
"Mommy Aga mau ikut." rengek Alga yang ingin ikut Syafira ke klub.
"Tidak sayang, Alga kan harus sekolah besok pagi. Jadi Alga tidur di rumah sama bi Aminah ya, nanti mama kalau pulang akan belikan Alga cake kesukaan Alga ok." Syafira mencium pipi Alga dengan mesrah, terlihat Alga mulai menangis dan air matanya keluar walau dia tak menangis histeris. "Anak mama gak boleh nakal ya sayang, Alga kan mau jadi orang hebat jadi harus kuat dan mandiri. Lakukan seperti di kampung Tante Milky dulu ok sayangnya mama." Syafira memeluk Alga dengan mesrah dan menciuminya lagi.
"Mommy cepat pulang." ucap Alga yang masih menangis.
"Baiklah sayang, nanti saat Alga terbangun dari tidur mama sudah ada untuk Alga." ucap Syafira dan dia berangkat bersama Bian.
...🌴🌴🌴...
Di kantornya Alan selalu tak tenang, setelah selesai rapat dia langsung berangkat ke klub Daniel dan Daniel melihat itu sangat senang karena para cewek yang mengidolakan Alan akan selalu berkumpul setiap kali Alan datang. Itu juga membuat pendapatan Daniel besar juga, karena bagi Daniel Alan dan Kiky adalah sumber uang baginya, sebab sejak Alan rajin datang klub itu tak pernah sepi pengunjung yang hanya ingin melihat sosok Alan saja.
"Kenapa kau selalu kesini setiap hari. Aku pasti menjaga putrimu tenang saja, tapi aku juga suka sih kalau kau kesini karena pengunjung klub jadi semakin ramai." sambut Daniel saat dia melihat Alan datang.
"Dimana dia?" tanya Alan karena tak melihat Syafira.
"Dia masih di ruang ganti sebentar lagi akan keluar. Kenapa kau ini posesif sekali sama putrimu." Daniel memukul bahu Alan.
"Tapi Lan, kalau boleh aku mau tanya, apa putrimu ini seorang janda? Dari dulu aku tak pernah melihat suaminya. Dan saat pertama kali aku melihat waktu pertama kali dia datang aku tak tau kalau ternyata dia sudah memiliki seorang anak." Daniel mulai penasaran dengan jati diri Syafira yang selama ini masih merupakan teka teki bagi Daniel.
"Itu bukan urusan mu.* jawab Alan dingin.
"Buset bener - bener ayah yang posesif banget." Daniel mantap Alan dengan memonyongkan bibirnya. "Tapi Lan, kalau misalnya boleh. Ini misalnya loh ya, aku mendekatinya dan mencobak mengenalnya lebih dekat apakah boleh?" tanya Daniel menatap Alan dengan senyumannya dan memainkan alisnya.
"Kau mau kehilangan nyawamu sekarang juga ya." Alan menatap Daniel dengan tatapan ingin menghabisinya sekarang juga.
"Eit, santai bro. Kan tadi aku bilang seandainya." Daniel melangkah mundur karena takut pada Alan. "Tapi kalau menurut ku siapa pun akan mau menikah dan menjadi pendampingnya walau dia sudah memiliki seorang anak, karena putrimu itu adalah wanita yang menawan dan juga sangat menjaga dirinya dengan baik. Banyak pria yang penasaran dengannya termasuk diriku." ucap Daniel tanpa sadar mengutarakan isi hatinya atas kekagumannya pada Syafira.
Mendengar itu Alan menatap tajam pada temannya itu, Alan tak pernah menyangka kalau seorang Daniel yang begitu pemilih bisa mengatakan kalau dia mengagumi Syafira. Dan Alan mulai merasa khawatir dengan perasaan yang akan tumbuh dalam diri Daniel untuk Syafira, karena Daniel bukan tipe orang yang gampang menyerah jika sudah menargetkan sesuatu.
Lampu klub pun mati dan Milky sama pendampingnya telah keluar untuk menunjukkan tariannya. Semua pengunjung bersorak ramai, setelah itu terdengar suara seseorang yang menyanyikan lagu dengan memainkan musik DJ dengan nada lembut.
