Baby I Love You

Baby I Love You
Canggung



Disaat Alan bingung dengan pemikirannya tak jauh berbeda dengan Syafira, dia juga sedang berusaha untuk menetralkan dan menjernihkan pikirannya. Syafira menatap tangan yang dengan lancang telah nemplok dan menyentuh sesuatu yang tak seharusnya dia sentuh dan wajah Syafira langsung memerah saat dia ingat serta masih bisa merasakan tongkat pusaka masa depan milik Alan.


"Besar dan keras." gumam Syafira yang masih bisa merasakan sensasi itu di telapak tangannya dengan sangat nyata. "Eh, apa yang aku pikirkan sih. Dasar mesum." gumam Syafira lagi dan dia tersenyum geli.


Setelah sekian lama berdiam diri didalam kamar akhirnya Syafira keluar dan kembali lagi ke rumah Alea karena dia sudah bisa menguasai perasaannya dan menghilangkan bayang - bayang tentang Alan dan tongkat pusaka masa depan Alan.


"Kok lama apa ngapain aja?" tanya Ayunda yang melihat Syafira baru datang dari menaruh sprei serta bedcover di rumah Alan.


"Kakak pikir itu gampang membawah semua sendiri dan menata ya sendiri? Kakak gak mau bantu malah mempertanyakan pekerjaanku." jawab Syafira sewot dan memanyunkan bibirnya.


"Eh, eh adik ku ini sudah mulai bisa ngambek sama aku ya senangnya." Ayunda langsung memeluk Syafira erat, pasalnya setelah Syafira datang kembali Ayunda selalu merasa kalau ada jarak yang dibangun oleh Syafira untuk dirinya dan semua orang yang ada di rumah.


"Kakak apa an sih, uda punya suami juga kelakuan masih anak kecil." ketus Syafira yang dipeluk oleh Ayunda.


"Bodoh, aku akan tetap jadi Anka kecil dihadapan mu dan mama." Ayunda tersenyum dan mencium pipi Syafira dengan dalam.


Syafira dan Ayunda seolah kembali ke masa lalu, dimana keduanya adalah saudara yang sangat dekat dan tak bisa terpisahkan. Keduanya saling pukul dan menggelitik serta saling peluk dan cium sehingga hal itu membuat Alea dan Yoni merasa tenang serta sangat senang karena mereka telah mendapatkan kedua putri Meraka yang sempat menghilang satu.


"Mereka sungguh sangat bahagia, putri kecil kita telah kembali" Alea berkata dengan sangat senang.


"Iya, tapi kita harus mepertahankan hal itu, jangan sampai Alan membuat kita kehilangan dia untuk yang kedua kalinya." jawab Yoni dan hal membuat Alea bertanya - tanya dengan menatap Yoni bingung.


"Kau belum tau? Kalau akan berencana ingin mencarikan jodoh untuk Syafa? Dan dia ingin menebus kesalahannya dengan cara menikahkan Syafa dengan pemuda lain yang dianggapnya bisa lebih menyayangi Syafa dan menerima masa lalu Syafa." jelas Yoni pada Alea yang menatapnya dengan tanda tanya.


"Maksud Kaka Oni apa? Alan ingin mencarikan jodoh untuk Syafira?" Alea mengulangi penjelasan Yoni.


"Hem" Yoni mengangguk.


"Anak sialan itu." geram Ale pada Alan


"Tapi kamu diam dulu.dan pura - pura tak tau, karena aku taunya juga secara tak sengaja saat Alan membicarakannya dengan Syafa." jelas Yoni lagi pada Alea agar Alea tak gegabah dan menegur Alan.


"Tanggapan Syafa bagaiman?" Alea bertanya dengan tatapan sedih.


"Aku tak mendengarkan sampai selesai karena aku sudah merasa panas sama Alan waktu itu." jelas Yoni menyesal.


"Syafa memang harus bahagia, namun siapa yang akan mau menerima kalau dia pernah berhubungan dan hamil serta melahirkan anak dari daddy-nya? Bagaimana jika dia malah masuk dan akan lebih menderita dari sekarang? Aku gak akan sanggup membayangkan hal itu untuk putri kecilku, aku gak sanggup." Alea membayangkan hal - hal yang akan terjadi jika sampai Syafira hanya akan menderita dan mendapatkan penolakan dari semua orang.


"Sayang, tenanglah." Yoni memeluk istrinya yang sedang terlihat sangat cemas itu.


Alea kembali membereskan semuanya dan Syafira juga membantunya, t alea tersenyum karena dia seolah telah mendapatkan kembali putrinya yang hilang karena Syafira juga tak menolak saat Ale memeluk dan mencium pipinya seperti dulu. "Ini mau di taruh mana ma?" tanya Syafira sambil tersenyum pada Alea.


"Taruh di gudang belakang saja." Baik lah.


"Syafa nanti kamu tidur sini ya?" ajak Ayunda pada Syafira.


"Gak mau ah nanti ganggu pengantin baru. Kalo Syafa tidur sama kaka Ayu terus kak Denis mau tidur dimana?" ledek Syafira dan Denis hanya diam tersenyum malu.


"Ih lihat kak, gak nyangka ternyata dia masih saja malu - malu kalau sampai ketahuan sama Danu dan Anisa bisa diledekin habis - habisan dia." Syafira menyenggol Denis yang berdiri disebelahnya karena tadi bantu Syafira bawah barang ke gudang.


"Sudah ah Syafa pulang dulu nanti Alga nyariin, kalau camilannya habis." ucap Syafira sambil tersenyum.


"Mommy,,, kenapa mommy lama sekali!" decak alga yang terlihat sudah marah menatap Syafira.


"Tu, baru juga diomongin." Syafira tersenyum dan mendekati Alga yang sedang ngambek.


"Eh kok keponakan Tante marah sih." goda Ayunda pada Alga.


"Kak Ayu Aga mau bobog ngantuk" jawab Alga yang sudah mengucek matanya.


"Ya sudah sana bobog." ucap Ayunda dan mencium pipi Alga gemas


"Eh, cucu nenek kenapa ngantuk ya sayang?" ucap Alea menegur Alga yang berada di gendongan syafira.


"Syafa pulang dulu ya ma, kak." pamit Syafira dan kembali ke rumah Alan.


Syafira mempercepat langkah kakinya begitu memasuki rumah itu karena.dia gak mau berpapasan dengan Alan sebab dia masih merasa malu pada Alan. Syafira langsung masuk kedalam kamarnya dan menguncinya.


"Alga sebelum tidur gosok gigi dulu, ayo Mama mandikan biar gak lengket." Syafira membawah tubuh Alga masuk kedalam kamar mandi dan menyetel air dengan air hangat.


"Mommy Aga ngantuk." keluh Alga pada Syafira.


"Iya sayang, sini cepat" Syafira melepas semua baju Alga dan memandikannya dengan hair hangat lalu menggosok gigi Alga.


"Ayo sini bobog sayang." Syafira menarik selimut dan memeluk putranya itu yang matanya sudah tak sanggup lagi untuk terbuka dan tak perlu waktu lama Alga sudah masuk kedalam alam mimpinya. Lalu Syafira turun dan mandi untuk solat isya'


Keesokan paginya Syafira seperti kegiatan biasanya setelah selesai solat subuh dia langsung ke dapur untuk masak menyiapkan sarapan untuk Alga dan yang lainnya. Dan bi Aminah yang sudah merasa kebiasaan baru setelah Syafira di rumah adalah masak di pagi hari jadi ikutan sibuk dengan Syafira.


"Bi ayo bikin sambal pencet yuk bi Syafa ingin makan pakek itu pasti enak." ajak Syafira pada bi Aminah.


"Wah bener tu neng, kalau begitu bibi minta sama Man Urip untuk ambil pencetnya dulu." bi Aminah terlihat antusias.


Setelah selesai masak untuk sarapan Syafira membangunkan Alga dan mempersiapkan Alga untuk ke sekolah. "Mommy Aga mau bawah bekel pisang goreng yang ditaburi gula halus sama makan langsung yang besar jangan dipotong." pinta Alga pada mamanya.


"Ya sudah mama buatkan dulu kamu minum susunya dulu." ucap Syafira dan kembali lagi sibuk di dapur untuk buat pisang goreng buat bekal dan dimakan di rumah.


