Baby I Love You

Baby I Love You
Kabur dari rumah



Cuit. .Cuit


Suara alarm dari hanpon syafira berdering mengusik dan membangunkan tidur syafira yang pulas.


"Ugh, eh aku tidur dikamar ku? Pasti Daddy yang mindahin aku dari kamar bi Aminah semalam." syafira bangun dan langsung ke kamar mandi untuk mandi dan sholat subuh.


"Ugh sakit." syafira mengusuk perutnya yang terasa kaku dan keras dibagian sisi saja.


"Sayang lagi ngapain? Sakit tau jangan nendang - nendang gitu dong." ucap syafira sambil terus mengusuk perutnya dan itu mulai terasa enakan serta tak sakit lagi.


Pagi itu syafira menyibulkan dirinya dibelakang untuk mencuci baju agar dia tak bertemu dengan alan saat Alan berangkat ke kantor.


"Bi dimana Syafa?" Alan yang dari bangun tak melihat akhirnya bertanya pada bi Aminah.


"Non Syafa ada dihalaman belakang lagi nyuci, katanya bosen gak ada kerjaan." bi Aminah menjelaskan pada Alan.


Alan mengangguk pada bi Aminah dan dia langsung berjalan kearah belakang untuk melihat syafira.


"Sayang apa kamu capek? Apa kamu senang didalam sana, kamu lagi apa di sana? Bisakah ngajak ibu bermain juga?" syafira ngobrol sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit.


"Hihihi kamu mengerti ya apa yang ibu omong, kamu terus bergerak bikin geli." syafira terus bicara sama perutnya yang janinnya terasa nendang - nendang lembut disemua sisi perutnya.


Alan yang melihat syafira duduk sambil bicara dan mengelus perutnya merasa sakit dalam hatinya, dan dia mengepalkan tangannya dengan erat serta pandangan menggelap dikedua matanya.


"Siapa sebenarnya pria itu, kenapa kamu tak mau bilang. Apa jangan - jangan dia orang yang ingin kamu lupakan dan tak ingin kamu ingat lagi." Alan yang berdiri dibalik pintu menatap syafira dengan rasa kesal, marah dan juga kasihan bercampur aduk jadi satu.


"Ayo sayang kita kerja lagi, kamu jangan nakal ya." syafira berdiri dan mengangkat ember yang berisikan baju yang mau dijemur.


"Jangan mengangkat yang berat - berat." Alan mengambil ember itu dan langsung mengangkatnya.


"Daddy terima kasih." ucap syafira dan dia langsung menjemur baju - baju itu.


"Siang nanti siap - siap lah kita kerumah sakit." ucap alan dan itu membuat syafira menghentikan kegiatannya.


"Un - untuk apa kerumah sakit?" tanya syafira khawatir.


"Siap - siap saja nanti." ucap alan tak menjawab pertanyaan syafira dan langsung pergi meninggalkan syafira.


"Eh, kenapa kamu kesini, apa ada informasi baru?" Alan bertanya pada Ndaru yang tiba - tiba saja datang kerumahnya pagi - pagi.


"Iya kak, aku menemukan orang itu. Dan hasil lab-nya menunjukkan kalo dia adalah orangnya." jawab Ndaru dan menyodorkan sebuah kertas pada Alan.


"Hem, ternyata benar dia. Sial banget, namun mau bagaimana pun juga aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan, karna aku telah merenggut kesuciannya." ucap alan saat dia membuka dan membaca hasil lab tersebut.


"Apa tak sebaiknya kita selidiki lebih lanjut lagi kak?" tanya Ndaru pada Alan untuk melakukan tindakan yang lebih lanjut lagi.


"Iya, kita emang harus menyelidikinya lebih lanjut lagi. Tapi aku juga ingin menunjukkan rasa tanggung jawabku atas perbuatan yang sudah ku lakukan." jawab Alan lagi dan itu membuat Ndaru mengerti apa yang dimaksud kan oleh Alan.


"Tunggu jadi selama ini Daddy mencarik tau soal gadis malam itu? Namun siapa gadis yang tiba - tiba muncul dan jadi korbannya, apa setelah aku pergi ada gadis lain lagi yang datang dan masuk kedalam kamar daddy?" syafira yang tak sengaja mau masuk kedalam mendengar percakapan Alan dan juga Ndaru bergumam dibalik dinding dapur mendengarkan pembicaraan itu, dan berfikir kalo ada wanita lain selain dia dimalam itu.


"Tapi itu jauh lebih baik dan bagus, karna tak akan ada yang tau tentang aku." gumam syafira lagi dan langsung berjalan masuk kedalam karnya.


"Aku harus menyiapkan apa yang harus aku bawah nanti dan aku akan bebas serta tak akan lagi membebani mereka semua."


