Baby I Love You

Baby I Love You
Rasa bersalah yang dalam



Setelah mendengar jawaban dari Ndaru Alan merasa syok, pikiran dan perasaannya menjadi kacau. Alan melangkah terhuyung setelah bangun dari terjatuh.


Alan menyuruh Adit dan juga Ndaru untuk pergi meninggalkan dirinya sendiri karena Alan ingin menyendiri dan ingin menenangkan dirinya.


"Bagaimana bisa semuanya terjadi, bagaimana aku tak bisa mengenalinya. Bed***h?" gumam Alan pelan dan membiarkan dirinya diguyur air.


"Bagaimana ini, kau benar benar ber*****k alah. Aaaaaah.!" teriak Alan dengan keras, dan tak ada yang mendengar teriakannya itu, karena kamar yang digunakan oleh alan saat ini adalah kamar mexca dan adinda dulu, dan kamar itu telah dipasang peredam suara oleh Mexca.


"Mimpi itu bukan mimpi biasa, itu adalah peringatan agar aku tau kalo itu bukanlah orang lain, harusnya aku sadar saat dia mohon dan memintak aku untuk berhenti, harusnya aku sadar saat dia berteriak rasa sakitnya. Bagaimana aku bisa menganggap bahwa itu hanyalah permainannya dan justru lebih menyiksanya." Alan menangis mengingat semua teriak gadis dimalam itu.


"Gadis yang masih 16 tahun, Syafa maafkan aku. Aku telah menghancurkan putriku sendiri, aku telah merenggut kesuciannya dengan cara yang kejam dan tak bermoral. Gadisku." Alan terus meratapi perbuatannya.


"Kau pedofil, kau baji***n, kau bukan manusia, kau binatang." teriak Alan memaki dirinya sendiri dengan memukul mukulkan tangannya pada dinding kamar mandi.


Sudah 1 Minggu Alan mengurung diri dalam kamar dan tak keluar sama sekali, semua orang merasa panik dan juga cemas, karena mereka tak tau didalam Alan sedang apa sebab kamarnya kedap suara.


"Jadi Alan sudah tau kebenarannya? Itu sebabnya dia mengurung diri didalam kamarnya?" tanya alea yang baru saja pulang dari luar kota menemani oni untuk melihat cabang restorannya yang ada diluar kota.


"Iya maaf kak, nanti juga pasti akan tau. Jadi aku beritahu lebih cepat." jawab Ndaru merasa bersalah.


Semua orang merasa khawatir dengan keadaan Alan yang sudah 1 Minggu tak keluar kamar dan juga tak makan sama sekali. Alea terus membujuk agar Alan keluar dan berbicara dengan dirinya untuk mengurai beban hatinya, karena alea tau Alan bisa mendengar suaranya.


"Alan keluarlah, ayo kita bicara. Tolong jangan seperti ini, kita selesaikan semuanya pelan pelan. Alan." alea terus membujuk Alan tanpa bosan.


"Bagaimana kak?" Adit bertanya dan alea menggelengkan kepala.


Mereka semua duduk diruang tengah dengan lesu, alea sudah tak punya cara lagi setelah 3 hari membujuk Alan agar mau keluar dari dalam katanya.


Tok... Tok... Tok


"Daddy ini Ayunda, ayu bawah makanan untuk Daddy tolong dibuka pintunya. Apa kah Daddy ingin mati dengan cara seperti ini? Apa daddy ingin membuat alga benar benar kehilangan ayahnya dan berharap bisa ke bulan untuk bertemu dengan ayahnya?"


"Daddy tau tidak kalo dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya, dia bilang kalo dia sangat merindukan ayahnya dan ingin cepat besar agar bisa membawah mamanya ke bulan ketemu dengan ayahnya."


"Daddy harus kuat dan juga harus jadi ayah yang baik untuk Alga, Ayu yakin Syafa tak akan marah sama Daddy karena dia sangat baik dan juga lebih dewasa dari Ayu. Tolong buka pintunya Daddy."


"Apa Daddy tau? Syafa itu gadis yang kuat, Ayu akan ceritakan soal Syafa saat Daddy tak ada di sini ya?"


Ayunda membujuk Alan dan menceritakan semua tentang Syafira pada Alan saat mereka masih sekolah dan saat Alan tak ada di sisinya selama 10 tahun lamanya.


