Baby I Love You

Baby I Love You
Perasaan yang menggebuh



Alan meraup dengan kasar bibir Syafira karena dia merasa kesal sebab Syafira tak seperti biasanya, "Fokuslah, jangan pikirkan hal lain. Aku ingin kamu fokus hanya padaku saja saat ini. Percaya pada ku selama kamu tak berisik putra kita tak akan bangun." Alan berkata dengan menyentak pusakanya langsung memasuki ruang ajaib milik Syafira.


"Ehm." Kalimat Syafira tertelan dengan ciuman Alan.


"Fokus, aku bilang fokus." bisik Alan lagi dan mencium leher Syafira dengan bergerak sesuai ritme yang ringan


"Daddy." suara Syafira terdengar sangat merdu bagi Alan.


Permainan Alan pun mulai mempercepat temponya dan Alan meninggalkan beberapa jejaknya, Alan melirik keatas melihat Syafira saat dia telah menikmati daging kenyal dan melahap ceri Syafira. "Kau sangat cantik sayang" gumam Alan yang melihat Syafira menggigit bibir bawanya dan menutup mata rapat agar dia tak mengeluarkan suara merdunya dalam permainan malam itu.


2 jam lamanya Alan menguasai Syafira hingga keringat mereka saling mengejar satu sama lain. Alan bernafas lega setelah mendapatkan pelepasannya yang sungguh sangat luar biasa dan Syafira terlihat lemas dengan mata sayunya serta senyum tipis dari bibir mungilnya.


"Aduh pinggang ku." Syafira mengeluh sakit pinggang saat dia mau bangun dan berdiri.


"Hey kenapa, apakah sakit banget?" Alan mengurut pinggang Syafira.


"Iya rasanya mau putus." jawab Syafira sambil mengernyit menahan rasa sakit.


"Kau ini masih muda kenapa kena sakit pinggang sih, gak sehat banget." ledek Alan sambil tetap mengurut pinggang Syafira.


"Apa hubungannya dengan usia, walau masih muda kalau Daddy mainnya kayak gitu ditempat yang sempit ini dan susah buat gerak tentu saja sakit." Syafira berkata dengan memajukan bibirnya dengan kesal.


"Memang Daddy kenapa?" Alan bertanya dengan tatapan sok polos.


"Ya sudah Daddy puasa selama 1 tahun" jawab Syafira dan berdiri menuju kamar mandi


"Eh, sayang" Alan mengikuti Syafira kedalam kamar mandi.


Perasaan Alan malam itu sangat menggebuh - gebuh kepada syafira, seolah dia tak akan mendapatkan lagi kesenangan dan kenikmatan yang tiada tara itu, dan Syafira merasa heran kenapa orang yang usianya hampir masuk kepala 4 itu justru memiliki semangat dan stamina yang sangat kuat hingga mampu bangkit dan bermain berkali - kali.


...🌴🌴🌴...


Ditempat lain tak kalah dengan Alan yang selalu tertarik pada tubuh istri kecilnya, Aditya pun tak melepaskan sang istri yang sudah mengeluh capek karena permainannya. Seolah - olah para keturunan keluarga Abigail ini memang memiliki stamina yang kuat dan luar biasa.


"Mas Adit tunggu dulu, aduh" Sandra kewalahan mengimbangi permainan Aditya yang sungguh sangat luar biasa


"Tahan sayang aku sudah tak bisa berhenti sekarang." suara Aditya yang berat dan gerakan yang sungguh sangat lincah membuat Sandra hanya bisa menerima pasrah ulah suaminya yang sedang dalam mode aktif itu.


"Kenapa begitu bersemangat." Sandra bertanya namun Aditya sudah tak mampu untuk menjawab pertanyaan dari istrinya karena dia telah fokus dalam permainannya.


Bahkan saat Aditya meminta Sandra untuk berganti posisi, Sandra hanya bisa menerima rasa nikmat dari permainan suaminya yang sungguh sangat luar biasa. Sandra hanya bisa tersenyum bangga karena hanya dirinya yang mampu membuat seorang Aditya begitu menggebu atas segala permainannya dan dengan sangat aktif memainkan tubuhnya yang khusus hanya untuk dia.


