
"Kak sebenarnya bagaimana ceritanya? Kenapa ini semua bisa terjadi?" adit yang baru datang dan baru tau kabarnya setelah alan tak masuk kantor dan menyuruh Adit untuk mengurus surat perpindahan syafira ke sekolah lain.
"Kau baru datang dan baru bertanya apa yang terjadi, setelah semuanya jadi seperti ini? Harusnya aku yang tanya padamu, bagaimana caramu mendidiknya selama ini hingga semua ini bisa terjadi sampai seperti ini." ucap alan dengan dingin.
"Maaf kak aku tak pernah mengajarkan hal yang buruk selama kakak tak ada." ucap adit tertunduk karna merasa telah gagal dalam mendidik syafira.
"Sudah kalian jangan saling menyalakan, Ayu bilang selama di asrama Syafa tak pernah keluar sekali pun, dan mereka selalu bersama setiap saat." alea menengahi.
"Benar Daddy, kami selalu bersama - sama kemana pun kami pergi. Dan saat bimbingan sekolah juga Syafa bareng sama Anisa." ayunda menjelaskan semuanya selama mereka tinggal di asrama selama ini.
"Itu artinya dia telah hamil saat dia masuk ke asrama, usia kehamilannya sekarang memasuki bulan ke 4, sedangkan dia di asrama baru 3 bulan." jelas Ndaru yang juga berkumpul dinrumah alan untuk mencarik solusi.
"Benar yang dikatakan oleh Ndaru, itu artinya Syafa telah hamil 1 bulan saat dia masuk ke asrama." merisca menimpali.
"Tapi ma waktu saya ke asrama 2 bulan lalu Syafa dalam masa datang bulan." Sandra menjelaskan saat dia datang waktu mihat syafira sakit.
"Iya benar." ayunda menimpali.
Mendengar semua orang saling berpendapat alan merasa pusing, dia memegangi kepalanya dengan erat karna tak tau apa yang harus dia lakukan.
"Sekarang bagaimana? Tidak mungkin dia hamil dan melahirkan anaknya tanpa seorang ayah." adit merasa ibah dan sedih.
Mendengar semua itu semua orang terdiam dan bingung karna tak ada jawaban, dan syafira tak mau menyebutkan siapa orang yang telah membuatnya hamil.
"Apa kita menjodohkannya saja." adit mencobak memberi saran.
"Kau jangan sembarangan Dit, dimana akan ada keluarga yang mau menerima anak gadis yang sudah hamil menjadi menantunya?." kesal alan seketika.
"Benar juga, kalo dirahasiakan juga gak akan bisa karna kehamilan Syafa sudah berusia 4 bulan yang sebentar lagi akan lahir" Adit bergumam dengan pelan dan penuh rasa sesal.
"Bagaimana jika sementara kau yang menikahinya Lan?" alea memberi saran karna alea tau alan menyukai syafira
"Kak, ini bukan saatnya seperti itu." alan menolak saran dari alea.
"Menurut tante juga itu yang terbaik Lan, karna yang harus kita pikirkan sekarang adalah Syafa, supaya saat dia lahiran nanti setidaknya ada suami disisinya, kalian menikah secara siri jasa dulu. Sambil mencarik orang yang telah menodainya." merisca menyetujui saran dari alea dan juga menyarankan alan untuk menikah siri sama syafira.
Alan terdiam mendengar pendapat orang terdekatnya, lebih - lebih semua saudaranya menyetujui saran tersebut. Karna yang lebih dekat dengan syafira hanya aditya dan alan, sementara aditya sudah bertunangan dengan Sandra, jadi tinggal alan yang masih sendiri.
Mereka berfikir mungkin dengan pendekatan dan rasa aman yang didapat oleh syafira dengan dukungan alan yang menjadi suaminya syafira bisa pelan - pelan berkata jujur dan cerita yang sebenarnya.
Setelah melalui perundingan dan saran - saran dari semua keluarganya, akhirnya alan menyetujui usulan mereka untuk menikah secara siri dengan syafira.
Setelah persiapan selama 3 minggu akhirnya hari dimana akan dilangsungkan pernikahan siri alan dan syafira dilaksanakan, yang hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan tetangga terdekat saja tanpa ada undangan yang besar.
"Syafa, kamu baik - baik saja kan? Apakah masih mual muntah?" ayunda bertanya pada syafira yang duduk ditepi tempat tidur dengan pakean kebayak.
"Kak, Syafa takut. Syafa gak mau membunuh anak Syafa kak, dia sudah bergerak - gerak didalam perut Syafa. Hiks." syafira menangis dengan memegang perutnya.
"Tak ada yang akan membunuh anak mu Syafa." ayunda berkata dan juga ikut memegang perut syafira.