"Syafa dia adalah anak yang cerita dan dia jug...Aaaaah.!" Ayunda teriak karena terkejud Alan menarinya dan mendekapnya dengan erat.


"Apa yang terjadi?" alea dan yang lainnya bangun dan lari keatas.


"Daddy, Ayu yakin Syafa pasti memaafkan Daddy karena dia sangat menyayangi Daddy. Buktinya sampai sekarang dia tak menyalahkan Daddy." ucap Ayunda yang juga memeluk Alan dengan erat.


"Terima kasih sayang, terima kasih." ucap Alan yang masih memeluk Ayunda.


"Alan." alea menangis dan juga ikut bersimpuh dan memeluk Alan serta Ayunda.


"Adik kakak, semua akan baik baik saja. Kita akan menjemputnya pulang, ini adalah rumahnya. Dan kakak tau kamu tak putus asah mencarinya selama ini." ucap alea untuk menenangkan Alan.


"Alan dia memang orang yang keras, namun dia sisi dalamnya adalah milik adinda. Lembut dan penuh kasih sayang." batin Merisca melihat Alan yang menangis sampai wajahnya bengkak.


"Kau benar benar anak mereka sayang, kau memiliki aura yang keras namun hatimu sangat lembut. Benar benar perpaduan yang sempurna, kalo kak Mex dan Dinda tau mereka pasti sangat bahagia." ucap Merisca memeluk Alan setelah alea dan Ayunda mengurai pelukan mereka.


"Tante." Alan kembali memeluk Merisca dengan erat.


"Jangan menghukum dirimu sendiri seperti papamu, kamu harus kuat dan bisa membawah kembali istri dan juga anakmu." ucap Merisca menguatkan Alan.


"Tapi Tante, andai Alan tak terpengaruh oleh obat dan andai Alan mendengarkan teriakannya waktu itu, Alan tak akan membuat dia mengalami semua penderitaan ini."


"Apa gunanya Alan memungutnya waktu dia masih bayi kalo sekarang justru alan lah yang telah menghancurkan hidupnya."


"Harusnya Alan biarkan dia diambil orang yang lebih baik dari Alan, sekarang bagaimana Alan menghadapinya?"


Alan terus menyalahkan dirinya atas semua hal telah menimpa Syafira dan alan terus menenggelamkan dirinya dalam rasa bersalah yang terdalam.


"Sayang, dulu papa mu juga pernah bertindak bodoh, dengan mengakhiri hidupnya dengan cara menenggelamkan dirinya didalam kolam renang, hingga dia menyalahkan semua keputusannya yang terlambat karena tak bisa merebut mama mu dari suaminya." Merisca membelai wajah Alan yang sudah terlihat pucat dengan bersandar di sandaran tempat tidur.


"Apa kamu tau apa yang dilakukan oleh papa mu untuk menyebut segala keterlambatannya untuk menyadari perasaannya?"


"Kakak Tante, papa mu tak menyerah. Dia berfikir jika dia tak bisa merengkuh raganda jiwa mama mu dia memilih untuk memeluk keyakinan yang sama dengan mama mu, yang sekarang juga Tante anut."


"Papa mu berusaha keras untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, dia ingin menjadi orang yang akan bisa melupakan perasaannya terhadap mama mu, karena dia tak ingin mengotori hati dan juga jiwanya dengan menginginkan milik orang lain. Tapi kamu tau apa yang terjadi?"


"Setelah sekian lama papa mu menghilang justru dia mendapatkan apa yang ingin dia lupakan, mama mu mendekat dan memeluknya dengan erat dan ingin mengorbankan keyakinannya demi bisa bersama dengan papa mu, mama mu yang merupakan orang berpendidikan dan juga mengerti agama menjadi orang yang hilang arah."


"Semua ada jalannya sayang, hingga mama dan papa mu hidup bahagia."


"Alea adalah jalan yang telah menyatukan mereka, hingga ada dirimu dan mendapatkan semua kebahagian ini.


"Jadi apa yang terjadi antara kamu dan sayfa pasti juga sudah jalannya, jadi kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu. Tapi ambillah khikmanya, kamu harus berusaha untuk memperbaiki semuanya jangan tenggelam dan menyalahkan dirimu sendiri."


Merisca berusaha menjelaskan dan menenangkan Alan agar dia bisa berfikiran jernih, dan tak terlalu menyalahkan dirinya.