"Em, mas." suara Sandra dan Aditya langsung melahap bibir manis milik istrinya itu dengan sangat rakus.


"Sayang, aku mencintaimu." ucap Aditya saat dia telah mencapai puncak kenikmatan dan pelepasannya yang kesekian kalinya. "Terima kasih sayangku" Aditya memeluk tubuh Sandra dan menciumi punggung Sandra serta meninggalkan tanda cinta disana.


"Tidak mas. Harusnya yang berterima kasih adalah aku, karena mas Adit selalu terpuaskan oleh ku dan itu adalah kebanggan bagi diriku." Sandra menjawab dengan lembut.


"Kemarilah sayang." Aditya menarik tubuh sandar saat dia telah mencabut pusakanya dan tidur terlentang.


"Jangan pernah merasa minder karena asal mu, bagaimana pun kau adalah istriku, istri seorang Aditya." ucap Aditya mengusap wajah Sandra dan mengecup kening Sandra.


"Terima kasih karena mas Adit membawah dan mengeluarkan aku dari tempat itu. Aku sungguh tak tau harus bagaimana jika aku tak bisa keluar dari sana." Sandra berkata sambil meletakkan kepalanya di atas dada Aditya.


"Berapa usiamu sekarang?" Aditya bertanya pada Sandra.


Sandra menatap Aditya dengan tersenyum "33 tahun."


"Waktu itu kamu masih terlalu kecil untuk bisa melayani seorang pria dewasa dan aku tau kalau kamu waktu itu dipersiapkan untuk mendapatkan pengalaman pertama agar tak merasa menjadi beban saat kamu diterjunkan untuk melayani orang. Dan kakak memesan pelayananmu waktu itu juga untuk melihat kondisimu. Makanya setelahnya dia tau siapa ku, kakak meminta aku untuk datang membeli dirimu. Waktu itu aku masih berusia 17 tahun dan karena aku sama kakak telah terjun dalam dunia bisnis yang keras sehingga membuat kami mampu melihat dunia orang dewasa yang begitu kejam." Aditya menjelaskan pada sandaran, dan mengusap lembut punggung Sandra.


"Hm, bagaimana pun aku sangat berterima kasih pada mas Aditya dan kak Alan, serta seluruh keluarga Abigail." Sandra berkata dengan tersenyum bahagia.


"Ya, syukurlah waktu itu kamu membuang bayi yang kamu temukan itu, jika tidak maka kita tak akan bertemu dan bersama seperti saat ini. Kau adalah istriku yang tersayang aku selalu terangsang padamu dari sejak awal bertemu dengan mu." Aditya membalikkan tubuh Sandra dan menindihnya.


"Eh mas lagi? Hahaha" Sandra tertawa bahagia karena dia mendapatkan cinta yang begitu besar dari Aditya dan keluarga besarnya.


...🌴🌴🌴...


"Pagi mama, pagi papa." Alga menyapa kedua orang tuanya yang tidur menemani dirinya.


"Pagi sayang." Syafira menjawab dan tersenyum menatap putranya yang begitu rupawan


"Aga sayang mama." Alga naik keatas tubuh Syafira yang tidur terlentang dan memeluk Syafira erat.


"Hanya mama, sama papa tak sayang?" Alan bertanya dan mengusap kepala Alga.


"Sayang, Aga juga sayang papa tapi lebih sayang mama." Alga menjawab dengan polos dan jujur.


"Ya, ya anak mama. Tapi harus ingat dengan kesepakatan kita, kalau ingin adik segerah datang harus tidur sendiri dan membiarkan mama tidur dengan papa, jadi mulai nanti malam harus tidur sendiri ok boy." Alan mengangkat tubuh Alga dari atas tubuh Syafira.


"Ya ok." Alga menjawab dengan cepat.


"Ok sekarang ayo mandi." Alan membawah Alga masuk kedalam kamar mandi.


"Duduklah dengan tenang sayang bentar lagi sarapan siap." Syafira berkata dengan lantang saat melihat Alga dan Alan datang bersama ke meja makan.


