
"Pagi non, mau kemana kok bangun pagi - pagi sekali?" bi amina yang melihat syafira terburu - buru merasa aneh.
"Mau ke rumah mama bi.!" berteriak sambil berlari keluar.
Karna rumah alan dan rumah alea berdekatan dan hanya terhalang oleh taman keluarga saja jadi bisa lewat pintu belakang yang terhubung. Walo depan rumah dipisah tapi belakang rumah dihubungkan dan dibuat pintu. Jadi setelah melewati pintu itu sudah masuk kedalam halam belakang rumah alea.
"Loh, kanapa kamu di sini pagi - pagi sekali?" ayunda bertanya bingung dengan melihat tatapan syafira yang bengong dengan wajah memerah.
"Syafa.!" teriak ayunda dengan menggoyang tubuh syafira.
"Eh, eh. Iya kak?" menatap bingung pada ayunda.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu bengong dan juga ngos - ngosan dengan wajah memerah begitu." memutar wajah syafira menghadap cermin.
"Ah, iya gak papa kok kak. Gak ada apa - apa sungguh, beneran."menjawab dengan panik.
Setelah selesai mandi dan bersiap ayunda dan syafira pun pergi ke sekolah dengan diantar oleh oni.
...🌴🌴🌴...
"Hay cewek - cewek cantik." sapa seseorang dari belakang ayunda dan juga syafira.
"Ah, Denis." wajah ayunda bersemu merah melihat denis yang datang menghampirinya dan juga syafira.
"Kak Denis habis potong rambut rupanya." goda syafira pada denis saat dia telah sampai dan berdiri tepat di depan ayunda dan syafira.
"Tentu saja, apa tampilanku aneh adik ipar ku." 😉 denis menjawab dengan mengedipkan mata.
"Heh, siapa yang kau sebut adik ipar?"
Pletak
Anisa yang datang menghampiri mereka bertiga langsung memukul kepala denis dari belakang.
"Ampun, nich cewek gak bisa lembut sedikit."
Gerutu denis mengolok anisa sambil memegangi kepalanya.
"Sudaha ayok kita masuk."
Seru syafira yang langsung melenggang masuk kedalam kelasnya.
...🌴🌴🌴...
Disebuah restoran ternama alan melakukan pertemuan dengan seorang rekan bisnisnya yang merupakan salah satu dari orang yang termasuk sulit untuk dihadapi dan diajak kerja sama.
"Tuan Alan di setelah sini." teriak seseorang dengan melambaikan tangannya memanggil alan yang baru saja masuk kedalam restoran.
Alan berjalan ke arah orang itu, dan terlihat dia ditemani oleh seorang wanita yang bisa dibilang sangat sexy dengan tampilan gaun yang sedikit terbuka dibagian dadanya, serta menampilkan sedikit buah dada yang menyeruak keluar.
"Tuan Alan, senang bertemu dengan tuan. Saya sudah sangat lama menggemari tuan, dan ini tadi saya memaksa papa untuk membawah saya begitu tau akan bertemu dengan tuan Alan."
Wanita sexy itu menjelaskan sesuatu yang tak ditanyakan oleh alan, dan dia meliukkan tubuhnya menampilkan keseksian yang sangat luar biasa.
"Kita langsung saja membahas yang harus kita bahas."
Alan tak sabar dan langsung memutuskan untuk membahas pekerjaan, karna putri dari tuan guntoro fira selalu berusaha untuk menggodanya dengan meliukkan tubuhnya.
"Ah, iya tuan Alan mari kita bahas dulu setelah itu yang mudah yang punya cerita." ucap tuan guntoro melihat putrinya, seolah memberinya isyarat.
"Baiklah, saya langsung saja mengatakan kalo saya tidak setuju dengan tawaran yang anda ajukan Jika saham awal 10 persen jadi bernilai lebih tinggi saya akan memikirkannya lagi."
Alan mengucapkan katanya tanpa menutupi dan langsung blak - blakan. Sehingga membuat tuan guntoro merasa sulit.
"Maaf sebelumnya, karna saya adalah pebisnis bukan tukang sedekah yang selalu memberikan semuanya dengan cuma - cuma. Jadi sebelum anda menawar pikirkan saja dulu, dan jika anda sudah setuju silakan hubungi saya lagi."
Alan berdiri dari duduknya hendak beranjak pergi, namun putri tuan guntoro menahannya agar alan tak pergi dulu.
"Tuan Alan, tolong jangan pergi dulu."
"Urusan saya dengan ayah anda sudah selesai, dan pambahasan kami yang sudah berjalan selama 1 jam saya rasa sudah cukup, dan saya masih ada urusan lain lagi."
Tolak alan pada putri tuan guntoro yang dirasa alan seolah ada maksud dia menahan alan pergi.
"Tuan Alan baiklah, bagaimana kalo 1 milyar saya tidak bisa naik lagi." ucap tuan guntoro.
"OK, deal. Aku suka dengan kesepakatan ini." alan berucap sambil memunculkan seringai.
"Tuan Alan, tidak kah mau makan dulu? Kitakan sudah menemukan sepakat." rayu fira putri tuan guntoro pada alan.
"Hem.?" alan menaikkan sebelah alisnya.
