
Setelah selesai permainan ngobrol bersama semua orang kembali kedalam kamar mereka masing - masing, tinggal Alan yang masih duduk mengerjakan sesuatu di laptopnya hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam.
"Lah, ya Allah kenapa aku tadi ngikuti mereka ngobrol sih, tau gitu kan aku pulang saja. Lupa kalau mereka punya kamar mereka masing - masing. Apa aku pesan juga saja ya, tapi nanggung sudah jam segini." Alan bergumam sambil berjalan di lorong mencari kamar Syafira.
"Cuma tidur saja aku rasa tak masalah." gumam Alan yang sudah berdiri didepan pintu kamar Syafira.
"Syafa." Alan mengetuk pintu kamar Syafira karena dia tak tau harus tidur dikamar siapa karena semua sudah ada pasangan sendiri - sendiri.
"Daddy?" Syafira terkejud begitu membuka pintu ternyata Alan yang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Maaf Daddy gak tau harus tidur dimana karena kalau pulang Daddy gak kuat karena ngantuk berat, dan kalau mau reservasi kamar nanggung banget." Alan mencari alasan agar bisa menginap bersama dengan Syafira.
"Papa, tidur sama Aga." Alga yang nongol langsung menarik tangan Alan untuk masuk kedalam kamar.
"Eh, sejak kapan dia terbangun?" Syafira bergumam dan Alan yang mendengar tersenyum menatap Syafira dan Alga.
"Ayo papa tidur di sini Aga uda ngantuk, tapi Aga mau pipis dulu." Alga lari kedalam kamar mandi dan Alan mengikutinya.
"Tempat tidurnya begitu besar, papa tidur di sini, mommy tidur di sini." Alga mengatur kedua orang tuanya dan Alan hanya menatap Syafira yang tertunduk diam.
"Ayo tidur." Alga yang ada ditengah langsung masuk kedalam pelukan Syafira saat Syafira berbaring dan Alan menatap dalam diam.
"Papa." Alga memanggil dan menarik tangan Alan untuk digenggamnya yang alhasil Alan memeluk Alga karena tangannya ditarik oleh Alga melingkar diperutnya.
"Deg." jantung Alan berdebar karena tangannya menyentuh perut Syafira walau masih terhalang oleh baju
Malam itu pun Alan bermalam bersama Syafira dan Alga, sesuai dengan permintaan Alga Alan tidur bersama dengan Syafira dan dirinya ditempat tidur yang sama. Alga terlihat sangat bahagia karena bisa tidur bersama dengan Alan dan Syafira.
"Selamat malam." ucap Syafira dan dia menutup matanya.
"Hem." jawab Alan bergumam dan ikut menutup matanya.
30 menit berlalu Syafira dan Alga telah masuk kedalam alam mimpi namun Alan tak bisa mengistirahatkan pikirannya, Alan sudah memaksanya dengan sangat keras namun tetap saja dia tak bisa. Alan menatap dua orang didepannya yang sudah tergelap, dan Alan tersenyum sendiri melihat pemandangan itu.
Perlahan Alan melepaskan tangannya yang digenggam oleh Alga lalu dia mengusap rambut Syafira yang menutupi sebagian wajahnya. "Kau sungguh sangat cantik sayang." gumam Alan dalam hati sambil tersenyum.
Perlahan Alan mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan di kening Syafira lalu di kepala Alga "Semoga kalian selalu bahagia untuk selamanya dan sehat - sehat selalu." gumam Alan setelahnya dan dia memilih untuk tidur di sofa karena kalau tidur di tempat yang sama Alan merasa tak akan bisa tidur.
Keesokan harinya semua sudah beres - beres untuk kembali pulang. Dan Alan sama Aditya langsung pergi ke kantor karena ada kerjaan. Sementara Ayunda dan sang suami langsung pergi untuk berbulan madu.
🌴🌴🌴
Di rumah Syafira, Alea dan Merisca semua sibuk membagi - bagi kue sisa acara untuk dibagikan ke tetangga. Dan setelah seharian mereka bertiga menyibukkan diri akhirnya mereka pada pulang dan tinggal Syafira dan bi Aminah yang membereskan sisa kotoran kertas dan plastik pembungkus kue tadi.
"Sudah non sisanya biar bibi yang bereskan non Syaf mandi saja dulu ini sudah masuk waktu Asyar." ucap bi Inah pada Syafira.
"Baiklah kalau begitu mohon bantuannya ya bis, Syafa tinggal dulu." Syafira langsung masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan solat.
"Bibi Aga mau makan lapar, mommy mana?" teriak Alga yang masuk kedalam rumah dan mencari Syafira.
"Mama masih solat, tuan kecilnya bibi mau makan sekarang? Bibi siapkan." bi Aminah mau menyiapkan makanan untuk Alga.
