
"Haaaah.! Tak terasa 10 tahun telah berlalu, rasanya sangat nyaman bisa rebahan di rumah." alan merebahkan tubuhnya dan mengencangkan otot - otot tububnya.
"Kenapa kakak gak tidur di kamar kakak sendiri saja?" menatap heran dan kesal.
"Aku malas naik Dit." menutup mata sambil terlentang, tak peduli adit sedang kesal pada dirinya.
"Kak, kenapa kak gak telpon kalo sudah sampai. Kalo aku tau kakak sudah sampai dan juga menghubungiku aku bisa jemput kakak tadi. Kakak cuma bilang kalo kakak mau pulang hari ini saja, tapi tak menjelaskan kapan waktunya. Kalo ditanya sampai jam berapa, bilangnya belum tau." adit meggerutu disamping alan yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur kamar adit.
"Dan lagi sekretaris pembangkang itu, dia hanya mendengarkan perintah kakak saja dan gak mau membocorkan peringatan dari kakak, bahkan itu aku yang tanya." lanjut gerutuan adit.
"Hahaha. Itulah kenapa aku suka padanya. Dia benar - benar bisa menjaga rahasia dan juga sangat setia." jawab alan sambil tertawa dan menutup matanya.
"Dan 10 tahun gak ketemu kau jadi semakin cerewet ya." alan melirik adit sambil tersenyum.
"Besok aku akan langsung ke kantor, aku ingin lihat ulah orang - orang yang sudah diatasi itu." ucap alan yang bangun dan melepas bajunya.
"Duh, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" didalam kamarnya syafira bingung sendiri dengan perasaannya yang semakin kacau karna bertemu langsung dengan alan yang selama ini dia idolakan dan dia cintai dalam diam, karna tak tau kalo dia adalah daddy-nya.
Maklum ya anak yang dalam masa putih abu - abu selalu memiliki cerita cinta sendiri dan selalu menggebu - gebuh dalam setiap hal. 🤭
...🌴🌴🌴...
Pagi itu alan kembali ke perusahaannya dengan didampingi oleh adit yang emang selalu setia ada untuk alan setiap waktu dan setiap saat.
"Aku dengar bos sudah datang kembali ke sini. setelah 10 tahun lamanya berada di LA."
"Wah benarkah, aku dengar katanya bos sangat tampan, dan lebih tampan dari asisten adit."
"Kau benar, kenapa aku bertahan di sini walo bos sangat dingin? Itu karna dia sangat tampan, bisa jadi vitamin mata kalo dilihat.
"Ya ampun aku yang masih baru jadi gak sabar ingin lihat."
Para pegawe semua berkasak kusuk membicarakan tentang alan yang dinilai tampan dan juga dingin oleh para pegawe wanita yang bekerja di kantor alan, namun mereka semua mengidolakan dan juga ngefans sama alan.
"Bos datang, mobilnya sudah tiba.!" teriak salah seorang pegawe peria yang melihat mobil adit di parkir tepat di depan pintu masuk perusahaan.
Para pegawe mulai dari yang cewek sampai pria berbaris menyambut kedatangan alan kembali keperusahaan setelah 10 tahun lamanya meninggalkan perusahaan demi urusan perusahaan yang di LA dan juga setudinya dibidang hukum.
Tap
Alan melangkah dengan mantap melewati para pegawenya dan juga menjawab ucapan salam dari semua pegawenya dengan nada yang sangat dingin.
"Waooooo.!" para pegawe wanita itu membulatkan mata mereka saat dia melihat alan keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk dengan setelah kemeja putih, dasi hitam, jas dan celana hitam setar jam tanganan merek Greubel Forsey Art Piece 1 yang berasal dari swiss, yang menambah khasirma serta aura alan yang dingin dan juga angun bagai sang raja.
Setelah sampai di ruangannya alan langsung melihat data dari para orang - orang yang menurut alan sulit untuk diatasi.