"Tapi Daddy bilang Syafa harus menggugurkan kandungan Syafa, sekarang daddy menikahi Syafa pasti untuk menggugurkannya, Syafa gak mau kak?" syafira menangis dan tubuhnya bergetar hebat.
"Tidak akan." ayunda memeluk syafira.
Setelah 1 minggu acara pernikahan siri alan dan juga syafira ini dilaksanakan dikediaman Alan, yang dihadiri oleh keluarga saja dan beberapa tetangga dekat sebagai saksi.
"Bagaimana nak Alan apa sudah siap? Kalo sudah acaranya kita mulai sekarang." ucap Mudin yang akan menikahkan alan dan syafira.
"Sudah pak, kita mulai sekarang saja." ucap alan tegas.
'Baiklah nak Alan, saya nikahkan dan kawinkan Alan Putra Prayoga Abigail dengan Syafira Putri Pertiwi binti Yoni Andika Saputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap pak Mudin.
"Saya terima nikah dan kawinnya Syafira Putri Pertiwi binti Yoni Andika Saputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap alan dengan sekali tarikan nafas tanpa ada salah satu kata pun.
"Bagaimana saksi, sah?" ucap pak Mudin setelah Alan menyelesaikan kalimatnya.
"Sah." ucap para saksi dan keluarga yang hadir.
"Alhamdulillah, alfatiha." ucap pak Mudin dan memberikan do'a untuk acara pernikahan alan tersebut.
"Alham dulillah akhirnya selesai juga" alea berucap dengan nada lengah.
Sementara didalam kamar syafira yang ditemani oleh ayunda tak mau keluar, karna takut sama alan.
Seminggu berlalu setelah pernikahan siri alan dan juga syafira, dan Aditya yang mengatur perpindahan sekolah syafira demi merahasiakan soal kehamilannya juga telah selesai. Kini hanya menunggu syafira lahiran dan memulai sekolah yang baru lagi.
...🌴🌴🌴...
"Non Syafa tak papa kan? Apa ada yang tak enak dengan perut non Syafa, apa mau istirahat dulu?" tanya bi aminah khawatir pada syafira yang tapi pagi memaksa mau ikut pergi ke pasar.
"Ndak papa kok bi, Syafa masih kuat untuk jalan. Syafa suka berjalan - jalan begini dari pada di rumah terus." syafira menjawab bi Aminah dengan sangat senang.
"Syukurlah, nanti kalo lelah dan mau istirahat bilang sama bibi ya non." ucap bi Aminah lagi
"Iya bi." syafira tersenyum sangat bahagia, setelah dikurung selama 1 bulan.
"Ayo lanjut belanja lagi" syafira menarik tangan bi Aminah untuk masuk ke dlam pasar tradisional lagi untuk membeli kebutuhan rumah yang sudah habis.
"Bi kita beli itu dulu yuk, Syafa ingin beli." tunjuk syafira pada penjual cilok yang mangkal dipinggir jalan.
"Non Syafa ingin makan itu?" tanya bi Aminah yang merasa kasihan pada syafira yang begitu terlihat takut saat di rumah dan begitu senang saat di luar rumah.
"Non Syafa duduk di sini saja ya, biar bibi yang belikan." ucap bi aminah namun ditahan oleh syafira, karna dia ingin beli sendiri dan dimakan langsung tanpa plastik.
"Jangan bi, biar Syafa beli sendiri karna Syafa ingin makan langsung disundul langsung dari tempatnya" ucap syafira dan langsung melesat mendekati bakul cilok itu.
"Memang masih kecil ya, siapa orang yang tegah membuatnya hamil sampai tak berani menyebutkan siapa dirinya. Semoga saja non Syafa selalu bahagia untuk selanjutnya" gumam bi Aminah tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah syafira.
...🌴🌴🌴...
Setelah sampai di rumah syafira langsung mandi dan tiduran di kamar bi aminah karna dia merasa lelah dan juga ingin merasakan dinginnya kipas angin, padahal itu semua hanyalah alasan karna syafira tak ingin lagi menempati kamarnya lagi karna dia berencana akan pergi meninggalkan rumah itu.
"Dimana Syafa bi? Di kamarnya tak ada." tanya alan saat dia baru pulang kerja dan tak mendapati syafira di kamarnya.
"Oh, ada di kamar bibi dari tadi siang" jawab bi Aminah pada pertanyaan Alan.
Alan langsung berjalan ke kamar bi Aminah, dan ternyata syafira sudah terlelap dengan sangat pulas diranjang bi Aminah.
"Kenapa anak ini selalu tidur dikamar orang lain." gumam Alan yang langsung mengangkat tubuh syafira dan memindahkannya kedalam kamarnya sendiri.
"Selamat malam, selamat istirahat." ucap alan menyelimuti tubuh syafira.
Cup
Alan mengecup kening syafira lalu pergi keluar meninggalkan kamar syafira, dan mematikan lampu kamar.