"Alga jangan lari - lari nanti bajunya kusut." teriak Syafira yang melihat Alga mulai membuat tingkah.


"Tidak, alga mau melihat man Urip manjat pohon." teriak Alga yang sudah lari kebelakang rumah.


"Neng yang di potongin kecil - kecil ini dimasukin kedalam kotak yang ini apa yang satunya?" tanya bi Aminah pada Syafira saat membantu Syafira bikin pisang goreng untuk bekal Alga.


"Kotak yang itu saja bi, nanti yang satunya buat nasi sama lauk." jawab Syafira yang masih sibuk goreng pisang


"Loh yang itu gak dipotong-potong neng?" bi Aminah melihat Syafira menggoreng 3 pisang langsung utuh.


"Yang ini untuk di rumah alga gak mau dipotong, tolong siapkan kipas bi biar cepat dingin nanti." jawab Syafira sambil senyum.


"Masak ayam sambal goreng Daddy, Daddy Yos mau?" jawab Syafira menyodorkan masakannya didepan Aditya.


"Hem." Aditya menghirup mau masakannya Syafira, "Enak baunya sayang Daddy mau, kebetulan Daddy belum sarapan." jawab Aditya dan Syarifah tersenyum.


"Oh iya Syafa lusa ada acara ulang tahun wali kota, Syafa ikut datang sama Daddy ya karena Daddy gak ada pasangannya." ucap Aditya pada Syafira.


"Memangnya penjinak Daddy kemana?" tanya Syafira menggoda Aditya.


"Hem kamu belum tau ya kalau tante mu itu sekarang sudah jadi sekretaris wali tota dan selalu mengabaikan Daddy dan mendahulukan wali kota." jawab Aditya dengan lesu.


"Baiklah Syafa akan datang sama Daddy nanti, biar Daddy Yos gak sedih lagi." Syafira tersenyum begitu juga dengan Aditya.


"Sayang kau lihat aku sudah dpat pasangan untuk datang ke ulang tahun wali kota." ucap Aditya dengan. bangga pada istrinya sambil video call.


"Benarkah?" tanya Sandra


"Tentu, Tara." Aditya mengarahkan kameranya pada Syafira.


"Halo Tante." sapa Syafira.


"Sayang kau cantik sekali, baiklah nanti kau harus datang ya. Karena akan ada acara musik kamu kan paling suka musik, Tante jadi ingin lihat kamu main musik sayang." ucap Sandra yang tau kalau Syafira bisa memainkan beberapa alat musik karena waktu sekolah dulu Sandra lah yang paling dekat dengan Syafira.


Mendengar itu Syafira hanya tersenyum karena dia merasa itu semua sudah berlalu dan juga Syafira sudah tak pernah memainkan alat musik lagi selain DJ. "Apa? Jadi kamu bisa main musik sayang? Kon Daddy gak pernah tau soal itu?" Aditya merasa kaget menatap Syafira.


"Itu sudah lama, sudahlah jangan dibahas lagi Syafa malu." jawab Syafira malu - malu.


"Ok sayang aku balik sibuk lagi ya, maaf tadi padi gak sempat masak buat kamu. muah" ucap Sandra pada Aditya.


"Baik cintaku." lalu Aditya mematikan sambungan teleponnya, dan bertanya pada Syafira perihal permainan musik Syafira yang baru saja dia ketahui dari Sandra.


Alan yang keluar dari kamarnya melihat interaksi antara Aditya dan Syafira hanya bisa diam menatap mereka berdua. "Mereka terlihat seperti ayah dan nak, dan mereka selalu bisa akrab serta berbincang dengan santainya." gumam Alan menuruni tangga.


"Mommy apa sudah matang?" Alga yang lari dari arah belakang rumah menanyakan soal pisang gorengnya


"Oh iya lupa, sudah sayang. Ini bawah kemeja makan ya, awas hati - hati panas yang atas." ucap Syafira menyerahkan pisang goreng pada Alga yang ditaruh di piring.


"Heat, tunggu dulu" Aditya menahan pergerakan Alga yang mau membawah pisang gorengnya pergi.