"Sayang kita akan pergi, kamu harus membantu ibu agar bisa pergi ya, dan juga jangan rewel ok."


Syafira terus bergumam sambil menyiapkan keperluannya untuk pergi kerumah sakit sama Alan nanti siang, dan juga untuk pergi selamanya dari kehidupan Alan dan semua keluarganya.


Setelah bicara dengan Ndaru Alan langsung pergi ke kantornya dan Ndaru kembali kerumah sakit lagi.


...🌴🌴🌴...


"Kak aku dengar katanya Fira adalah wanita dimalam itu?" Adit bertanya pada Alan begitu melihat alan nyampek dikantor.


"Ya Ndaru tadi pagi sudah memberi tau aku kalo hasil lab-nya juga menunjukkan dialah orangnya." jawab Alan dengan santai.


"Tapi bukankah dia orang yang menjebak kakak, kalo kayak gini bukankah rencananya berhasil." Adit berkata dengan nada kesal.


"Aku tau itu, makanya Ndaru melakukan sesuatu untuk menangani dia. Dan aku akan mengatakan akan bertanggung jawab atas dirinya." jawab Alan lagi dengan santai yang seolah dia sudah tau apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


"Baiklah aku juga akan ikut membantu. Sekarang kakak ada pertemuan dengan Guntoro soal kerja sama yang waktu itu." ucap Adit sambil menyerahkan satu berkas dihadapan Alan.


"Ok, lakukan sesuai dengan jadwal, cuma kosongkan waktu siang ku karna aku akan membawah Syafa kerumah sakit nanati siang." perintah Alan pada Adit dan Adit sudah mengerti.


...🌴🌴🌴...


Sesuai dengan rencana, tepat jam 1 siang setelah selesai pertemuan Alan dan tuan Guntoro Alan langsung pulang kerumah untuk menjemput syafira dan membawahnya kerumah sakit.


"Apa yang kamu bawah, kenapa bawah tas besar begitu?" Alan yang merasa aneh bertanya pada syafira saat melihat syafira masuk kedalam mobil.


"Ah, bukan apa - apa ini hanya makanan dan camilan." jawab syafira membuka dan menunjukkan isi tasnya pada Alan.


Alan memegang kepala syafira dengan penuh sayang saat mereka berhenti dilampu merah, dan Alan fokus lagi pada menyetir hingga sampai kerumah sakit.


Setalah parkir dan juga mengantri Alan dan syafira menunggu di ruang tunggu dengan tenang, dan syafira terus memakan camilan yang dia ambil dari dalam tas ranselnya.


"Nyonya Syafira." panggil seorang perawat dan syafira serta Alan berdiri bersamaan untuk masuk keruangan dokter.


"Silakan tuan dan nyonya. Apa yang anda keluhkan sekarang?" tanya dokter itu setelah mempersilakan syafira dan Alan duduk.


"Tidak ada dokter." jawab syafira dan dokter itu langsung mempersilakan syafira untuk tidur di bad karna mau dilakukan pemeriksaan dengan USG.


Deg


Jantung Alan bergetar saat dia melihat janin yang bergerak - gerak didalam perut syafira lewat layar USG.


"Tunggu, perasaan apa ini? Kenapa aku sangat bahagia melihat janin itu tumbuh dan juga bergerak - gerak dimonitor itu." gumam Alan dalam hati menatap haru janin yang begitu kecil dalam perut syafira.


"Ya, ini keadaan janinnya sangat sehat pak, yang berdetak itu adalah jantungnya, dan juga jenis kelaminnya laki - laki. Semuanya tak ada masalah." dokter itu menjelaskan keadaan janin syafira dan juga jenis kelaminnya.


Alan yang mendengar penjelasan dari dokter kandungan itu merasa sangat senang dan juga bahagia, hingga tanpa sadar dan gerak reflek serta spontan Alan langsung memberikan kecupan pada kening syafira.


"Terima kasih dok." ucap alan dengan sangat senang dan bahagia setelah dia melihat langsung janin syafira.


"Baik pak, karna tak ada masalah apa - apa saya resepkan vitamin saja dan harus diminum rutin tiap hari, nyonyan Syafira kembali lagi kontrol 1 bulan kalo tidak ada keluhan ya?" ucap dokter kandungan itu dan Alan serta syafira mengangguk lalu keluar dari ruangan dokter itu.


"Kamu duduk dan tunggu di sini, Daddy ambil obatnya dulu." perintah Alan pada syafira dan hanya dianggukkan saja oleh syafira.


"Maafkan Syafa daddy, Syafa harus pergi dan gak mau menyusahkan Daddy serta yang lainnya lagi." syafira mengendap - endap pergi saat Alan lagi antri di apotik.


Syafira yang keluar rumah sakit langsung naik taksi yang banyak terparkir didepan rumah sakit, dan menuju ke setasiun kereta api.