Baby I Love You

Baby I Love You
Kehamilan syafira



Sepulang dari kantor alan langsung melajukan mobilnya sendiri menuju ke asrama putri tempat syafira berada.


Sore itu adit tak ikut karna dia nenggantikan alan untuk melakukan pertemuan dengan salah satu mitra bisnisnya.


Sesampainya di asrama alan langsung berjalan menuju ke ruang kerja ibu asrama, dan disana sudah ada syafira yang terduduk dengan kepala tertunduk.


"Selamat sore tuan Alan, maaf mengganggu waktu anda. Silakan masuk dan silakan duduk." ibu asrama menyambut kedatangan alan.


"Terima kasih, sebaiknya kita langsung saja ada apa sebenarnya dan kenapa anda menghubungi saya begitu banyak." alan berkata langsung saat dia sudah duduk dihadapan ibu asrama itu.


"Baiklah Tuan Alan, saya akan langsung g saja mengatakan pada anda karna anda pasti sangat sibuk."


"Sebenarnya beberapa bulan ini saya melihat ada keanehan pada diri Syafira, dia sering tertidur dalam kelas, dia juga sempat sakit waktu itu dsn dirawat di rumah sakit, bahkan kadang tiba - tiba saja jatuh pingsan." jelas ibu asrama itu pada alan, dan itu membuat alan terkejud karna tidak pernah tau.


Alan menatap syafira yang masih tertunduk dan menampakkan raut wajah takut seolah sedang menyembumyikan sesuatu.


"Hari ini tadi tiba - tiba Syafira juga jatuh pingsan lagi." lanjut ibu asrama dan alan menatap dengan heram karna kalimatnya seolah sengaja diputus atau ditahan.


"Sebenarnya ada apa, dan kenapa Syafa jadi sering pingsan serta tertidur dikelas?" alan bertanya dengan sangat tidak sabar karna dia takut ada penyakit yang aneh pada diri syafira.


"Apakah dia sedang sakit atau mengidap penyakit?" tanya alan lagi dengan nada mendesak untuk segera diberi penjelasan.


"Ya kondisi tubuhnya memeng lemah beberapa bulan ini, tapi dia tidak sedang sakit, tadi saya sudah memastikannya ke ramah sakit dan juga sudah melakukan pemeriksaan dengan benar, saya masih belum mengkonfirmasi dengan pihak sekolah, karna saya ingin memberi tau keluarganya dulu." ibu asrama itu menjelaskan dengan panjangndan menyerahkan selembar amplop dihadapan alan.


"Anda buka amplop itu maka anda akan mengerti apa yang akan saya katakan." kalimat ibu asrama itu membuat alan semakin penasaran.


"Ini...?" kata - kata alan tertahan saat dia mengetahui isi dari amplop itu adalah hasil usg.


"Iya, itu hasil usg yang saya lakukan tadi siang di rumah sakit saat mengantar Syafira, dan benar yang anda pikirkan. Saya sudah memperketat pengawasan namun saya masih saja kecolongan. Syafira telah hamil 15 - 16 minggu, itu sekitar 4 bulanan penjelasan dari dokter yang memeriksanya tadi." ucapan dari penjelasan ibu asrama itu membiat alan bagai disambar petir, dia menunduk dan mengepalkan tangannya dengan kuat menahan amarah yang sudah meluap keluar.


"Baiklah bu, terima kasih atas informasinya. Selanjutnya biar saya yang atasi, kalo begitu saya mohon pamit dulu." ucap alan mempertahankan emosinya agar tak meluap di sini.


"Baiklah tuan Alan, semoga keputusan saya ini benar dengan memberitahu anda." ucap ibu asrama mengantarkan alan keluar dari ruangannya.


Tanpa bicara sepatah kata pun alan menarik tangan syafira melangkah ke arah mobilnya dan meninggalkan asrama putri.


Di dalam mobil alan menahan amarahnya dan dia melajukan mobil dengan sangat hati - hati karna dia tak ingin ada kejadian yang membuat syafira dan kandungannya bahaya.


Suasana didalam mobil sangat hening, bahkan syafira bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar sangat kencang karna menahan rasa takut pada alan.


