
Pagi itu Alan merasakan tubuhnya sangat lelah dan dia merasa sangat malas untuk pergi ke kantor. Setelah selesai mandi dia merebahkan dirinya lagi.
"Bi apa kakak sudah bangun?" tanya Adit pada bi Aminah yang sedang beres beres rumah.
"Sepertinya sudah, tapi masuk lagi kedalam kamar non Syafa." jawab Bi Aminah dan Adit langsung melangkahkan kakinya menuju kamar syafira.
"Kakak sakit?" tanya adit saat dia membuka pintu dan mendapati Alan masih tiduran.
"Tidak aku hanya malas bergerak." ucap Alan malas.
"Tapi pertemuan kali ini kakak harus hadir." ucap Adit dan itu membuat Alan menghela nafas dalam.
"Kau selalu mengganggu ku Dit." ucap Alan dan bangun dengan malas.
Adit tertawa melihat Alan yang lesu, "mau bagaimana lagi kau adalah bosnya." ucap Adit dan duduk di tepi tempat tidur.
"Apa kau tau, rasanya aku ingin menyelidiki Ndaru namun aku tau dia tak akan melakukan yang membahayakan karena dia masih keluarga ku." gumam Alan menatap Adit tajam.
"Ya, aku juga berpikiran sama dengan kakak semalam, tapi Sandra mengatakan padaku kalo itu tak perlu, karena Ndaru adalah dokter yang tekun dan juga jujur, jadi dia tak akan mungkin melakukan sesuatu yang akan membahayakan kita keluarganya. Dan Sandra juga bilang, katanya dia pernah melihat Ndaru bertemu dengan seseorang di cafe dan orang itu sepertinya seorang perawat. Sandra bilang Ndaru memberikan sesuatu yang kecil pada perawat itu lalu orang itu pergi dan Ndaru sengaja tak masuk kerja, dia membantu Sandra di cafe." ucap Adit dan Alan merenung mendengar itu.
"Maksudmu apa, jadi Ndaru memang sedang merencanakan sesuatu dibelakang kita begitu?" tanya alan sambil berpakaian.
"Hem." Adit mengangguk
"Kita biarkan saja, ayo berangkat." Alan dan Adit pun berangkat ke kantor bersama.
...🌴🌴🌴...
2 minggu berlalu dan hasil dari tes DNA yang dilakukan oleh ndaru atas sampel alan dan seseorang yang tak diketahui oleh Alan punya siapa telah keluar.
Dan pada waktu perosesnya Ndaru yang mengawasi sendiri tes tersebut, dan memerintahkan orang orang kepercayaannya untuk selalu datang lebih pagi ke rumah sakit dari biasanya.
"Selamat pagi dokter Ndaru." ucap seorang perawat yang ditugaskan oleh Ndaru untuk mengamati selama proses tes dilakukan tanpa sepengetahuan yang lainnya datang melaporkan dan menyerahkan hasil tes tersebut.
"Apa semuanya dilakukan dalam jangkauan pandang mu?" Ndaru bertanya dengan pelan pada perawat itu.
"Benar, saya sudah memasang cctv dalam tempat itu tanpa sepengetahuan semua orang dan sampai sekarang masih belum saya ambil cctv tersebut, barang kali nanti dokter masih membutuhkan." balas perawat itu sambil berbisik juga.
"Baik, terima kasih kamu boleh pergi." perawat itu langsung meninggalkan ruangan Ndaru.
Dalam rasa penasaran Ndaru membuka hasil tes DNA itu dalam kehati hatian. "Ya Allah, i - ini benar benar mereka adalah ayah dan anak." gumam Ndaru terkejut melihat hasilnya.
"Bagaimana bisa ini terjadi. Kalo begitu benar hasil tes dari Fira putri Guntoro ada yang memalsukannya. Aku harus meminta kak Adit untuk turun tangan membantu ku." gumam Ndaru memegang hasil tes itu dengan erat.
...🌴🌴🌴...
Didalam kantor, setelah Alan melakukan pertemuan dan juga rapat dia langsung pergi ketempat tuan Guntoro karena dia mau melakukan tanda tangan kerja sama.
"Tuan Alan kapan anda akan mengumumkan secara resmi pertunangan anda dengan putri saya Fira? Ini sudah lewat bertahun tahun tapi masih saja tak ada kelanjutannya." ucap tuan Guntoro dengan tak sabar pada Alan yang baru saja sampai dan belum lama duduk.
"Apakah anda begitu terburu buru dengan semua itu? Bukankah saya mengajukan syarat, jika syaratnya tak ada masalah maka saya akan langsung mengumumkan pernikahan bukan lagi pertunangan." ucap Alan dengan nada ringan namun terdengar menyelidik.
Deg
Tuan Guntoro merasa terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alan, seolah Alan sudah tau permainannya yang ingin menguasai hasil dari kerja sama yang mereka lakukan.
"Alan ini ternyata tidak bisa diremehkan, dia sangat kejam dalam bisnis. Bahkan kehidupan pribadinya juga dianggap sebagai bisnis, bagaimana bisa putriku jatuh cinta padanya. Bagaimana kalo sampai Alan ini tau semuanya?" tuan Guntoro bergumam dalam hati sambil menatap Alan takut.
Setelah melakukan persetujuan dan tanda tangan Alan langsung pamit pada tuan Guntoro tanpa menunggu makan yang telah disiapkan oleh tuan Guntoro dan hanya meminum minumannya saja.
