Baby I Love You

Baby I Love You
Si dingin adalah Suamiku



"Aku tak ingin anak - anak ikut dengan ku lagi" Ayunda merajuk pada Syafira saat mereka bertemu di kafe


Syafira tersenyum karena dia tau apa yang sedang diributkan oleh kakaknya itu saat datang. Melihat Syafira yang hanya tersenyum membuat Ayunda semakin merajuk dan memukul Syafira yang akhirnya mereka berakhir dengan perang bantal di kantor Syafira.


Keduanya tertawa terbahak setelah puas membuat kekacauan dan keributan dan saling merebahkan tubuh mereka di sofa sambil mengatur nafas mereka yang tersengal - sengal.


"Fa, apa kamu ingat dulu kita suka sekali melakukan ini. Tapi tak terasa sekarang kita telah memiliki keluarga dan menjadi orang tua." Ayunda berkata sambil mengangkat kedua tangannya keatas.


"Hem, kakak benar. Aku juga tak pernah menyangka kalau hidup akan melakukan semuanya dan membuat ku menyadari bahwa aku bangga dan juga bahagia memiliki kakak dan keluarga seperti saat ini." Syafira menoleh dan melihat Ayunda


"Aku juga senang memiliki mu sebagai adik." jawab Ayunda tersenyum pada Syafira.


"Oh iya Fa, ada yang ingin aku tanyakan pada mu dan ku harap kau tak berbohong padaku." Ayunda bangun dan duduk


"Apa yang ingin kakak tanyakan." Syafira ikut bangun dan melihat Ayunda serius.


Ayunda menatap dalam pada Syafira yang terlihat berbeda dan lebih dewasa dari sebelumnya, Ayunda berfikir kalau Syafira memiliki rahasia yang tak diketahui olehnya dan juga keluarganya.


...🌴🌴🌴...


Di kantor Alan terlihat sedang berfikir dan dia terlihat melamun seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan dan Alan tenggelam dalam pikirannya sangat dalam.


Aditya yang datang dan melihat kakaknya sedang melamun merasa aneh dan juga heran, karena Alan bahkan tak bisa menyadari kedatangan Aditya karena terlalu tenggelam masuk dalam pikirannya.


"Ada apa kak, kak, kakak!" Aditya memukul Alan dengan sangat keras


"Hem, kenapa." Alan menatap Aditya dengan linglung


"Kakak yang kenapa, apa ada sesuatu yang mengganggu? Kenapa kakak terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu." Aditya duduk didepan Alan


"Tidak, aku cuma sedang berfikir apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Syafira. Dia terlihat sedang melakukan sesuatu tapi aku tak bisa menemukan apa pun." Alan berkata dengan berfikir


"Memangnya dia melakukan apa?" Aditya menatap Alan


"Dia sering bermain dengan laptopnya, tapi saat aku tanya dia bilang menghubungi Alga." Alan terlihat berfikir


"Lah dia menghubungi anak kalian atau tidak loh." Aditya


"Ya, dia memang menghubungi Alga." Alan


"Terus apa salahnya, kakak terlalu banyak berfikir. Kalau kakak ingin tau harusnya kakak tanya saja langsung." Aditya memberikan saran


"Aku takut kalau nanti akan membuat dia kabur lagi." Alan


Aditya tersenyum melihat dan mendengarkan kata - kata dari Alan, karena Aditya tak menyangka kalau kakaknya ini memiliki ketakutan juga. Padahal selama ini Alan dengan enak saja melakukan segalanya tanpa memiliki rasa takut sama sekali.


"Kenapa kau menatapku sambil tersenyum seperti itu." Alan melihat Aditya


"Tak ada, baiklah tanda tangani dulu berkas ini." Aditya menyerahkan berkas untuk ditanda tangani Alan.


"Tenang saja kak, jika ada sesuatu pasti Syafa akan cerita pada kita, dan mungkin saat ini belum saatnya bagi dia untuk cerita. Kita tunggu saja pada saatnya nanti karena aku percaya kalau Syafa pasti akan melakukan sesuatu yang benar dan akan memberitahu kita pada akhirnya nanti." Aditya berkata dan menatap Alan sambil tersenyum.


"Kau benar, aku akan selalu mendukung apa pun yang dia kerjakan saat ini." Alan berkata dengan mantap.


Setelah berbicara dengan Aditya mengenai masalah yang mungkin disembunyikan oleh Syafira selama ini dan pekerjaan yang tak dikatakannya, akhirnya Alan merasa lega dan tak lagi merasa bingung sendiri.


...🌴🌴🌴...