"Apa mereka semua sudah tau kalo data yang di LA sudah dialihkan ke sini Dit.?" alan bertanya pada adit yang saat ini sedang berdiri disamping alan dengan tenang.
"Tentu saja sudah, semuanya sudah aku atasi, dan mereka harusnya juga sudah pada tau." adit menjawab dengan mantap tanpa keraguan sedikit pun pada jawabannya.
"Bagus, kau memang luar biasa." puji alan, menunjukkan senyuman tipis.
"Tapi ada sedikit masalah bos, kayaknya dari pihak ke tiga mereka ingin membuat sabotase data. Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah itu? Dan menyelesaikannya dengan orang - orang yang terlihat didalamnya." adit menjelaskan soal orang - orang yang berusaha untuk mensabotase data dari penjulan dan ingin berpaling dari kepemimpinan alan.
Dan ya, saat berada di kantor adit memanggil alan sabagi bos, karna alan menerapkan perinsip sang papa, yang ingin membedakan masalah dan juga waktu antara di kantor dan di rumah. Jadi saat di kantor walo saudara kalo bekerja di bawah alan makan dia adalah pegawe alan.
"Biarkan saja dulu, kita pura - pura tidak tau dengan apa yang mereka lakukan. Agar mereka bisa melakukan sesuai dengan rencana mereka, tapi tetap awasi mereka dengan ketat. Kita lihat mereka mau melakukannya sampai mana." alan memunculkan seringai saat mengatakan kalimat terakhirnya.
"Gila, kau semakin ngeri kak." gumam adit dalam hati mengawasi alan.
...🌴🌴🌴...
"Kak sore ini aku mau pulang ke rumahku, karna kakak sudah datang jadi aku bisa kan ya untuk menghabiskan waktuku." 😁 memohon pada alan saat mereka melajukan Mobil mau pulang ke rumah.
"Bilang saja kalo kamu mau pacaran, kau kira aku gak tau." alan langsung memukul talak pada adit.
"Haaaah. Ketahuan ya" adit bergumam dengan sambil mengemudikan mobil.
"Baiklah, menuju rumahmu setelah itu aku pulang sendiri."
"Wah, kak Alan serius?" sumringa dengan mata berbinar.
"Hem." menjawab dengan malas.
Mendengar itu adit semangat melajukan mobilnya menuju rumahmya, dan setelah sampai di rumahnyan dia langsung bergegas masuk untuk membersihkan tubuhnya karna ingin menemui kekasihnya.
"Dasar.!" alan berdecak melihat tingkah adit dan dia langsung melajukan mobil untuk pulang ke rumah.
...🌴🌴🌴...
"Hem bau apa ini? Enak banget." alan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan menuju ke dapur karna merasa penasaran dengan aroma yang menggugah selera dia.
"Bi ini dimasukin semua aja ya?" syafa yang lagi masak sama bi aminah tak merhatikan kalo alan berjalan dan mendekatinya yang lagi fokus dengan masakannya.
"Mas.!? Jangan membuat aku terkejud." memukul ringan.
"Aku sangat menyayangi mu sayangku." memeluk dari belakang.
"Aku tau, tapi bukan berarti mas Abi bisa mengganggu ku masak ya.!" 😠 menatap dengan marah.
"Iya sayangku. Tapi kenapa kamu begitu harum ya?" mendekatkan wajah dibelakang leher.
Cup 😁
"Mama, Papa." gumam alan yang sekilas mengingat tentang papanya yang selalu mengganggu mamanya saat masak, karna sang mama jika lagi fokus masak juga tak bisa menyadari jika ada orang yang mendekatinya.
"Kalian lagi masak apa, baunya membuat lapar." ucap alan yang membuat syafa terkejud dan menjatuhkan alat masaknya.
"Ya Allah non hati - hati." bi aminah khawatir karna syafa tiba - tiba menjatuhkan alat masak.
"Maaf - maaf aku mengejudkan mu ya." alan merasa bersalah.
"Ta - tak apa daddy." syafa berkata tergagap.
"Daddy Yos?" Tanya syafa pada alan.