Alan mohon ijin dengan alasan dia akan ada pertemuan lagi dan Adit sudah menjemputnya dengan tepat waktu, jadi tuan Guntoro tak ada alasan untuk menahan Alan lebih lama lagi. Karena tuan Guntoro juga harus segera memberi tau Fira soal dia yang memalsukan hasil tes yang dilakukan oleh Ndaru untuk mencari gadis yang bermalam dengan Alan, dan juga membersihkan soal obat yang diberikan oleh Fira pada Alan pada saat pesta ulang tahunnya.
...🌴🌴🌴...
"Kak tadi Ndaru menghubungi katanya hasil tes yang dilakukannya kemaren sudah keluar dan kakak diminta melihatnya sendiri dia menunggu kakak di rumah sore ini." jelas Adit selama dalam perjalanan.
"Hem, baiklah kita langsung saja pulang. Karena kita tak ada janji lain lagi kan?" ucap Alan dengan menyandarkan kepalanya disandarkan kursi mobil.
"Bagaimana dengan anak buah mu, apa mereka sudah memberi kabar soal penyelidikannya tentang pesta ulang tahun Fira waktu itu?" tanya Alan dan menatap Adit.
Adit tersenyum "tentu sudah dan orang orangnya juga sudah diamankan." jawab Adit dengan ringan.
Melihat senyuman Adit Alan merasa yakin kalo semuanya sudah ada pada kendali Adit pada saat ini.
"Biarkan kita bermain sedikit lebih lama lagi dengan mereka." ucap Alan menutup matanya.
"Tak ku sangka kakak jadi semakin kejam." ucap Adit melirik Alan
"Aku hanya ingin melihat semuanya dengan lebih jelas tanpa topeng, dan untuk melakukan itu semua kita harus mendekatinya dari dalam. Bukankah begitu?" penjelasan Alan yang masih menutup matanya.
Di rumah Alan Ndaru merasa resah, dia tak bisa duduk dengan tenang. Sejak datang dia terus saja mondar-mandir dan pikirannya tak karuan.
"Ndaru kenapa, kau terlihat cemas dan itu terlihat jelas diraut wajahmu." ucap Alan saat dia sudah sampai di rumah dan melihat Ndaru yang mondar mandir.
"Kak." Ndaru menghela nafas dalam seolaha mau melepaskan beban beratnya.
"Katakan Adit sudah memberi tau aku selama dalam perjalanan pulang tadi." ucap Alan melepaskan bajunya.
"Engm." Ndaru terlihat ragu ragu membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyerahkannya pada Alan.
Alan menerima amplop yang diberikan oleh Ndaru, lalu Alan membuka amplop itu. Mata Alan terbelalak lebar melihat isi tulisan didalamnya. "Apa ini?" gumam Alan tak percaya.
Adit yang melihat merasa bingung dia menatap ndaru yang tertunduk dan seolah menyiapkan jawaban yang akan diajukan oleh alan padanya.
"Katakan siapa dia? Dan bagaimana kamu dan Ayunda bisa mendapatkan ini semua. Dan lagi tes DNA yang kamu lakukan ini aku tak ikut campur namun jika sampai kamu melakukannya dibelakang ku lagi serta menyembunyikan sesuatu dari ku maka aku akan bertindak." tanya Alan dengan mengancam karena dia tau Ndaru tak mungkin melakukan sesuatu tanpa pemikiran yang matang.
"Di - dia adalah..." kalimat Ndaru gantung karena dia takut kalo reaksi Alan akan kembali pada Alan yang dimasa lalu.
"Katakan dengan benar, karena dia putraku.!" bentak Alan pada Ndaru dan itu membuat Adit yang sedari tadi bingung jadi terkejut dengan kata kata yang diucapkan oleh Alan.
"Put - putra, apa dan siapa dia?" tanya Adit dan itu membuat Ndaru semakin takut, karena kedua saudaranya itu termasuk orang yang dingin jika berurusan dengan suatu masalah.
"Begini kak, sebenarnya aku juga baru tau karena Ayunda. Tapi dia bukan orang lain dan dia adalah keluarga kita sendiri, tapi aku mohon kakak jangan menyalakan diri kakak sendiri setelah tau siapa dia." ucap Ndaru mencobak membuat Alan tenang.
"Aku sudah bukan orang yang dulu, jadi cepat katakan siapa dia?" tanya Alan dengan nada tak sabar
"Sebenarnya dia adalah Syafa...Ah." kalimat Ndaru tertahan karena Alan mencekkeram bahu Ndaru dan membuat Ndaru kaget.
"Kau bilang apa tadi? Katakan dengan jelas." tanya Alan dengan menatap pada Ndaru.
"Maaf kak, tapi itu memang benar. Orang itu adalah Syafa dan dia telah melahirkan putra kakak." jawab Ndaru penuh keyakinan.
Bruk
Alan melangkah mundur dan terjatuh, rasa syok yang dialami Alan karena kabar dari Ndaru membuat pikiran dan perasaannya kacau.
"Bagaimana bisa" gumam Alan pelan.
"Kak, kau tak apa?" tanya Adit dan Ndaru bersamaan karena merasa khawatir pada Alan.
"Ya, aku tak apa. Kalian sebaiknya pulang dulu, aku ingin sendiri." ucap Alan dan dia bangun melangkahkan kakinya menuju kedalam kamarnya.