
Merisca memperhatikan interaksi antara alga dan seorang wanita paruh baya yang dirawat sebagai pasien serta dipanggil nenek oleh alga, dan tanpa sadar Merisca melangkah masuk mendekati mereka berdua.
"Eh, nyonya siapa ya?" tanya wanita paruh baya itu pada Merisca.
"Dia adalah Tante nenek." sebut alga yang sudah mengenal Merisca.
"Maaf, dia adalah keponakan saya yang sudah lama hilang hingga kami semua kesulitan untuk menemukanya walau kami sudah menggerakkan banyak orang." jelas merisca pada wanita itu.
"Maafkan saya apakah anda keluarganya Syafira? Saya adalah ibu asramanya dulu nama saya Damiyah." tanya Bu Damiyah dengan tepat sasaran.
"Iya saya keluarganya, saya tantenya syafira. Jadi selama ini Syafira ada bersama dengan anda?" tanya Merisca.
"Ibu alga...Eh? Duh anak nakal ini dari mana saja membuat mama khawatir saja, apa yang akan aku jelaskan pada ibumu jika kami tak menemukan mu." milky memeluk alga dengan sangat erat.
"Maaf sepertinya saya menganggu, saya akan menghubungi anda lagi lain waktu." ucap Merisca lalu pergi meninggalkan kamar inap Bu Damiyah.
"Siapa dia Bu?" tanya milky
"Dia keluarga Syafari." jawab Bu Damiyah.
"Kamu senang sayang ketemu sama nenek kamu?" tanya Bu Damiyah sambil mengusap kepala alga.
"Ibu... Oh sudah ketemu ya? Alga tak papa, alga darimana saja nak?" tanya Badrul yang dengan panik masuk kedalam ruangan dan merasa lega melihat alga dalam pelukan milky.
"Aga dari kamar vip." jawab alga dengan cadelnya dan ekspresi yang menggemaskan, tanpa dia sadari semua orang dewasa ini panik dan bingung mencarinya.
Setelah itu milky dan Badrul mengurus kepulangan ibunya dari rumah sakit, dan mereka meninggalkan rumah sakit dengan tenang karena alga sudah ditemukan.
Selama perjalanan pulang bu Damiyah selalu memikirkan soal perkataan dari Merisca mengenai Syafira yang sebenarnya adalah istri dari adiknya orang yang sudah membuat Syafira hamil, dan juga semua keluarga sudah tau kalau alga adalah anak Syafira dan adiknya (Alan) yang merupakan ayah angkat dari Syafira, dan sekarang Alan dirawat di rumah sakit ini karena dia menyalahkan dirinya sendiri atas insiden yang menimpa Syafira yang pelakunya adalah dirinya sendiri.
"Ibu kenapa dari tadi ibu diam saja, apa kah masih ada yang sakit?" tanya milky yang melihat ibunya diam dan seolah sedang melamun.
"Tidak ada, ibu baik - baik saja. Ibu hanya lelah dan ingin cepat tidur di rumah biar bisa bebas, karena di rumah sakit gak bisa istirahat dengan tenang." jawab bohong bu Damiyah
"Iya nanti bisa ke kebun sama - sama aga juga." sahut alga yang ada dipangkuan milky
Bu damiyah tersenyum pada alga dan masih menggenggam erat kertas yang diberikan oleh meriska sebelum meriska meninggalkan kamarnya waktu itu, dan mereka sudah bertukar nomor hanpon satu sama lain.
...🌴🌴🌴...
"Assalamu'alaikum" salam milky saat sudah tiba di rumah.
"Wa'alaikumsalam, Kak, ibu." jawab syafira dari dalam rumah dengan sangat bahagia melihat mereka semua sudah datang.
"Ibu ayo makan dulu Kiky sudah buatkan masakan kesukaan ibu." Syafira menuntun Bu Damiyah duduk di kursi ruang tengah.
"Iya iya anak ibu sudah lapar ya? Duduk di sini dulu ya." Syafira mengangkat alga dan membawahnya ke meja makan.
"kak Badrul dan kak milky mau Kiky bawakan kesana juga makanan kalian?" tanya Syafira sambil mengambil piring.
"Syafira." panggil Bu Damiyah dan Syafira pun menghentikan kegiatannya, karena selama ini taknada yang memanggilnya dengan nama Syafira setelah usia alga 1 bulan hingga sekarang.
