
Setelah alan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada tuan nanang dan juga tuan sugeng, dia pun meninggalkan panggung dengan wajah yang sangat puas dan bahagia.
"Tuan Alan selamat atas kemenangannya, aku tak menyangka kalo tuan Nanang dan juga tuan Sugeng ternyata berada dipihak anda." ucap seseorang yang merupakan pebisnis juga yang datang hanya untuk melihat - lihat acara malam itu.
"Ya ya selamat tuan Alan, semoga anda akan semakin jaya nantinya." ucap orang yang lain lagi.
Alan menyalami semua orang yang datang mendekat untuk mengucapkan selamat pada alan dan juga sekutu alan, yaitu tuan sugeng dan nanang.
Acara malam itu berakhir dengan kemenangan yang telah didapatkan oleh alan dengan bantuan kedua sekutunya yang tak ada seorang pun terpikir akan hal itu.
Sementa ditempat itu selain orang - orang yang ikut berbahagia bersama dengan kemenangan alan, juga ada orang yang merasa tak puas dan tak suka dengan apa yang dicapai oleh alan.
...🌴🌴🌴...
"Sial - sial.! Bagaimana bisa semuanya meleset dari yang sudah ku rencanakan." gerutu daren dengan sangat kesal di rumahnya.
"Alan. Haaaah.!" teriak daren dengan sangat kesal.
Brak
Piyaaarr
Daren membanting vas bunga yang ada di ruang kerjanya dengan sangat kesal dan penuh dengan amarah.
"Tunggu, laporan dari anak buahku tak mungkin salah. Atau jangan - jangan Alan sengaja melakukannya dan mengelabuhi aku." daren berfikir dan berusaha mengingat apa yang telah dilaporkan oleh anak buahnya yang melakukan pertukaran pegawe.
"Sial, rupanya dari awal dia sudah tau dan telah mempermainkan aku." gumam daren dengan terus berfikir dalam dengan apa yang telah terjadi.
"Aku akan membalasmu, apa yang telah dan sudah kamu lakukan padaku hari ini akan ku balikkan pada mu suatu hari nanti." daren bertekad akan membalas perbuatan alan yang telah menipunya dengan informasi palsu.
...🌴🌴🌴...
"Baiklah tuan Alan, aku akan menyerahkan semuanya pada putraku. Dan ku harap anda bisa dan mau membimbing dia agar bisa jadi seperti anda." ucap tuan sugeng pada alan saat mereka telah berkumpul lagi di cafe alan untuk merayakan kenangan alan.
"Tuan Sugeng, anda sudah seperti ayah bagi saya. Jadi anda bisa memanggil saya cukup dengan nama saja." ucap alan dengan ramah dan penuh senyuman.
"Papa jangan meremehkan kemampuan ku ya. Bisakah papa sedikit percaya dan mendukung ku." Dandi menggerutu pada papanya yang selalu saja tak percaya dengan kemampuannya menangani perusahaan.
Malam itu acara terlihat sangat meriah walo hanya dihadirin oleh beberpa sahabat alan dan juga dua orang sekutunya.
...🌴🌴🌴...
"Wah - wah cobak lihat siapa ini, selamat ya kau telah memenangkan dan mendapatkan apa yang kamu inginkan." sambut oni pada alan yang teihat baru datang dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Hem, kak Oni pulang juga. Bagaimana urusannya apa sudah selesai?" tanya alan pada oni yang beberpa minggu ini sibuk dengan cabang restorannya yang ada diluar kota.
"Ya, semuanya berjalan dengan lancar. Sekali lagi selamat ya kau hebat." oni kembali mengucapkan selamat saat mereka telah sampai dan duduk di ruang tengah.
"Hem, ya terima kasih. Tapi semuanya ini sungguh sangat melelahkan bagi ku." alan menjawab dengan menaruk kepalanya disandaran sofa sambil menutup mata.
"Ya, kau harus mencari pendamping yang bisa membantumu meringankan sedikit rasa lelahmu." oni menepuk bahu alan dengan memunculkan semyuman.
"Aku dengar kamu terlibat masalah beberapa bulan yang lalu. Apa kau mau bertanggung jawab dengan menikahi dia jika orangnya sudah ketemu?" oni bertanya dengan rasa cemas dihatinya.
"Tenang saja nanti pasti alan ada titik terang." oni memberi semangat pada alan.
"OK, kau istirahat saja sekarang. Aku balik dulu, aku datang karna ingin mengucapkan selamat padamu." ucap oni bangkit dan meninggalkan alan sendiri lagi.
"Hem, rumah ini begitu sepi. Apa emang sesepi ini sejak dulu?" alan berjalan sambil bergumam sendiri.
"Syafa." alan merebahkan tubuhnya diranjang syafira dan akhirnya tertidur tanpa melepas Jas dan juga tak mandi.
Tit ***** tit
Suara alarm dari handphon alan berbunyi membangunkan sang majikan yang sedang tertidur lelap.
"Kenapa sudah subuh saja." gumam alan saat dia mematikan alarm dan melihat waktu yang tercantum dilayar handphonnya.
Alan bangun dan terduduk dengan lunglai seolah tak ada tenaga untuk bangkit dari tempat tidur.
"Ya, aku tidur tanpa melepas semuanya. Aaaaahh.! Aku benar - benar capek."
Setelah meregangkan tubuhnya dan mengongkek kepalanya kekiri dan kanan alan pun bangun menuju kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya dan melaksanakan perintah agamanya (sholat subuh).
"Pagi tuan Alan, mau disiapkan sarapan apa pagi ini?" bi aminah bertanya saat dia melihat alan berjalan menuruni tangga dengan baju kaos dan terening.
"Tidak usah bi, nanti saya nyari sarapan diluar saja. Bibi masak untuk bibi sendiri saja." jawab alan dan dia langsung keluar rumah untuk lari pagi.
...🌴🌴🌴...
"Selamat pagi bos saya akan membacakan jadwal untuk hari ini." ninis yang melihat bosnya datang langsung mengikutinya masuk kedalam ruangan dan membacakan kegiatan yang akan dan harus dilakukan alan dalam seharian ini.
"Nis, tolong pesankan aku sarapan dan yang ada sayuran serta jusnya ya, sekarang." perintah alan pada ninis sekretarisnya begitu ninis selesai membacakan jadwal dia hari ini.
"Baik bos, saya pamit dulu." ucap ninis dan pergi keluar dari ruangan alan serta langsung memesankan makanan untuk sarapan alan.
Kegiatan yang dilakukan oleh alan pun diselesaikan semuanya dengan baik, dan adit yang ada di lokasi pembangunan juga telah melaksanakan semua pekerjaannya dengan baik.
Brrrt
Handphon alan siang itu sudah bergetar berkali - kali dan karna alan sibuk dengan segala urusan soal pembangunan hotel baru dan juga apartemen membuat dia kadang tak membawah handphonnya, begitu juga dengan adit.
"Maaf bos dari tadi handphon bos terus bergetar dan saat saya lihat dari nomor yang selalu sama, sepertinya ada hal penting." ninis yang mengetahui pun berinisiatif menyerahkan handphon alan yang dari tadi bergetar tanpa henti diatas meja kerja alan.
"Iya baiklah, terima kasih." ucap alan menerima handphonnya namun tak langsung mengangkatnya karna dia masih sibuk dengan pengamatan pembangunan dari gambar arsitek yang dijelaskan oleh sang arsitek.
Setelah selesai dan dia kembali ke mejanya dan duduk dikursinya, alan langsung menghubungi balik nomor yang dari tadi menguhungi dia, ada sekitar 6 panggilan tak terjawab.
"Apa? Baiklah saya akan kesana sore ini. Terima kasih atas infonya." ucap alan setelah sambungan telephonnya tersambung.
"Siapa kak?" tanya adit yang merasa ada yang aneh dengan raut wajah alan setelah dia mematikan sambungan telephonnya.
"Ibu asrama Syafa, dia memintak aku untuk kesana karna ada kabar yang mengejudkan yang harus disampaikan, dan tak bisa dibicarakan dari telephon." jelas alan pada adit dengan perasaan cemas yang terlihat jelas diwajah alan.