Baby I Love You

Baby I Love You
Kewajiban suami istri



"Apa lelah?" Alan bertanya pada syafira saat mereka mau keluar dari lift


"Oh, tidak." Syafira menjawab dengan cepat


"Baiklah, tunggu di sini sebentar, Daddy ada urusan sebentar." ucap Alan yang berjalan dengan cepat ke meja resepsionis setelah keluar dari lift dan lalu berjalan masuk kesebuah koridor.


"Baik." jawab Syafira berjalan pelan dan semua orang melihat kearah Syafira yang sulit untuk berjalan.


"Kenapa mereka terus mengamati aku." gumam Syafira yang berjalan pelan dan sedikit susah untuk duduk di sofa depan resepsionis.


"Hei sepertinya gadis itu habis jualan deh, lihat saja jalannya susah begitu."


"Gadis jaman sekarang ya yang penting ada uang mereka mau dengan siapa saja."


"Ih, amit - amit. Walau cantik kalau tak bermoral buat apa."


"Lihat saja jalannya terlihat susah begitu, seperti sedang menahan rasa sakit dan semua orang sedang membicarakan dia."


Bisik - bisik orang yang didengar oleh Alan membuat Alan tak habis pikir dengan sifat para wanita yang selalu mengkritik setiap orang yang mereka lihat. "Mereka selalu saja mengkritik orang lain." gumam Alan.


"Mereka sedang ngomongin seorang gadis yang sedang duduk didepan resepsionis pak." Jawab seorang pegawai yang baru datang.


"Hm, aku ingin mengenalkan kalian dengan seseorang jadi aku ingin perwakilan saja dari setiap pegawai." ucap Alan saat dia sampai di ruangan manajer.


"Baik pak, kami akan memberitahu mereka sekarang." jawab manajer hotel Alan.


"Hm baiklah, oh ya. Soal laporan nanti kamu kirimkan lewat email saja." Alan berdiri dan keluar dari ruangan manajer hotel miliknya. "Yang sudah datang ikut aku kedepan." sambung Alan dan pegawainya serta manajernya mengikuti Alan dari belakang.


Alan berjalan keluar dengan pegawai yang ingin dia kenalkan pada Syafira. "Gadis itulah pak yang dari tadi diomongin oleh semua orang - orang." ucap seorang pegawai dan Alan menoleh serta melihat Syafira yang sedang duduk di sofa dengan tenang dan tertunduk. Melihat itu Alan merasa aneh dan sepertinya Syafira juga mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang - orang yang tadi didengar oleh Alan.


"Syafa, kemarilah." Alan memanggil Syafira dan melambaikan tangan.


Syafira yang melihat dipanggil oleh Alan tersenyum, berdiri dan melangkah dengan pelan serta hati - hati. Melihat itu pegawai yang berdiri disebelah Alan melihat kaget karena bosnya memanggil gadis yang dari tadi menjadi bahan perbincangan orang.


"Perkenalkan dia istriku." ucap Alan memperkenalkan Syafira pada pegawai hotelnya.


"Eh, apa? Maaf pak, selamat datang nyonya maaf kami tak tau kalau nyonya akan datang jadi kami tak menyambut nyonya." ucap semua pegawai Alan.


"Tidak, tidak perlu sungkan. Tidak apa - apa karena saya juga kebetulan saja kemari." Jawab Syafira dengan sopan pada mereka semua.


"Mereka yang kemaren jaga sudah ganti shif jadi tak ada yang melihat kamu datang semalam." ucap Alan memeluk pinggang Syafira. "Kedepannya tolong perhatikan dan berikan kamar biasanya jika dia datang kemari." sambung Alan.


"Baik pak, sekali lagi kami mohon maaf nyonya." ucap pegawai Alan serempak.


"Baiklah kami pergi dulu." Alan mengangkat Syafira dan itu membuat Syafira kaget serta malu. Namun suara seruan dan sorakan dari pegawai Alan terdengar sangat ramai.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan? Tolong turunkan aku bisa berjalan sendiri." Syafira meminta Alan untuk menurunkannya


"Tidak, kau pasti susah karena aku terlalu kasar semalam." Bisik Alan dan tetap menggendong Syafira sampai parkiran.


"Ya ampun jadi itu adalah istri bos kita, hampir saja aku ikut orang - orang mengkritiknya" ucap pegawai resepsionis.


"Makanya jangan bergosip dan jangan asal menilai orang. Kan sudah jelas dia akan susah berjalan karena dia masih kecil dan juga terlihat sangat manis, pasti bos memakannya dengan sangat lahap sehingga membuat dia kesusahan. Bos kita sangat perkasa ya." ucap manajer hotel Alan yang orangnya sedikit centil walau seorang pria.


