
"Selamat siang Bu Syafira" sapa seorang pegawai saat dia melihat Syafira datang ke kantor Alan
"Siang mbak, sudah makan siang belum?" balas Syafira dengan ramah pada pegawai itu
"Sudah Bu Syafira, ini baru saja selesai." jawab pegawai itu
"Baiklah, jangan sampai telat untuk makan siang. Selamat kembali bekerja." Syafira berkata dengan ramah dan penuh dengan senyuman
"Iya Bu terima kasih." pegawai itu tersenyum dan melihat Syafira menghilang kedalam lif
"Hei ngomong apa kau tadi sama ibu bos." tanya rekannya yang melihatnya dari jauh
"Tidak ada, cuma tanya apa aku sudah makan siang dan memberiku ucapan selamat untuk bekerja, ya ampun dia baik banget ya. Sudah cantik, lembut, ramah dan baik hati serta murah senyum." puji pegawai itu untuk Syafira
"Kau benar, makanya bos kita jatuh cinta padanya." balas rekan pegawai itu.
"Mas, Daddy Yos" Syafira masuk kedalam ruangan Alan
"Sayang kau datang, tunggu sebentar ya" Alan tersenyum dan terlihat sangat senang.
"Kau sudah makan siang Syafa" tanya Aditya yang juga ada didalam ruangan Alan
"Sudah, kenapa? Apa Daddy belum makan siang, mau Syafa belikan?" tanya Syafira kaget dan menatap Aditya
"Ya ampun putri Daddy, kenapa kau begitu perhatian sama Daddy. Daddy cuma tanya sama kamu, Daddy sudah makan tadi sama suamimu." Aditya merangkul Syafira dan mencubit pipi Syafira.
"Hem, kirain Daddy Yos belum makan kan ini sudah hampir jam 2 siang." Syafira berkata dengan merangkul Aditya balik
Alan yang duduk di kursinya menatap tersenyum melihat kedua orang yang saat ini sedang bercengkrama dan ngobrol bersama dengan asik. Alan dalam hati tak pernah menyangka kalau dia akan bersama dengan Syafira bayi kecil yang dia rawat dan dia besarkan.
...🌴🌴🌴...
"Ya Allah aku merasa lega sekali Tan karena putri - putriku telah bisa membantu ku jadi aku tak merasa bingung mengurus semuanya." Aleana duduk santai bersama dengan Merisca di butik sambil menikmati teh mereka
"Ya aku juga merasa sangat lega karena Alan telah kembali ke dirinya yang dulu, kau merasakannya juga kan." Merisca berkata dengan nada lega
"Tante benar, rasanya aku telah mendapatkan adikku kemabli." Aleana tersenyum lebar
"Oh iya, apa kamu tak dengar kalau perusahaan tuan Purnawan Gunadi sekarang ada ditangan Alan." Merisca berkata dan menatap Aleana
"Aku tak dengar soal itu Tan, bukannya PT. Angkasa telah bangkrut karena mereka telah melakukan kecurangan dalam perjanjian dagang ya." Aleana menatap dengan bingung pada Merisca
"Kalau menurut om mu itu semua tidak benar, dan semuanya adalah permainan Alan. Tapi jelasnya apa aku juga kurang paham." Merisca berkata dengan bingung
"Hem, tapi yang aku tau selama ini mereka baik - baik saja walau memang Alan ada sedikit masalah dengan Anita. Tapi kalau sampai itu semua adalah permainan Alan, pasti dia punya alasan untuk melakukan itu semua Tan, dan aku percaya Alan tak akan melakukan hal yang salah." Aleana berkata penuh dengan kepercayaan pada Alan
"Kau benar, dia mirip sekali dengan Mexca kalau Alan sedikit lemah dari pada Mexca tapi dia juga tak bisa diremehkan kalau sedang marah dan menargetkan sesuatu yang dia anggap mengganggu." Merisca
...🌴🌴🌴...
Setiap akhir pekan kini Alan menjaga dia gadis kecilnya di rumah, ya Alisa putrinya dan Syafira serta Andini putri Ayunda dan Denis. Kedua putri itu seperti mainan baru bagi Alan, karena mereka selalu diam saja dibuat apa pun oleh Alan, bahkan saat mereka harus ditata seperti ondel - ondel pun kedua putri itu melakukannya dengan sangat senang.
Rambut panjang kedua gadis kecil itu tak luput dari olahan Alan dengan berbagai bentuk dan gaya, dan dasar yang cantik serta wajah polos mereka membuat mereka terlihat jadi makin menggemaskan dengan berbagai gaya rambut.
"Ya Allah mas kenapa ini anak - anak kok jadi diikat dengan tali rafia begini sih rambutnya." Syafira yang baru pulang dari kafe merasa kaget melihat kedua putrinya dengan tatanan rambut yang di ikat dengan berbagai warna tali rafia yang dipasangkan oleh Alan.
