
"Ah, sial kacau semua." gumam Alan lalu bangun perlahan dan merasakan punggungnya sakit.
"Aduh pinggangku." keluh Alan memegangi pinggangnya yang sakit karena membentur lantai kamar mandi
Saat Alan keluar Syafira tak ada di kamarnya entah dia pergi kemana Alan tak ambil pusing dan langsung naik ke kamarnya untuk ganti baju dan solat lalu lanjut tidur lagi.
Disisi lain Syafira tak bisa mengendalikan detak jantungnya dia menutup matanya rapat dan memegangi dadanya yang terus saja berdebar dengan sangat kencang sampai - sampai dia bisa mendengarkan sendiri bunyi debarannya.
"Ya Allah apa tadi, dan kenapa bisa daddy ada di kamar mandi ku dengan tampilan seperti itu?" gumam Syafira yang lagi membayangkan tampilan Alan saat dia lihat tadi.
"Ah tidak hentikan apa yang kau pikirkan sih dasar mesum." Syafira menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayang - bayang Alan.
Syafira bangun dan melanjutkan mandinya karena dia mandi di kamar mandi luar yang ada disamping rumah dan dia terus saja teringat akan penampakan Alan setiap kali dia menutup matanya. "Aaaah, hentikan oh otak ku yang nakal"
"Loh kok mandi diluar neng? Apakah kamar mandi didalam kamar kran-nya rusak atau ada yang tak beres?" tanya
Man Urip pada Syafira yang terlihat keluar dari kamar mandi.
"Oh tidak, tidak apa Man semua baik - baik saja kok." jawab Syafira panik sambil tersenyum.
Syafira yang mengendap - endap untuk masuk kedalam kamarnya karena takut kalau Alan masih ada didalam diperhatikan oleh Bi Aminah dan bi Aminah merasa heran dengan Syafira sehingga mendatangi Syafira. "Kenapa neng?"
"Ah ya Allah bi bikin kaget saja." Syafira terkejud dan tertawa terbahak "Tak ada bi, saya mau solat dulu." Syafira langsung masuk dan menutup pintunya tak lupa untuk di kunci oleh Syafira.
"Hufff, syukurlah Daddy sudah pergi jika tidak aku tak tau harus bagaimana menghadapinya, karena aku malu sekali dengan kejadian tadi." Syafira bergumam setelah meneliti semua isi kamarnya dan memastikan Alan sudah keluar dari kamarnya.
Sore harinya rumah Alan sepi sekali karena semua orang ke rumah Alea, sedang mengadakan bakar - bakar. Syafira terlihat sangat sibuk dengan Ayunda karena semua keluarganya dari sang papa datang berkunjung sehingga rumah Alea sangat ramai dan padat.
"Alan ya ampun sudah kau ini sudah gagah, kaya masih aja sendiri kapan nih nikah? Atau mau ku carikan?" goda paman Yoni pada Alan.
"Hahaha, paman bisa saja. Alan hanya masih masih belum menemukan saja." jawab Alan santai.
"Ku dengar dulu sempat ada calon kenapa kok tiba - tiba gagal apa kurang cantik?" paman menggoda lagi
"Palingan kurang hot dia, orang kek kak Alan gini pastikan nyari yang lebih waoh." sambung sepupu dari Yoni.
Alan hanya menanggapi obrolan dan godaan dari semua keluarga saudara iparnya itu karena mereka tak ada yang tau ceritanya antara alam dan Syafira.
"Oh iya aku tak tau kalau Syafira sudah jadi janda, tapi tadi aku melihat dia dengan seorang pria dan sepertinya mereka sangat dekat apakah itu calonnya Syafira?" tanya sepupu Yoni itu pada Alan.
"Apa maksud mas Ardi?" tanya balik Alan pada Ardi.
"Iya aku tadi melihat Syafira dengan seorang pria di depan." jawab Ardi lagi.
Alan merasa kesal dan juga penasaran siapa pria yang berani mendatanginya disaat ada acara keluarga seperti ini. Alan berkumpul dan bercanda dengan semuanya namun pikirannya ada pada Syafira yang tak kunjung kembali.
"Hei Lan mau kemana?" tanya Ardi pada Alan yang beranjak mau pergi.
