
Selama dalam perjalanan Alan hanya diam dan menyandarkan kepalanya disandarkan kursi penumpang, Aditya melirik Alan dari spion tengah dan menghela nafas dalam melihat kondisi kakak ya yang terlihat seperti orang yang tak ada tenga semangat untuk hidup.
"Kak, apa kakak sudah menghubungi Syafa?" Aditya bertanya dan ingin mendapatkan respon dari kakaknya, namun tak ada reaksi dan jawaban dari Alan.
"Hei sudah tidur?" Aditya melirik lagi kearah Alan.
"Menyetir lah dengan benar." gumam Alan dan Aditya tersenyum
"Kenapa harus ada jarak yang begitu jauh ya Dit? Semua ini membuatku tersiksa." gumam Alan sambil tetap menutup matanya.
"Ya elah kak, cuma beberapa jam saja jauh apanya? Dan lagi bukankah kalian bisa teleponan atau video call." Aditya me jawab dengan santai
Alan menggema nafas dalam, "Kau belum pernah merasakan saat kau jauh dari anak dan istrimu, saat nanti kau sudah memilikinya dan mereka jauh dari mu jangan mengeluh pada ku." Alan menatap tajam pada Aditya yang sedang fokus nyetir.
"Ya, ya aku tau. Kemaren aku sudah menghubungi Syafa dan dia terlihat baik serta bahagia, Alga juga sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak dan terlihat beberapa foto dia dengan tan - teman sebayanya." Aditya menceritakan semuanya pada Alan karena selama ini Alan tak berani menghubungi Syafira, sebab jika dia menghubungi Syafira rasa rindu ya g dia rasakan akan semakin besar dan tak akan sanggup untuk dibendung lagi.
...🌴🌴🌴...
"Baiklah sudah sampai, kakak istirahatlah dan jangan lupa besok ada perekrutan pegawai untuk bagian asisten seperti yang kakak inginkan, aku sudah menyeleksi semuanya, besok kakak tinggal melihat hasilnya saja. Aku balik dulu." Aditya menjelaskan pada Alan saat menurunkan Alan didepan rumahnya.
"Iya aku tau." Alan masuk kedalam rumah dan dia merasakan kekosongan serta kesepian yang mendalam karena kerinduannya pada Syafira dan Alga yang baru saja pergi beberapa bulan.
"Nak Alan mau makan sekarang atau nanti?" tanya bi Aminah pada Alan yang baru masuk rumah.
"Nanti saja bi, bibi siapkan saja nanti Alan akan makan kalau lapar. Sekarang Alan mau istirahat sebentar." Alan menjawab dengan lemas dan berjalan gontai ke kamarnya.
Keesokan harinya Alan tak mampu untuk menggerakkan anggota tubuhnya dia merasakan tubuhnya sakit semua dan matanya terasa sangat panas saat terbuka, hingga Alan hanya membiarkan dirinya terus tenggelam dibalik selimut dan membiarkan hanponnya terus berdering.
"Bi apa Alan sudah berangkat kerja?" Alea menerobos rumah Alan karena dia tak bisa menghubungi Alan.
"Belum, sepertinya masih di kamarnya. Dari tadi juga masih belum keluar." jelas bi Aminah
"Lah, kenapa dengan anak ini?" Alea naik dan membuka kamar Alan.
"Ya Allah, ni bocah malah masih meringkuk dibalik selimut padahal Aditya dari tadi menghubungi." Alea mendekati Alan dan Manarik selimut Alan.
"Kak." Alan menatap alea dengan lemah
"Hei kau kenapa? Ya Allah Al, kenapa tubuh mu begitu panas. Apa kau sudah minum obat?" Alea terlihat panik melihat adik kesayangannya itu sakit.
"Kak." Alan menahan tangan Alea "kakak tenanglah, Alan gak papa cuma lagi demam saja" Alan menarik Alea dan menjadikan kali alea sebagai bantal. "Alan merindukan Syafa dan Alga kak, sangat merindukan mereka." gumam Alan memeluk Alea dan menenggelamkan wajahnya diperut Alea
"Hm, jadi karena itu? Apa kau tak mau menghubungi mereka? Jika memang rindu jangan ditahan Al, kamu harus mengungkapkannya kenapa malah menahannya dan sakit sendiri begini?" Alea membelai lembut kepala Alan dan tersenyum. "Ternyata kau masih saja adik kecilku yang manja, untung saja Syafa mampu mengatasi mu." Alea meledek Alan.
"Kakak telepon Ndaru dulu untuk melihat kondisimu dan akan kakak buatkan bubur untuk mu." Alea meletakkan kepala Alan di bantal dan keluar setelah menyelimuti Alan.
Tak berselang lama Ndaru pun datang dan melihat kondisi Alan, setelah memasang infus dan memberikan suntikan anti panas Ndaru menghubungi seseorang untuk menebus obat yang dikatakannya lalu dia keluar dan membiarkan Alan untuk beristirahat.
