mengirim anda kemari, dan kami akan menganggap tak tau tentang rencana kalian pada kami. Kami juga akan memberikan cela sesuai dengan keinginan kalian. Jadi silakan lakukan sesuai dengan itu." jelas adit dengan santai sama seperti alan, seolah mereka bilang silakan curi data perusahaan kami.
"A - apa? Apa kalian sudah gila dan gak waras?" wanita itu semakin bingung dan juga takut pada alan serta adit yang menggampangkan semua urusan.
"Kami tak akan menawarkan tawaran yang sama jika anda menolaknya." sambung adit lagi.
"Apa kalian akan membiarkan saya dan mengeluarkan saya dari sini dengan tenang?" wanita itu bertanya dengan nada yang mulai putus asah.
"Semua itu tergantung dengan pilihan anda sendiri." jawab adit langsung tanpa berfikir panjang lebar.
"Baiklah, saya akan melakukan sesuai dengan keinginan kalian berdua." wanita itu menjawab dengan cepat, karna dia merasa sudah sangat putus asah.
"Pilihan yang bagus nona." ucap alan dengan memunculkan senyum dibibirnya yang seksi.
Setelah itu adit menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh wanita itu, serta dia mengatakan apa kelemahan dari alan dan juga dirinya yang tentunya semua itu adalah kebohongan yang dibuat - buat oleh adit.
"Baik saya akan melakukannya, apa sekarang saya bisa pergi dan keluar dari ruangan ini?" wanita itu telah masuk dalam siasat yang dia buat sendiri.
"Tentu saja, senang bekerja sama dengan anda." ucap alan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan wanita itu.
"Gila, mereka benar - benar gila. Mereka bukan lagi singa melainkan iblis di dunia bisnis." gumam wanita itu sambil melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan alan.
"Apa yang akan kakak lakukan?" tanya adit pada alan saat mereka berdua sampai di ruangan alan.
"Apa maksud mu?" alan berlagak begok dengan bertanya balik pada adit.
Bruk
Dgubrak
"Bos?" ninis yang masuk ke ruangan alan terkejud saat mendapati adit memukul alan sampai jatuh menabrak meja dan ambruk ke sofa.
"Aduh, apa kau gila hah?! Kau ingin mematahkan kakiku?" teriak alan menahan rasa sakit. Sementara ninis masih berdiri membatu didepan pintu.
"Sebaiknya katakan dengan jelas sebelum aku benar - benar mematahkan kaki kakak.!" teriak adit tak kalah galak dengan alan.
"Haaaah, kau ini." alan menghela nafas Panjang.
"Bukankah tadi kau sudah mengatakan dengan jelas pada wanita itu, terus kenapa sekarang kau bertanya lagi pada ku seolah tak tau apa pun. Lah tadi itu apa? Sok - sok an biar terlihat keren?" tanya alan dengan nada meledek adit.
"Apa kakak benar - benar akan membiarkan orang mereka masuk dan bergabung di sini dengan kita?" tanya adit yang merasa aneh.
"Bukankah tadi kau sudah mengatakan padanya? Aku hanya ingin melakukan semua sesuai dengan rencanamu saja." ucap alan santai sambil memegangi betisnya yang sakit karna terbentur meja.
"Jadi kakak akan benar - benar melakukannya, dan tidak mencegahnya?" tanya adit untuk lebih memastikan lagi.
"Ya, mereka akan membuat siasat dan itu akan disebut sebagai siasat yang sudah ketahuan. Karna kita yang merencanakan dan yang membuat itu terjadi sesuai dengan keinginan mereka." jelas alan pada adit dengan memunculkan seringai dibibirnya.
"Haaaah. Kakak terlalu besar mengambil resiko." adit mendudukkan tubuhnya di sofa dengan menghela nafas panjang serta bergumam atas rencana alan yang sangat besar.
"Hahaha... Kita adalah pebisnis Dit, jadi kita harus selalu siap mengambil resiko apa pun taruhannya." ucap alan pada adit yang terlihat lelah.
"Ninis tolong ambilkan obat merah, sepertinya kakiku terluka dan berdarah." ucap alan pada sekretarisnya yang dari tadi berdiri mematung memperhatikan adit dan alan.
"Ba - baik bos." ninis langsung melesat kepusat kesehatan yang berada didalam kantor alan.
Karna sejak 1 tahun lalu di perusahaan itu dibangun pusat kesehatan untuk menangani bila ada pegawe yang tanpa sengaja terluka dan sakit.
"Ya Ampun bagaimana aku bisa melayani dua bos yang sama - sama gilanya dan sulit untuk ku pahami jalan pikirannya." ninis bergumam sambil berjalan ke arah ruangan alan dengan membawah obat - obatan dan juga perban.
"Bos ini obatnya." ninis menyerahkan obat itu pada adit, dan adit langsung menyibak celana alan serta mengobati luka lecet dan memar dibetis alan.
"Nis tolong nanti siapkan semua berkas yang sudah kau rangkum, dan dalam waktu dekat nanti akan ada orang baru yang masuk serta bergabung dengan kita. Awasi dia dan laporkan semua hasil pengamatanmu." perinta alan tanpa melihat kearah ninis karna dia fokus pada adit yang mengobati lukanya.
"Baik bos, apa perlu dibuatkan salinan untuk semua berkasnya dari pengamatan saya nanti?" tanya ninis yang sudah sangat tau dan paham cara kerja bosnya jika dia ingin memata - matai seseorang.
"Sesuai dengan cara kerjamu saja, karna aku tak akan membuat dia lama di sini." ucap alan yang menatap ninis dengan senyuman yang penuh arti membunuh.
"Baik saya mengerti." ucap ninis dan dia memberi hormat lalu keluar dari ruangan alan.
"Hem, siapa lagi yang akan dibunuh kali ini? Mereka benar - benar menganggap dua iblis itu terlalu ringan. Atau jangan - jangan aku juga telah menjadi iblis sama seperti mereka?" ninis bergumam saat dia berjalan menuju meja kerjanya.