Baby I Love You

Baby I Love You
Jarak yang Jauh



Setelah merundingkan dengan semua anggota keluarganya Syafira memilih untuk pergi mengikuti program belajar dari tempatnya mengajar dan Syafira ingin membawa Alga bersamanya karena dia tak ingin pergi sendirian dan tinggal ditempat asing seorang diri.


"Sayang, Daddy bisa ikut dengan mu atau kalau tidak Daddy akan seminggu sekali mengunjungi dan membawa Alga bersama untuk bertemu dengan mu." Lan berusaha untuk membujuk Syafira agar tak membawah Alga biar dia ada alasan untuk mengunjungi Syafira.


"Tidak, Syafa bisa sendiri dan Daddy jangan menyusahkan Daddy Yos." Syafira menolak dengan sangat keras.


Alan hanya bisa menghela nafas dalam mendapatkan penolakan dari Syafira, perasaan Alan yang baru saja muncul dan kebersamaan yang baru beberapa bulan didapatkannya kini harus terpisah jauh membuat Alan sedikit tak rela, namun Alan tak ingin egois dengan menahan Syafira demi kepentingannya. Karena bagi Alan yang terpenting saat ini adalah kebahagian Syafira dan keberhasilannya, Alan i gin menebus segalanya yang telah hilang dari Syafira.


"Baiklah, karena semuanya sudah setuju kamu harus hati - hati disana ya sayang, dan jangan lupa sering - seringlah kabari kami semuanya ok." Alea memeluk Syafira dengan erat.


"Istirahatlah dan kita siapkan keberangkatan mu besok, selamat malam sayang." Alea pulang bersama Yoni dan yang lainya juga pulang ke rumah mereka masing - masing.


Syafira bangun dan berjalan ke kamar Alga yang sudah terlelap dari sore, "eh Daddy?" Syafira kaget karena Alan tiba - tiba mengangkat tubuhnya dan membawahnya ke kamar mereka.


"Kau mau berangkat besok, dan malam ini aku ingin kau menemaniku." Alan melahap bibir Syafira dan melepaskan semua baju Syafira.


"Maafkan Daddy sayang, rasanya Daddy tak rela jika harus berpisah jauh dari dalam waktu yang lama." Alan menyusupkan wajahnya diantara leher Syafira.


"Maafkan Syafa Daddy, Syafa hanya ingin bisa menjadi lebih pantas untuk Daddy." Syafira berkata dengan berbisik ditelinga Alan.


Alan menguasai seluruh tubuh Syafira dan melahapnya dengan sangat rakus seolah dia tak akan mendapatkan makanan enak dalam waktu yang lama. Alan membuat Syafira kewalahan dalam mengahadapi serangannya, dan Alan sangat menikmati segalanya.


"1 tahun...asa, Daddy harus kuat." Syafira berkata disela - sela aktifitas Alan yang begitu sangat aktif.


"Apa? Daddy tak bisa mendengar dengan jelas sayang." Alan bertanya dan berhenti dari aktivitasnya lalu menatap Syafira yang ada dibawahnya dengan seksama.


"Aku bilang, setelah ini selama 1 tahun Daddy harus puasa dan harus kuat." Syafira berkata dengan pelan dan jelas


"Apa, kenapa begitu?" Alan bertanya dengan kaget.


"Karena disana Syafa masuk dalam asrama dan tak boleh ada cowok yang masuk, juga Syafa gak mau kalau nanti Daddy mengunjungi Syafa. Jadi Daddy harus menunggu Syafa, karena Syafa ingin fokus dalam segala kegiatan selama disana." Syafira menjelaskan lagi pada Alan.


"Kenapa harus begitu." Alan mengeluh dan menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan Syafira.


"Karena Syafa ingin fokus dan ingin menjadi orang yang berguna. Syafa gak mau hanya mengandalkan Daddy dan yang lainnya. Syafa ingin bisa berdiri sendiri dan memberikan dukungan pada Daddy." Syafira mengatakan kata - katanya dan membuat Alan menyadari kalau Syafira sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Lalu kalau kamu ingin fokus kenapa harus membawah Alga? Biarkan Alga di sini bersama Daddy." Alan berkata dan duduk disamping Syafira dengan menatap dalam pada Syafira.


"Tidak, Alga sangat merepotkan dan dia akan terus mencari Syafa jika tak melihat Syafa sebentar, jadi sebaiknya dia ikut dengan Syafa biar dia mengetahui banyak hal disana nantinya." Syafira berkata dengan tersenyum dan memegang wajah Alan.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Daddy?" Alan menatap mata Syafira.