"Iya ayah boleh ambil satu." jawab Alga seolah dia tau kalau Aditya mau minta.


"Ayah?" Syafira berkata dengan bertanya dari mana putranya itu dapat panggilan begitu.


"Iya, dari pada dia bingung harus memanggil Daddy apa." jawab Aditya tersenyum dengan pisang goreng ditangannya.


"Tapi siapa yang ngajari, Daddy sendiri?" tanya Syarifah penasaran


"Tidak, Ayunda." jawab Aditya dan melihat pisang goreng ditangannya.


"Kakak selalu ngajari yang aneh - aneh." ucap Syafira merapikan dapur.


"Syafa ini pisang goreng gak kamu potong." Aditya bertanya sambil menatap pisang goreng itu.


"Enggak karena Alga suka yang utuh begitu kaku untuk dimakan sendiri." jawab Syafira yang juga ikut menatap pisang goreng di tangan Aditya.


Aditya melihat Syafira lalu melihat lagi pisang goreng itu, "Ini besar banget Syafa." ucap Aditya setelahnya.


"Iya emang besar." jawab Syafira tanpa dosa.


yang mendengar percakapan mereka berdua itu jadi merasa panas dingin, "Ehem, ngapain kamu kesini." ucap Alan seketika dan membuat Aditya sama Syafira kaget.


"Oh." Syafira langsung menghindari tatapan Alan


"Hehehe, pagi Kaka." saya Aditya dan memakan pisang gorengnya.


"Oh ooo,,," Aditya kepanasan dimulutnya.


"Awas panas, air." Syafira merasa panik melihat Aditya kepanasan.


"Ah lega, tenggorokanku rasanya meleleh." gumam Aditya setelah pisang goreng itu ditelan.


"Rakus." jawab Alan yang sudah duduk di meja makan.


"Hahaha, ayah lucu." Alga tertawa terbahak melihat ulah Aditya.


"Syafa tangan lupa nanti Daddy berikan gaunnya ok." ucap Aditya lalu dia duduk di meja makan dan mengusap kepala Alga dan mengacak rambutnya karena berani menertawakannya.


"Gaun, untuk apa?" tanya Alan pada Aditya.


"Untuk acara ulang tahun wali kota besok lusa, kakak tau sendiri Sandara sejak kerja di kantor wali kota dan jadi sekretarisnya jadi selalu sibuk dan ngurusin aku." jawab Aditya menatap Alan sedih.


"Jangan pasang waja menggelikan lagian nanti kita akan datang bertiga." jawab Alan dan mulai mengambilkan makan untuk Alga.


"Eh, bukannya kakak gak mau datang kemaren?" tanya Aditya bingung.


"Itu kemaren, lain sekarang." jawab Alan dingin. Dan Aditya bingung.


Dan sikap Alan sama syafira tak bisa seperti sikap Aditya sama Syafira, ada canggung diantara mereka berdua apa lagi karena kejadian kemaren yang tangan Syafira memegang pusaka masa depannya hal itu jadi membuat Alan semakin tak bisa biasa, karena setiap kali dekat dengan Syafira seperti ada aliran magnet yang selalu menariknya kearah yang lain.


"Daddy mau ini?" tawar Syafira pada Alan menunjuk pada oseng sawi.


"Ah, iya." jawab Alan tanpa melihat Syafira. Dan Syafira mengabilkan dengan canggung pada Alan.


Sikap Syafira juga terlihat sangat kikuk saat dia melayani Alan untuk mengabulkan makanan dan hal itu membuat bi Aminah yang melihat merasa ada yang aneh, tapi Aditya tak sadar karena sibuk makan dan menggoda Alga.


"Kenapa kok neng Syafa dan mas Alan terlihat kikuk dan canggung. Biasanya hanya malu saja." gumam bi Aminah mengamati sikap Alan dan Syafira. "Tapi biasanya hanya neng Syafa saya yang malu dan sekarang malah keduanya jadi terlihat canggung satu sama lain, apa terjadi sesuatu diantara mereka ya? Tapi semoga saja itu hal baik" bi Aminah tersenyum dan berjalan kebelakang untuk mengambil pencet yang tadi dipetik man Urip.