Alan mendudukkan Alga membelakangi dapur dan mendekatkan buah untuk dimakan Alga dulu, "Makan buah dulu ya boy, dan duduk dengan tenang tak boleh menoleh kebelakang ok, papa bantu mama ambil sarapannya." bisik Alan pada Alga dan terlihat Alga mengangguk dengan patuh, setelah itu Alan berjalan kearah dapur untuk melihat Syafira


"Masak apa sayang? Jangan lupa nanti malam tidur di kamar Daddy, dan untuk urusan yang tak bisa diselesaikan oleh mama maka harus meminta bantuan dengan papanya agar segala urusannya lancar, dan itulah sebabnya seorang papa juga memiliki peran bagus bagi putranya, ok baby." ucap Alan meledek Syafira yang tak bisa menjelaskan maslah adik pada Alga.


"Hm." Syafira hanya bergumam tanpa menatap Alan.


"Kamu selalu membuat Daddy memiliki perasaan yang luar biasa sayang, kamu harum sekali haruskah Daddy libur hari ini dan menemanimu di rumah saja?" Alan memeluk Syafira dan mencium tengkuk Syafira dengan sedikit menggigitnya.


"Hentikan ada Alga." Syafira menyikut perut Alan.


"Dia putra kita dan berasal dari benih ku, jadi aku harus mengajarinya agar nanti dia tak kaku dan bisa merayu wanita." bisik Alan yang masih tetap memeluk Syafira bahkan tangannya sudah meremas daging kenyal milik Syafira.


"Daddy." Syafira mulai kesal.


"Kamu tak memakai bra sayang" Alan kaget karena saat dia meraba dan meremas daging kenyal milik Syafira itu tanpa penutupnya hanya dilapisi kaos tipis saja.


"Oh, iya tadi setelah solat langsung masak." Syafira menjawab dengan enteng.


Alan langsung memutar balik tubuh Syafira dan menaikkan kaos yang dikenakan oleh Syafira. "Jangan nanti ketahuan" Syafira menahan tangan Alan.


"Tak akan bentar saja" Alan tersenyum dan langsung melahap daging kenyal milik Syafira yang terlihat sangat indah bagi Alan.


Syafira hanya pasrah dengan ulah Daddy-nya yang mulai begitu berani dan selalu memberikan tegangan pada Syafira karena Alan suka melakukannya ditempat - tempat yang tak terduga. "Ihssss." d*sahan liri Syafira


Syafira tersenyum melihat Alan yang terlihat seperti seorang bayi sedang meminum asi dengan lahap. "Cukup sayang, jika diteruskan nanti Daddy bisa kelepasan." Alan menutup kembali daging kenyal syafira dan membawah menu sarapan kemeja makan.


"Bibi kemana ya kok dari tadi belum datang, apa lagi sakit?" Syafira terlihat bingung karena bi Aminah belum juga datang sampai jam 7 pagi.


"Hem, Daddy minta bibi untuk masuk ke rumah nanti jam 8." Alan menjawab dengan tersenyum tanpa dosa.


"Eh, jadi karena itu Daddy tadi begitu berani." Syafira kaget dan baru sadar.


"Ya, mulai sekarang bibi akan masuk rumah utama jam 8 pagi dan akan istirahat jam 8 malam, jadi diatas jam malam itu tak akan ada yang masuk ke rumah utama, kecuali sedang diperlukan." Alan menjelaskan jadwal baru untuk para pekerjanya.


"Oh, kenapa harus ada peraturan baru begitu." Syafira bertanya dengan bingung


"Karena Daddy ingin menghabiskan waktu lebih lama dan tenang dengan mu dan Alga, makanya jadwal kegiatanmu jam malamnya adalah jam 8, lebih dari itu kamu akan mendapatkan hukuman." Alan menjawab dengan tersenyum melihat Syafira.


"Tapi Aga boleh main ke belakang sama yang lainnya kan pa?" tanya Alga dengan polos.


"Tentu saja, main sampai malam gak maslah kalau mama sama papa lagi berdua biar adik Alga cepat datang." Alan menjawab dengan cepat dan Syafira menatap Alan sambil melotot.