"Kenapa bisa sampai sepanas itu sih kak? Apa selama ini kak Al kurang istirahat dan terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja." Ndaru bertanya pada Aditya soal kegiatan Alan belakangan ini.
"Ya memang belakangan ini kakak sering lembur dan terlambat makan." Aditya menjawab dengan apa adanya.
"Baiklah, kakak istirahatlah dan patuhilah apa perintahku." Ndaru berkata dengan serius menatap Alan dan Alan hanya mengangguk.
"kenapa bisa sesakit ini Ru?" gumam Alan
"Itu namanya penyakit rindu kak, jika kakak gak bisa mengatasinya Alan menjadi penyakit hati dan akhirnya kakak mati." jelas Ndaru
"Kau.!" Alan menatap kesal dan Ndaru sama Aditya tertawa terbahak lalu pergi keluar meninggalkan Alan untuk istirahat.
"Bagaimana?" tanya Alea yang menunggu Ndaru sambil menyiapkan makanan untuk Alan dan menata beberapa menu di meja makan.
"Tak masalah, nanti setelah minum obat yang aku beri kakak akan baik - baik saja." jelas Ndaru duduk di kursi depan meja makan
"Tapi ini juga aneh kak, kenapa tiba - tiba saja Syafa ingin mengikuti program belajar di luar bukankan di sini juga ada." Ndaru berkata dan terlihat Alea juga Aditya berfikir.
"Memangnya di sini juga ada?" Aditya bertanya karena dia tak tau apa pun.
"Lah, kan memang programnya berasal dari pemerintah sini kak, dan dibuka di universitas uta di sini dan juga yang ada di luar negeri. Makanya aku bilang kalau di sini ada kenapa harus ikut yang di luar? Kak itu terasa aneh." jelas Ndaru lagi.
Setelah beberapa hari kondisi Alan telah membaik, namun dia tak kembali ke kantor dan hanya bekerja dari rumah. Asisten yang ditempatkan oleh Aditya disisi Alan untuk membantu pekerjaan Alan selama bekerja dari rumah orangnya sangat cekatan dan cepat.
"Bandi tolong kamu kirimkan semua data hasil rapat hari ini, dan jangan lupa kamu simpan data pemasaran yang sudah direkap oleh Adit." perintah Alan pada asistennya yang baru ditempatkan oleh Aditya untuknya, dan Alan menyukai orangnya karena Bandi bekerja sangat cepat juga cekatan.
"Baik pak akan segera saya lakukan sekarang" jawab Bandi dan dia langsung bergerak
Saat Alan keluar dari ruang kerjanya dia melihat Dafid gelisah dan dia sedang berbincang dengan bi Aminah dengan serius serta lembut hingga Alan merasa penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh kedua pegawainya itu dengan sangat serius.
"Ada apa dengan kalian?" Alan yang merasa penasaran pun bertanya pada Dafid dan bi Aminah yang sedang serius berbincang.
"Oh, pak." Dafid
"Nak Alan." Bi Aminah
"Kenapa terkejud begitu? Ada apa sebenarnya, kalian tak lagi sedang membicara aku kan?" Alan bertanya dengan tersenyum dan duduk di kursi meja makan.
"Em, begini pak. Waktu itu pak Adit menyuruh saya untuk menyelidiki soal kepergian non Syafa dan saya..." Dafid menatap Alan yang serius mendengarkan.
"Kenapa diam, katakan ada apa?" Alan sudah mulai tak sabar.
"Baik pak, sebenarnya ada rumor kalau non Syafa adalah simpanan dan dia banyak diomongin orang kalau dia adalah wanita tak benar dan juga di sekolah tuan muda Alga diusir karena dianggap tak jelas kelahirannya, dan status kelahirannya dipertanyakan. Bu RT sudah menjelaskan pada para ibu - ibu yang suka bergunjing dan ngomongin dibelakang, namun untuk tuan muda Alga yang tak bisa bersekolah lagi membuat non Syafa berkeliling untuk mencarikan sekolah baru namun tak ada yang mau menerima." Dafid menjelaskan semua informasi yang dia dapat dari lingkungan sekitar komplek dan juga sekolahan Alga
"Hm, jadi begitu. Dan itu alasan dia pergi." Alan tersenyum setelah mendengar semua penjelasan dari Dafid
"Baiklah, terima kasih. Oh iya nanti kamu sama Bandi tolong pergi ke mol untuk meminta data pasukan dari semua penyewa." Alan berkata dan pergi.
Melihat hal itu bi Aminah dan Dafid merasa bingung karena tak ada kemarahan di wajah Alan setelah mendengar penjelasan dari ya dan juga mengetahui apa yang telah dilakukan oleh para ibu - ibu komplek serta para wali di sekolah putranya.
"Adit, lakukan persiapannya karena aku ingin mengumumkan sesuatu di acara ulang tahun perusahaan nanti, dan aku minta padamu tolong atur orang mu untuk menyelidiki siapa orang yang membuat rumor mengenai status kelahiran Alga di sekolahnya." perintah Alan pada Aditya melalui telepon.