"Dia lagi pacaran. Daddy mandi dulu, habis ini daddy makan masakan tuan putri." mengusap kepala syafa dan pergi ke kamarnya.
30 menit kemudian akhirnya alan turun dan dia menuju meja makan, yang di sana sudah ditata beraneka ragam masakan.
Alan dan syafa makan malam bersama dengan masakan yang tadi dimasak oleh syafa dan bi aminah.
Sesekali syafa melirik alan yang sedang makan dengan tenang dan duduk disampingnya.
Sementara alan yang menyadari kalo syafa terus melirik dia cuek aja, karna dia menganggap mungkin syafa masih belum terbiasa dengan dirinya karna dia baru kembali setelah 10 tahun lamanya.
"Malam ini mau tidur sama daddy?" alan bertanya pada syafa dengan santainya.
"Uhuk - uhuk." syafa yang mendengar itu langsung terkejud dan tersedak makanan yang dia makan.
"Hay, kenapa sampai terkejud begitu? Pelan - pelan, ayo minum airnya." alan menyodorkan segelas air dan menepuk - nepuk punggung syafa.
"Su - sudah, terima kasih. Tapi syafa tidur sendiri saja." syafa menjawab saat dia sudah bisa mengatasi tersedaknya.
"Tidak mau? Memangnya tak rindu sama daddy?" ucap alan lagi dan alhasil itu membuat syafa tersedak air yang dia minum.
Syafa lari kedalam kamarnya tanpa bicara karna dia sulit bernafas, dan mulai menjogok di dalam kamar mandinya, terbatuk - batuk dan merasakan sakit didadanya karna tersedak untuk kedua kalinya.
Alan yang melihat merasa bingung dengan sikap syafa. "Apa pertanyaanku begitu mengejudkan baginya? Aku hanya ingin dekat dengan dia lagi seperti dulu saat dia masih kecil." alan bergumam sambil menatap kosong ke arah kamar syafa.
Ceklek
Alan memasuki kamar syafa setelah dia selesai mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya, karna dia terlalu malas untuk naik kekamarnya. Dan sama seperti dulu setiap selesai mengerjakan pekerjaan sampai larut dia akan tidur di kamar syafa.
"Putri daddy sudah besar ya, apa anak sekarang perkembanganya begitu cepat ya Seingatku jaman ku dulu anak cewek masih kecil - kecil, tapi sekarang mereka begitu berisih dan cepat dewasa." alan menatap syafa yang terlelap dengan sangat tenang dengan wajah yang sudah terlihat sangat menarik.
Alan naik ke tempat tidur dan berbagi selimut dengan syafa, dia menarik tubuh syafa dan memeluknya. "Selamat tidur sayang." Cup, alan mengecup kening syafa
Alan pun terlelap dengan posisi memeluk erat syafa, sementara yang dipeluk semakin menenggelamkan wajahnya didada alan.
Tit. .Tit. .Tit
"Ugh." syafa menggeliat
"Tidur 10 menit lagi." alan yang merasakan syafa menggeliat memeluknya lagi dan bergumam untuk tidur 10 menit lagi.
"Apa. Daddy!?" teriak syafa yang terkejud karna dia tidur dalam pelukan alan.
Dag
Dig
Dug
wajah syafa memerah dan jantungnya juga berdetak sangat cepat, namun alan tak melepaskan pulukannya dan semakin mengeratkan.
"Kenapa kamu berisik dipagi hari." gerutu alan yang ikut membuka matanya dan menatap syafa.
Deg
Alan bergetar karna melihat syafa yang terlihat imut dengan wajah yang bersemu merah dengan mata bulat yang bening. Alan langsung melepaskan pelukannya dan dia langsung bangun.
"Cepat mandi, biar tak terlambat sekolah." ucap alan yang melangkah keluar dari kamar syafa.
"Gila. Kenapa aku bisa berdebar saat melihat wajahnya yang imut itu." alan melangkah kelantai atas dan masuk kedalam kamarnya dengan mengacak - acak rambutnya.