"Hem, ketahuan ya? Tapi Syafa gak mau mengatakannya sekarang, karena Syafa ingin memberikan kejutan pada Daddy nanti. Jadi jangan paksa Syafa bilang ya?" Syafira memohon pada Alan dan Alan tersenyum lalu mereka tertidur sambil saling memeluk satu sama lain.


Keesokan paginya Alan dan keluarganya yang lain pergi mengantarkan keberangkatan Syafira dan alga. Terlihat Alan sanga berat untuk melepaskan Syafira dan Alga karena dia baru saja merasakan kebahagian dengan keluarga kecilnya yang sempurna. Alan terus saja menggendong Alga dan berpura - pura begok dengan tak mau menurunkan Alga.


"Kamu hati - hati ya disana, jangan lupa kabari Daddy terus dan ingat setiap 30 menit sekali harus telepon Daddy." Alan bicara pada Syafira dan meminta ya untuk menghubunginya setiap 30 menit sekali.


"Daddy kalau seperti itu namanya bukan memberi kabar tapi menghukum, bagaimana bisa Syafa menghubungi Daddy setiap 30 menit sekali? Ndak sekalian aja gak usah dimatikan hanponnya selama 24 jam sehari." Syafira protes pada Alan.


"Itu akan lebih bagus." Alan menjawab langsung.


"Becanda sayang, kamu jangan lupa jaga kesehatan dan hubungi Daddy ya, setidaknya setiap hari harus hubungi Daddy." Alan memeluk Syafira dengan erat.


"Iya Syafa akan selalu ingat, sudah Syafa harus berangkat sekarang." Syafira mendorong tubuh Alan.


"Kamu hati - hati ya sayang." Alea juga memeluk Syafira.


"Anak papa sudah besar." Yoni memeluk Syafira juga.


"Jangan lupa makan tepat waktu dan jaga kesehatan." Merisca


"Kembalilah dengan segudang ilmu, dan ja gan lupa perjanjian dengan om ok." Faris


"Sayang, putra papa harus menurut sama mama ya selama ada disana dan gak boleh nakal ok boy." Alan menasehati Alga saat Syafira berpamitan dengan semuanya.


Semua orang melambaikan tangan dan Syafira membalas lambaian tangan semua keluarganya dengan senyuman yang sangat manis. Saat semua orang telah balik dan pulang Alan terus saja menatap keluar bandara seolah dia ditinggalkan oleh Syafira dan tak akan pernah kembali lagi ke sisinya.


...🌴🌴🌴...


Sudah 3 bulan Syafira dan alga berada di negeri orang dan mereka berdua terlihat sangat senang serta bahagia. Alga memasuki sekolah kanak-kanak dan memiliki banyak teman yang sangat baik padanya, begitu juga dengan Syafira yang telah menyelesaikan segala tugas dengan sempurna.


Seperginya Syafira Alan memfokuskan pikirannya dan tenaganya untuk terus bekerja dan bekerja, hampir tiap hari Alan lembur dan tak pulang kerumah. Bahkan Alea dan Aditya sudah memaksa Alan untuk istirahat pun tak ada yang didengar oleh Alan.


Dan sore itu entah apa yang ada didalam pikiran Alan saat ini karena dia telah duduk lama di tepi jendela sambil menatap keluar dan melamun. Aditya yang melihat kakaknya seperti itu merasa kasihan tapi dia tak bisa berbuat apa - apa, sebab Syafira melarang Alan untuk datang menemuinya dan Syafira mengancam kalau sampai Alan nekat datang maka Syafira tak akan pernah kembali lagi.


"Kak kenapa? Apa semua berkasnya sudah selesai ditanda tangani?" Aditya menegur Alan.


"Kenapa harus ada jarak yang begitu jauh, kenapa harus ada Dit" Alan bergumam menatap Aditya


"Waktu 1 tahun itu cepat kak, sabar saja. Bukankah setiap hari Syafa juga menghubungi kakak." Aditya berusaha menguatkan Alan.


"Tapi semakin dia menghubungiku semakin aku merindukan mereka." Alan menghela nafas dalam dan duduk di kursinya.


"Ya mau bagaimana lagi kak." Aditya berkata dengan lemas.


"Selidiki kenapa Syafira memutuskan ingin pergi dengan buru - buru aku angin tau semuanya." Alan memerintahkan Aditya untuk menyelidiki penyebab Syafira ingin pergi waktu itu.


"Ya baiklah. Ayo sekarang kita pulang kakak harus istirahat, karena kalau Syafa tau kakak seperti ini dia pasti tak suka dan akan khawatir dengan kakak." Aditya membujuk Alan untuk pulang dan istirahat, karena selama ini Alan telah bekerja terus menerus setiap hari untuk mengalihkan pikirannya kepada Syafira