Baby I Love You

Baby I Love You
Gadis Impian



Suara Syafira sangat merdu, selama ini Syafira hanya bernyanyi untuk dirinya sendiri dan dia lebih fokus pada tarian karena dia mengajar tari. Saat ini banyak dari semua pengunjung kafe sangat mengagumi suara Syafira yang merdu bahkan Alan juga jadi bernostalgia.


"Mama hebat." teriak Alga dan hal itu membuat Alan jadi teringat akan dirinya dulu.


"Dia benar - benar luar biasa, dan bocah ini hangat mirip dengan ku." Alan jadi sentimentil dia menatap Syafira yang sedang bernyanyi dan membayangkan akan masa kecilnya yang selalu diajak oleh Adinda setiap kali mengisi lagu di kafe ini. Alan seolah melihat bayangan keluarganya dulu, saat itu Adinda bernyanyi dengan merdu dan Alea berdiri disisi adinda serta Mexca yang tersenyum menatap Adinda sementara dirinya selalu berteriak kalau mamanya hebat seperti yang dilakukan oleh Alga saat ini. Hal itu membuat Alan jadi menitipkan air matanya dan dia jadi semakin cinta serta pada Syafira yang telah mampu untuk membangkitkan akan kenangan masa lalunya dan memberikan kedamaian akan rasa rindunya pada sang mama yang begitu dia sayangi.


"Selamat datang Bu, ada pak Alan menunggu ibu dari tadi." ucap pegawai kafe pada Alea saat melihat Alea datang dan masuk dalam kafe.


"Iya." Alea menjawab dengan tersenyum "dia?" Alea menatap Syafira yang sedang bernyanyi dengan permainan gitar, hal itu pun membuat Alea bergetar, suara Syafira yang merdu membuat dirinya teringat akan Adinda juga sama dengan apa yang dirasakan oleh Alan saat ini.


"Dia adalah orang yang dibawah oleh pak Alan Bu." jawab pegawai Alea.


"Aku tau." Alea menatap Alan dan Alga lalu dia tersenyum "Memang anak tak akan jauh beda dengan papanya, lihatlah saat ini Alan sangat mirip dengan papa Mex dulu yang selalu menatap bunda dengan tatapan penuh cinta, dan Alga sama persis dengan dirinya waktu kecil yang selalu teriak - teriak." Alea berjalan mendekati meja Alan dan duduk dengan tenang tanpa disadari oleh Alan.


"Bunda, apa bunda yang mengirimkan Syafa untuk kami, terlebih lagi untuk Alan. Karena dia telah mampu membuat seorang Alan yang dingin dan kaku sejak kepergian bunda dan papa jadi memiliki tatapan yang lembut dan penuh kasih sayang seperti saat ini." Gumam Alea dalam hati dan tersenyum menatap Alan yang terlihat terpukau pada penampilan syafira saat ini.


"Wah dia sungguh sangat luar biasa ya, siapa dia sebenarnya aku tak pernah melihatnya sebelumnya." suara seorang pemuda yang lagi membicarakan Syafira mengusik ketenangan Alan.


"Benar dia sangat cantik dan permainannya juga bagus, bahkan suaranya sangat merdu. Aku jadi ingin mengenal dia." teman dari pemuda itu pun ikut menimpali.


Mendengar kata - kata pujian untuk Syafira yang dilakukan oleh beberapa pemuda membuat Alan tersadar akan lamunannya dan dia melihat kearah sumber suara.


"Dia adalah tipeku." pemuda 2


"Kau ini tak pernah bisa melihat barang bening ya, selalu menganggap kalau itu tipe mu." pemuda 1


"Tapi dia memang benar - benar sangat cantik dan juga luar biasa." pemuda 3


"Ya, ya kalian benar. Aku juga mau kalau diajak kenalan dia sangat keluar biasa dan suaranya juga sangat merdu, bahkan permainan gitarnya juga sangat bagus. Dia bagaikan gadis impian." pemuda 4


Alan mengepalkan tangannya dan ingin sekali segerah menarik Syafira turun dari podium dan memeluknya dengan erat serta meneriakkan kalau itu adalah istrinya, istri yang paling dia cintai dan sayangi di dunia ini dan tiada duanya.


"Bocah - bocah ini tidak bisa diam." geram Alan dengan kesal.


"Hey, kau sama persis seperti papa. Dan kakak gak pernah menyangka kalau Syafa bisa bernyanyi dan bermain gitar." Alea memegang tangan Alan dan berkata untuk menyadarkan Alan dari emosinya.


"Kak, apa kakak dari tadi di sini?" Alan bertanya dan tersenyum pada Alea.


"Ya, kakak dari tadi di sini dan kakak melihat mu seperti sedang bernostalgia." Alea menjawab dengan senyuman.


"Dia mengingatkan aku akan masa kecil kita dulu, tadinya aku hanya bergurau dan tak taunya dia malah memberiku kejutan dengan tampilannya yang membuat aku teringat akan mama. Alan ingin segerah meresmikan pernikahan Alan dengannya kak dan mengumumkannya ke seluruh kota bahwa dia adalah istri Alan." Alan berkata dengan sangat bersemangat.


"Ya, rundingkan semuanya dengan Syafa. Kalau memang harus mempublikasikan hubungan pernikahan kalian." Alea menjawab dengan penuh pengertian karena Alea tau kalau adiknya ini sangat mencintai Syafira anak angkatnya sendiri terlebih lagi Syafira selalu membuat Alan teringat akan Adinda bunda mereka berdua yang pergi begitu cepat.


"Ya ampun aku jadi makin tertarik loh sama gadis itu, dia sungguh benar - benar tipe ku." Pemuda 2 terus saja mengatakan kalau Syafira adalah tipenya.


"Anak - anak itu berisik sekali." kesal Alan mendengarkan omongan ke 4 pemuda yang duduk tak jauh dari meja Alan.


"Kau ini sama saja dengan papa selalu marah tiap kali ada orang yang memuji bunda." Alea berkata dengan tersenyum geli pada Alan.


"Siapa, aku? Kakak jangan sembarangan, bagian mana aku yang sama dengan papa. Kalau papa mah dia terlalu bucin sama mama." Alan mengelak kata - kata Alea.


"Kau pikir, kau saat ini tidak? Apa perlu kakak ambilkan cermin untuk mu mengaca hah?" Alea meledek Alan.


"Hey, hey dia kemari." Pemuda 1 berkata dan ketiga temannya sangat ingin berkenalan dengan Syafira.


Seketika Alan langsung berdiri saat mendengar para pemuda itu bilang kalau Syafira berjalan menuju mereka, "Sayang apa kau lelah? Kau pasti hauskan ayo sini." Alan merangkul Syafira berjalan menuju meja mereka.


Syafira yang mendapatkan perlakuan dan panggilan sayang dari Alan langsung memerah wajahnya dan jadi salah tingkah. Terlebih lagi Alan merangkulnya dengan sangat posesif seolah dia menunjukkan kalau Syafira adalah miliknya pada ke 4 pemuda yang dari tadi ngomongin Syafira.


"Da-daddy kenapa? Mama Lea" Syafira langsung mengalihkan situasi yang bikin canggung dengan memanggil Alea yang sedang duduk dimeja mereka.


"Kamu menyanyi dengan sangat bagus sayang, mama gak nyangka kalau kamu bisa bernyanyi." Alea menyambut Syafira dengan hangat.


"Iya, waktu bersih - bersih rumah kakek om Faris menunjukkan sebuah gitar dan Syafa bernyanyi disana." Syafira menjawab dengan senyum malu - malu.


"Oh itu keluarganya, pasti itu mama dan Daddy-nya. Tadi kalian dengarkan dia memanggilnya Daddy dan mama." Pemuda 1


"Mereka begitu berisik ya." gumam Alan dalam hati.


"Ayo solat dulu, kalian mau kemana habis ini?" Alea bertanya dan berinisiatif mengajak Alan dan Syafira masuk untuk solat, karena Alan sudah terlihat sangat kesal.


"Baiklah, kami masih ada urusan lain kalau boleh kami mau menitipkan si kecil pada kakak." Alan berkata dan memeluk Syafira


"Eh, memang kita mau kemana?" Syafira bertanya dan menatap Alan.


Alan tersenyum dan langsung mengecup bibir dan mencium pipi Syafira dan Alan melakukannya dengan sengaja untuk menunjukkan kepada 4 pemuda yang dari tadi mengawasi dan terus ngomongin omong kosong soal Syafira.


"Eh, Daddy." Syafira menunduk malu dan Alea tersenyum


"Tak perlu malu, bukankah Daddy sudah pernah bilang kalau mulai saat itu dan seterusnya kau harus terbiasa dengan semuanya. Dan nanti kita akan bermalam berdua saja." Alan membisikkan kata - kata pada Syafira dan hal itu membuat telinga Syafira memerah karena malu dan juga senang.


"Baiklah ayo masuk dulu." Alea membawah Alga dan Alan sama Syafira mengikuti dari belakang, dengan tak lupa Alan memeluk pinggang Syafira.