
Setelah Alan selesai melakukan pertemuan dengan rekan kerjanya Alan membawah Syafira naik kelantai dua restoran itu yang ternyata disana sepi tak ada pengunjung sama sekali, karena Alan sudah menyewa tempat itu khusus untuk malam ini. Alan membawah Syafira ke jendela yang menghadap luar dan menyuruh Syafira melihat kebawah ke lampu - lampu kota yang bersinar terang.
"Kita mau apa di sini Daddy?" tanya Syafira yang merasa bingung.
"Lihatlah kebawah." bisik Alan dan saat Syafira melihat tiba - tiba saja lampu - lampu itu paham dan menyala dengan membentuk kata maaf dan tak lama lagi menyala dengan kata i love you. Syafira yang melihat itu merasa kaget dan terpaku.
Alan mendekat lalu memeluk Syafira dari belakang sehingga menyadarkan kekaguman Syafira pada kalimat yang dia baca tadi, saat Syafira menoleh lagi lampu kota sudah menyala seperti biasa.
"Maafkan Daddy sayang, karena Daddy hidup mu jadi berantakan seperti ini. Kamu adalah putri kecil Daddy yang lucu dan paling Daddy sayang. Pulanglah bersama Daddy sekarang, ayo tinggal bersama, kita besarkan Alga dan kita berikan dia kehidupan yang utuh dan sempurna. Dia harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan hebat, dan kamu harus bahagia karena Daddy ingin melihat mu bahagia." ucap Alan yang masih memeluk Syafira.
Syafira tersenyum getir karena dia masih saja dianggap sebagai seorang putri kecil oleh pria yang dia cintai dan dia panggil Daddy ini. "Rupanya sampai kapan pun aku masih tetap tak bisa menembus hatinya dan membuat dia memandang ku sebagai seorang wanita. Kata cinta tadi bukan untuk ku tapi untuk putrinya, sungguh sangat menyedihkan." gumam Syafira didalam hati dengan merasakan rasa sakit.
"Syafa pikirkan dulu, karena Syafa sudah terlalu nyaman menjalani hidup Syafa yang sekarang." jawab Syafira dengan senyum yang dibuat bagus.
"Baiklah sayang, Daddy tak akan maksa kamu. Tapi Daddy harap kamu bisa cepat kembali ke rumah dan kita tinggal bersama seperti dulu lagi." ucap Alan memutar tubuh Syafira menghadap dirinya dan memerlukan dengan erat.
"Aku tak akan bisa kembali Daddy, karena aku tak akan sanggup melihat Daddy dengan wanita lain didepan mataku. Aku mencintai Daddy bukan sebagai orang tua Syafa melainkan sebagai seorang pria." suara hati Syafira dengan sedih menerima pelukan dari Alan.
"Jangan membuat Daddy khawatir Syafa, Daddy sangat tau kamu sejak kecil. Daddy tau jika kamu sudah memutuskan sesuatu kamu pasti akan melakukannya. Tapi Daddy mohon untuk kali ini tolong beritahu Daddy saat kamu akan melakukan apa pun ku bisa kan?" tanya Alan menatap Syafira dengan senyumannya yang manis bagi Syafira.
"Ehm,,, insya Allah Dad." jawab Syafira ragu.
"Kamu mau memaafkan Daddy kan Syafa? Daddy benar - benar sangat menyesal dengan apa yang telah Daddy lakukan pada mu, Daddy sungguh tak tau apa pun waktu itu." jelas Alan dengan tatapan bersalah.
"Iya tolong jangan dibahas lagi Dad. Syafa sudah memaafkan Daddy dari sejak dulu." jawab Syafira tertunduk
"Kemari lah," Alan membawah Syafira duduk dikursi "Daddy sangat menyayangi mu, Daddy ingin melihatmu bahagia dalam pernikahan, Daddy ingin memperbaiki semuanya dan Daddy akan merayakan pernikahan kamu dengan sangat meriah nantinya. Bagaimana kalau menurut Syafa, apa Syafa mau? Kalau iya Daddy akan segerah menyiapkan semuanya, termasuk orang yang baik untuk Syafa." ucap Alan duduk dihadapan Syafira.