"Ayolah tuan Alan, bukankah kita dulu adalah teman saat kuliah." rengek fira pada alan, yang akhirnya diiyakan oleh alan.
"OK, tapi aku tak bisa lama." ucap alan dan itu membuat tuan guntoro tersenyum.
"Heh, tak akan ada yang bisa lepas dari bujuk rayu putriku yang cantik itu." gumam dalam hati tuan guntoro.
"Bagus, bagus. Sebentar pun tak masalah. Mari makanan akan segera disajikan." ucap tuan guntoro pada alan yang mulai duduk lagi di kursinya.
Dalam peroses makan alan merasa tak sabar dan juga risih dengan setiap gerakan dari fira yang terlihat begitu sangat ingin menggodanya.
Alan memunculkan seringai dan mendekatkan wajahnya pada fira. "Apa kamu ingin mencobak merayuku Fira.?" wajah fira memerah mendengar ucapan alan.
"Jika memang iya, lakukan dengan lebih baik lagi." sambung alan sebelum dia mengakhiri pertemuan itu.
"Baiklah, saya permisi tak bisa melanjutkan lagi karna saya buru - buru." ucap alan dan dia langsung beranjak pergi.
...🌴🌴🌴...
Setelah dari pertemuan dengan tuan guntoro alan melajukan mobilnya kembali ke kantor untuk mengkonfirmasikan pada sekretarisnya soal pertemuannya tadi siang. Karna tadi alan sengaja untuk pergi sendiri menemui tuan guntoro.
"Baiklah, kamu sudah mengerti.?" Tanya alan pada sekretarisnya.
"Sudah bos, dan saya juga sudah mencatat semuanya." ucap ninis sekretaris alan.
"Kalo begitu nanti tolong kamu bilang pada adit, kalo dia sudah datang suruh langsung menemui aku ya." perintah alan pada sekretarisnya.
"Baik bos, saya permisi." ninis melangkah keluar dari ruangan alan.
Tak lama setelah ninis keluar dari ruangan alan, adit datang dengan sangat terburu - buru masuk kedalam ruangan alan.
"Bos kenapa tak bilang kalo pertemuannya dengan guntoro siang tadi. Apa dia tak menyulitkan mu bos.?"
Adit bertanya dengan melangkah lebar dan berdiri tepat didepan meja kerja alan.
Adit yang sudah masuk ke dalam ruangan menatap alan dengan sedikit bertanya - tanya dengan tak sabar, karna dia khawatir pada alan yang akan dipersulit oleh tuan guntoro.
"Tenanglah, santai saja. Aku sekarang sudah ada di sini dan dalam keadaan baik - baik saja." ucap alan menatap adit yang berdiri tepat di depannya dengan wajah khawatir.
"Dan aku baru tau kalo dia adalah ayah dari Fira teman kulia ku." jelas alan pada adit.
"Maksudnya?" adit bertanya dengan bingung, karna dia tak pernah mengenal orang yang bernama Fira di kampus selama kulia.
"dia 1 angkatan tapi beda jurusan, dan aku mengenalnya saat di LA." jelas alan pada adit.
"Hem, pantas saja aku merasa tak mengenalnya." manggut - manggut.
"Ok, nanti ikut aku pulang, karna mobilku ku taruk di bengkel." ucap alan
"Baik, aku selesaikan tugasku dulu 15 menit lagi aku susul." ucap adit keluar dari ruangan alan setelah menerima berkas yang sudah ditandatangani oleh alan.
...🌴🌴🌴...
"Eh, ini kan mobil daddy Yos. Dia kesini?" gumam syafa sumringah saat dia melihat mobil adit diparkir di halan rumah.
Syafira lari ke arah kamar adit dengan sangat senang, karna sudah sebulan adit tak pernah kunjung ke rumah dan syafira merasa rindu pada adit.
Brak
"Daddy.! Ups." syafira langsung menutup pintu lagi dan lari balik masuk kedalam kamarnya sendiri dengan cepat.
"Hem, kenapa dengannya?" alan yang mau lepas baju merasa heran dan bertanya.
Sementara di dalam kamarnya syafira merasa terkejud serta berusaha menenangkan dirinya.
"Apa aku tadi salah masuk?"
"Tapi itu benar kamar daddy Yos, bukankah kamar daddy Alan di kantai dua ya?"
"Tapi kenapa dia, Aaaaaaahhh!"
Syafira terus menggerutu dan berteriak pelan dalam kamarnya, karna dia terus terbayang akan sosok tubuh alan.
"Gundukan itu?"
"Ya Ampunt syafa apa kau sudah gila.!"
Syafira guling - guling di tempat tidurnya sambil menutup wajahnya yang terus terbayang akan tubuh alan.
Sementara di dalam kamar adit di rumah alan. Alan masih bingung dan bertanya - tanya.
"Kenapa kak?" Tanya adit yang keluar dari kamar mandi dan mendapati alan bengong.
"Apanya.?" jawab alan bingung.
"Lah kenapa kaka bengong dan siapa tadi yang banting pintu?" adit bertanya lagi dengan menatap alan.
"Hem, awas jangan halangi jalan aku mau mandi." ucap alan yang melangkah melewati adit.