
"Bi, bibi masak apa? Aku mau dimasakin masakan khas kampung halaman bibi dong, karna habis ini aku akan tinggal di asrama dan akan jarang makan masakan bibi."
Syafa yang membantu bi aminah masak di dapur tak sadar kalo aktifitasnya diperhatikan oleh alan yang baru datang dari lari pagi.
"Duh non Syafa ini bisa saja, kan nanti kalo liburan bisa pulang non terus kita masak - masak lagi bersama." ucap bi amina pada syafira yang terus merengek mintak dimasakin daging rendang.
"Ah, bibi ini. Syafa gak mau sering - sering pulang, Syafa mau menenangkan diri di sana." ucap syafira sambil memonyongin bibirnya.
Deg
Alan yang mendengar ucapan syafira terkejud, dan dia merasa kalo asrama hanyalah sebuah alasan saja, yang sebenarnya dia ingin menghindari dan menutupi sesuatu.
Alan menghentikan langkahnya untuk naik kekamarnya, dia berputar dan melihat syafira yang sibuk dan mengobrol dengan bi aminah sambil masak.
Alan ingin memastikan soal perasaannya terhadap syafira yang terkesan selalu menghindarinya dan menjahui alan dengan berbagai alasan, termasuk saat ini yang dia ingin tinggal di asrama dengan alasan ingin lebih fokus dalam belajar.
"Biarkan saja mungkin dia punya ceritanya sendiri, aku gak mungkin menarik kata - kata ku sendiri setelah bilang menyetujui dia untuk tinggal di asrama." alan bergumam sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya.
...🌴🌴🌴...
"Tuan Daren data pemasaran untuk bulan ini sepertinya kita telah kalah lagi dari perusahaan Antariksa Sauntatik Howl." asisten daren menginfokan.
"Si Alan benar - benar tak mau mengalah rupanya." berkata sambil berfikir dikursi kebesarannya.
"Apa kita tak bisa menempatkan orang kita di sana?" bertanya pada asistennya dengan nada serius.
"Maaf tuan, di sana tidak ada celah sama sekali. Keamanan di perusahaan itu dipegang oleh tuan Aditya yang merangkap asisten tuan Alan, dia adalah orang yang sangat teliti dengan pekerjaannya." jelas yusron lagi (asisten daren).
"Mereka benar - benar singa dalam dunia bisnis, aku ingin tau apa kelemahan mereka. Kirim orang untuk mengoreknya." perintah daren pada asistennya dan dia langsung pergi meninggalkan tempatnya.
...🌴🌴🌴...
"Hallo sayang, kau baru datang? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita." sambut anita pada daren yang baru saja pulang dan memasuki apartemennya.
"Aku lebih ingin memakanmu malam ini, karna pikiranku lagi kacau." daren berkata dengan memeluk anita dan men..cumbu wanita itu dengan sangat panas.
"Jangan terburu - buru, mari kita makan dulu dan saling bicara karna aku butuh bantuanmu untuk melakukan sesuatu." rayu anita pada daren agar dia mau membatunya untuk mendapatkan alan kembali.
"Tidak, aku tak ingin bicara apa pun, aku hanya ingin melahapmu. Kita bicara nanti saja." daren berkata dan dengan kasar dia menarik baju anita hingga robek.
Dengan secepat kilat daren pun melepasi semua bajunya dan langsung melakukan penyatuannya dengan anita diruang tengan dengan sofa yang ada di sana.
Daren seolah ingin melepaskan kekesalannya atas kekalahannya dengan perusahaan alan, dia men..cumbu anita dengan sangat kasar dan brutal.
"Aah Daren." des..sah anita atas perlakuan daren padanya.
"Hem. Aku menyukai gayamu sayang, kau adalah ja..langku yang handal." gumam daren disela - sela permainannya.
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya di perusahaan alan ada seorang wanita yang datang ingin bertemu dengan alan, dan dia bilang dari perwakilan perusahaan daren.
"Maaf nona, kalo perwakilan dari pemasaran semuanya berkumpul di ruang rapat, dan bos akan membahas semuanya di sana." jelas dari pihak resepsionis perusahaan alan pada perwakilan perusahaan daren.
"Aku ingin bicara khusus dengan tuan Alan langsung tak bisakah aku menemuinya secara khusus? Jika tak bisa dengan tuan Alan, tuan Adit juga tak apa." pinta wanita itu lagi dengan sedikit memaksa.
"Maaf nona saya tak bisa membantu anda, jika anda mau menunggu silakan tunggu di ruang rapat bersama dengan yang lain, namun jika anda tidak mau maka silakan datang lagi dengan janji yang sudah disetujui oleh bos dan juga tuan Adit sendiri." jelas resepsionis itu tetap menolak permintaan wanita itu dengan sopan.
"Silakan nona, ruang rapatnya ada dilantai 3. Mari saya akan mengantar anda sampai kesana." tawar resepsionis itu dan dia mengantar wanita itu sampai depan pintu ruang rapat.
Tak lama kemudian alan, ninis dan aditya datang bersamaan kedalam ruang rapat itu untuk menemui para perwakilan dari setiap perusahaan yang datang ingin mengajukan penawaran dan juga kerja sama dengan perusahaan alan.
"Selamat siang semuanya, terima kasih atas kehadiran kalian semuanya, silakan duduk kembali." sapa alan pada semua orang yang ada didalam ruang rapat itu.
"Tuan Alan saya tau anda sudah bekerja sama dengan tuan Guntoro, tapi dari pihak saya juga menawarkan bahan - bahan segar yang bisa ditempatkan dihotel anda atau di resto serta kafe kakak anda. Dari tempat kami semua bahanya bisa dikirim dalam keadaan segar secara langsung, karna kami memiliki perkebunan kami sendiri." jelas dari salah satu orang yang ada dalam ruang rapat itu memulai penawaran pada pihak Alan.
Setelah itu semua orang jadi ikut menawarkan pada alan, dan dengan dipimpin oleh adit semua orang mendapatkan kesempatan mereka untuk mengutarakan pendapat dan penawaran mereka masing - masing.
"Nona kenapa anda selalu melemparkan kesempatan anda pada orang lain saat saya memberikan waktu pada untuk melakukan penawaran anda.?" tanya adit yang merasa aneh dengan wanita itu.
"Maafkan saya tuan Adit dan bos Alan, saya hanya ingin bicara langsung secara pribadi dengan bos Alan sendiri kalo saya diijinkan." jelas wanita itu dengan menabur senyum yang sangat menggoda.
"Tentu saja, silakan katakan setelah yang lainnya pergi. Dan untuk semua tawaran yang tadi kalian tawarkan sudah ditulis oleh sekretaris saya. Saya akan mempelajari semua berkas yang kalian berikan dan pihak kami akan menghubungi kalian setelah kami mempertimbangkan semuanya."
Alan menutup pertemuan itu, dan semua orang pun pergi meninggalkan ruang rapat dengan meninggalkannya berkas pada sekretaris alan untuk dipelajari oleh alan lebih lanjut.
"Baiklah nona sekarang katakan apa tawaran anda dan dari pihak mana anda mewakili pertemuan ini." ucap alan pada wanita itu.
Wanita itu diam tak menjawab, dia hanya menatap adit dan juga ninis yang masih ada di situ duduk dengan tenang.
"Adit pergilah dan bantu ninis meletakkan semua berkas itu di mejaku." perintah alan yang mengerti isyarat dari wanita itu.
"Baik."
Adit dan ninis berkata bersamaan dan mereka langsung berdiri serta peranjak pergi keluar dari ruang rapat itu dan meninggalkan alan serta wanita itu berdua saja di ruang rapat.
"Wah, aku suka banget dengan anda yang cepat tanggap tuan. Tak salah jika anda dijuluki dengan singa di dunia bisnis. Selain anda itu tampan, anda juga sangat pekah." wanita itu berucap sambil berjalan mendekat kearah alan.
"Bisakah saya menikmati memandang wajah anda yang rupawan ini lebih dulu tuan Alan? Sebelum saya membahas pekerjaan." pinta wanita itu dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Alan tersenyum mendengar kalimat itu dan dia langsung mengangguk tanpa ragu, dan menatap wanita itu dengan tatapan lembut.
"Gila, dia benar - benar sangat rupawan. Rasanya aku ingin sekali menyentuh dan menikmati kulit dibalik bajunya itu." gumam dalam hati wanita itu menatap alan dengan berkali - kalian menelan salifanya.
"Apa aku juga harus mengijinkan pada anda untuk menyentuh tubuh saya?" ucap alan ringan.
"Apakah boleh? Karna anda begitu sangat menggoda, apakah anda sudah pernah melakukannya tuan?" tanya wanita itu yang lebih mendekatkan diri pada alan.
"Tentu saja." ucap alan menggenggam tangan wanita itu.
"Apakah anda mau menuruti kemauan saya? Jika iya saya akan memperlihatkannya pada anda." ucap alan dan meletakkan tangan wanita itu pada dadanya dan menggesernya turun sampai perut.
Wanita itu pun mulai tergoda dan dia lupa dengan tujuan awal dia datang menemui alan untuk apa.
"Katakan apa rencananya dibelakang semua ini?" tanya alan membisik tepat ditelinga wanita itu.
"Aah." wanita itu men..desa karna alan meremas bokong wanita itu.
"Dia ingin mengirimkan orangnya ke dalam perusahaan anda dan ingin memata - matai anda untuk mencarik kelemahan anda serta tuan Adit." jelas wanita itu yang sudah mulai hilang akal karna permainan tangan alan yang mengelus punggungnya dan terus berbisik ditelinganya.
"Bagus sekali, aku suka dengan mu yang berkata jujur. Permainan kita akhiri sekarang." alan menjahui tubuh wanita itu.
"Adit masuk lah." teriak alan yang mengetahui kalo adit dari tadi berdiri dibalik pintu.