Baby I Love You

Baby I Love You
Pengaruh obat



"Tuan Alan saya permisi duluan ya." ucap tuan Budiono pada Alan.


"Oh iya silakan." jawab Alan dan berdiri.


"Daddy tinggal sebentar." Alan menatap Syafira dan dijawab hanya dengan anggukan saja.


Tak selang lama Alan pergi Syafira merasa ada yang aneh dengan tubuhnya dan dia merasa tak enak badan karena tubuhnya terasa panas, Syafira berusaha untuk menahannya dan kepalanya terasa semakin berat. Syafira berkali - kali menggelengkan kepalanya untuk mengusir pandangannya yang mulai sedikit kabur.


"Kenapa dengan ku, kenapa tubuhku terasa sedikit panas dan kepalaku berat, bahkan penglihatan ku juga mulai kabur." gumam Syafira yang berkali - kali menggelengkan kepalanya ditempat duduknya.


"Aku ke kamar mandi dulu aja." Syafira bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi.


"Sepertinya obatnya sudah mulai bereaksi." Anita bergumam dan tersenyum licik "Apa yang akan kau lakukan jika kau sudah tak tahan lagi j*l*ng, kau pasti akan menunjukkan sifat asli mu dan mencari seorang pria untuk memuaskan hasrat dan dahagamu itu." Anita merasa diatas awan karena dia merasa menang dari Syafira dan berfikir kalau Syafira akan mempermalukan dirinya sendiri dan tak akan berani lagi untuk mendekati Alan apa lagi berebut Alan dengannya.


"Ugh sakit sekali kepalaku, tidak bisa aku harus bilang Daddy aku mau pulang." Syafira mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alan.


"Tak diangkat, apa Daddy tak denger ya?" Syafira berusaha lagi untuk menghubungi Alan.


Sudah ada 10 panggilan yang dilakukan oleh Syafira dan karena musik yang diputar diruangan itu sedikit keras jadi Alan tak bisa mendengar panggilan dari Syafira yang berulang kali.


"Ugh, aku tak tahan aku harus pulang." Syafira menghubungi Milky namun karena pandangannya kabur dia malah menekan nama Bian.


"Dengar didalam kamar mandi ada seorang wanita, kalian lakukanlah sesuka kalian tapi jangan lupa rekam semua adegannya." ucap Anita kepada 3 orang pria dari petugas pramusaji.


Syafira keluar dari kamar mandi dengan jalan sempoyongan dengan menggenggam hanpon yang melakukan panggilan. Syafira berusaha keras untuk menahan kesadarannya agar dia tak dikalahkan oleh sesuatu yang membuat dirinya tak nyaman.


"Nona apa kau tak apa? Apakah butuh bantuan? Kami bisa membantu anda nona." pria 1


"Benar kami bisa melakukan apa saja untuk anda." pria 2


"Ti-tidak, terima kasih." Syafira menolak dan berusaha untuk menghindari kedua pria itu dengan terus mencubit dirinya sendiri.


"Nona kenapa anda menyakiti diri anda sendiri? Aku tau apa yang nona butuhkan jadi serahkan saja pada kami, dari pada nona menyakiti diri nona yang sudah terlihat biru - biru, sayang sekali kulit mulus nona ini jadi terluka." pria 1


"Tidak pergilah, kalian mau apa?" Syafira mulai kesal karena dirinya sudah hampir diambang kemampuannya untuk bertahan dalam kesadaran.


...🌴🌴🌴...


Di sebrang telepon Bian yang menerima panggilan dari Syafira mendengarkan suatu percakapan Syafira yang terdengar aneh dengan beberapa orang pria, Bian terus memanggil - manggil nama Syafira namun tak mendapatkan sahutan dari Syafira. Bian tau pasti kalau ada masalah dengan Syafira saat ini, dan dengan panik Bian ingin membantu tapi dia tak tau saat ini Syafira sedang berada dimana.


"Tunggu tuan Alan, ya aku harus menghubungi tuan Alan." gumam Bian dan dia berusaha mencari moner ponsel Alan dari majalah yang menerbitkan tentang Alan.


"Ah, sial kenapa tidak apa sih." gumam Bian panik. "Oh iya nomer rumahnya kan aku punya," Bian langsung menghubungi nomer rumah Alan dan meminta moner Alan dari BI Aminah.


...🌴🌴🌴...


Kembali ketempat Syafira, dan kedua pria itu sudah mulai menarik Syafira untuk keluar dari tempat itu untuk menghindari orang - orang dan melancarkan aksinya karena sudah dibayar.


"Kalian, ugh" Syafira terjatuh dan reaksi obatnya semakin kuat hampir memakan seluruhnya kesadaran Syafira.


Disisi lain Alan yang sadar Syafira tak ada ditempat merasa bingung, Alan berjalan keluar dan mencari keberadaan Syafira namun dia tak menemukan sosok Syafira dan saat Alan melihat hanponnya Alan terkejud karena menerima 10 kali panggilan tak terjawab dari Syafira.


"Kemana dia?" gumam Alan bertanya - tanya dan saat dia ingin menghubungi Syafira tiba - tiba saja nomer tak dikenal menghubunginya.


"Siapa?" Alan menatap layar hanponnya.


Alan : Halo


bukan : Tuan Alan saya Bian, maaf saya menghubungi anda, barusan Syafira menghubungi saya namun dia tak bisa menjawab dan sepertinya dia sedang dalam masalah, karena saya mendengar ada beberapa orang pria bersamanya dan sepertinya Syafira sedang berusaha mempertahankan kesadarannya tapi saya tidak tau dia dimana sekarang.


