Baby I Love You

Baby I Love You
Pesaing



"Mbak Syafira maaf tadi ada yang menitipkan ini untuk mbak" pegawai kafe menyerahkan sebuah kota hadiah saat Syafira datang


"Loh siapa mbak yang ngasi? Terus ini apa?" Syafira merasa bingung karena sejak saat dia menyanyikan lagu dan bermain di kafe jadi sering mendapatkan hadiah dari seseorang yang tak pernah dia tau siapa Karana tak ada pengirimnya.


"Lah itu saya tidak tau mbak, karena itu diletakkan langsung didepan meja kafe dan hanya tertulis untuk penyanyi Syafira" jawab pegawai itu


"Baiklah terima kasih." Syafira menerima dan menyimpan kotak itu.


Seharian Syafira berada di kafe dan dia juga bekerja dengan giat. Sejak pergi selama 5 tahun lalu ternyata Syafira telah mempelajari ilmu bisnis jadi dia sudah siap dan paham cara mengelola kafe peninggalan dari orang tuanya.


...🌴🌴🌴...


Saat Alan pulang ke rumah dia merasa sangat senang, karena saat ini dia akan selalu disambut oleh Syafira dengan senyumannya yang merekah sehingga membuat rasa lelah Alan seketika menghilang.


"Sepi bener, kemana Lisa sayang" Alan bertanya karena dia tak melihat putrinya


"Dia pergi bersama Tante Merisca untuk pergi ke salon katanya ingin potong rambut, sudah makan? Tadi aku membawah beberapa makanan dari kafe karena aku tak masak." Syafira mengikuti Alan di belakangnya.


"Boleh aku mandi dulu." Alan memeluk dan mencium pipi Syafira


Setelah selesai makan Alan dan Syafira bersantai sambil menunggu Lisa pulang. Syafira terlihat sibuk dengan laptopnya dan handphonenya, Alan yang melihat merasa aneh dengan istrinya ini yang selalu tak lepas dari handphonenya setiap saat, kadang dia melihat Syafira sibuk dengan menerima beberapa panggilan yang tak Alan ketahui.


"Kau sedang sibuk apa sih sayang." Alan mendekat dan melihat ke layar laptop Syafira


"Membaca laporan pemasukan dan pengeluaran dari kafe dan juga restoran yang dikirimkan kak Ayu pada ku" Syafira berkata dan tersenyum pada Alan


"Hem, kau yang mengerjakannya" tanya Alan menatap Syafira


"Tak selalu, cuma barusan kakak menghubungiku dan bilang kalau dia ada kerepotan dan memintaku untuk melakukannya." Syafira menunjukkan pesan yang dikirimkan Ayunda pada dirinya.


"Assalamualaikum, mama, papa" suara Lisa yang baru datang langsung mengisi ruang rumah itu.


"Oh tuan putri papa habis darimana sayang." sambut Alan dan Lisa langsung masuk kedalam pelukan Alan


"Cantik tidak pa" Lisa menunjukkan potongan rambut barunya.


"Cantik sayang." Alan tersenyum dan mengusap lembut kepala putrinya.


"Aku tak menyangka kalau akhirnya aku sekarang memiliki teman untuk memanjakan diri di salon." Merisca berkata dengan senang karena biasanya dia hanya pergi sendirian.


Syafira tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh Merisca, karena pasalnya dari sejak kecil putrinya itu memang sangat suka menata rambut dan juga sangat suka saat diajak pergi ke salon.


Malam itu Alan mengabiskan waktu bersama dengan putrinya yang sedang menceritakan segala yang dia lakukan selama pergi bersama dengan Merisca, terlihat Alan sangat menikmati moment itu. Karena dia merasa kalau dia bisa mengikuti masa - masa yang bilang selama pertumbuhan dari putrinya itu.


Keesokan paginya terlihat Lisa sudah siap dengan rapi Karana dia ingin ikut sama mamanya untuk pergi ke kafe, sebab hari ini Syafira ada pekerjaan yang harus dilakukan di kafe, karena pagi - pagi sekali sudah dihubungi oleh pegawainya kalo ada beberapa bahan yang habis dan juga laporan yang harus ditinjau oleh Syafira langsung.


"Ingat hari ini kamu ikut mama kerja, tidak boleh makan dan harus selalu mendengarkan apa kata mama ya." ucap Alan saat dia sedang sarapan bersama dengan putri kecilnya.


"Iya papa." Lisa menjawab dengan cepat.


"Baiklah sayang ayo aku antar kalian." Alan pun mengantar Syafira ke kafe dulu sebelum dia pergi ke kantor.


...🌴🌴🌴...


"Ingat pesan papa." Alan mengingatkan putrinya lagi sebelum dia menurunkan putri dan istrinya di kafe


"Ya." Lisa menjawab dengan cepat


"Apa yang kalian bisikkan" Syafira bertanya dan menatap papa dan anak itu bergantian


"Rahasia." Lisa langsung keluar dari mobil dan lari menuju kafe


"Kakak Dina" teriak Lisa sambil lari masuk kafe. "Kakak Dina mana?" Lisa menatap beberapa pegawai namun dia tak melihat Dina yang biasanya menemaninya bermain saat dia datang ke kafe.


