
Karna kata - kata Alan alea marah dan memintak agar Alan tak berkata sembarangan.
"Dia mau melahirkan dan membesarkan anak tanpa seorang ayah? Dia masih sekolah kak, masih berstatus sebagai seorang pelajar. Bisa apa anak kecil sepertinya? Yang hanya bisa mempermalukan keluarga saja." ucap alan yang membuat syafira tersentak dan sadar kalo dirinya di rumah itu hanya bersetatus anak angkat, dan tak punya hak untuk merusak serta mempermalukan keluar itu.
"Alan apa yang kau katakan?" alea tersentak dan terkejud dengan kalimat yang dilontarkan oleh alan.
"Aaah.!" alan berteriak frustasi.
"Ma - maaf, tolong maafkan Syafa, hiks." syafira berusaha mengeluarkan kata maaf pada alan.
"Katakan dan sebutkan siapa nama pria ber*ngs*k itu yang sudah menghamilimu, itu permintaan maaf yang benar.!" bentak alan pada syafira.
"Alan cukup.!" alea membentak alan, dan membewah syafira menjauh dari Alan.
"Bi tolong panggil tukang untuk memperbaiki pintu kamar itu." alan menyuruh bi aminah untuk mencarik tukan untuk memperbaiki pintu kamar syafira yang tadi didobrak sama alan.
"Baik tuan." bi aminah langsung keluar rumah memanggil tukang yang dekat dengan rumah alan.
"Sudah sayang jangan menangis lagi, cobak sekarang katakan sama mama. Apa Syafa punya seorang kekasih? Apa Syafa melakukan itu semua dengan kekasih Syafa? Katakan sayang, kami tidak akan memarahi kalian, kami akan memintak pada pria itu untuk bertanggung jawab dan menikah dengan kamu, kami akan merestui hubungan kalian berdua." alea membujuk syafira agar mau mengatakan siap pria yang telah membuatnya hamil.
"Ma maafkan Syafa, tapi syafa gak bisa bilang siapa dia ma, tolong maafkan Syafa ma." syafira tak berani mengatakan siapa orang yang telah membuat dia sampai hamil.
"Apa yang kau katakan.!" teriak alan mencekram bahu syafira, dan itu membuat syafira jadi semakin takut pada alan.
"Alan hentikan.!" alea berteriak balik pada alan yang bukannya membatu menyelesaikan masalah malah justru membuat syafira ketakutan.
"Sayang, mama sama daddy sangat menyayangi mu. Apa yang harus kami lakukan untuk membantumu.?" alea berkata dengan nada sangat putus asah.
"Sayang apa yang terjadi? Bibi bilang sedang ada masalah." oni menerobos masuk dengan panik setelah bertemu dan diberintau oleh bi aminah keadaan di rumah, saat mereka berpapasan didepan rumah oni.
"Kenapa Syafa menangis? Ada apa sayang?" oni mendekat dan memeluk syafira dengan erat.
Saat oni menatap alan yang begitu tak sabar berdiri dan mondar mandir dengan raut wajah garang, serta alea yang juga menangis dengan wajah sedih membuat oni bingung.
"Ayo ikut." alan menarik tangan syafira yang duduk di sofa untuk naik kekamarnya dan mengurung syafira di sana.
"Daddy, lepaskan Syafa? Mama..." syafira berjalan dengan melawan alan berpegangan pada pembatas tangga.
"Alan mau kau bawah kemana dia?" alea bertanya pada alan dan mengikuti alan.
"Kenapa sebenarnya, ada apa ini? Kenapa Alan semarah itu?" oni yang ikut berdiri dan mengikuti alea, menahan lengan alea.
Alan tak menjawab pertanyaan kakaknya, dia menggendong syafira keatas dan begitu sampai di kamarnya alan mengunci kamar itu dari luar.
"Tinggal di sana, kamu gak boleh keluar sampai kamu mau mengatakan siap pria itu. Dan semuanya dilarang membantu dia tanpa terkecuali. Itu adalah hukuman untuknya." ucap alan dan langsung turun meninggalkan alea dan juga oni yang berdiri didepan kamar alan.
Alan masuk kedalam ruang kerjanya dan memegangi kepalanya yang terasa sakit dan semakin berat.
"Sebenarnya apa yang terjadi sayang?" tanya oni pada alea yang dari tadi terus menghela nafas panjang.
"Nanti aku jelaskan, sekarang ayo kita pulang dulu." ajak alea pada oni suaminya.
Sementara didalam kamar alan syafira terus menangis sambil memegangi perutnya.