"Hm, auranya bos juga berbeda dari biasanya. Kalau biasanya dia datang dengan tuan Aditya selalu dingin dan kaku, tapi ini tadi dia sangat tampan sekali, walau biasanya juga tampan tapi ini tadi lebih tampan lagi dan juga sangat so sweet."


"Benar aku jadi iri dengan nyonya Syafa."


Para pegawai pun mulai bergosip lagi mengenai Alan dan Syafira dan mereka juga tak menyangka kalau bos mereka sudah punya istri kecil dan tak tau kapan pernikahannya.


Didalam mobil Syafira diam saja dan Alan meliriknya, Alan tersenyum karena dia melihat kalau Syafira masih malu dan terus meremas tangannya sendiri.


"Ya ampun bagaimana ini? Kenapa sekarang aku jadi merasa canggung lagi dengan Daddy, karena kami telah melakukan semuanya dan lagi Daddy sudah lihat seluruh tubuhku." gumam Syafira dalam hati dan tak berani melihat Alan.


"Kenapa kamu terus meremas tangan mu, apakah AC mobil terlalu dingin?" Alan bertanya karena mencoba memecahkan suasana yang hening.


"Tidak, tidak dingin." Syafira menjawab langsung, dan Alan tersenyum.


"Berikan tangan." Alan mengulurkan tangannya dan meminta tangan Syafira.


"Eh." Syafira menatap Alan.


"Tangan, berikan tangan mu." Alan mengulanginya lagi.


Alan menggenggam erat tangan Syafira setelah mereka bergandengan, dan Alan menatap Syafira sambil tersenyum lalu fokus nyetir lagi. Senyata syafira sedang berusaha untuk mengendalikan detak jantungnya sendiri yang berdebar semakin cepat.


"Gila, ini bisa membuatku mati cepat karena serangan jantung" gumam Syafira dalam hati.


"Jangan malu atau canggung begitu karena kamu harus mulai membiasakan diri dan jangan menahan diri, karena mulai dari sekarang kewajiban suami istri harus dijalankan sesuai dengan semestinya dan lagi Daddy ingin kamu selalu aktif dalam permainan seperti semalam karena Daddy sangat menyukainya." ucap Alan santai sambil menarik tangan Syafira dan menciumnya.


"Tidak bisa, milik Daddy sangat besar dan hampir membuat ku muntah karena menyentuh tenggorokanku." ucap Syafira dan seketika Alan mengerem laju mobilnya dengan spontan karena hampir menabrak mobil orang karena lampu merah.


Dengan panik Syafira berusaha untuk menjelaskan maksud dari ucapannya barusan, "Tidak, bukan begitu. Maksud aku, anu, itu,,,"


Alan tertawa terbahak melihat wajah panik Syafira yang terlihat lucu bagi Alan, "Ya ok, Daddy faham. Tapi Daddy tak bisa merubahnya jadi kecil, kalau untuk makin besar masih bisa dengan obat." jawab Alan dan Syafira jadi makin panik.


"Tidak, tidak jangan makin besar udah segitu saja gak apa." jawab Syafira seketika dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Alan semakin terbahak-bahak melihat reaksi Syafira, "Kamu memang masih kecil ya sayang, reaksimu sangat lucu dan Daddy suka." ucap Alan lalu melajukan lagi mobilnya karena lampu sudah hijau.


Wajah Syafira jadi merah padam karena merasa malu dengan setiap ucapannya yang spontan


dan merasa terkejud sendiri dengan apa yang dia katakan. Syafira melirik Alan yang fokus menyetir "Jangan menatap Daddy nanti Daddy jadi gak tahan, karena ini Daddy sedang berusaha untuk menahan diri." ucap Alan tanpa melihat Syafira


"Kenapa harus menahan diri?" tanya Syafira bingung.


Alan langsung meminggirkan mobilnya dan menepi untuk mencari tempat yang sepi, Alan berhenti dan menatap syafira "Ulangi apa yang kamu katakan barusan." Alan memiringkan tubuhnya menghadap Syafira.


"Tidak, tadi Daddy bilang sedang menahan diri. Memangnya kenapa kok harus menahan diri* ucap Syafira mengulangi pertanyaannya.


Alan tersenyum dan dengan cepat menarik Syafira serta melahap bibir Syafira "Daddy tak akan bisa menahan diri untuk tak menciummu, jika kamu terus menatap Daddy." ucap Alan setelah mengurai ciumannya.


"Hentikan ini ditepi jalan." Syafira mendorong tubuh Alan menjauh.


"Ok, kita lanjut di rumah." ucap Alan dan melajukan mobilnya lagi dengan lebih cepat dari tadi.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan? Pelan - pelan." Syafira berkata pada Alan namun Alan tak mendengarkan.


"Tidak bisa, karena kita akan melakukan kewajiban kita jadi harus cepat sampai rumah." jawab Alan dengan tetap fokus menyetir.


Nb : Jangan suka menilai seseorang dari luarnya saja, karena apa yang kita lihat belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya.