
Didalam kamarnya Syafira duduk termenung menatap dirinya didepan cermin sambil melamun karena dia merasa kalau dirinya sangat malu dan juga bahagia saat ini.
Bibir tipis mungilnya membentuk setengah lingkaran dan matanya menyipit karena dia tersenyum lalu merasa malu sendiri, Syafira sudah pernah bersama dengan Alan sebelumnya hingga melahirkan Lisa namun perpisahan dengan Alan membuat dia kembali mengulangi pertemuan yang membuat dia merasa canggung.
"Ah ini gila." Syafira menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bagaimana bisa seperti ini, apa aku sudah gila hah? Kenapa aku bisa merasa seperti ini.
Syafira menoleh dan menatap Lisa yang sudah terlelap di tempat tidur, Syafira tersenyum dan beranjak mendekati putrinya lalu tidur disamping putrinya sambil membayangkan kejadian saat di restoran.
Kilas balik
"Menikahlah dengan ku lagi dan kali ini aku ingin melakukannya dengan benar dan meriah." Alan
"Bagaimana, apakah kau mau menerima lamaranku" Alan
"Iya, aku mau." Syafira
"Terima kasih sayang." Alan
"Sayang, apa kau akan tidur dengan putri kita lagi malam ini?" Alan menahan Syafira saat mereka sampai di rumah
"Iya, kenapa? Apa ada yang ingin aku lakukan?" Syafira bertanya dengan tatapan bingung
"Tidak, aku bisa menunggu untuk 1 Minggu kedepan" jawab Alan tersenyum
"1 Minggu? Maksudnya?" Syafira semakin bingung
"Iya, 1 Minggu lagi kita akan menikah dan kali ini akan ku lakukan dengan baik dan akan ku umumkan kalau aku memiliki istri yang sangat cantik" ucap Alan, Syafira tersenyum dan merasa salah tingkah langsung lari dan masuk kedalam kamar.
Saat ini
Syafira tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja dia alami dan jantungnya berdetak sangat cepat karena 1 Minggu lagi dia akan menikah secara resmi dengan Alan, Daddy yang selama ini dia cintai.
Keesokan paginya terlihat Syafira sudah sibuk dengan urusan dapur karena dia menyiapkan sarapan untuk Alan dan juga putri kecilnya.
"Mama habis" teriak Lisa saat buah potong yang disiapkan oleh Syafira habis.
"Makan apa sayang, tuan putri papa yang cantik" Alan mengusap kepala Lisa dengan lembut.
"Buah papa" Lisa me jawab dengan cepat dan tersenyum
"Mama kakak, mama"
Setelah selesai sarapan dan Alan telah berangkat Lisa mulai merengek minta ditelepon kan kakaknya karena dia sudah merasa bosan bermain sendirian.
"Iya, iya sebentar." Syafira mengambil handphonenya dan mulai menghubungi Alga
Terlihat Lisa sangat senang bicara dengan kakaknya dan mereka bicara dengan seru, terlihat Lisa menceritakan semua hal pada kakaknya sambil bermain.
"Sayang apa yang kau lakukan? Ayo kita pergi untuk belanja dan membeli beberapa baju untuk mu dan juga kita harus melihat gaun pengantin kalian." Merisca datang dan ingin membawah Syafira untuk belanja dan melihat gaun yang akan digunakan nantinya.
Hari pernikahan antara Alan dan syafira pun semakin dekat, semua orang terlihat sedang sibuk dan Syafira pergi untuk bertemu dengan Milly dan Badrul karena mereka adalah saudara yang dulu telah menjaga dan merawatnya.
...🌴🌴🌴...
Terlihat Syafira menangis dan juga menyesal karena dia tak tau dengan kepergian Bu Damiyah orang yang telah menjadi ibu sekaligus penolongnya.
"Maafkan aku kak, aku tak tau soal itu semua" Syafira menangis dan memeluk Milky
"Tak apa Fa, semuanya sudah berlalu dan juga ibu memang sudah umur." Milky memeluk dan menepuk lembut punggung Syafira.
"Semoga kau akan bahagia dan tak lari - lari lagi." Badrul berkata dan juga memeluk Syafira.
"Terima kasih kak Badrul, dan kak Milky" ucap Syafira dan dia pun pergi lagi bersama Alan untuk melihat baju pengantin yang akan mereka kenakan nanti.
...🌴🌴🌴...
"Kenapa kau ini mengeluh terus kerjamu dari tadi." Alan memukul Adit dari belakang
"Elah kak main mabok saja." Aditya mengusap punggungnya yang dipukul Alan
"Daddy Yos kalau Daddy capek istirahat saja, Syafa buatkan es jeruk kesukaan Daddy." ucap Syafira dan pergi ke dapur
"Putriku selalu tau apa yang ku inginkan." Aditya tersenyum dan berjalan mengikuti Syafira.
"Mereka terlihat sangat dekat, tapi kenapa kalau dengan ku Syafa bahkan tak melihat wajahku saat dia bicara. Dia lebih banyak menunduk." Alan yang memperhatikan Aditya dan Syafira merasa ada yang aneh.
...🌴🌴🌴...
Sementara di hotel Alea dan Merisca terlihat sangat sibuk karena mereka berdua menyiapkan acara nanti dengan sangat sempurna. Kedua orang itu yang paling sibuk dari yang lainnya karena mereka mengatur semua tatanan di hotel agar nanti pada saat acara menjadi sangat baik dan sempurna.
Semua pegawai hotel jadi ikutan sibuk karena mengikuti arahan dari kedua wanita itu. Semua dekorasi dan persiapan dipantau dan awasi langsung oleh Alea, dan untuk urusan makanan Merisca yang mengawasinya.
"Ya ampun rasanya lelah sekali, ini belum juga hati H acara itu tapi rasakan aku sudah capek" pegawai 2
"Benar, apa lagi Bu Merisca dan nyonya Alea mereka berdua meminta semuanya untuk sempurna" pegawai 1
"Rasanya aku ingin cepat selesai semuanya ini" pegawai 2
"Iya rasanya tubuhku seperti habis maraton kalau sudah pulang sakit semuanya." Pegawai 3
...🌴🌴🌴...
Syafira menghubungi Alga untuk bertanya apakah dia bisa pulang untuk menghadiri acara pernikahan ulang antara dirinya dan papanya, karena Syafira ingin saat acara itu kedua anaknya ada bersama dengannya.
Alan yang mendengar pembicaraan antara Syafira dan Alga dari telepon tersenyum dan dia langsung menyiapkan tiket untuk Alga agar dia bisa pulang dan menemani mamanya, karena Alan ingin melihat Syafira bahagia.
Syafira telah menyiapkan segalanya termasuk hatinya yang semakin mendekati hari H dia merasa semakin gugup karena ini merupakan pernikahan pertamanya yang akan diadakan secara terbuka, sebab dulu Alan hanya menikahinya secara siri itu pun secara tertutup dan diam - diam karena dia sudah dalam kondisi hamil.
"Kenapa, apakah kau gugup" Ayunda bertanya saat dia melihat Syafira sedang bersiap untuk pestanya.
"Bagaimana jika aku harus keluar, jujur aku sangat gugup." Syafira berkata dengan meremas tangannya
"Hei apa yang kau katakan ini hah, mana Syafa yang berani dan selalu kuat." Ayunda menggoda Syafira
"Kak, aku benar - bentar gugup saat ini dan tak memiliki kekuatan apapun." Syafira memeluk Ayunda dengan erat
"Apa kau tau Fa, apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" Ayunda
"Apa kak?" Syafira
"Aku berfikir kemana adikku yang dulu selalu mengikutinya dari belakang karena sekarang dia telah menjelma menjadi seorang wanita cantik dan multitalenta, bahkan dia adalah seorang bintang hebat." Ayunda menatap Syafira dan tersenyum.
"Kak" Syafira kembali memeluk Ayunda
"Sayang ada apa ini kenapa kalian malah saling berpelukan begini, Ayu awas nanti riasan adikmu akan hilang" Alea memarahi Ayunda.
"Kamu cantik sekali sayang, mula sekarang mama akan menitipkan Alan dalam perawatan mu." Alea berkata dan menangkap wajah Syafira
"Loh, loh kok malah saling menangis ayo acaranya sudah dimulai, sudah jangan menangis. Kamu cantik sekali sayang" Merisca yang menyusul juga ikut menangis melihat Alea dan Syafira menangis
Saat Syafira berjalan keluar dari kamar dan berjalan mendekati aula pesta dia bergetar dan air matanya kembali menetes saat dia mendengarkan Alan mengucapkan kalimat ijab-kabul yang merupakan janji suci seorang suami pada istrinya.
"Ku terima nikah dan kawinnya Syafira Putri Pertiwi Abigail binti Yoni Andika Saputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap Alan dengan lancar dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi sah" ucap penghulu
"Sah." Jawab semua orang serempak
"Alhamdulillah, Al-fatihah" ucap penghulu dan mulai membacakan doa
"Selamat sayang putri mama" Alea dan Merisca memeluk Syafira bersamaan.