"Ma, bagaimana apa semuanya sudah selesai." Alga


"Sudah, semua sudah selesai dan kita bisa melakukannya sekarang." Syafira


"Baiklah, tunggu saja sampai semuanya terpancing, sekarang biar aku yang melakukannya mama lihat saja." Alga


"Apa kau tak apa" Syafira


"Tenang saja ma, permainan ini pasti akan kita menangkan" Alga


"Ok, mama serahkan pada mu" Syafira


"Lagi apa sayang." Alan masuk dan melihat Syafira sedang bicara dengan seseorang


"Halo pa" suara Alga menyapa Alan


"Hai boy, bagaimana kabarmu disana. Kau tak mengalami kesulitan disana? Mamamu bilang kalau kau tak ingin kami mentransfer uang untuk mu" Alan duduk disamping Syafira


"Iya pa, tak apa semua baik - baik saja dan di sini aku memiliki pekerjaan juga penghasilan. Karena aku menjadi guru privat untuk anak - anak tetangga disekitar." Alga berkata dengan percaya diri


"Aku tak menyangka kalau kau tumbuh menjadi anak yang sangat membanggakan." Alan berkata dengan kebanggaan atas Alga


"Baiklah, hati - hati disana dan selalu kabari kami." Syafira berkata dengan lembut


"Ok ma, nanti Aga hubungi mama dan papa lagi, bye." Alga memutuskan sambungan video call


"Kau sungguh luar biasa, bisa mendidik mereka menjadi anak - anak yang sangat hebat." Alan memeluk Syafira dengan erat


"Itu semua karena ajaran mama Lea." Syafira membalas pelukan Alan.


"Oh iya nanti malam ada acara kumpul - kumpul apa kamu mau ikut?" Alan bertanya dan menatap Syafira


"Hem, ya kalau diajak aku ikut." Syafira berkata dengan tersenyum


"Ok, ayo kita siap - siap sekarang." Alan mencium pipi Syafira.


"Oh ya dimana putri kita" Alan bertanya soal Alisa


"Bersama mama Lea, katanya mau ikut ke butik." Syafira menjawab dan berlalu masuk kamar.


...🌴🌴🌴...


Malam hari pun datang dan Alan membawa Syafira ke acara kumpul bersama alumni sekolahnya, terlihat banyak sekali orang yang sudah berkumpul bersama termasuk teman - teman dekat Alan dan Aditya.


"Syafa sini" Sandra memanggil Syafira


"Bunda juga datang, ku pikir aku akan sendirian dan tak ada yang ku kenal." Syafira merasa senang karena Sandra juga ada disana.


"Hei Lan, wah hari besar ini karena kau datang." ucap Dandi


"Ya ku rasa sudah saatnya aku untuk ikut kan" jawab Alan santai


"Kau benar." Dandi


Terlihat semua orang bersenang - senang bersama, para wanita berkumpul bersama dan para pria juga berkumpul bersama, terlihat keakraban mereka semuanya. Dan permainan seru pun mereka lakukan.


Alan hanya diam dan terus mengawasi Syafira yang terlihat sangat seru melakukan permainan dengan para teman wanita Alan dan para istri dari teman - temannya.


"Hoh kau datang juga pada akhirnya" ucap Daren pada Alan yang baru datang


"Ya karena tak ada alasan untuk aku tak datang" jawab Alan santai


"Ya ampun lihatlah pria itu, dia dari tadi terus saja mengawasi kita. Siapa ya dia sebenarnya" ucap seorang wanita yang tak dikenal oleh Syafira dan terus saja ngomongin soal Alan.


"Dia adalah Alan, pengusaha kaya yang telah merintis bisnisnya sejak dia masih muda. Dan lihatlah tatapannya sungguh sangat tajam" ucap dari teman wanita yang memuji Alan


"Hem, kau benar dia sungguh sangat luar biasa." ucap wanita yang memuji Alan


"Benar tapi sayangnya dia terlihat sangat dingin." ucap Yusnia


"Iya dan si dingin itu adalah suamiku." ucap Syafira mendekati kerumunan para wanita yang sedang membicarakan Alan


"Eh." Yusnia menatap Syafira


"Iya dia suamiku." Syafira berkata lagi dengan tersenyum lalu pergi mendekati Alan.


"Ya ampun dia wanita yang sungguh berani." Yusnia berkata dengan menatap tak suka pada Syafira.


"Hai" Daren menyapa Syafira saat melihat Syafira berjalan mau mendekati Alan


"Hai tuan Daren, kita ketemu lagi" jawab Syafira dengan berani


"Sekarang kau memiliki keberanian ya." Daren berkata dan menatap Syafira dengan tajam


"Tentu, karena aku sudah tau cara bermainnya." jawab Syafira dan tersenyum


"Kau tau cara bermainnya? Apa maksudmu, apa kau ingin bermain - main dengan ku" Daren merasa tertantang.


"Tunggu saja dan lihat saja nanti pada saatnya" Syafira berkata dengan percaya diri


"Kau" Daren merasa kesal


"Apa yang terjadi" Alan berjalan mendekat


"Tak ada, aku cuma mau bilang pada tuan Daren untuk menunggu hari saat semuanya selesai" ucap Syafira menatap Alan


"Ayo" Syafira menarik Alan pergi


"Dia benar - benar wanita yang berani." Daren merasa kesal karena sejak awal dia selalu saja kalah dari Syafira.