
1 tahun telah berjalan dengan sukses apa yang dikerjakan oleh Alga selama dia belajar di luar negeri dan menjalankan perusahaan dengan bimbingan Ariana serta dan Aron yang selama ini telah menutupi pekerjaan mereka sendiri dengan bergabung dengan musisi terkenal.
Kehidupan Alga di luar semakin hari semakin baik dan dia semakin mengerti harus bagaimana menjadi seorang pimpinan yang baik untuk seluruh karyawan dan perusahaan yang sedang dia kelola.
"Ga apa kau sudah menangani semuanya?" tanya Aron setelah dia melihat Alga pulang sekolah
"Soal yang mana om, tentang penjualan atau tentang tuan Saiful yang semakin menjadi." jawab Alga dengan bertanya balik pada Aron
"Keduanya, karena seperti ya si Saiful itu mencobak untuk mencekal kita agar penjualan kita lebih sulit." Aron berkata dan mengikuti Alga masuk kedalam kamarnya
"Oh kalau soal itu belum om, habis ini saja aku masih ada pekerjaan rumah. Akan ku selesaikan dengan segerah setelah ini, apakah Tante Ariana ada masukan atau mendapatkan informasi terbaru lagi." Alga berganti baju dan keluar kamar
"Masih belum, sepertinya dia masih kesulitan untuk mencari dalang dibalik semuanya. Dan sepertinya si Saiful itu ingin main - main dengan kita." Aron menatap Alga
Alga tersenyum tipis menatap layar laptopnya dan dia mendekat untuk melihat sesuatu yang ada di sana, Aron yang ada dibelakang Alga menatap dan bergeleng kepala karena Aron mengerti apa yang akan dilakukan oleh Alga nantinya saat dia telah menatap begitu lama pada layar yang menjadi mainannya itu Selma ini.
"Aku temukan, nanti aku akan memanggil om, sekarang aku ingin menyelesaikan tugas sekolah ku dulu." Alga berbalik dan menatap Aron
"Ok, aku akan keluar untuk beli makan untuk makan malam kita nanti." Aron pun merasa lega dan pergi
"Ingin bermain dengan ku kalian, akan ku layani nanti ya." Alga kembali menatap layar laptopnya dan bergumam dengan senyuman tipis dan liciknya.
...🌴🌴🌴...
"Kak apa kau sudah dengar kalau perusahaan Daren ternyata dipegang oleh seseorang yang hampir tak pernah menunjukkan dirinya, bukankah itu terasa sedikit aneh." Aditya berkata pada Alan dan merasa curiga
"Aneh bagaimana? Pihak mereka bisa dan mampu membelinya serta telah mengalahkan dia." Alan menatap Aditya
"Kak, jika dia memang mengalahkan dengan jujur ok lah, tapi lihatlah ini. Selama 1 tahun ini yang bekerja di sana hanya asistennya dan pimpinannya tak pernah muncul sama sekali. Aku curiga kalau dia bukanlah seorang asisten dan pasti dialah pimpinan dari perusahaan itu sendiri, tapi..." Aditya terlihat berfikir
Alan menatap Aditya dengan bingung dan tersenyum "kau terlalu banyak berfikir, bukankah kau sudah beberapa kali bertemu dengan dia untuk melakukan kerja sama"
"Iya memang, tapi dari pihak mereka masih belum bisa memastikan dan menerima kerja sama dengan kita dengan alasan kalau pimpinan mereka ingin bertemu secara langsung pada saatnya nanti. Bukankah itu aneh, kenapa harus begitu dan kenapa hanya untuk menjalani kerja sama saja harus menunggu pimpinannya bertemu dengan kita. Sedangkan selama ini tak ada niatan baik dari pihaknya, buktinya ini sudah 1 tahun tak ada respon apa pun." Aditya berkata panjang lebar dengan kesal
Alan kembali tersenyum dan terlihat tak peduli dengan hal itu, karena Alan berfikir kalau kerja sama itu tak terlalu penting sebab alasan sesungguhnya dibalik semuanya adalah dia.hanya ingin siapa orang yang telah mengambil alih perusahaan Daren dan merubahnya menjadi perusahaan yang sangat berkembang hanya dalam waktu singkat serta kemajuan yang sangat luar biasa.