Alan : (mematikan langsung panggilan dari Bian dan berusaha mencari Syafira dengan menghubungi hanpon syafira)


"Sial, dimana dia." Alan terlihat sangat panik dan mulai mencari keberadaan Syafira disetiap tempat.


"Hei, sepertinya dia sudah mulai hilang kesadarannya. Tak sangka dia cantik sekali dan kulitnya sangat mulus." ucap pria 1 pada kedua temannya.


"Entahlah urusan orang kaya sangat rumit, sekarang kita disuguhi makanan enak nan empuk ini sungguh sangat lezat." pria 1


"Hm, ini mamanya rejeki nomplok, uda dapat uang tebel dan wanita cantik pula." pria 2 yang terlihat sudah sangat bergairah melihat Syafira yang terus saja berontak namun sudah hampir kehilangan kesadaran dirinya.


"Ayo cepat kita bawah pergi dari sini nanti kalau ketahuan orang kita bisa celaka dan gak bisa menikmati ini wanita." pria 1


"Lepaskan.!" teriak Syafira dengan kencang disisa tenaga terakhirnya.


"Kalian, apa yang kalian lakukan?" tanya Almansyah yang mendengarkan teriakan seorang wanita.


"Tuan, tak ada masalah kami hanya sedang bertengkar dangan kekasih saya saja." jawab pria 2


"Syafa.!" teriak Alan yang keluar dari dalam dan menuju parkiran.


"Om Alan." sapa Almansyah pada Alan


"Oh tuan saya permisi dulu." pria 2 langsung bergegas masuk kedalam mobil yang didalam kedua temannya sedang membekap Syafira agar tak berontak.


"Ugh." Syafira mencium leher pria 3 dan sontak itu membuat pria 3 kaget.


Bang (Tangan Syafira memukul kaca)


Alan yang berbincang dan menceritakan kalau Syafira tak bisa dihubungi sekilas melihat kalau gelang yang digunakan oleh Syafira menabrak kaca saat tangannya memukul kaca.


"Sial, Syafa." Alan berlari mengejar mobil itu dan Almansyah masuk kedalam mobilnya lalu membawah Alan mengikuti mobil yang membawah Syafira.


...🌴🌴🌴...


"Ayo cepat." pria 1 dan pria 3 membawah Syafira keluar dari mobil.


Bug


Alan langsung memukul orang itu dan melihat Syafira yang sudah berantakan. Alan semakin menggila menghajar ketiga pria yang berusaha menculik Syafira, Almansyah yang melihat Alan mengamuk menghajar ketiga orang yang sudah hampir tak mampu untuk bangun lagi langsung menghentikan Alan.


"Panggil polisi urus mereka." perintah Alan pada Almansyah dan dia langsung membawah Syafira masuk kedalam hotel.


"Kamar biasanya sekarang." ucap Alan pada pegawai resepsionis karena itu memang hotel Alan.


"Baik tuan." pegawai itu langsung lari menuju lif dengan sebuah kunci.


"Um." Syafira yang digendong Alan mulai berulah dengan meraih leher alan dan menciumnya.


"Syafa berhentilah." gumam Alan menahan dirinya. Dan pegawai resepsionis itu berusaha menahan diri karena malu dengan adegan apa yang dilakukan oleh Syafira pada Alan.


"Pergilah." ucap Alan setelah sampai di kamar


Alan membanting tubuh Syafira diatas tempat tidur karena dia sudah gerah dengan ulah Syafira, dan menarik kaki Syafira untuk memeriksa daerah inti Syafira yang ternyata masih aman dan tertutup dengan ****** ***** serta celana pendeknya. "Dia terpengaruh obat, siapa orang yang melakukan ini padanya?" Alan menatap Syafira yang mulai tak bisa menahan dirinya.


"Tolong lepaskan aku, aku mohon. Ugh." gumam Syafira yang sedikit sadar karena ulah Alan yang menyentuh daerah intinya dan Syafira langsung meringkuk, namun kemudian dia mendesah lagi menahan gejolak dalam dirinya.


"Syafa ini Daddy, lihatlah ini Daddy sayang. Tolong maafkan Daddy." Alan berusaha menyadarkan Syafira. Lalu mengangkat tubuh Syafira lagi dan memasukkannya kedalam bathtub dan mengisinya dengan air dingin.


"Dingin." Syafira berusaha bangun dan Alan menahannya agar dia berendam.


Setelah air telah memenuhi bathtub Alan melihat Syafira mulai tenang berendam dalam air dingin, dan Alan bernafas lega. Sekitar 1 jam Alan merendam Syafira dalam air sampai akhirnya Syafira mulai sadar walau hanya sedikit karena tubuhnya lemas.


"Daddy." panggil Syafira yang keluar dari dalam kamar mandi dengan sempoyongan dan melihat Alan duduk di sofa sedang menghubungi seseorang.


"Syafa, cepat ganti bajumu." Alan menyerahkan baju baru pada Syafira.


setelah ganti baju yang bersih Syafira tertidur dan dan Alan menatapnya dengan bersalah, Alan menghubungi Aditya untuk ke kantor polisi karena dia meminta pada Almansyah untuk membawah 3 orang pria ke kantor polisi.


Alan bersandar di sofa dan merasakan kepalanya yang berat karena dia dari tadi telah berusaha keras menahan gejolak dalam diri dari godaan Syafira sebelum Syafira tertidur saat ini, perlahan Alan menutup matanya dan merebahkan tubuhnya di sofa.