"Kenapa lucu kok mereka seperti itu." jawab Alan santai dan tersenyum serta melakukan tos dengan kedua putrinya
"Hah." Syafira menatap ketiga orang itu bergantian
"Iya cantik, papa pandai menata rambut. Lihatlah rambutku jadi banyak ikatannya." Alisa pun berkata dengan senang
Syafira mengerutkan kening menatap kedua putrinya, lalu menatap Alan dan terlihat Alan tersenyum penuh dengan kebanggaan karena dipuji oleh kedua putrinya. Syafira pun menghela nafas dan tersenyum, dia tak pernah berfikir kalau Daddy nya yang begitu tegas juga memiliki sisi lucu dan imut saat bersama dengan anak - anak.
"Terserah kalian saja, yang penting kalian suka dan senang." Syafira berkata dan berjalan melewati Alan serta kedua putrinya.
"Kalian main sendiri dulu, dan jangan keluar rumah. Papa mau ketemu sama mama dulu ok." Alan berpesan dan meninggalkan mereka
"Bagaimana pekerjaannya, apa ada yang sulit atau yang ingin ku bantu." Alan menerobos masuk kamar
"Tidak ada mas, semua baik. Hanya saja pengeluaran sedikit lebih tinggi untuk bulan ini karena ada perbaikan" jawab Syafira
"Hem, ya memang ada banyak yang harus dirombak ya." Alan duduk ditepi tempat tidur
"Gak juga sih, cuma aku membuat kolam ikan dan taman bermain untuk anak - anak dan ingin ada untuk tempat khusus para anak muda." Syafira mengganti baju tepat didepan Alan tanpa canggung
"Aku dengar katanya ada beberapa pengunjung yang mulai mendekati mu, apa itu benar? Ku harap kau tak menunjukkan pesonamu dengan jelas." Alan bangun dan mendekati Syafira lalu memeluknya.
"Apa mas Alan gak percaya sama aku, hem?" Syafira berbalik dan mencolek hidung mancung Alan
"Percaya, tapi aku tak percaya dengan para pemuda itu." Alan tersenyum dan mencium pipi Syafira.
"Tak akan ada yang bisa mengganggu ku karena di hatiku hanya ada Daddy seorang" Syafira tersenyum dan menggoda Alan
"Jangan menggoda ku dengan tatapan seperti itu, karena aku baru tau kalau kau juga memiliki kemampuan untuk melakukan ini." Alan berkata dan menundukkan pandangannya.
Syafira tertawa dan langsung melepaskan pegangan tangannya yang bertengger di batang ajaib milik Alan. "Maaf, baiklah ayo anak - anak ada di luar."
Alan tersenyum dan merasa sangat bahagia dengan semuanya, karena dia telah memiliki segalanya sekarang. Seorang istri yang cantik dan baik, seorang putri yang cantik dan lucu serta seorang putra yang pintar dan dewasa. Hidup Alan terasa sangat sempurna.
...🌴🌴🌴...
Disebuah klub malam terlihat beberapa pemuda yang sedang berkumpul bersama dan terlihat merasa sedang menikmati waktu mereka untuk memanjakan diri mereka setelah rutinitas yang padat selama 1 Minggu.
"Hei Ga, bagaimana dengan wanita itu, hem" Andi bertanya pada Dirga saat mereka bertemu dan berkumpul bersama
"Maksud mu siapa, apa Dirga mulai mengejar seseorang lagi. Kali ini siapa lagi hah?" Ardi bertanya dengan tersenyum melihat Dirga yang terlihat lesu
"Dia wanita yang sangat menarik dan juga enerjik, tapi sayangnya dia sudah memiliki suami dan seorang putri kecil yang sama cantiknya dengan mamanya, tapi tak menutup kemungkinan juga karena kami berteman sekarang." Dirga berkata dengan percaya diri.
"Ho, dia berusaha menghibur hati yang patah ini." Andi menggoda Dirga
"Hem ku rasa tak sebanding dengan dia yang ku kagumi, dia adalah wanita yang menarik juga dan juga pemain yang hebat." Ardi berkata dengan membayangkan Syafira.
"Heleh paling - paling yang kau targetkan adalah wanita yang kau temui di klub malam." Andi berkata mengejek Ardi
"Tapi dia beda dan dia juga dari keluarga yang baik dan aku mengenal keluarganya. Tapi sepertinya sulit untuk mendekatinya." Ardi berkata dengan bernafas dalam
"Memangnya kenapa, kok tumben kau kalah." Dirga bertanya dengan penasaran
"Karena dia tak melihatku dan sepertinya dia sudah memiliki seseorang dalam hatinya." Ardi berkata dengan tersenyum.
"Sejak kapan kau kalah dengan orang lain untuk merebut mainan, bukankah itu keahlianmu selama ini. Kau adalah pemain yang hebat" Dirga berkata dan menepuk bahu Ardi
"Dia bukan mainan baru, tapi dia adalah piala bagi yang beruntung." Ardi berkata dan tersenyum tipis.