"Kenapa kakak hanya senyum - senyum" Aditya menatap Alan dengan bertolak pinggang didepan Alan
"Aku hanya tertarik untuk mengetahui siapa orang itu, karena dia mampu membangkitkan dan menarik perusahaan yang hampir tenggelam dalam lumpur menjadi sesuatu yang berlambang seperti saat ini. Dan dia pastinya bukanlah orang yang tanpa pemikiran, pasti dia memiliki permainan dan pengamatan yang tepat serta cermat. Atau mungkin dia telah mempelajari dan mengincarnya dari awal." Alan berkata dan terlihat berfikir sambil memutar bolpoin dengan jarinya
"Hem, aku rasa juga begitu. Pasti dia orang yang sangat berbahaya, tapi siapa dia itu yang bikin aku penasaran sampai sekarang. Dia bekerja dari balik layar dan semua pekerjaannya sangat rapi." Aditya berpendapat sama dengan Alan kalau pimpinan perusahaan itu bukanlah orang yang ringan.
"Kita akan tau pada akhirnya nanti jadi jangan risaukan soal itu, bagaimana dengan laporannya kau kesini ingin melaporkan sesuatu kan." Alan menatap Aditya
"Oh iya untung kakak ingatkan." Aditya maju dan membawa berkas kehadapan Alan terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius karena Alan mendengarkan dengan seksama dan sesekali menganggukkan kepalanya.
...🌴🌴🌴...
Disebuah restoran berbintang berkumpul beberapa orang yang termasuk mereka para memegang saham dari perusahaan milik Daren dulu, di sana terlihat ada Daren dan tuan Saiful juga yang terlihat tak sabaran.
"Ada apa kalian memanggil kami dan mengumpulkan kami di sini, tentunya tak mungkin jika kalian melakukan hal ini tanpa ada tujuan" tuan Abdi berkata tanpa basah basi
"Hem, sepertinya kau sangat mendukung pimpinan barumu itu." tuan Saiful meledeknya
"Apa maksudmu, bicaralah yang jelas." tuan Abdi tak terima
"Jika kau ingin bergabung maka bergabunglah dan jika tak ingin atau kau terlalu pengecut maka kau bisa pergi dari sini." lagi - lagi tua Saiful membuat tuan Abdi kesal
"Tapi sayangnya kau tak bisa melakukannya, karena perusahaan itu sekarang telah berkembang dan usahamu selama 1 tahun sia - dia karena perusahaan itu bukannya hancur melainkan semakin naik bahkan nilai dan seluruhnya naik." sambung tuan Abdi
"Kau mengetahui semuanya selama ini, jangan - jangan kau yang memberitahu bocah itu kalau ini adalah permainan kami." tuan Saiful ikut meninggikan suaranya.
"Bocah itu adalah bocah yang tau cara bermain dan juga memimpin, tanpa aku memberitahu dia aku pastikan dia sudah tau permainan mu dan pasti kau akan mengadakan game over setelah ini. Aku pergi." tuan Abdi meninggalkan tempatnya
"Dia selalu saja seperti itu tak bisa diajak bicara baik - baik." tuan Saiful duduk dan terlihat tak tenang.