"Bagaimana aku bisa bilang, bagaimana bisa? Ah - hawaah." syafira menangis dan terus menangis.
"Maafkan aku Daddy tolong maafkan aku. Aku gak mau bikin Daddy susah, maaf." syafira meringkuk sambil memegang kedua lututnya.
"Aku akan pergi, iya aku harus pergi. Aku gak mau membuat semua orang susah, terutama Daddy. Aku gak mau membebani Daddy."
Syafira terus bergumam dan menagis sampai tak sadar kalo dia tertidur dilantai dengan posisi meringkuk disisi tempat tidur.
"Tuan, pintunya sudah selesai." bi aminah memberi tau alan yang masih duduk dikursi dalam ruang kerjanya.
"Iya bi makasih." ucap alan membuka pintu.
"Pak Alan sudah selesai." ucap pak tukang itu kepada alan.
"Iya, terima kasih ya pak." alan memberikan ongkos lebih pada pak tukang itu.
"Terima kasih pak Alan, saya permisi." pak tukang itu ijin pamit pada alan.
Alan tersenyum pada pak tukang itu dan dia berjalan keatas menuju kamarnya, tempat syafira dikurung.
Ceklek
"Hem, dimana dia?" gumam alan mencarik syafira yang tak terlihat diatas tempat tidur.
"Eh, kenapa dia tidur dilantai seperti ini? Apa dia menangis sampai kecapek-an dan tertidur." alan mengusap kepala syafira.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, apa kau tak tau kalo aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin menghukum mu dengan mengurung mu, aku hanya ingin tau siapa orang yang membuatmu seperti ini? Kenapa kau tak mengerti itu semua."
Alan mengangkat tubuh syafira dan menggendongnya turun untuk menidurkannya didalam kamarnya sendiri, karna pintu kamar yang tadi dirusak alan sudah diperbaiki.
"Kenapa tubuhnya begitu ringan padahal dia sedang hamil, apa dia makan dengan benar selama di asrama?" alan bergumam sambil meletakkan tubuh syafira ditempat tidur.
"Non Syafa, non? Ayo bangun makan dulu." bi aminah membangunkan syafira untuk menyuruhnya makan karna dari sore belum makan.
"Bibi, bibi." syafira bangun dan memeluk bi aminah serta menangis lagi.
"Sudah jangan nangis lagi ya? Ayo makan dulu biar gak lemas dan punya tenaga, non Syafa sudah tidur 3 jam lamanya. Ayo makan bibi bawakan makan kesukaan non Syafa ini." bujuk bi aminah pada syafira yang terus menangis.
"Syafa gak lapar bi, Syafa gak mau." ucap syafira yang merasa perutnya penuh.
"Makan, atau kau ingin hukumannya ku tambah jadi makin lama.!" alan yang berdiri diambang pintu dengan melipat kedua tangannya didepan dada berkata dengan nada dingin pada syafira untuk menyuruhnya makan.
"I - iya, baik." ucap syafira dengan suara yang bergetar.
Alan yang memperhatikan interaksi antara syafira dan bi aminah tau kalo tubuh syafira bergetar karna takut, namun karna rasa kesal didalam hati alan masih menguasai jadi alan tak peduli dengan itu semua.
Saat akan duduk di ruang kerjanya alea datang menghampiri Alan dan memperhatikan adik kesayangannya itu terlihat sangat lesu dan juga sangat putus asah.
"Lan? Mau sampai kapan kamu akan menghukum Syafa dan juga dirimu sendiri seperti ini?" alea bertanya dengan rasa khawatir melihat kondisi adiknya yang begitu terlihat menyedihkan.
"Haaaah, apa ini juga adalah hukuman untuk Alan. Karna aku telah merusak kehormatan seorang gadis yang aku tak tau siapa dia sampai sekarang." Alan menjawab denga rasa bersalah yang mendalam dalam hatinya.
"Kau ini bicara apa? Bukankah selama ini kamu sudah berusaha untuk mencari gadis itu?" alea mendekat dan duduk didepan Alan.
"Entalah kak, aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Haaaah," berkali kali Alan menghembuskan nafas dalam, seolah berusaha megusir rasa lelah dalam hatinya.
"Aku tau, semua akan selesai nanti, mari kita putuskan dan kita rundingkan setelah semua keluarga kita berkumpul. Kita tunggu Tante Merisca datang dari liburnya dulu." ucap alea memberi saran pada Alan dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Alan, dia seolah sudah tak ada tenaga lagi untuk berpendapat.
Alan bangun dari duduknya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang lewat panggilan telponnya.