"Baiklah, selamat bekerja saja" Alan berkata dan mengecup kening Syafira


"Iya, mas juga dan hati - hati bawah mobilnya" Syafira juga mencium punggung tangan Alan


"Kakak Dina belum datang adik Lisa, main sama kakak Sarif saja ya dulu." tawar Sarif pada Lisa.


"Selamat pagi mbak Syafa." sapa semua pegawai di kafe


"Sayang jangan nakal ya, dan jangan bikin kakaknya di sini lelah." Syafira mengingatkan pada Lisa


"Iya ma." Lisa terlihat sangat patuh.


Rini dan Saiful sedang berdiskusi dengan Syafira di ruangan kerja Syafira, terlihat dia orang pegawai itu melaporkan sesuatu pada Syafira, mereka.bertiga terlihat sangat serius dan fokus. Karena Saiful adalah penanggung jawab dari bagian dapur jadi dia melaporkan segala hal yang habis dan yang harus ditambah, sedang kan Rini yang bertanggung jawab pada keuangan dia melaporkan pemasukan dan pengeluaran kafe.


"Baiklah, mas Saiful seperti yang saya katakan tadi, tolong apa yang diperlukan atau harus di tambah belanjakan saja dan cari bahan yang bagus."


"Sedangkan soal mbak Rini aku suka dengan laporan yang mbak berikan, karena di sini sudah sesuai dengan segala pemasukan dan pengeluarannya kafe."


"Ku harap kalian masih tetap seperti ini, dan tolong bantu aku untuk menjaga suasana kafe. Dan juga tadi kata mbak Rini kalau kita harus menambahkan gasebo untuk dibagian luar dekat pintu samping nanti akan ku tinjau lagi"


"Baik mbak." jawab Rini dan Saiful bersamaan


"Baiklah, terima kasih untuk semuanya." ucap Syafira dan pertemuan itu pun selesai.


Mirip dengan Adinda, Syafira lebih suka bekerja diluar ruangan karena bagi Syafira itu bisa untuk melihat dan memantau putrinya yang sedang aktif saat ini. Sesekali Syafira tersenyum melihat tingkah putrinya dan dia tak pernah menyangka kalau hidupnya akan berubah jadi seperti saat ini setelah dia selalu lari dan lari untuk menghindari segala masalah yang berhubungan dengan Alan.


"Selamat siang" sapa seorang pria pada Syafira


"Iya selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Syafira yang kaget langsung bangun dan membalas sapaan orang itu dengan sopan.


"Saya Dirga, bolehkah saya untuk bergabung kalau anda tak sibuk." ucap Dirga ragu - ragu


"Oh, itu." Syafira terlihat bingung dengan kedatangan Dirga yang tiba - tiba


"Oh mas Dirga." sapa Dina yang mendatangi Syafira dan Dirga


"Kamu mengenalnya." Syafira bertanya pada Dina


"Mas Dirga adalah pelanggan kafe tetap dan dia juga orang yang mengirimkan hadiah untuk mbak Syafa." jawab Dina dengan sopan.


"Oh, maaf saya tak pernah tau soal itu maaf saya dan terima kasih atas hadiahnya" Syafira berkata dengan malu.


"Tak masalah, bagaimana apa saya boleh gabung." tanya Dirga lagi


"Ya tentu, silakan." Syafira pun mengijinkan Dirga untuk bergabung dengan dia.


Terlihat mereka sedang berbincang dengan seru dan sepetinya obrolan mereka nyambung karena terlihat mereka sangat nyaman.


Sedangkan Lisa yang dari jauh tauh kalah mamanya sedang berbincang dengan seorang pria menatap tajam lalu menghentikan aktifitasnya untuk bermain.


"Hah." Lisa mendatangai Syafira dan mengagetkan Syafira


"Oh sayang." Syafira tersenyum pada putrinya.


"Om" Lisa menatap Dirga dengan memiringkan kepalanya


"Nama kamu siapa anak manis?" tanya Dirga pada Lisa


"Dimana - mana itu memperkenalkan diri dulu baru bertanya, itu sopan santun dasar." ucap Lisa menatap Dirga


"Oh, maaf nama om adalah Dirga, adik kecil bisa memanggil om Dirga. Sekarang siapa nama adik kecil yang cantik ini." jawab Dirga tersenyum pada Lisa


"Alisa." jawab Lisa dengan cepat dan tetap menatap Dirga


"Nama yang cantik." Dirga berkata dan mengusap kepala Lisa


"Apa om menyukai mamaku." tanya Lisa secara langsung.


"Oh, mama" Dirga kaget dan menatap Syafira.


"Iya dia putri saya." Syafira menjawab dan tersenyum


"Oh maaf aku tak tau, memangnya bisa ya bekerja dengan membawah anak di sini, sungguh sangat murah hati pemilik kafe ini." Dirga berkata dengan memuji pemilik kafe


"Ah, iya." Syafira menjawab dengan canggung, karena ternyata Dirga tak tau kalau Syafira adalah pemiliknya.


Setelah tau kalau Syafira ternyata sudah memiliki seorang suami Dirga merasa tak enak karena dia telah menaruh hati pada wanita yang sudah memiliki seorang anak dan juga suami. Tapi Dirga tak bisa menghentikan perasaannya sehingga dia meminta pada Syafira untuk bisa menjadi temannya dan Syafira menerima tawaran itu dengan senang hati sehingga membuat Dirga sedikit merasa lega.