"Memang apa yang sedang kau rencanakan, dan apa benar yang dikatakan oleh Abdi kalau kau memainkan trik untuk membuat perusahan itu hancur." tuan Anang bertanya dan menatap tuan Saiful
"Aku hanya tak suka dengan cara bocah itu, dia sangat arogan dan sembarangan. Apa kalian tak merasa kalau dia hanya bermain - main, dia hanya menjalankan semuanya atas perintah dan tangan orang lain. Walau sekarang perusahaan itu berkembang tapi apakah hal itu akan terus berlanjut" tuan Saiful menatap semuanya
"Bagaimana jika ditengah jalan semuanya hancur dan itu hanyalah mimpi anak - anak, kalian akan kehilangan semuanya dengan sia - sia dan tak akan mendapatkan apapun" tuan Saiful
Terlihat mereka semuanya yang ada di dalam ruangan itu saling pandang dan berbisik, taun Saiful merasa senang kalau dia bisa mempengaruhi mereka untuk melawan Alga yang saat ini memimpin dan telah mengeluarkan dia dari bagian perusahaan.
"Apa yang dikatakan tuan Saiful ada benarnya, kita tak tau dan juga belum mengenal dengan baik bocah itu, bisa saja kalau itu hanya siasat dari orang yang ingin membuat kita takjub dan setelahnya akan menghancurkan kita." Daren ikut bersuara
"Aku yakin, kalau kalian tak ingin kehilangan apa yang sudah kalian dapatkan. Tapi jika ini hanyalah permainan bukankah kitab harusnya memperjelas dan meminta kejelasan yang pasti." sambung Daren dan menatap semua orang
"Yang anda katakan ada benarnya, tapi tetap saja kita tak bisa melakukan hal licik dibalik usaha kita untuk meminta kejelasan, karena dengan mencobak memboikot jalan yang ada itu bukanlah hal yang seharusnya dilakukan, karena jika sampai semuanya gagal kita juga yang akan rugi." tuan Rendra mulai mengeluarkan pendapatnya
"Hem, kau benar." tuan Anang pun setuju
"Jadi bagaimana dengan kalian berdua." tuan Saiful bertanya dan menatap tuan Rendra serta tuan Anang bergantian.
"Bagaimana apanya tuan - tuan. Kau ingin mempengaruhi mereka untuk melawan ku dan mencobak untuk menjatuhkan ku, hehehe apakah kau bisa." sebuah suara keluar dari pengeras suara yang ada di ruangan itu
"Siapa yang bicara."
Tuan Saiful, Daren dan yang lainnya kaget serta mencari dari mana sumber suara itu muncul. Dan mereka yang ada didalam ruangan itu tau betul itu suara siapa, karena suara anak kecil yang terdengar sangat mengintimidasi itu adalah suara bocah yang mereka bicarakan dari tadi, yang tak lain adalah Algazali pimpinan baru mereka.
"Tuan Al." tuan Anang menyebut nama Alga
"Ku pikir kau bermain dengan bagus tuan Saiful, tapi aku sangat kecewa karena kau hanya memakan umpan yang ku berikan saja." suara Alga lagi
"Dimana kau tunjukkan dirimu." tuan Saiful marah
Seseorang masuk kedalam ruangan mereka dan terlihat dia adalah Ariana asisten dan orang kepercayaan Alga yang dikirim untuk menangani semua masalah yang ada di perusahaan selama ini.
"Selamat malam semuanya tuan - tuan." sapa Ariana dengan ringan dan sopan.
"Tuan Al haruskah sekarang saya memberikan semuanya pada mereka yang ada di ruangan ini." tanya Ariana
"Tentu, berikan pada mereka agar mereka tau." jawab Alga
Mereka semuanya terlihat bingung dan menerima kertas yang diberikan oleh Ariana, namun kertas itu masih dalam amplop yang tertutup. Terlihat mereka membolak balikkan amplop itu dan menatap penasaran.
"Silakan dibuka setelah saya keluar dan pergi dari ruangan ini" ucap Ariana lalu dia meninggalkan ruangan itu.
"Apa ini sebenarnya" semua yang ada di sana penasaran dan membuka isi amplop itu
Ariana yang berjalan keluar tersenyum dan sekilas melirik ke ruangan itu, "akhir permainan"