"Masuk dan tunggu di ruang tengah." ucap alan pada syafira begitu mereka sampai di depan rumah.


Syafira langsung keluar dari mobil dan lari masuk kedalam kamarnya serta menguncinya dari dalam, dia meringkuk. disisi tempat tidur dengan tubuh bergetar hebat dan air mata yang telah membasahi wajahnya.


"Syafa.! Keluar!!" suara alan menggemah dalam rumah sehingga buat orang yang mendengarnya merasa takut, termasuk bi aminah yang merasa bingung dengan kedatangan syafira yang lari masuk kamarnya dengan wajah bengkak karna menangis.


"Syafa, daddy bilang keluar sekarang.!" teriak alan lagi didepan kamar syafira.


Brak. .Brak


Disisi lain bi aminah yang merasa takut karna tak pernah melihat majikannya semarah itu, dan khawatir dengan keadaan syafira yang terlihat memprihatinkan langsung menghubungi alea serta memceritakan leadaan yang dilihatnya tanpa tau apa masalah yang sebenarnya terjadi.


"Tolong nyonya Lea cepat lemari, saya tak pernah melihat tuan Alan sarah ini dan juga non Syafa yang kelihatannya menangis entah apa yang terjadi sebenarnya." jelas bi aminah pada alea yang suara yang bergetar takut.


"Syafa buka pintunya keluar sendiri atau daddy dobrak.!" perintah alan masih dengan suara tingginya.


Setelah 30 menit lamanya alan menunggu namun tak ada tanda - tanda syafira membuka pintu, alan pun bangkit lagi dari duduknya dan berjalan kearah pintu kamar syafira mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.


Brak


Braakk


Braaakk


Pintu itu pun terbuka dan menampakkan syafira yang duduk dilantai meringkuk dengan menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Ayo ikut.!" alan menarik tangan syafira dengan sekali tarikan dan menyeretnya keluar kamar.


"Daddy.." syafira mengibah dan mengikuti langkah alan dengan susah paya.


"Alan apa yang kau lakukan!?" teriak alea yang melihat syafira berjalan dengan sedikit berlari mengikuti langkah alan.


"Kenapa kakak di sini?" tanya alan dengan kesal dan mendorong syafira duduk dikursi ruang keluarga.


"Kenapa, ada apa ini? Semarah apa pun kau jangan melampiaskannya pada dia." alea mendekati syafira dan memeluknya sambil duduk.


"Cepat katakan siapa pria br*ngs*k itu? Yang telah berani membuat mu seperti ini." tanya alan pada syafira atas kehamilannya.


"Apa maksudmu Lan.?" tanya alea yang merasa bingung dengan pertanyaan alan pada syafira.


"Dia telah hamil 4 bulan dan tak mau bilang siapa pria yang tah menodainya." jelas alan pada alea dan menyerahkan bukti usg.


"Apa? Apa itu benar sayang? Siapa yang telah tega melakukan ini pada putri mama, maafkam mama sayang yang tak bisa menjaga dan memperhatikan mu selama ini." alea merasa bersalah dan memeluk syafira dengan erat, yang membuat syafira semakin menangis.


Sedangkan alan yang duduk dengan tak sabar melaihat adegan kakaknya memeluk syafira dan menyalahkan dirinya sendiri membuat alan semaki tak sabat.


"Jika kau tak mau memberitau siapa pria itu makan gugurkan anak itu." alan berkata dengan serious dan menatap syafira.


"Tidak.!" teriak syafira seketika.


"Jangan. Tolong jangan bunuh anak Syafa." syafira memegang perutnya dengan erat seolah tak mau kehilangan bayi yang membuat hidupnya susah itu.


"Apa yang kau katakan Lan, hati - hati kalo bicara." alea memarahi alan karna ucapannya yang sembarangan.


"Dia mau melahirkan dan membesarkan anak tanpa seorang ayah? Dia masih sekolah, bisa apa anak kecil sepertinya dan hanya mempermalukan keluarga saja." ucap alan yang membuat syafira tersentak dan sadar kalo dirinya di rumah itu hanya bersetatus anak angkat, dan tak punya hak untuk merusak serta mempermalukan keluar itu.