"Bibi, bibikan seumuran sama nenek Damiyah jadi bibi jangan panggil tuan kecil, panggilnya Aga saja. Karena Aga lebih suka dipanggil nama Aga dari pada tuan kecil." protes Alga pada bi Aminah.
"Yang dikatakan oleh Alga benar bi, lebih baik mulai dari sekarang jangan ada panggilan non dan tuan tapi panggil nama saja biar lebih akrap dan lebih dekat." Syafira yang baru keluar dari kamarnya juga membenarkan ucapan Alga putranya.
"Eh, kok begitu non? Bibi gak enak kalau cuma memanggil dengan nama saja." ucap bi Aminah menolak.
"Kalau begitu bagaimana kalau dengan neng atau mbak? Karena Syafa juga lebih suka begitu dari pada non bi." ucap Syafira tersenyum menatap bi Aminah.
"Iya Aga juga mau dipanggil neng Aga." celetuk Alga dan itu membuat Syafira sama bi Aminah tertawa bersamaan.
"Kalau kamu itu yang benar Abang atau mas bawelnya mama." Syafira mencubit kedua pipi Alga dengan gemas.
"Iya, iya. Kalau begitu apa dong mam? tanya Alga bingung.
"Bibi panggil mas Alga saja bagaimana?" tanya bi Aminah sambil menyerahkan semangkuk sup ayah dihadapan Alga.
"Iya, neng bibi." jawab Alga dengan senyum polosnya.
"Duh menggemaskan sekali." bi Aminah ikut mencubit pipi Alga.
"Sudah makan habis itu mandi." ucap Syafira dan pergi ke belakang untuk setrika baju.
Sore harinya saat Alan pulang keadaan rumah sepi hanya ada Alga yang sedang duduk nonton serial di tv acara kesukaannya, sedangkan orang rumah pada sibuk beres - beres setelah acara tahlilan untuk acara Ayunda di rumah Alea.
"Makan apa makan apa anak papa?" tanya Alan berjalan mendekati Alga.
"Buah potong, papa mau?" Alga menyodorkan kotak buahnya pada Alan.
"Tidak, kemana semua orang?" Alan melihat sekitar
"Mereka semua di rumah nenek Lea ada acara ngaji, nanti mama juga pulang." jawab Alga sambil makan buahnya.
"Baiklah, papa mandi dulu." Alan berdiri dan meninggalkan Alga.
Saat Alan selesai mandi dan turun tangga Syafira yang baru datang membawa setumpuk seprei dan bedcover tak melihat Alan turun sedangkan Alan yang ada diatas tangga menepi agar tak tertabrak oleh Syafira yang mau naik.
"Hati - hati, sini aku bantuin." ucap Alan dan mencobak membantu Syafira.
"Iya makasih." jawab Syafira.
Saat Alan mengambil setengah dari bedcover Syafira malah tersandung tangga saat mau naik dan jatuh menimpah Alan. Alhasil Alan yang menghadap Syafira jatuh tertimpa oleh tubuh syafira dan tangan Syafira memegang ke daerah terlarang milik Alan yang tak seharusnya dia pegang.
"Ah, tangan mu." ucap Alan yang sudah mulai merah, hitam wajahnya karena menahan sesuatu yang dengan sepontan langsung berdiri.
"Ah, maaf." Syafira langsung mengangkat tangannya dan mau berdiri tapi dia oleng lagi dan terjatuh lagi sehingga mencium leher Alan.
"Uh." suara Alan terkejut mendapatkan serangan dua kali dari Syafira.
"Tenanglah, biarkan aku yang membantumu untuk bangun." Alan memegang bahu syafira dan mendorongnya pelan untuk duduk.
"Ma-maaf kan Syafa." Syafira menunduk meminta maaf dengan malu.
Alan tersenyum menatap wajah Syafira yang malu dan meminta maaf dengan sangat menyesal, "Harus ku apakan bocah ini." gumam Alan dalam hati.
"Tak apa lain kali harus hati - hati, karena jika tidak akan menimpah orang lain bisa bahaya." bisik Alan lalu bangun dan mengambil seprei serta bedcover yang jatuh berserakan.
"Mau dibawah kemana ini?" tanya Alan pada Syafira yang masih duduk bengong.
"Dikamar tamu atas dekat." jawab Syafira setelahnya dan mengikuti Alan.
Setelah meletakkan semuanya didalam kamar syafira kembali kebawah dengan berlari terburu - buru, Alan yang melihat merasa lucu setelah itu Alan tersenyum dan memegangi dadanya.
"Dia sangat menggemaskan, dan tubuh ku bereaksi dengan sangat cepat padanya." gumam Alan pelan.
"Apakah aku menyukainya? Atau ini reaksi karena aku pernah melihatnya menari dengan menggunakan baju yang seksi, tidak mungkin aku melihatnya seperti seorang wanita, karena dia adalah putri kecilku." Alan bergumam terus sambil berjalan turun.