"Kita makan diluar saja dibawah pohon mangga di belakang rumah pasti akan sangat enak di sana sambil merasakan angin semilir dari sawa, karena ibu sudah sangat suntuk dan lelah berada di rumah sakit selama 3 hari." ucap Bu Damiyah dan Badrul sama milky pun setuju.
"Yeeee...Piknik" seru alga dengan sangat senang.
Syafira dan milky menggelar karpet dan menata meja - meja kecil sedangkan Badrul membawah semua makanan yang tadi dimasak oleh Syafira keluar. Setelah menata semua makanan itu diatas meja mereka pun menikmati makan siang mereka dengan ditemani semilir angin dan gemericik air sungai.
Alga sangat senang dia lari kesana kemari sambil memegang kincir yang terbuat dari kertas hasil karya Syafira sendiri.
Suasana hangat dan bahagia benar - benar terasa, Syafira berkali kali berucap syukur karena bertemu dengan orang - orang baik seperti Bu Damiyah dan keluarganya yang mau menerima serta menolong dirinya saat dalam kesulitan.
Seminggu sudah kepulangan bu Damiyah ada seseorang yang menghubunginya dan membuat janji temu dengannya. Dan setelah melewati pemikirna dan renungan Bu Damiyah pun mengiyakan pertuan itu dan memintak waktu 3 hari untuk menentukan tempat dan waktunya.
"Syafira boleh kah ibu ikut bicara dengan mu?" Bu Damiyah mendekati Syafira yang sedang menidurkan alga.
"Bicaralah Bu, ibu ini sudah Syafa anggap sebagai ibu sendiri karena berkat ibu syafa bisa menjalani hidup ini.
"Nak dengarkan ibu, seminggu yang lalu ibu bertemu dengan seorang wanita yang bernama Merisca, dia bilang bahwa dia adalah keluargamu. Mereka sudah tau tentang dirimu dan juga alga, dan ayah mu syok sehingga dia menyalahkan dirinya hingga masuk rumah sakit." jelas Bu Damiyah dan Syafira hanya tertunduk.
"Nak, sudah terlalu lama kamu pergi, alga juga berhak tau siapa ayah kandungnya dan dia juga berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya. Jangan berbuat sama seperti ibu ya g akhirnya menyesali semuanya setelah tau bahwa ayah dari milky sakit keras dan meninggal karena mencari kami bertahun tahun."
"Kembali lah nak, berikan kebahagian untuk putramu. Ibu yakin mereka pasti sangat mencemaskan dirimu."
Bu Damiyah menasehati Syafira agar mau kembali dan tak lagi sembunyi dan melarikan diri, juga demi kebaikan alga yang memang membutuhkan figur seorang ayah.
"Tapi Bu, Syafa pergi supaya Daddy dan yang lain tak susah dan supaya Daddy bisa hidup bahagia dengan orang yang dicintainya." jelas Syafira dengan sedih.
"Nak, kamu tak akan tau jalannya isi hati manusia. Walau dia melakukannya dengan tak sadar dan tak menyukaimu serta tak melihat mu sebagai seorang wanita tapi kamu juga tak punya hak untuk memisahkan dan memutuskan ikatan yang sudah terjalin antara dia dan alga yang merupakan darah dagingnya." jelas Bu Damiyah lagi dan Syafira mulai menangis.
"Daddy akan segera menikah dan dia akan bahagia dengan keluarga barunya, Syafa gak mau tiba tiba muncul dan mengacaukan segalanya."
"Syafa hanya ingin melihat Daddy bahagia itu saja, dan alasan Syafa pergi adalah Syafa gak mau membuat Daddy menanggung beban atas diri Syafa."
"Bagaimana bisa Syafa membuat Daddy menderita, Syafa lebih memilih diam agar Daddy tak tau yang sebenarnya. Syafa rela disalahkan dan dimarahi asal Daddy tak tau."
"Syafa gak mau Bu bikin Daddy terpaksa bertanggung jawab atas diri Syafa, padahal itu adalah kesalahan Syafa sendiri. Andai waktu itu Syafa tak mendekati Daddy dan masuk kedalam kamarnya maka kejadian itu tak akan pernah terjadi."
Syafira menjelaskan panjang lebar pada Bu Damiyah dan Syafa tak ingin bahwa Daddy-nya terpaksa bertanggung jawab atas perbuatan yang tak disadarinya dan buka sepenuhnya salah dari Daddy-nya.