"Dia sungguh sangat memukau setiap saat, aku suka dengannya." gumam Daniel memuji Syafira lagi, terlihat senyum di bibir Daniel dan tatapan berbinar untuk Syafira.
"Kau bilang apa tadi." suara Alan dingin dan membuat tubuh Daniel membeku karenanya.
Daniel tertawa dan menggoyangkan kedua tangannya, "Tidak, tidak. Maksudku aku suka permainannya, iya permainannya." jawab Daniel meralat kalimat awalnya tadi.
Setelah selesai melakukan pertunjukannya Syafira dan Milky duduk berbincang dengan beberapa pengunjung yang mereka jadwalnya untuk menemani mereka selama 1 jam setiap harinya, karena sekarang selain Syafira dan Milky ada lagi yang datang untuk memainkan DJ menggantikan Syafira, jadi mulai hari ini Syafira bisa pulang lebih awal.
"Wah Kiky kalau boleh tau apakah ada orang yang kau suka? Dan bagaimana cerita perjalanan cinta mu." tanya salah satu pengunjung yang sedang berbincang dengan Milky dan Syafira.
"Cinta, bagiku cinta adalah cerita lama yang tak perlu diungkap dan dikenang kembali. Karena cinta hanya akan membuat ku sulit dan sakit hati." jawab Syafira penuh dengan penekanan.
"Wah, wah. Apakah itu karena pengalaman pertama mu yang membuat mu sampai tak mau memikirkan cinta lagi?" tanya orang itu lagi dengan tersenyum.
Syafira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, itu semua karena kenangan pertamaku dan pengalaman malam pertamaku yang buruk sehingga membuat ku tak percaya lagi dengan adanya cinta. Bagiku cinta hanyalah hal yang akan menyakiti kita dan membuat kita bodoh." jawab Syafira lagi.
Percakapan Syafira bersama beberapa pengunjung yang terjadwal dan juga kakaknya Milky berjalan sangat menyenangkan, dan tepat jam 10 malam Syafira pun mulai pulang dengan diantarkan Bian seperti biasanya.
...🌴🌴🌴...
"Mommy." Alga terlihat sangat senang karena perkataan mamanya benar, yaitu saat dia terbangun maka mamanya akan ada dihadapannya.
"Ayo, buang air kecil dulu biar Alga gak ngompol sayang." Syafira membawah Alga ke kamar kecil lalu kembali lagi untuk tidur.
"Eh, airnya habis." Syafira bangun dan keluar ke dapur untuk mengambil air.
"Kau belum tidur." ucap Alan yang mengagetkan Syafira.
"Daddy, maaf cuma mau mengambil air." jawab Syafira singkat.
"Apa kau tak bisa berhenti kerja dari klub Daniel? Haruskah kau selalu menari didepan semua orang yang selalu meneriaki dan bersorak atas penampilan mu itu." ucap Alan yang terlihat sedikit aneh bagi Syafira.
"Maaf, tapi pekerjaan itu Syafa butuhkan untuk bisa mengumpulkan banyak uang, Karena Syafa ingin menyiapkan masa depan yang baik untuk Alga." jawab Syafira cuek dengan kondisi Alan.
"Apa maksud mu. Alga juga anak ku dan aku bisa memberikan yang terbaik untuk dia, tak perlu membuatmu bekerja keras." Alan merasa tak terima dengan jawaban dari Syafira.
"Daddy. Apa Daddy mabuk?" Syafira mendekati Alan dan melihat Alan yang terhuyung dengan tatapan mata yang merah.
"Mabuk, ya semua karena kamu. Kenapa, kenapa kau bilang kalau pengalaman malam pertamamu begitu buruk. Aku tau aku telah melakukan kesalahan dan menyakitimu, aku minta maaf. Tapi bisakah kau tak mengatakan kalau hal itu membuatmu sakit, apa kau tau aku juga merasakan sakit karena aku lah yang telah merenggutnya dengan paksa." Alan meracau tak karuan dan hal itu membuat Syafira menjauhi Alan serta meninggalkan Alan sendirian.