"Maksud Daddy apa? Daddy ingin menikahkan Syafa dengan orang lain begitu? Syafa gak mau karena Syafa gak pernah terpikir untuk itu. Syafa juga belum siap untuk berhubungan dengan orang lain, Syafa lebih nyaman seperti ini dan menjalani hidup dengan Alga." jelas Syafira pada Alan karena Syafira gak mau menikah dengan orang lain yang tak dia cintai dan tak dia inginkan dalam hidupnya saat ini.
"Syafa kau tak perlu memikirkan hal lain, mau bagaimana pun kamu tetaplah putri daddy karena daddy sangat menyayangi mu dan ingin melihat mu bahagia Daddy bisa melakukan apa saja untukmu sayang " jelas Alan pada Syafira.
"Tak mengkhawatirkan hal itu, karena dari awal semua itu adalah kesalahan Daddy. Dan kau adalah permata Daddy yang sangat berharga bagi Daddy, jadi jangan pergi meninggalkan Daddy lagi, selama kita merahasiakan semuanya tak akan ada orang yang tau." ucap Alan dengan lembut membujuk Syafira.
"Baiklah, Daddy akan menjemput seminggu lagi karena selama itu Daddy akan tugas keluar kota. Kau sangat berharga bagi Daddy." ucap Alan dan Syafira tak punya jawaban lagi untuk menolaknya.
Setelah pembicaraan itu Alan menggerakkan tangannya dan pegawai restoran bergerak mengantarkan makanan ke meja Alan dan Syafira sehingga meja yang tadinya kosong telah menjadi penuh.
"Ayo makan dulu, setelah itu kita kembali." ucap Alan dan Syafira pun memulai makan, namun Syafira tak tau kearah mana makanannya masuk, benar atau salah posisi makanan itu masuk kedalam pencernaannya karena dalam pikirannya dia dipenuhi oleh kata - kata Alan yang tak bisa dia pahami saat ini.
Setelah selesai Alan membawah Syafira kembali lagi ke kamar hotel dan mereka tidur terpisah karena Alan tidur di sofa dan Syafira di ranjang. Susah payah akhirnya Syafira bisa juga terlelap saat hari menjelang pagi.
wuuuus,,,
Angin yang masuk dari cela jendela yang semalam dibuka oleh Syafira karena dia tak bisa tidur dan terus menatap jauh keluar lupa untuk ditutup kembali sehingga pagi ini angin segar itu menerjang masuk kedalam kamar yang ditempatinya.
"Hem, kenapa terasa hangat dan lembut?" gumam Alan dalam hatinya yang merasakan hembusan nafas Syafira pada dadanya yang terbuka dan bibir Syafira yang menyentuh kulit dadanya.
"Deg." jantung Alan berdebar tak karuan setelah dia tau kalau ternyata dia tidur di ranjang bersama dengan Syafira dan Syafira masuk kedalam pelukannya. Dengan pelan Alan melepaskan Syafira yang melingkarkan tangannya pada dirinya dan dengan cepat Alan masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa aku bisa tidur di ranjang bersama dengan dia? Pasti saat aku dari kamar mandi tanpa sadar aku kembali keranjang. Syukurlah dia belum bangun bisa gawat kalau sampai dia bangun." Alan menggerutu dalam kamar mandi dan mencobak menetralkan debaran jantungnya yang telah berdebar sangat cepat.
"Sudah bangun? Mandilah Daddy antar kamu pulang setelah ini." ucap Alan dan Syafira langsung berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum pulang Alan membawah Syafira sarapan dulu disebuah kedai bubur ayam yang dulu menjadi makanan kesukaan Syafira waktu masih sekolah. Dan Syafira seolah sedang bernostalgia makan di kedai bubur ayam itu, karena setelah dia lulus sekolah sampai sekarang tak pernah makan bubur ayam di kedai itu.
"Suka?" tanya Alan yang melihat Syafira tanpa sadar mengulas senyum dibibirnya yang mungil.
"Suka." jawab Syafira dengan tatapan sangat bahagia.
Tanpa disadari oleh Alan benih cinta itu telah tumbuh bersamaan dengan rasa bersalah dan tanggung jawab disana juga mulai ada bibit kecil yang ikut muncul namun tetap saja ditolak dan tak diakui oleh Alan.