
"Non sudah sampai." ucap supir talsi pada syafira yang melamun selama perjalanan.
"Ah, iya terima kasih ya pak, kbaliannya buat bapak saja saya buru - buru." ucapa Syafira yang langsung keluar dan berjalan dengan cepat.
"Iya terima kasih, hati - hati non." teriak supir taksi tersebut saat melihat syafira terburu - buru dan berjalan dengan cepat dalam keadaan himil.
Selama 30 menit perjalanan dari rah sakit akhirnya Syafira sampai disebuah setasiun kereta api, dia langsung masuk dan menuju keloket beli 1 tiket ke kota tujuan yang sudah dia rencanakan.
"Keberangkatan 10 menit lagi, silakan langsung masuk agar tak ketinggalan." ucap penjaga loket setelah menerima uang dari Syafira.
"Terima kasih." syafira berucap dan dia langsung masuk kesalah satu gerbong kereta itu.
Saat Syafira ingin menghubungi seseorang, dia melihat sudah ada sekitar 8 panggilan tak terjawab dari Alan, 4 dari Aditya, 6 dari alea. dan juga beberapa pesan singkat dari alan.
"Halo, saya sudah berada dalam kereta dengan kota tujuan saat ini, setelah ini saya akan menon aktifkan hanpon saya jadi tolong jemput saya disetasiun berikutnya." ucap syafira pada seseorang yang dia hubungi.
"Maafkan Syafa semuanya tolong maafkan Syafa, sekarang tak akan ada lagi orang yang membuat malu keluarga dan tak akan ada lagi beban untuk Daddy Al. Selamat tinggal." syafira berkata sambil memotong - motong kartu telponnya dan membuangnya.
Tuuuttt.
Suara bel kereta yang menandakan kerata akan segera berangkat. Syafira terus mengawasi kearah keluar jendela untuk melihat dan mengenang kota yang telah memberinya kenangan dalam hidupnya.
"Selamat tinggal Daddy, Syafa sangat menyayangi Daddy. Semoga Daddy bahagian dengan orang pilihan Daddy."
"Syafa akan membesarkan anak kita dengan baik, dia akan jadi jagoan dalam hidup Syafa dan juga kenangan terindah yang Daddy berikan."
"Kita akan pergi jau sayang, kamu jangan rewel ya?"
Syafira terus bicara dan mengelus perutnya, dia tak ingin menyesali semuanya dan juga tak ingin merepotkan semuanya. Dia ingin hidup mandiri bersama dengan buah hatinya.
Setelah 6 jam perjalanan dan membuat punggung Syafira sakit akhirnya dia sampai dikota tujuannya dan disambut oleh seseorang yang sangat dia kenal.
6 jam sebelumnya saat dirumah sakit.
"Syafa." Alan yang kembali dan tak mendapati keberadaan Syafira merasa panik dan juga bingung, Alan bertanya pada semua orang yang ada di rumah sakit namun tak ada seorang pun yang melihat syafira.
"Syafa dimana kamu?" Alan terus berputar keseluruh rumah sakit dan masih tak menemukannya, bahkan telponnya juga tak diangkat oleh syafira.
"Adit cari tau keberadaan Syafa, aku kehilangan dia saat di rumah sakit." Alan menghubungi Aditya untuk membantunya mencari Syafira.
Sudah 1 jam mereka mencari namun masih tak ditemukan tanda - tanda keberadaan Syafira.
"Kak, pantauan cctv mungkin dari sana kita bisa mengetahui keberadaannya." Adit menyarankan pada Alan yang sedari tadi tak kepikiran soal menilahat dari cctv.
"Kau benar aku akan kembali lagi kerumah sakit sekarang, terus hubungi nomor telponnya.
Alan kembali lagi kerumah sakit dan menuju ke ruang pantau cctv, setelah menjelaskan pada petugas Alan pun mendapat ijin melihat rekaman 1 jam kebelakang.
"Ketemu." seru Alan saat dia melihat syafira berjalan mengendap - endap lewat pintu samping rumah sakit.
Alan terus memperhatikan gerakan Syafira dan naik taksi didepan rumah sakit, Alan mencatat nomor plat nomor dari taksi tersebut.
"Dit dengarkan aku. apa?" suara Alan terkejud saat kalimatnya dipotong oleh Adit yang mengatakan kalo minor Syafira sempat aktif disebuah setasiun kerata api.
"Ok, aku akan langsung ke sana, dan kamu cari supir taksi dengan nomor plat mobil yang aku kirim ke kamau." ucap alan sebelum dia mematikan sambungan telpon dan melajukan mobilnya ke arah setasiun kereta api tempat Syafira turun dari taksi tadi.
"Kereta tujuan kota B akan segerah berangkat tolong untuk para penumpang harap naik semua kedalam kereta." suara peringatan dari pengeras suara disetasiun.
Tuuutt
Kereta pun berangkat meninggalkan setasiun menuju kota tujuan kota B.
Saat Alan dengan putus asah mencari dan keliling setasiun, di rumah alea yang mendapat kabar dari Aditya kalo Syafira kabur sibuk menghubungi dan juga mengirim pesan singkat pada Syafira dengan rasa khawatir.
"Kak aku sudah menemukan supir taksi itu dan sekarang aku sedang bersama dengan dia." ucap Adit dari telpon dan Alan tak menjawab dia langsung melajukan mobilnya ke tempat Adit berada.