"Syafa." panggil Alan yang mengikuti Syafira.
"Jangan mendekat." Syafira mengambil sapu dan menodongkan pada Alan. "Pergi, menjauh dariku." Syafira lari dan masuk kedalam kamarnya.
"Kau takut padaku, rupanya kau takut padaku." Alan bergumam menatap pintu kamar Syafira.
"Kak, selamat ya atas pernikahannya yang sebentar lagi akan digelar." ucap Syafira pada Ayunda yang datang dan mengatakan kalau 1 bulan lagi pernikahannya dengan Denis akan dilaksanakan.
"Iya, dan kamu harus datang untuk menjadi dayangku." ucap Ayunda memeluk Syafira.
"Dayang apa an, kakak ada - ada saja." Syafira tertawa.
Alan yang melihat kedua putrinya itu bercerita dan saling tertawa merasa ada rasa sakit dihatinya saat dia menatap wajah Syafira yang tersenyum. Karena Alan melihat kesedihan di wajah Syafira yang tersenyum, walau tak disadari oleh orang lain namun Alan bisa melihatnya dengan jelas.
"Baiklah, kamu jangan lupa nanti aku akan kirimkan baju untuk kamu ok. Kamu harus tampil cantik." ucap Ayunda dan meninggalkan Syafira.
"Masa sekolah, mimpi, harapan. Apa yang tersisa dari ku? Semuanya tak ada apa pun lagi dan semua keinginan itu hanya ilusi dan cerita lama yang tak mungkin bisa diputar ulang kembali. Bagiku saat ini hanyalah melihat orang - orang yang ku kenal bahagia dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri bersama dengan putraku, dengan begitu tak akan ku biarkan siapa pun merebutnya dari." Syafira bergumam sendiri setelah Ayunda pergi dan tanpa disadari Alan yang dari tadi berdiri dibalik pintu kamar Syafira bisa mendengarkan keluhan hati Syafira.
Alan yang mendengarkan keluhan Syafira tak bisa berbuat apa - apa karena Alan merasa bersalah telah menghancurkan masa depan putrinya itu. Alan hanya bisa diam dan mengepalkan tangannya kuat - kuat, dia tak pernah menyangka kalau semua itu berpengaruh besar pada diri Syafira dan selama ini Syafira berusaha keras untuk berjuang seorang diri mengatasi semua kesulitan dalam hatinya.
...🌴🌴🌴...
Di kantornya Alan tak bisa fokus, pikirannya campur aduk dan kalimat serta rasa sakit yang dialami Syafira seolah dia juga ikut merasakannya. Semua pekerjaan Alan hari itu berantakan semua dan Aditya menyelesaikan dengan bingung melihat Alan yang kacau.
"Kak, kenapa? Apakah ada masalah yang begitu mengganggu pikiran kakak? Atau kakak kepikiran tentang perusahaan Guntoro?" Aditya berusaha mencari tau apa yang terjadi pada Alan seharian ini, karena fokus Alan seolah pecah ketempat lain.
"Tidak ada aku hanya merasa lelah saja, kamu tak perlu khawatir." jawab Alan menyembunyikan fakta kalau dirinya merasa sangat bersalah pada Syafira.
"Oh iya Dit, aku berencana ingin menjodohkan Syafa dengan putra tuan Baron menurutmu gimana?" tanya Alan pada Aditya.
"Eh, apa maksud kakak? Apakah Syafa setuju soal itu? Sebaiknya kakak tanyakan dulu pada Syafa kak, kalau bagi aku yang terpenting adalah kebahagian Syafa." jawab Aditya dan Alan diam menatap Aditya.
"Biarkan Syafa yang menentukannya karena ini adalah kehidupannya, jadi dia yang bisa memutuskan semuanya. Kita tak bisa memaksakan semuanya karena dia pasti sudah cukup menderita selama ini. Kita jangan membuat kesalahan lagi kak." kalimat Aditya ini memukul tepat di hati Alan, karena semua penderitaan Syafira berawal dari dirinya yang telah merenggut semua hak Syafira untuk bahagia.