"Ambil minum." jawab Alan singkat
Alan berjalan keluar dan melihat dari atas kalau Syafira sedang berbincang dengan Bian dan mereka terlihat sangat dekat. Alan mengepalkan tangannya dan ingin menarik Syafira menjauh dari Bian karena menurut Alan Bian merupakan bos yang kurang ajar selalu mendatangi pegawainya walau pegawainya sedang libur.
"Hem." Alan berbalik dan berjalan masuk untuk bergabung lagi dengan yang lainnya.
Sekitar 15 menit kemudian Syafira masuk namun dia tak sendirian melainkan bersama dengan Almansyah dan beberapa orang lainnya dari keluarga Denis yang ternyata diundang untuk ke acara malam itu oleh Yoni dan Alea.
"Kalian sudah datang." sambut Ayunda pada keluarga suaminya.
Disitu Syafira sengaja menghindari tatapan Alan karena dia malu atas kejadian tadi siang, dan Alan menganggap kalau hal itu adalah karena Syafira marah dan membencinya karena kejadian itu sebab Syafira selalu menghindar bahkan hanya bertatapan saja.
"Syafa aku tak tau kalau ternyata kau adalah keluarga dari dia." ucap Almansyah pada Syafira dan menunjuk Alan dengan isyarat mata
"Dia Daddy ku." jawab Syafira ringan dan menunduk lagi.
Mendengar jawaban itu Almansyah merasa sangat senang karena dia berfikir setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk mendekati Syafira. "Aku bantu biar cepat." Almansyah membantu Syafira memanggang daging dengan Denis dan Ayunda.
"Daddy aja bersikap biasa kenapa aku terbawah suasana dan mengingat kejadian yang tak berguna itu. Pasti Daddy tak pernah melihatku sebagai seorang wanita, bahkan saat melihatku juga Daddy terlihat biasa saja." suara hati Syafira dan dia juga mencoba untuk tak memikirkan lagi dengan bercanda sama Almansyah.
"Mama Aga ke tumpahan jus lengket." keluh Alga pada Syafira dan lari mendekati Syafira.
"Oh iya sayang," syafira mengangkat Alga "kak aku tinggal dulu ya." Syafira langsung membawahnya Alga pulang untuk mandi dan ganti baju.
Melihat Syafira pulang bersama Alga Alan langsung mengikutinya "Kenapa dengannya?"
"Papa baju Aga ke tumpahan jus" adu Alga dan mulai berkaca - kaca matanya.
"Sudah jangan nangis anak cowok yang baik gak boleh nangis harus kuat." bisik Syafira menepuk punggung Alga pelan.
"Sama papa." Alan meminta Alga dari Syafira.
Saat Alan memandikan Alga Syafira menyiapkan baju baru yang bersih untuk Alga, dan terdengar sangat riuh didalam kamar mandi antara Alan dan Alga entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Papa ini bukan sampo ini sabun." teriak Alga yang protes karena Alan salah memberikan sabun untuk keramas.
"Ok, ok maaf." Alan mengganti dengan sampo yang ditunjuk oleh Alga.
"Papa salah, papa gak bisa dari tadi salah terus. Mama" teriak Alga lagi karena itu memang merupakan aktifitas memandikan Alan yang pertama kali.
"Sayang ini sabun, tuh ada busanya dan baunya juga harum." Alan membela diri.
"Enggak, mama." teriak Alga lagi dan Syafira pun masuk.
"Kenapa." Syafira berkata dengan dingin karena dari tadi didengar Alga terus saja protes.
"Maaf, Daddy bingung antara sampo atau sabun semua bentuknya sama tapi Alga bisa mengingat aromanya yang berbeda." jelas Alan menatap Syafira.
Syafira tersenyum dan mendekati Alan sama Alga, "Maaf karena aku beli isi ulang jadi bingung ya menentukan mana yang sampo dan sabun." Syafira mengambil botol - botol itu dan menuangkan isinya. "Yang warna pink ini sampo untuk Alga, yang warna biru sabun untuk Alga dan yang lainnya untuk dewasa." jelas Syafira dan Alan memperhatikan dengan serius.
Byur (Alga menyiram tubuh Syafira dengan air)
"Ah.!" Syafira yang kaget langsung menutup matanya dan Alan reflek memeluk Syafira.
"Ye,,, mama sama papa pelukan. Aga mau ikut." Alga terlihat sangat senang dan dia ikut memeluk Alan dan Syafira.