"Adit." panggil Alan begitu dia sampai dan mendapati Adit, ndaru,. Bagas dsn juga seorang pria paruh baya.
"Apa bapak tak tau atau mendengar dia menghubungi siapa?" tanya alan dengan tak sabar.
"Maaf tuan, bapak tak melihat dia menghubungi siapa - siapa. Selama dalam taksi dia hanya diam melamun dan sesekali bicara sendiri pada perutnya.
Ingatan sang supir taksi.
"Sayang kita akan pergi jauh dan hidupa mandiri mulai sekarang, kamu harus bantu ibu ya agar mampu dan bisa menghadapi semua kedepannya."
"Ayo kita do'akan agar ayah kamu selalu bahagia dan mendapatkan orang yang baik. Ibu tak menyesal, ibu juga tak membenci ayahmu. Ibu hanya takut ketahuan karna ibu telah menyukai ayahmu dari awal bertemu dengannya."
"Ibu sangat mencintai ayahmu, dan kamu adalah hadiah terindah untuk ibu dari ayah."
"Nona sedang hamil? Nona mau pergi kemana dalam keadaan hamil begitu, dan kenapa harus menjauhi orang - orang terdekat nona?" supir taksi itu bertanya pada Syafira yang terlihat asyik bicara sendiri dengan perutnya yang buncit.
"Saya hanya ingin mandiri pak." jawab syafira dengan tersenyum.
"Mangnya nona mau pergi kemana? Apa ada kenalan di sana? Ibu hamil akan susah nanti kalo ada apa - apa pergi sendiri, apa lagi nona masih sangat muda." supir itu berkata dengan khawatir pada Syafira.
"Terima kasih atas kekhawatiran bapak, tapi saya sudah memutuskannya dan juga sudah bertekad bulat. Saya gak mau menyusahkan keluarga angkat saya lagi." jelas Syafira yang kekeh pada pilihannya, yang seolah sudah dia putuskan dengan matang.
"Ya bapak do'ain semua lancar dan hati - hatilah dijalan." ucap bapak supir taksi itu memberi do'a pada Syafira.
"Terima kasih pak." jawab syafira yang melamun lagi sampai tempat tujuan (setasiun kereta api).
Kembali ke saat Alan menanyai bapak supir taksi.
"Apa? Apa yang dia katakan. Syafaaaa.!" teriak Alan frustasi.
Alan merasakan rasa sakit yang sangat sakit dalam dadanya, terlebih saat dia teringat akan gambaran dari gerakan janin dalam monitor USG.
"Aaaaah.! Gadis bodoh.!" teriak Alan lagi mengacak - acak rambutnya dan terduduk dilantai dengan lemas.
Kembali pada Syafira yang sudah sampai di kita tujuannya.
"Haadjium." Syafira bersin tanpa Alan yang tiba - tiba saja hidungnya terasa gatal.
"Eh, kamu kenapa? Dingin ya, hahaha disini emang cuacanya dingin maklum kampung." jawab orang yang menjemput syafira.
"Gak kok mbak, tiba - tiba saja hidung Syaf gatal dan ingin bersin." Syafira menjawab dengan senang.
"Ayo kamu istirahat pasti capek banget kan ya, 6 jam cuma duduk saja apa lagi dalam keadaan hamil." ucap orang itu danbawah Syafira masuk kedalam rumah kecil.
"Lumayan mbak bikin punggung pegel dan juga paper." jawab syafira dengan tersenyum malu.
"Ok ok kita makan dulu, tadi aku sudah masak enak sayur rebung ikan teri sama sambal terasi." jelas wanita yang menjepit syafira.
"Maaf mbak tapi dari tadi kita bicara dan belum tau siapa nama mbak sebenarnya. Ku pikir mbak masih muda dan lebi muda dari ku karna dari telpon suara mbak sangat kecil seperti anak kecil." ucap syafira dengan tertunduk malu.
"Whahaha...Aku bisa jadi awat muda dong kalo gitu." jawab wanita itu dengan tertawa terbahak.
"Namaku Milky, ibu sudah menceritakan semuanya tentang mu pada ku, jadi kamu gak perlu khawatir aku akan menganggap kamu sebagai adikku karna aku juga gak punya saudara." jelas milky pada Syafira dan mereka berdua pun makan malam bersama.
"Terima kasih mbak Milky." ucap syafira pada milky dengan sungguh - sungguh.
"Gak papa, ayo kita istirahat sekarang. Besok pagi ku ajak kamu keliling kampung kalo gak capek." ucap milky dan mereka pun merebahkan tubuh mereka lalu terletak dengan sangat lelap.
Disisi lain Alan mengerahkan semua orangnya untuk mencarik Syafira di kota B tepat tujua Syafira yang didapat dari informasi petugas loket kereta api.
"Bagaimana pencarian kalian, apa sudah ada petunjuk tentang keberadaannya?" tanya alan pada bawahannya yang dia kirim untuk memimpin pencaraian di kota B melalui panggilan telpon.
"Maaf tuan, kami masih belum mendapatkan petunjuk apa pun di sini." jawab bawahan Alan pada pertanyaan Alan.
"Syafa kenapa ini jadi sebuah pencarian yang sulit. Aku hanya ingin menemukanmu." gumam Alan setelah memutuskan sambungan telpon.